Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kamar yang terkunci


__ADS_3

Kriieettt


Pintu sebuah kamar tua terbuka. Banyak debu dan beberapa sarang laba laba di beberapa bagian. Kamar berukuran 3 x 3 meter dengan isi berbagai macam barang yang berserakan tak tertata. Mungkin lebih layak disebut gudang daripada sebuah kamar.


Mbah Kadir berjalan sambil sesekali berpegangan pada tembok kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Beberapa guci yang kotor berdebu, juga beberapa figura dengan lukisan lukisan nan indah namun terbengkalai, tergeletak begitu saja.


"Uhuukk uhuuk uhukkk," Mbah Kadir terbatuk batuk. Debu yang menempel disana sini mulai beterbangan dan hinggap di saluran pernafasannya yang renta.


"Dimana kunci cadangannya?," Mbah Kadir bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.


Di usianya yang sekarang, daya ingat Mbah Kadir memang jauh menurun. Dia sering lupa, baik itu hal hal penting ataupun sesuatu yang sepele. Padahal beberapa tahun yang lalu, Mbah Kadir selalu dipercaya banyak orang untuk menentukan hari baik. Hari baik diperuntukkan mengadakan hajatan, ataupun kegiatan kegiatan lain agar terhindar dari balak ataupun malapetaka.


Namun kini jangankan menentukan hari baik, Mbah Kadir tidak tahu esok hari senin ataupun selasa. Yang dia tahu hanya siang dan malam saja. Bahkan kalender yang tergantung di ruang tamu tertulis tahun 2015, itu berarti sudah setahun tidak diganti.


Mbah Kadir hidup sendirian, semenjak anaknya pergi ke luar negeri. Keponakannya yang bernama Prapto terkadang datang sebentar untuk menengoknya. Terkadang di malam yang sunyi saat mata tua nya sulit terpejam, Mbah Kadir berharap untuk segera 'dipanggil' menyusul istrinya. Namun, sepertinya keinginan itu urung terwujud. Meski ingatannya sering memudar dan menghilang namun fisiknya masih cukup kuat di usianya yang sekarang.


Graakkkk


Mbah Kadir membuka lemari yang terletak di sudut ruangan. Di dalamnya ada sebuah kotak berwarna biru tua. Mbah Kadir membuka kotak tersebut. Beberapa perhiasan mengkilap tersimpan di dalamnya. Perhiasan milik mendiang istrinya dulu. Anting dan sebuah kalung yang entah bagaimana mengingatkan Mbah Kadir akan sosok istrinya yang telah tiada mendahuluinya. Banyak hal yang dia lupakan akhir akhir ini, namun kenangan dengan orang terkasih selalu memiliki tempat tersendiri di dalam lubuk hatinya.


Mbah Kadir meletakkan kotak perhiasan tersebut di tempat semula. Bukan itu yang dia cari. Dia kembali meraba raba bagian dalam lemari, di bawah tumpukan kain kain batik. Beberapa saat lamanya mencari, akhirnya dia menemukannya. Kunci cadangan rumah yang kini ditempati keluarga Prambudi.


Mbah Kadir memasukkan kunci itu di saku celananya dan bergegas keluar dari kamar. Mbah Kadir berjalan tergopoh gopoh, dia ingin segera menengok rumah yang ditempati oleh keluarga Prambudi. Memakai sebuah tongkat dari kayu jati, Mbah Kadir berjalan dengan sedikit tergesa gesa.


Saat keluar dari rumahnya, Mbah Kadir berpapasan dengan Sumini yang menggendong seikat besar rumput untuk pakan ternak.


"Mau kemana Mbah?," Tanya Sumini dengan nada dan suaranya yang melengking.


"Mau lihat rumah," Jawab Mbah Kadir pendek.

__ADS_1


"Rumah mana Mbah?," Sumini kembali bertanya.


"Ya rumah yang di pertigaan. Itu kan juga rumahku. Kamu pikun ya?," Mbah Kadir sedikit membentak. Jengkel juga ditanya tanya oleh tetangga super cerewet.


Sumini akhirnya diam saja, membiarkan kakek tua itu berjalan terseok seok menuju ke Rumah Tusuk Sate itu.


"Wong yang pikun situ kok," Ucap Sumini menggerutu sambil bibirnya manyun manyun, terlihat menyebalkan.


"Sebentar sebentar, ngapain itu kakek ke rumah angker? Ah biarin wae lah, toh kulitnya udah keriput. Demit ora ndulit setan ora doyan," Sumini kembali melangkah. Dia menuju ke rumahnya sambil sesekali bernyanyi lagu dangdut dengan suara sumbangnya.


Mbah Kadir akhirnya sampai di halaman rumah yang ditempati keluarga Prambudi. Sebelum masuk ke dalam rumah, kakek tua itu memukul mukul tanah memakai tongkatnya sebanyak tiga kali.


"Kulonuwun Kulogatra"


Mbah Kadir beranjak ke pintu depan, mengambil kunci di saku celana kolornya. Saat pintu dibuka udara terasa berhembus kencang dari dalam rumah. Aroma wangi, sangit, amis dan anyir menyeruak dari dalam rumah, bercampur di udara menimbulkan sensasi pusing yang tidak nyaman.


"Uhukk uhuuk uhukk," Mbah Kadir terbatuk batuk.


Mbah Kadir nampak bersedih. Sorot matanya sayu. Guratan dan kerutan di dahinya terlihat tertarik turun ke alis matanya. Mbah Kadir menghela nafas, entah apa yang membuatnya begitu gundah.


Duk Duk Duukk


Terdengar suara, seperti langkah kaki di lantai atas. Mbah Kadir memiringkan kepalanya, dia menajamkan pendengarannya.


Dukk Duukk Duukk


Benar saja, terdengar langkah kaki. Mbah Kadir segera meninggalkan lukisan di ruang tamu. Dia berjalan ke tangga menuju lantai dua. Aroma amis semakin tajam menusuk. Mbah Kadir menarik nafas, kemudian melangkahkan kakinya ke lantai atas.


Suara seperti langkah kaki yang tadi sempat terdengar nyatanya hilang begitu saja. Tidak ada seorangpun di lantai atas. Hanya sekumpulan lalat yang terlihat berkerumun mengerubuti pintu kamar yang tertutup rapat.

__ADS_1


Mbah Kadir mengibas ibaskan tangannya, berusaha mengusir lalat yang begitu banyak berkerumun di hadapannya. Mbah Kadir kembali merogoh kunci cadangan yang ada di sakunya.


Graakkk Kriieetttt


Dengan sedikit dorongan, pintu berhasil dibuka. Kamar dalam keadaan gelap gulita. Jendela tertutup korden hitam legam, lampu pun tak menyala. Sementara aroma busuk bercampur dengan wangi kemenyan langsung mengaduk aduk perut Mbah Kadir. Ingin rasanya orangtua itu muntah, namun dia menahannya. Di tengah kegelapan, Mbah Kadir mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Bagaimana bisa semua ini terjadi?," Mbah Kadir melotot, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Mbah Kadir berjalan masuk ke dalam kamar, mendekati benda yang berjejer di sudut ruangan. Ketika tiba tiba saja pintu terbanting dari dalam.


Jdaarrrr


Pintu kamar tertutup menimbulkan suara bergema yang nyaring. Kini, ruangan gelap sepenuhnya, tidak ada pencahayaan sama sekali. Mbah Kadir mengerjap ngerjapkan matanya, mencoba melihat dalam kegelapan namun percuma. Dia tidak mampu melihat sedikitpun.


Grrrrr Grrr Grrrr


Terdengar suara geraman dari sudut ruangan. Mbah Kadir tidak tahu makhluk apa yang menggeram sedemikian mengerikan. Orangtua itu kebingungan, menoleh kesana kemari, meraba raba, namun tidak menemukan apapun.


Dan entah bagaimana Mbah Kadir tidak bisa berkonsentrasi. Padahal sebelum masuk ke dalam rumah, tadi dia sudah bersiap dengan segala mantra yang akan dirapal. Namun, penyakit lupa nya kini kambuh. Dia tidak bisa merapal mantra, tenggorokannya kering, suaranya tercekat.


Detik berikutnya Mbah Kadir merasakan sesak di dada. Rasa panik dan ketakutan semakin memperburuk keadaan. Pijakan kakinya goyah, Mbah Kadir memukul mukulkan tongkatnya ke lantai beberapa kali. Sebuah upaya terakhir yang hendak dia lakukan, namun gagal.


Glotaakkk


Tongkat kayunya malah jatuh melesat entah kemana. Dan Mbah Kadir semakin merasa sesak. Dadanya seakan dihimpit oleh sesuatu yang tak terlihat.


Bruuggg


Akhirnya, kakek tua yang dulu terkenal sebagai sesepuh itu jatuh ke lantai. Dia tersungkur, tengkurap di tengah ruangan yang gelap gulita.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2