
Hari masih pagi, cuaca mendung berawan saat Prambudi selesai mengurus segala macam keperluan administrasi di klinik tempat istrinya dirawat. Citra sudah bisa berdiri dan berjalan dengan pelan. Prambudi memutuskan untuk mengajak istrinya pulang pagi pagi, dia hendak masuk ke kantor hari ini. Prambudi merasa tak enak hati, karena sebagai karyawan baru tidak masuk kerja lebih dari satu hari.
"Nanti tak manggil Bu Utami lagi ya buat nemenin kamu," Ujar Prambudi sambil mengelus elus kepala Citra dengan lembut.
"Ya kalau aku sih sebenarnya nggak perlu Mas. Tapi, Manda kan harus ada yang jagain," Citra tersenyum singkat.
"Nanti biar tak belikan sembako deh Bu Utami, itung itung upah nemenin kamu sama momong Manda," Prambudi memasukkan baju bajunya ke dalam koper.
Jam 6 tepat, akhirnya keluarga Prambudi keluar dari klinik. Mereka meluncur pulang, menyibak embun pagi yang menetes di kaca depan mobil. Amanda masih setengah tertidur memeluk boneka doraemonnya di kursi belakang. Sementara Citra duduk di kursi samping Prambudi yang sedang mengemudi. Alunan lagu diputar lirih, radio kesukaan Citra.
🎶 Selamat pagi
Dan embun membasahi dunia dan mulai mengawali hari ini
Dan kukatakan, selamat pagi
Kicau burung bernyanyi dan kini kusiap 'tuk jalani hari ini 🎶
Citra sedikit bergumam, bersenandung mengikuti alunan lagu dan musik yang dia dengarkan.
"Kamu ceria banget kelihatannya," Prambudi tersenyum menatap istrinya.
"Sehat itu kan memang harus dinikmati Mas, disyukuri," Sahut Citra masih dengan berdendang.
"Cit, itu di depan mobil ayahmu kan?," Prambudi menunjuk mobil mewah berwarna hitam yang datang dari arah berlawanan. Citra mengamati dengan seksama, meski hanya sekilas terlihat jelas plat nomor mobil Pak Doto.
"Iya Mas, bener. Ayah mau kemana ya?," Citra bergumam sendiri.
Prambudi diam saja tidak menyahut. Prambudi sebenarnya sudah dapat menduga kemana dan dengan siapa mertuanya itu pergi. Prambudi hafal betul bagaimana kelakuan dan tabiat Pak Doto. Kelakuan yang hanya diketahui oleh kaum lelaki yang berada di istana mewahnya, sebuah rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh istri ataupun anak Pak Doto.
__ADS_1
"Mas kok diam saja?," Citra mengernyitkan dahi, merasa tidak ditanggapi oleh suaminya itu.
"Ah? Lha gimana? Aku juga nggak tahu," Prambudi tersenyum sekilas.
"Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Gimana dengan kabar Bunda ya Mas? Kapan kita bisa menengoknya?," Citra menatap Prambudi, wajah cerianya telah menghilang berganti dengan sorot mata yang sendu.
"Nanti Cit, kamu sabar dulu ya sayang. . .Aku janji sebentar lagi kita bisa pulang ke rumah orangtuamu dengan penuh kebanggaan," Prambudi berbicara tanpa menatap Citra, pandangannya menerawang jauh di jalanan.
"Apa maksudmu Mas? Perasaaan kamu sering deh bicara kayak gini. Sebentar lagi sebentar lagi, apanya yang sebentar lagi?," Citra mendekatkan wajahnya pada Prambudi. Dia merasa suaminya itu menyimpan atau menyembunyikan sesuatu.
"Yaahh, sebentar lagi aku akan jadi orang sukses," Prambudi melirik ke arah Citra sebentar.
"Sukses? Maksudmu Mas?," Citra terus mendesak.
"Ya, sukses. Banyak duit. Terus kita bisa pindah rumah, kamu kurang nyaman kan di rumah yang sekarang," Prambudi terdengar yakin dengan ucapannya.
"Gimana caranya Mas?," Citra kembali bertanya.
"Apa sih Mas? Apa yang kamu sembunyikan dariku? Jangan aneh aneh, jangan jangan kamu mau jual organ tubuhmu?," Citra terus saja bertanya, rasa penasarannya sudah tak tertahankan.
"Citra . . .," Ujar Prambudi lirih, dia menepikan mobilnya. Mereka berhenti di pinggir jalan di sebuah area persawahan yang luas.
"Percaya padaku Cit. . . Aku akan membuatmu bahagia, dengan segala cara," Prambudi menatap Citra begitu lekat, begitu dalam.
Citra mengangguk pelan. Dia tidak mungkin bisa lagi membantah ataupun mendesak Prambudi dengan pertanyaannya, sorot mata suaminya itu begitu terasa menghujam ke ulu hatinya. Sorot mata yang menghilangkan keraguan, Citra hanya bisa pasrah mempercayai Prambudi.
Prambudi menoleh ke kursi belakang, Amanda tertidur begitu lelap. Kemudian Prambudi kembali menatap istrinya. Dengan cepat Prambudi mengecup bibir Citra yang terlihat bagaikan buah stroberi segar. Citra selalu terlihat cantik di mata Prambudi. Tanpa make up sekalipun, bahkan baru tidur pun istrinya itu selalu sanggup membuat jantung Prambudi berdebar.
Citra cukup kaget dengan kecupan Prambudi. Setiap kali bibir mereka bersentuhan selalu ada sebuah sengatan yang menjalar ke hati Citra. Sebuah sengatan kerinduan, meletup letup membuat darah Citra terasa mendidih, tubuhnya menghangat.
__ADS_1
Jam setengah tujuh pagi, dalam sebuah mobil, di area persawahan, suami istri itu saling bertukar kecupan. Udara sejuk nan dingin, serta beberapa butir embun yang menetes semakin menambah suasana yang terasa syahdu. Dan ci*man mereka semakin membara, Citra mulai menambahkan gigitan manja di bibir bagian bawah suaminya itu. Sesekali Prambudi juga membalas.
Prambudi mulai menyentuh tubuh ramping istrinya. Tangannya merangsek masuk ke dalam baju Citra. Setiap sentuhan yang dilakukan Prambudi membuat nafas Citra semakin memburu.
"Maahhh? Yaahh?," Terdengar suara dari kursi belakang. Prambudi menoleh. Amanda terbangun, terlihat mengucek ngucek matanya.
"Kok berhenti mobilnya?," Tanya Amanda dengan polosnya.
"Manda kok sudah bangun?," Prambudi bertanya, sementara Citra menutup mulutnya menahan tawa.
"Lha kan mobilnya berhenti Yaahh. Aku pengen mobil e jalan terus," Amanda terdengar merengek.
"Baiklah," Prambudi menghela nafas, kemudian kembali menghidupkan mobilnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Citra beberapa kali mencubit lengan Prambudi pelan. Wajahnya terlihat memerah menahan tawa. Mobil mulai memasuki jalanan yang tidak rata. Rasa kantuk yang tadi sempat dirasakan Amanda, kini telah hilang. Amanda duduk sambil menikmati setiap goncangan akibat jalanan yang penuh lubang.
Lima belas menit berikutnya mereka sampai di rumah. Citra berjalan memakai tongkat masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi dapur. Prambudi sibuk memasukkan baju baju kotor ke dalam bak cucian. Setelahnya Prambudi segera mengambil kemeja di dalam lemari dan siap berangkat kerja.
"Nggak mandi Mas?," Tanya Citra heran.
"Nggak ah, takut keburu telat," Prambudi terkekeh. Citra menutup hidung dan mengibas ngibaskan tangannya seolah suaminya itu bau.
"Kamu jangan banyak gerak dulu ya Cit. Ini nanti tak panggilkan Bu Utami biar nemenin Manda. Pokoknya kamu banyakin istirahat," Prambudi mengecup kening Citra. Citra mengangguk mengiyakan nasehat suaminya itu.
"Aku berangkat dulu ya," Prambudi bergegas, meninggalkan Citra bersama Amanda di ruang dapur.
Beberapa menit setelah Prambudi berangkat kerja, si Cemong kucing peliharaan Amanda terlihat berjalan dan naik ke meja di hadapan Citra. Citra mengamati dengan seksama kucing kesayangan putrinya itu. Badannya terlihat lebih berisi. Citra mengelus elus bulu si cemong dengan lembut.
"Apa ini?," Citra menemukan sesuatu di sudut bibir si cemong. Citra mengambil tissue dan mengelapnya.
__ADS_1
"Kamu habis makan apa sih, kok ada darahnya?," Citra bertanya pada si Cemong, sebuah pertanyaan yang sia sia. Kucing itu takkan pernah menjawab pertanyaannya.
Brsambung . . l