Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Prambudi dan Mas Adi


__ADS_3

Pukulan demi pukulan menghantam tubuh Prambudi. Dia tak mampu mengelak ataupun melawan. Empat orang berbadan besar mengepung dan salah satu diantaranya telah mengunci Prambudi. Sebuah pertarungan yang tidak adil. Prambudi hanya menjadi samsak hidup untuk para centeng Pak Doto.


Pelipis Prambudi terasa perih, begitupun sudut bibirnya terasa anyir. Jelas darah segar mengucur dari sana. Pandangan nya mulai kabur, ada sensasi berdenyut di mata sebelah kanan. Beberapa kali Prambudi juga muntah, ulu hatinya terkena hantaman 3 sampai 4 kali dengan telak.


Saat kesadaran Prambudi mulai memudar, terdengar sayup sayup suara teriakan.


Doorrr Doorrr Doorrr


Disusul suara letupan senjata api ke udara. Saat itulah kuncian di leher Prambudi dilepaskan. Begitupun pukulan bertubi tubi yang sedari tadi terus menghujam tubuh Prambudi, kini telah berhenti. Prambudi ambruk ke aspal, sementara para centeng Pak Doto berlarian masuk ke dalam mobil dan segera kabur.


"Kamu tidak apa apa?," Sebuah suara menanyakan keadaan Prambudi.


Prambudi mendongak, memperhatikan orang yang menolongnya.


"Nama saya Tarji, saya anggota kepolisian yang sedang berpatroli," Ucap Tarji memperkenalkan diri pada Prambudi.


Tarji mengulurkan tangannya untuk membantu Prambudi berdiri. Dengan bersusah payah Prambudi akhirnya berhasil berdiri. Kakinya gemetar, pijakannya masih lemah. Beberapa kali Prambudi meludah, membuang darah yang memenuhi mulutnya.


Satu lagi petugas kepolisian mendekat. Dialah Mas Adi, rekan dari Tarji yang tadi melepaskan tembakan peringatan ke udara. Mas Adi memperhatikan laki laki yang baru saja dipukuli oleh orang orang suruhan Pak Doto itu. Dan detik berikutnya Mas Adi terbelalak kaget, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Prambudi? Kamu Prambudi kan?," Mas Adi menatap Prambudi, dia sedikit mengguncang guncangkan bahu Prambudi, seakan terlupa bahwa lawan bicaranya itu sedang kesakitan.


Prambudi menatap Mas Adi. Pandangannya sedikit kabur, mata kanannya bengkak. Perlahan lahan Prambudi mampu melihat dengan jelas sosok petugas kepolisian yang menolongnya tadi. Dari suara dan sorot matanya terasa begitu familiar.


"Adi?," Prambudi pun terhenyak kaget.


"Kalian saling kenal?," Tarji menatap Prambudi dan Mas Adi bergantian.


* * *


Mobil yang dikendarai Tarji keluar dari sebuah klinik di kecamatan K. Mas Adi duduk di kursi belakang bersama Prambudi yang sudah mendapatkan pertolongan medis. Terlihat perban terpasang di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


"Yakin nih nggak rawat inap saja?," Tanya Mas Adi pada Prambudi.


"Nggak usah, udah sembuh kok," jawab Prambudi singkat.


"Bisakah antarkan aku kembali ke kantor?," Prambudi melirik jam tangannya. Jam setengah dua siang, sudah terlewat jauh dari jam istirahat.


"Maaf, aku tadi sudah meminta ijin pada tempat kerjamu. Ada yang perlu kami tanyakan padamu Budi," Ujar Mas Adi, tatapannya nampak serius.


"Sekarang kita kemana? Ke rumahmu?," Tarji menoleh, bertanya pada Prambudi.


"Jangan!," Cegah Prambudi cepat.


Mas Adi bertukar pandang dengan Tarji. Dia sedikit bingung dan merasa aneh dengan sikap Prambudi.


"Kenapa?," Mas Adi bertanya heran.


"Emm anu, aku nggak mau orang rumah melihatku babak belur dan diantar dua orang petugas kepolisian seperti ini," jawab Prambudi terbata bata.


Mas Adi memaklumi alasan Prambudi. Akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat makan tak jauh dari klinik tempat Prambudi mendapatkan pengobatan tadi.


"Yah, aku nggak suka saja bertemu denganmu lagi setelah sekian lama, dalam keadaan seperti ini," Ujar Prambudi pelan.


"Sebentar sebentar, kalian ini saling kenal? Teman sekolah atau saudara?," Tarji menyela, sebenarnya sedari tadi dia ingin bertanya.


"Prambudi ini adalah saudara laki lakiku," Jawab Mas Adi mantap.


"Hah? Bukannya kamu dulu besar di panti asuhan?," Tarji kaget dengan jawaban Mas Adi.


"Ya, aku dan Prambudi adalah saudara tanpa ikatan darah. Kita bertiga dibesarkan di sebuah panti asuhan," Ucap Mas Adi, sorot matanya begitu sendu.


"Bertiga? Satu lagi siapa?," Tarji kembali bertanya.

__ADS_1


"Satu lagi adalah seorang kakak perempuan, Mbak Retno," Mas Adi menatap Prambudi yang terlihat enggan membicarakan kisah masa lalunya.


"Budi, kamu tahu dimana sekarang Mbak Retno berada?," Mas Adi bertanya pada Prambudi.


"Aku nggak tahu," Prambudi menggeleng pelan.


"Yah kita berdua dari kecil memiliki sosok kakak yang selalu melindungi. Saat pengurus panti marah, menghukum kita, ada Mbak Retno yang selalu memberi kasih sayang, bersedia menggantikan hukuman yang kita terima," Mas Adi menghela nafas, tatapannya mengawang jauh.


"Bisa nggak kita tak membicarakan hal itu sekarang. Aku sedang tidak ada niat untuk bernostalgia, apalagi dalam keadaan tubuh penuh luka seperti ini. Sudah cukup rasa sakit fisik yang kurasa, tak perlu membuka cerita kesedihan dari masa lalu," Prambudi berkata dengan ketus. Dia terlihat benar benar tidak suka dengan topik pembicaraan.


"Maafkan aku. Bertemu denganmu lagi merupakan salah satu keinginanku sejak dulu Budi," Mas Adi menepuk lengan Prambudi. Hatinya begitu rindu dengan 'saudaranya' itu. Namun Prambudi hanya diam saja, terkesan dingin.


"Ehemm. Baiklah, kita ganti topik. Kenapa kamu dipukuli oleh orang orangnya Pak Doto? Ada masalah apa kamu dengan Pak Doto?," Tarji akhirnya mengambil alih pembicaraan. Dia sadar rekannya saat ini tidak bisa fokus karena bertemu dengan saudara dari masa lalunya.


"Dia mertuaku. Dan hubungan kami tidak baik. Itu saja," Prambudi menjawab pendek.


"Hah? Kamu menantu pengusaha kaya raya itu?," Tarji terlonjak kaget.


"Ya pengusaha yang begitu kaya raya, dan disinilah aku dalam keadaan babak belur," Prambudi menunjuk kelopak mata kanannya yang bengkak.


"Kenapa kalian, petugas kepolisian mengawasi mertuaku? Dia terlibat kasus apa?," Prambudi balik bertanya kali ini.


"Ini masih dugaan kami. Tapi kami curiga mertuamu mungkin ada hubungannya dengan kasus hilangnya beberapa wanita," Tarji menjawab dengan cepat. Mendengar pernyataan Tarji, Prambudi mengatupkan mulutnya. Prambudi diam membisu.


"Aku tak tahu apapun soal itu. Lagipula aku sudah tidak tinggal serumah dengannya," Prambudi membuka mulutnya setelah terdiam beberapa saat.


"Sekarang aku boleh pergi kan? Aku tak tahu apapun soal kasus yang kalian tangani. Mohon maaf, ada yang harus aku kerjakan, jadi aku mohon pamit," Mas Adi berdiri dari duduknya. Tarji duduk bersedekap, merasa tak suka dengan sikap Prambudi.


"Budi, kamu begitu berubah," Ujar Mas Adi setelah mengamati sikap Prambudi sedari tadi.


"Aku tidak berubah Adi. Aku hanya berusaha menjalani hidupku dengan sebaik baiknya. Masa lalu hanyalah masa lalu. Aku tak mau hidup di ruang nostalgia, karena masa depanku bersama keluargaku saat ini. Bukan denganmu ataupun Mbak Retno. Ku doakan kesuksesanmu, dan semoga kita tidak bertemu lagi," Prambudi melangkahkan kakinya meninggalkan Mas Adi dan Tarji yang menatap kepergiannya dengan ekspresi heran.

__ADS_1


Mas Adi menghela nafas pelan. Sementara Tarji menatap Mas Adi meminta penjelasan.


Bersambung . . .


__ADS_2