Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kecupan penuh cinta


__ADS_3

Linda duduk di kursi ruang tamu, sementara Prambudi mengambil kaos di kamarnya. Saat Linda datang, Prambudi memang baru saja selesai mandi. Dia tidak menduga akan kedatangan tamu rekan kerjanya itu.


"Aku tadi kemari untuk membawakan tas kerjamu ini Mas. Kau tinggalkan begitu saja di kantor," Linda menjelaskan alasan kedatangannya meski tak diminta.


"Emm ya, terimakasih," Ucap Prambudi pendek. Dia mengambil duduk agak jauh dari Linda.


"Mas, sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu babak belur begitu?," Linda kembali bertanya soal luka di wajah Prambudi.


"Aku lebih suka tidak membahasnya Lin," Prambudi terlihat enggan untuk bercerita.


Linda kesal, dia mendengus dan melotot menatap Prambudi. Linda merasa Prambudi enggan terbuka padanya, bahkan ketika istrinya sedang tidak ada di rumah. Padahal Linda berharap Prambudi bisa dan mau untuk sedikit nakal kali ini.


"Aku tahu Mas, istrimu sedang tidak ada di rumah saat ini," Linda berpindah tempat duduk, mendekat pada Prambudi.


"Hah? Darimana kamu tahu?," Prambudi sedikit kaget.


"Dari Andre, sepupuku. . . mantan dari Citra, istrimu," Linda memberikan penekanan pada kalimatnya, dia tersenyum licik. Prambudi diam saja kali ini.


"Istrimu tak jujur padamu Mas. Apa kamu nggak kepikiran untuk membalasnya?," Linda mulai mencoba menyulut api di hati Prambudi.


"Apa maksudmu Lin?," Prambudi mulai terpancing dengan perkataan Linda.


"Dia tidak di rumah, dan bertemu mantannya di mall. Bukankah itu awal dari sebuah ketidakjujuran? Bisa jadi ujungnya adalah sebuah pengkhianatan," Linda menggenggam lengan Prambudi. Dia berusaha mempengaruhi dan menggoyahkan hati Prambudi.


"Maka kamu nggak perlu untuk setia padanya Mas. Jika dia bisa berkhianat, kamu pun juga bisa bersenang senang. Dan aku siap menjadi pelampiasanmu," Linda tersenyum, mengelus elus lengan Prambudi.


"Kamu sudah gila," Prambudi menarik lengannya. Dia nampak kesal dengan sikap Linda.

__ADS_1


"Mumpung istrimu tidak ada, aku siap menggila Mas. Aku memang sudah gila, tergila gila padamu. Aku pernah menahan rasa ini, namun ternyata malah menyiksaku. Aku tak masalah kamu jadikan nomor ke sekian, menjadi simpanan, menjadi yang tak diprioritaskan. Asalkan sebagian hati dan ragamu menjadi milikku," Wajah Linda memerah, jantungnya berdegup kencang. Ada rasa yang membuncah di hatinya. Dia merasa sudah mempermalukan harga dirinya, tapi tak ada pilihan lain, Linda sudah tak kuasa menahan diri lagi.


Prambudi tertegun. Dia tidak menduga Linda akan mengatakan hal demikian itu. Sorot matanya terlihat tulus, tidak ada kebohongan. Meskipun wanita di hadapannya itu licik dan penuh tipu muslihat, tapi kali ini dia memang berkata jujur.


"Aku menemukan kemenyan di dalam tasmu. Aku curiga kamu menggunakannya untuk mendapatkan Citra. Dia cantik, anak orang kaya raya, sempurna. Mungkin memang yang seperti itu tipe wanita idamanmu Mas. Dan aku sadar, aku tidak bisa mengalahkannya. Aku kalah segalanya dari istrimu Mas, namun soal hati aku bisa diadu," Sudut mata Linda terlihat basah. Air matanya keluar begitu saja. Rasa malu dan rendah membuatnya ingin menangis. Linda seperti diingatkan tentang karma dalam hidup. Saat dulu dia pernah dengan mudah mencampakkan laki laki yang mengemis cinta padanya, kini dia harus mengemis cinta pada seorang Prambudi.


"Kamu tak tahu apa apa Lin. Tentangku, juga tentang Citra," Prambudi berujar lirih.


"Aku tak peduli dengan kisahmu dengannya Mas. Kenapa kamu tak mau mencoba membuka hatimu padaku? Bahkan saat istrimu tidak ada di sampingmu. Dia tak akan tahu Mas," Linda kembali mencoba meraih tangan Prambudi. Kini dia menggenggam punggung tangan Prambudi yang terasa hangat.


"Kamu cantik, menarik, dan seksi Lin. Aku harus jujur, aku pun tertarik padamu. Tapi, ini soal hati Lin. Aku hanya tertarik pada yang nampak, fisik semata. Aku tak ada hati padamu," Prambudi mencoba menenangkan Linda.


"Oh ya," Linda berdiri dari duduknya. Detik berikutnya dia menjatuhkan badannya pada Prambudi.


Linda memeluk Prambudi dengan erat. Prambudi seperti orang linglung, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Tapi ini salah Lin," suara Prambudi terdengar bergetar. Ada keraguan di hatinya.


Linda melepas pelukannya, namun dia masih duduk di pangkuan Prambudi. Linda menyentuh pipi Prambudi, menatap wajah laki laki itu dari dekat. Garis wajah yang tegas, bola mata yang membiru, ada sedikit belahan di dagunya.


"Siapa yang berani melukaimu seperti ini Mas?," Linda mengusap pipi Prambudi yang memar. Prambudi terlihat meringis menahan perih.


"Pak Doto, mertuaku," jawab Prambudi pelan.


Jari Linda turun dari pipi Prambudi, kini jari lentiknya meraba bibir Prambudi yang merah.


"Bersama Citra kamu terluka Mas. Dan tugasku mengobati lukamu," Linda mendekatkan wajahnya pada Prambudi.

__ADS_1


Akhirnya Linda mengecup bibir Prambudi dengan pelan. Rasanya seperti tersengat aliran listrik, jantung Linda berdegup sangat kencang. Sensasi mencium orang yang didambakannya, yang diinginkannya benar benar luar biasa. Baru kali ini Linda merasakannya, mungkin beginilah rasa cinta.


Prambudi terlihat tidak bereaksi, dia diam saja mendapat kecupan dari Linda. Hal itu membuat Linda semakin penasaran. Dia mengulangi kecupannya, kini dengan sedikit gigitan di bibir bawah Prambudi. Linda memeluk Prambudi, mengusap usap rambutnya. Dan kini tangan Prambudi bergerak, memegangi pinggul Linda. Linda menghentikan ciumannya, dia tersenyum puas. Prambudi mulai bereaksi untuk mengimbanginya.


Linda menggenggam tangan kanan Prambudi, kemudian mengarahkan ke dadanya. Sentuhan Prambudi membuat hati Linda semakin berdebar. Linda kembali mengecup Prambudi. Kini nafas keduanya tersengal. Prambudi mulai menyentuh lekuk tubuh Linda.


Linda semakin bern*fsu, dia melepas kaosnya. Kini tubuh atasnya dia pamerkan pada Prambudi. Tubuh yang sudah lama tidak merasakan pelukan seorang laki laki. Tubuh yang sudah lama mendambakan Prambudi.


"Mas, hari ini kamu milikku," Linda tersenyum nakal.


"Seperti yang aku katakan tadi aku kalah segalanya dari Citra, namun tidak soal hati. Dan aku yakin satu hal lagi yang aku takkan kalah dari istrimu, yaitu soal ranjang," Linda mengecup dan sedikit menggigit leher Prambudi.


Linda kemudian berdiri, dia hendak menanggalkan semua pakaiannya. Mereka seolah lupa pintu depan dalam keadaan terbuka.


"Emm, kupikir kamu nggak perlu pakai pengaman Mas meskipun aku sudah menyiapkannya tadi. Karena saat ini aku tidak dalam masa subur. Sepertinya esok hari jadwal 'bulananku'," Linda berbisik nakal.


Prambudi yang mendengar perkataan Linda tiba tiba saja teringat sesuatu. Ekspresinya berubah, ada senyum aneh di bibirnya.


"Kalau begitu, berbaliklah," Ucap Prambudi sambil tersenyum.


Linda mengangguk, menyetujui permintaan Prambudi. Dia berpikir mungkin Prambudi menyukai 'permainan' yang seperti itu. Linda benar benar berbalik badan. Dan saat itulah . . .


Braakkk


Sebuah vas bunga menghantam kepala Linda dari belakang. Linda jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Darah menetes dari pelipisnya. Sementara Prambudi, berdiri di hadapan Linda dengan senyumnya yang bengis.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2