
Suasana kantor siang ini sedikit berbeda. Terasa tenang, tidak ada pengganggu yang biasanya sewaktu waktu mendatangi meja kerja Prambudi. Banyak karyawan lain yang sebenarnya bertanya tanya, kemana Linda? Tidak biasanya perempuan manis itu tidak datang ke kantor, tanpa ijin pula.
Prambudi menguap lebar, dia merasakan kantuk yang luar biasa. Badannya pun terasa pegal pegal, kantong matanya terlihat bulat menghitam. Rasa lelah dan kurangnya jam tidur membuat semangat kerja Prambudi sangat jauh menurun. Ingin rasanya dia merebahkan badan sejenak, namun tumpukan map di mejanya tak mungkin bekerja sendiri.
Saat terdengar bunyi pengumuman jam istirahat di pengeras suara, Prambudi menggeliat malas. Dia menyandarkan badannya di kursi, menatap langit langit ber cat putih di atasnya. Terdengar beberapa karyawan lain bercakap cakap cukup heboh. Tema percakapan mereka kali ini adalah soal Linda.
"Woe Pram," Teriak salah satu rekan kerja yang satu ruangan dengan Prambudi.
"Apa?," Prambudi menyahut tanpa menoleh.
"Kamu kan yang paling sering digodain Linda, nggak ngerasa kehilangan gitu?," rekan kerja Prambudi itu berjalan mendekat. Seorang laki laki yang terlihat lebih tua dari Prambudi. Senyumnya terlihat menyebalkan.
"Kehilangan apanya?," Prambudi bertanya acuh tak acuh.
"Dia hilang lho, kamu nggak sadar apa? Hari ini Linda nggak masuk kerja, padahal dia itu yang paling rajin diantara kita," Rekan kerja Prambudi itu masih berusaha memancing komentar dari Prambudi.
"Teruss? Apa urusanku? Apa pentingnya juga buatmu? Aku ngantuk, nggak usah bahas yang gak penting," Prambudi masih mendongak menatap langit langit.
"Ah nggak asyik luu. . .padahal ya, ada kabar terbaru nih. Mobil Linda ditemukan tercebur di rawa rawa, di telaga kabupaten sebelah," Rekan kerja Prambudi itu akhirnya berjalan pergi, meninggalkan Prambudi sendirian.
Prambudi baru tahu, ternyata mobil Linda dibuang keluar kota oleh 'orang orang' itu. Yah, apapun itu dia bisa sedikit lega. Tidak akan ada yang tahu apa yang sudah terjadi pada Linda dan dimana dia sekarang. Yang terpenting bagi Prambudi sekarang adalah nanti malam waktunya untuk mendapatkan syarat terakhir. Setelah itu Prambudi yakin, kehidupannya akan membaik, dia bisa hidup bahagia bersama anak dan istri tercinta untuk selama lamanya.
Cukup banyak karyawan lain yang berlalu lalang di depan ruangan Prambudi. Sesekali di antara mereka ada yang melihat lihat dan menunjuk nunjuk meja kerja Linda. Pembicaraan tentang Linda sepertinya merupakan topik hangat untuk saat ini.
* * *
Jam empat sore. Saat semua orang berjubel dan berebut untuk mengisi absensi sebelum pulang, seperti biasa Prambudi berada di barisan paling belakang. Beberapa orang di sekitar Prambudi masih cukup heboh membicarakan Linda. Mobilnya tercebur di rawa, namun Linda sendiri sampai saat ini tidak karuan sedang berada dimana.
__ADS_1
Banyak spekulasi dan gosip yang beredar soal Linda. Ada yang menduga dia dibunuh, ada yang menduga dia mengemudi dalam keadaan mabuk mabukan dan masih banyak yang lainnya. Prambudi tersenyum kecut mendengarnya, batinnya terkekeh.
Prambudi keluar dari kantor paling terakhir. Terlihat sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Prambudi bergegas, masuk ke dalam mobil. Ada dua orang di dalam mobil, sopir dengan senyumnya yang menyeramkan, dan seorang pria bertongkat yang semalam datang ke rumah Prambudi. Dua orang itu mengenakan pakaian serba hitam. Setelah Prambudi masuk, mobil langsung dinyalakan dan melaju dengan kecepatan yang tinggi.
"Manten ke songo, kalau kali ini berhasil maka keinginanmu akan terwujud Pram," Ucap laki laki bertongkat, suaranya terdengar serak.
"Iya Mbah," Prambudi menimpali, tatapannya kosong.
Dari kaca mobil Prambudi memperhatikan deretan rumah yang berjajar rapi. Rumah rumah yang terlihat nyaman. Rumah yang diimpikan Prambudi sejak kecil dulu. Rumah tempat pulang, melebur keluh kesah kehidupan dalam hangatnya pelukan keluarga. Hanya untuk merasakan 'rumah' yang diimpikannya Prambudi rela berlumuran darah, membuang belas kasihan dan rasa kemanusiaannya.
"Kenapa kamu melamun Pram?" Tanya laki laki bertongkat pada Prambudi.
"Nggak pa pa Mbah," jawab Prambudi singkat sambil tertunduk.
"Jangan ragu. Tinggal satu lagi, kuatkan hatimu. Ingatlah keraguan akan menghancurkanmu, seperti halnya Retno. Kamu sudah setuju melewati jalan ini, tak ada cara untuk berhenti atau kembali kecuali kamu menyelesaikannya," Laki laki bertongkat itu menatap Prambudi dengan tajam.
"Baguslah. Rawe rawe rantas malang malang putung," Laki laki bertongkat menepuk nepuk bahu Prambudi.
Mobil yang ditumpangi Prambudi terus melaju. Melewati jalanan kota yang semakin terasa halus dan rata. Lampu lampu jalan sudah dinyalakan. Adzan maghrib sayup sayup terdengar di kejauhan. Mobil akhirnya semakin melambat dan berhenti di depan sebuah gang yang terlihat gemerlap dan berkilauan. Lampu warna warni menyala terang, suara musik terdengar keras dan bersahut sahutan.
Prambudi membuka tas kerjanya. Dia mengambil sebuah kantong plastik. Di dalam kantong plastik tersebut nampak dua butir kemenyan, bunga setaman, dan sebuah korek api serta sebotol parfum berukuran kecil.
"Pakailah," Laki laki bertongkat menyodorkan sepotong kecil kain kafan berlumuran tanah.
Prambudi menerima kain kafan tersebut. Dia melingkarkan kain itu pada jari kelingkingnya. Laki laki bertongkat kemudian memberikan sebotol kecil air berwarna merah pada Prambudi. Prambudi menenggaknya dengan cepat.
Ada aroma amis dan anyir saat air itu masuk ke dalam tenggorokan Prambudi. Detik berikutnya perut Prambudi terasa hangat. Kemudian kesadaran Prambudi sedikit memudar, dia merasa seperti keluar dari raganya. Dia dapat melihat dirinya sendiri sedang duduk di dalam mobil.
__ADS_1
Prambudi membuka pintu mobil, berjalan keluar dengan langkah yang tegap dan cepat. Dia mengusap usap hidungnya. Prambudi masuk ke tempat yang begitu ramai. Meskipun banyak orang yang berlalu lalang, namun keberadaan Prambudi seakan menghilang di tengah keramaian. Hampir semua orang tidak menyadari kehadirannya.
Prambudi terus berjalan sambil mengendus endus, seperti seekor anjing yang mencari tulang. Dan sampailah dia di sebuah rumah ber cat hijau, dengan lampu yang tidak dinyalakan. Rumah yang paling kontras dengan keadaan lingkungan sekitar saat ini. Saat rumah lain terlihat gemerlap, hanya rumah inilah yang terlihat biasa saja.
Prambudi berjalan berjingkat mendekati pintu depan. Dia memperhatikan keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang yang menyadari keberadaannya. Setelah dirasa aman Prambudi berjongkok mengeluarkan bungkusan plastik yang telah disiapkan tadi.
Dengan sebuah korek api, Prambudi menyulut kemenyan di tangannya. Entah bagaimana kemenyan itu mudah sekali terbakar dan mengeluarkan asap cukup tebal. Asap mulai menjalar masuk ke dalam rumah melalui ventilasi yang terletak di atas pintu.
Prambudi menunggu beberapa saat, kemudian dia mengetuk pintu dengan perlahan. Setelah ketukan yang ketiga, barulah pintu terbuka. Seorang perempuan dengan tatapan kosong berdiri di hadapan Prambudi. Prambudi menghiraukannya dan bergegas masuk ke dalam rumah, meletakkan kemenyan yang telah terbakar sebagian tadi di sudut ruangan. Setelahnya dia menyemprotkan minyak wangi ke seluruh penjuru rumah. Kemudian Prambudi berjalan mendekati perempuan si pemilik rumah.
"Buka mulutmu," Ucap Prambudi memberi perintah. Dan perempuan itu menurut saja.
Prambudi mengambil bunga setaman dari kantong plastik, kemudian menjejalkannya ke mulut perempuan tadi.
"Sak iki raga resun dadi drewe ingsun. Ra ono netra sing bakalan isa nrawang raga resun kejaba ingsun (Sekarang ragamu milikku, tidak ada yang bisa melihatmu kecuali aku)," saat Prambudi mengucapkan kalimat tersebut, bola matanya menghitam seluruhnya.
Prambudi berjalan keluar dari rumah tersebut, disusul perempuan muda yang hanya mengenakan kaos oblong dan hot pants dengan tatapan kosong. Sementara itu di kursi ruang tamu rumah tersebut tergeletak HP dengan sebuah panggilan yang masih aktif. Sebuah panggilan dari kontak bertuliskan Mas Adi.
Bersambung . . .
Hai gaess, lama nggak update nih.
Maaf ya, kebetulan hari hari ini tiap malam daerah tempat tinggalku cuaca lumayan buruk. Sinyal pun ikutan buruk. Sementara kalau mau ngetik siang hari nggak bisa juga karena ditinggal kerja.
Jadi, cukup tersendat deh ceritanya.
Semoga tetap sabar menanti kelanjutan kisah Prambudi ya.
__ADS_1
Musim hujan sudah tiba, tetap jaga kesehatan ya gaess. Semangaaattt. . .