
"Apa yang kau lakukan? Cepat ambil jantung wanita itu! Dan masukkan pada wadah ke sembilan!" Laki laki bertongkat berteriak pada Prambudi. Urat lehernya terlihat menonjol menandakan dia begitu murka.
Prambudi tak bergeming. Tangan kirinya mencengkeram leher Citra. Sementara tangan kanannya gemetar hebat. Pikirannya telah dirasuki dan dikuasai untuk segera mencakar dan mencabik cabik wanita di hadapannya itu. Namun hati dan nuraninya terus menerus menolak. Rasa cinta yang begitu besar nyatanya mampu menghentikan sebuah mantra.
"Janma manungsa ekatwa sira eyang gogor," Laki laki bertongkat sekali lagi mengucap mantra.
Prambudi menggeram, liurnya menetes begitu menjijikkan. Tangan kirinya semakin erat dan kuat menekan leher Citra hingga pembuluh darah di leher Citra terlihat menghijau di antara kulit putihnya yang kemerahan.
"Uughhh," Citra kesulitan bernafas, namun dia tidak berusaha melawan. Dia telah pasrah, apapun yang terjadi dia serahkan hidupnya pada sang suami.
Prambudi terengah engah, air matanya tak berhenti menetes. Suara geraman lama kelamaan terdengar seperti suara tangis yang menyedihkan. Citra dalam keadaan kesulitan bernafas meletakkan tangannya di kepala bagian belakang Prambudi. Dia mengelus elus rambut suaminya itu.
"Tak apa sayang," Bisik Citra perlahan.
"Aarrgghhhhhh," Prambudi tiba tiba saja berteriak dan melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Citra.
Prambudi menoleh, menatap laki laki bertongkat yang berdiri terpaku di belakangnya.
"Kau, baj*ng*n!," Prambudi berteriak. Suaranya terdengar bergema, seperti suara dua orang yang berbicara bersamaan.
"Aku jaluk padhang ati, ora duwe padhang ati, duweku dimar kurung cumanthol pulung e atiku, kekuwunge byar padhang ketrawangan lir kadiyo suryo medal saking wetan," Laki laki bertongkat kembali mengucap mantra. Dia menggenggam sebuah kemenyan sebesar ibu jari dengan erat.
Prambudi menggeleng geleng cepat. Entah bagaimana mantra laki laki bertongkat tidak berefek lagi padanya. Keinginan dan kekuatan hatinya lah yang berhasil menjernihkan pikirannya. Mata Prambudi tetap memutih, namun dia tidak bisa dikontrol lagi oleh dukun di hadapannya itu.
Laki laki bertongkat semakin gusar, dia tidak pernah menduga Prambudi bisa lepas dari mantranya. Mata Prambudi menatap tajam pada laki laki di hadapannya itu. Tatapan yang menunjukkan amarah dan keinginan untuk membunuh.
Tiba tiba saja Prambudi melompat, menubruk laki laki bertongkat. Mereka berdua berguling terjatuh di tangga hingga ke lantai satu. Masih terdengar geraman dari mulut Prambudi, sementara laki laki bertongkat terlihat terkapar penuh luka di sekujur tubuhnya.
Prambudi berusaha berdiri, namun merasakan nyeri di kaki kanannya. Pergelangan kakinya terkilir. Dengan terseok seok, dia menyeret langkahnya berjalan kembali ke lantai atas.
"Pram bu di. . .," Laki laki bertongkat memanggil dengan suaranya yang parau dan terbata bata. Prambudi menghentikan langkahnya, namun dia tak menoleh.
"Kamu bagian dari kami. Begitupun darah keturunanmu. Selama ritual mantu songo tidak kamu selesaikan, maka ritual itu akan terus diwariskan. Kami akan selalu. . .mencarimu . . .mengendus aroma darah keturunanmu . . .," Laki laki bertongkat sedikit terkekeh. Dia sudah tak mampu lagi bergerak.
Prambudi kembali menyeret kakinya menuju ke lantai atas. Citra masih duduk bersandar pada tembok. Lehernya terlihat biru bekas cekikan. Tubuh rampingnya nampak lemah dan lemas.
__ADS_1
"Citra. . .," Prambudi memanggil Citra, sedikit mengguncang guncangkan bahunya.
"Mas. . sudah sadar?," Citra bertanya, suaranya parau. Akibat cekikan Prambudi tadi, mungkin pita suaranya terluka.
"Maafkan aku sayangku," Prambudi mencium kening Citra dengan begitu lembut. Prambudi berusaha mengangkat tubuh Citra. Meskipun kakinya terasa nyeri dan sakit, dia merasa harus segera keluar dari rumah ini.
Kriieettt
Saat kaki Prambudi hendak melangkah menuruni anak tangga, terdengar pintu kamar terbuka sendiri. Hawa dingin langsung menyergap. Bersamaan dengan itu, sekelebat asap hitam masuk ke tubuh Prambudi menembus melalui tengkuknya. Prambudi gemetar seperti tersengat listrik.
"Mas?," Citra bertanya heran sekaligus takut.
"Cit, sebaiknya kamu lari," Prambudi menurunkan Citra dari gendongannya.
"Ada apa Mas?," Citra bertanya lirih.
"Ritual tidak bisa dibatalkan. Iblis yang dipuja oleh mereka sudah datang, aku bisa merasakannya. Dia mengendus aromamu Cit. Wanita yang sedang datang bulan. Lari! Pergi!," Prambudi memegang i kepalanya.
Prambudi tahu betul, tidak ada yang bisa menghentikan ritual yang sudah berjalan kecuali kematian. Bahkan jika kematian datang pun tanggung jawab pemenuhan sangang mantu (sembilan mantu) diwariskan ke keturunannya.
Mas Adi segera berlari ke dalam rumah. Saat masuk ke ruang tamu, keadaan sangat sepi. Mas Adi melangkah perlahan. Kemudian dia menemukan seorang kakek tua tergeletak di bawah tangga. Kakek itu menatap kedatangan Mas Adi. Matanya melotot, terlihat cukup menakutkan.
"Jangan ganggu! Sebentar lagi ritual akan selesai!," Ucap Kakek itu dengan suaranya yang parau.
Mas Adi menghiraukannya. Dia beranjak, mengendap endap berjalan menuju lantai atas. Terdengar suara geraman, sama seperti suara orang orang yang sedang kerasukan di halaman luar.
Mas Adi mempersiapkan pistolnya. Dia berjalan setengah berjingkat, mengatur nafasnya yang terengah engah agar tidak sampai terdengar.
Mas Adi menemukan Citra dan Prambudi di lantai atas. Citra yang duduk bersimpuh, sementara Prambudi berjongkok memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Jangan bergerak!," Mas Adi menodongkan pistolnya pada Prambudi. Mas Adi memperhatikan sekitar, dia tetap waspada sambil mencari cari keberadaan Sinta.
Prambudi mendongak, dengan pandangan matanya yang semakin terasa buram dia bisa melihat Mas Adi berdiri di hadapannya.
"Adi?," Prambudi melihat Mas Adi dengan ekspresi keheranan.
__ADS_1
"Jadi, kamu datang kemari dengan petugas kepolisian, maksudmu orang ini Cit?" Prambudi bertanya pada Citra. Istrinya itu mengangguk pelan.
"Sebuah kebetulan yang luar biasa. Sepertinya roda takdir berputar dengan sangat tidak lucu," Prambudi terkekeh.
"Oh iya Adi, di dalam kamar ada satu mayat laki laki tua pemilik rumah ini. Aku tidak membunuhnya, dia mati sendiri kau tahu. Dan satu lagi ada wanita yang sedang kuikat. Dia tidak ku apa apakan, nanti lepaskan dia ya Pak polisi Adi," Prambudi terkekeh, entah apa yang membuatnya merasa lucu. Setelah memdengar ucapan Prambudi, Mas Adi merasa sedikit lega. Sinta masih hidup.
"Mbak Citra, cepat kemari. Berlindung di belakang saya," Mas Adi memanggil Citra. Mas Adi khawatir Prambudi akan menyerang secara tiba tiba. Matanya yang berwarna putih membuat Mas Adi yakin, Prambudi bisa saja sewaktu waktu melukai orang lain.
"Dia suamiku," Ucap Citra, sambil menoleh menatap Mas Adi.
Mas Adi menelan ludah. Dia salut melihat Citra yang begitu setia pada Prambudi, bahkan dalam keadaan seperti saat ini. Terlihat jelas Prambudi bukan seorang manusia lagi. Matanya yang putih sepenuhnya, gigi taringnya yang entah bagaimana nampak lebih panjang, begitupun kuku kuku tangannya. Dilihat dari manapun, Prambudi sangat menyeramkan.
"Mbak Citra. Jangan bertindak bodoh! Cepat jauhi makhluk itu! Dia bukan suamimu lagi. Mana putrimu? Dimana dia Mbak? Dia membutuhkanmu!," Mas Adi berteriak masih menodongkan pistolnya pada Prambudi.
Ucapan Mas Adi membuat Citra tersadar. Tadi dia meminta Amanda untuk bersembunyi di dalam kamar tidur. Citra menatap Prambudi, Prambudi mengangguk pelan.
"Cari anak kita Mah, cepat!," Ucap Prambudi, suaranya terdengar bergetar.
"Kamu jangan kemana mana Mas, aku akan segera kembali," Citra meraih leher Prambudi. Dengan sedikit menariknya, Citra mendaratkan kecupan di bibir suaminya itu.
"Pak polisi, jaga suami saya," Citra berdiri, menatap Mas Adi. Suaranya terdengar serak dan parau. Pita suaranya benar benar telah rusak.
Citra sedikit sempoyongan berjalan menuruni tangga.
"Aku tidak bisa berlama lama menguasai kesadaranku Di. Mungkin memang sudah takdirnya, kamulah yang harus mengakhiriku," Ucap Prambudi setelah Citra pergi. Prambudi tersenyum masam.
"Kalau kamu mau kooperatif, aku takkan menyakitimu Pram. Ikut denganku, kita ke kantor!," Ucap Mas Adi, kali ini dia menurunkan senjatanya.
"Nggak bisa Di. Semua sudah terlambat. Lebih baik kamu dengarkan aku. Setelah ceritaku selesai, bunuhlah aku!," Prambudi menghela nafas, terdengar dan terasa berat.
"Ceritanya nanti saja, kita ke kantor dulu!," sergah Mas Adi.
"Ini tentang aku, Mbak Retno dan orang orang itu . . .," Prambudi menghiraukan Mas Adi. Dia tetap memulai ceritanya.
Bersambung . . .
__ADS_1