Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Wanita wanita cantik penghuni rumah suram


__ADS_3

Kriingg Kriingg Kriinggg


Suara alarm di HP berbunyi nyaring. Dengan sedikit enggan sepasang mata mengerjap ngerjap, mencoba mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul seluruhnya. Dilihatnya jam di dinding, jam setengah 4 pagi. Adzan subuh belum berkumandang. Saat semua orang masih asyik berada di balik selimutnya, dia sudah harus bangun demi tugas, menjemput rezeki.


Rohmat berjalan gontai, menyambar handuk dan segera menuju ke kamar mandi. Saat keluar kamar dia melihat TV di ruang depan masih tetap menyala, sementara seorang laki laki tidur terlentang di depan TV.


"Ah, ini sih bukan orang nonton tv. Tapi tv nonton orang," Rohmat menggerutu kesal. Disambarnya remote yang tergeletak di lantai, Rohmat mematikan TV nya.


Rohmat tinggal sendirian di sepetak rumah kontrakan dengan 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Laki laki yang tidur di depan TV adalah teman nongkrongnya yang tadi malam numpang menginap.


Rohmat berjalan dengan malas, keluar dari rumah lewat pintu belakang. Kamar mandi di kontrakan Rohmat memang letaknya di belakang terpisah dengan bangunan rumah. Hujan semalaman meninggalkan genangan genangan air yang membuat halaman belakang becek dan licin. Struktur dan jenis tanah di daerah kontrakan Rohmat subur dan terlalu gembur, sehingga saat terguyur hujan mudah becek dan lengket.


Rohmat berjalan berjingkat menghindari genangan air. Udara terasa begitu dingin menembus kulit, menusuk ke dalam tulang. Rohmat menggosok gosok kedua lengannya, berharap badannya terasa lebih hangat. Rohmat segera masuk ke kamar mandi dan buru buru menutup pintu.


Kamar mandi sempit dan kumuh dengan atap seng, tempat Rohmat berdiam melamun kali ini. Dia tidak kunjung mengguyurkan air ke badannya. Hawa dingin membuatnya enggan untuk segera mandi. Akhirnya beberapa menit berlalu, Rohmat habiskan hanya untuk bengong saja.


Tiba tiba saja Rohmat teringat Citra, pelanggan barunya yang menempati rumah tusuk sate. Rumah serem yang selalu membuat Rohmat ingin menghindarinya saat berkeliling jualan di daerah sana. Namun akhir akhir ini Rohmat selalu mampir ke rumah tersebut. Semua karena Citra, wanita cantik, putih bersih, sempurna di mata Rohmat.


"Ah, kenapa udah bersuami sih. Suaminya ganteng pula," Gerutu Rohmat dalam lamunannya.


Sebagai seorang laki laki bujang, sesungguhnya dia begitu tertarik dan mengidolakan Citra. Seringkali dia memimpikan wanita cantik tersebut. Dan pagi ini, sekali lagi dia membayangkan kecantikan dan tubuh ramping Citra. Rohmat akhirnya menyalurkan hasratnya, mengelus elus bagian tubuhnya sendiri dengan membayangkan istri orang lain. Sungguh terlalu.


Setelah mandi dan keramas Rohmat segera bersiap, memanasi motornya. Gerobak sayur sudah bertengger di jok belakang.


"Ah, belum bisa ngebonceng cewek cantik. Ngebonceng kamu dulu ya sayang. Bantu aku dapat banyak duit," Rohmat berbicara sendiri mengelus elus gerobak sayurnya.


Rohmat meluncur ke pasar induk kecamatan. Jam 4 pagi suasana pasar sudah sangat riuh. Sudah banyak penjual sayur keliling, saingan bisnis Rohmat yang datang lebih awal. Mereka sudah siap meluncur menjajakan dagangannya.


Rohmat memilah dan memilih sayuran dan bahan masakan yang sekiranya digemari oleh ibu ibu. Dalam sehari dia harus menyiapkan uang kurang lebih tiga ratus ribu rupiah sebagai modal belanja.

__ADS_1


"Mat, kok agak siang? Kerinan (telat bangun)?," Tanya salah satu pengepul sayur kol di pasar.


"Iya, kebanyakan mimpi ketemu widodari," Jawab Rohmat asal asalan.


"Makanya nikah Mat nikah. Nanti ada yang bangunin, bangunin kamu dan burungmu. . .ha ha ha ha," seloroh penjual sayur lainnya.


Rohmat sudah terbiasa mendengar dan menghadapi guyonan yang nylekit seperti itu. Di usianya sekarang, menyandang status bujang membuatnya kerap jadi bahan guyonan dan pergunjingan. Sebuah candaan yang dianggap lumrah padahal cukup membuat Rohmat tertekan.


Selesai memilih sayuran dan bahan masakan, Rohmat segera memacu motornya. Menjajakan dagangannya, menyibak embun pagi yang menetes di setiap dedaunan di sepanjang jalan.


Tin Tin Tiinnn


"Say Sayy Sayy Sayuuurrr," Teriak Rohmat sambil menekan tombol klaksonnya yang berbunyi khas.


Rohmat masuk dan keluar gang demi gang di sepanjang jalan yang dia lalui. Terkadang ada yang memborong dagangannya, banyak pula yang sekedar melihat lihat dagangannya namun tidak jadi beli. Rohmat hanya bisa menggerutu dalam hati.


Rohmat akhirnya memasuki jalanan wilayah desa K. Jalanan yang terbuat dari semen, cukup licin karena semalaman terguyur oleh air hujan. Rohmat mengendarai motornya dengan hati hati. Jalanan terasa begitu lengang dan sepi. Warga desa mungkin enggan keluar rumah karena hawa yang begitu dingin menusuk tulang. Bahkan jaket tebal nan kumal yang dikenakan Rohmat masih tertembus oleh dinginnya udara pagi ini.


"Sayy Saayyy Saayuurrr," Rohmat berteriak, berharap sang tuan rumah segera keluar dan memberinya senyuman. Senyum yang sering singgah di mimpinya.


Rumah terasa sepi, tidak ada tanda tanda pintu terbuka.


"Sayyy Saayyy Saayuuurrrr," Rohmat pantang menyerah, sekali lagi berteriak sambil melongok ke halaman depan.


Terlihat bekas ban mobil meninggalkan jejak di halaman rumah yang becek. Mungkin saja Citra dan suaminya pergi ke suatu tempat. Rohmat sedikit kecewa, tidak bertemu pelanggan barunya itu pagi ini.


Kriieettt


Saat Rohmat hendak menghidupkan motornya, terdengar suara pintu rumah terbuka dari dalam. Rohmat girang bukan kepalang. Dia berharap bertemu dengan Citra.

__ADS_1


Rohmat memperhatikan sosok yang keluar dari dalam rumah. Seorang wanita memakai piyama berwarna hitam legam. Wanita itu bukan Citra. Wajahnya oval dan cantik, meski bagi Rohmat tetap Citra yang lebih cantik. Rohmat mengelus dada, bertanya dalam hati, kenapa penghuni rumah yang baginya suram ini semuanya adalah wanita wanita yang cantik.


"Pagi Mbaakk," Sapa Rohmat cengengesan.


Mbaknya diam saja tak menjawab, menatap daging ayam yang tergantung di gerobak Rohmat.


"Mbak, adiknya Mbak Citra ya?," Tanya Rohmat penasaran.


"Kenapa Bang?," Mbaknya balik bertanya dengan nada yang datar dan terdengar malas.


"Soalnya sama sama cantik . . .he he he," Rohmat cengengesan. Namun, lawan bicaranya tak menanggapi. Rohmat sedikit kesal sebenarnya.


"Ini berapa Bang?," Mbaknya bertanya masih dengan nada bicaranya yang datar. Memegang seplastik daging ayam, se plastik ceker dan kepala ayam serta seplastik jeroan ayam.


"Tiga puluh ribu Mbak," Jawab Rohmat sambil memperhatikan pembelinya itu. Cantik, putih namun tampak pucat. Tak ada senyuman, wajah Mbaknya tanpa ekspresi, tatapannya kosong.


"Ini bang," Mbaknya menyodorkan uang tiga puluh ribu pas pada Rohmat.


"Terimakasih Mbak," Rohmat menerima uang tersebut dan segera menaiki motornya.


"Permisi ya Mbak, salam buat Mbak Citra," Rohmat tersenyum dan menghidupkan motornya.


Mbaknya mengangguk pelan, kemudian membuka plastik berisi ceker dan kepala ayam. Detik selanjutnya dia memasukkan kepala ayam ke mulutnya yang mungil. Mengecap dan mengunyah kepala ayam mentah tanpa ekspresi


Krauk krauk krauk


Rohmat begidik ngeri, segera tancap gas pergi meninggalkan wanita misterius itu.


"Duh Gusti. . .itu sih bukan Widodari, itu mesti medii (hantu)," Rohmat merinding hebat, dia tidak mempedulikan lagi barang dagangannya. Dia ketakutan dan meluncur pulang.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2