Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Toko Sinar Biru


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna hitam melaju meninggalkan area bandara. Pak Doto duduk di kursi belakang sambil sesekali melihat HP nya. Dia melihat lihat kalender jawa di sebuah situs online.


"Wiryo?," Pak Doto memanggil Wiryo, sopir pribadinya.


"Iya Tuan?," Wiryo segera menjawab. Matanya sedikit merasakan kantuk, dia kurang tidur. Semalaman mengikuti majikannya dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain di luar kota. Pertemuan dengan para pengusaha yang sebagian besar isi percakapannya tidak Wiryo mengerti sama sekali.


"Hari ini bukannya Rebo Wage Manahil?," Pak Doto bertanya masih tetap memperhatikan HP di tangannya.


"Sepertinya begitu Tuan. Hari ini memang Rabu Wage, tapi wuku nya mohon maaf saya nggak hafal Tuan," Wiryo menjawab sesuai apa yang dia tahu.


"Kamu itu tahu nya apa. Jadi asistenku kok semua serba nggak tahu," Pak Doto berkata ketus.


Wiryo hanya diam saja. Bekerja pada Pak Doto memang harus siap jadi sasaran kesalahan. Apalagi kalau bandot tua itu sedang kesal, Wiryo harus terima sepanjang perjalanan bersamanya penuh dengan makian dan kata kata kasar. Meski Wiryo tidak melakukan kesalahan apapun.


Namun, semua itu akan terlupakan saat awal bulan tiba. Gaji yang Wiryo terima dari Pak Doto lebih dari cukup. Selama bekerja menjadi sopir di beberapa majikan, baru Pak Doto inilah yang memberi gaji paling manusiawi. Sesekali juga dapat bonus dari majikannya itu untuk kencan satu malam dengan gadis gadis cantik.


"Kita ke Ki Sapta Tuan?," Wiryo bertanya ragu ragu.


"Ya, tapi kita ke toko Sinar Biru dulu beli kemenyan," Jawab Pak Doto.


"Baik Tuan," Wiryo mengangguk meng iyakan perintah majikannya.


Drrttt Drrtt Drrtttt


Sebuah telepon membuat HP Pak Doto bergetar. Ternyata telepon dari Nyonya Doto. Pak Doto sedikit heran, tumben istrinya itu menelepon. Biasanya lebih sering kirim pesan ataupun chat via WA saja.


Kehidupan rumah tangga Pak Doto terbilang hambar. Semakin bertambah usia malah semakin berkurang keinginannya untuk bersama sang istri. Mungkin sudah menjadi sifatnya, saat kekayaan dan kesuksesan diraih maka dia ingin lebih.


Kehidupan ranjang yang masih sangat dibutuhkan oleh Pak Doto nyatanya tidak dipenuhi oleh sang istri. Nyonya Doto hanya peduli pada jatah uang bulanan, dan melupakan jatah batin untuk suaminya. Alhasil, Pak Doto menjadi pria tua yang gemar jajan kesana kemari.


Pak Doto mengangkat telepon dari istrinya. Awalnya dia menduga istrinya itu hendak meminta uang tambahan untuk beli perhiasan atau semacamnya. Ternyata, Pak Doto salah sangka. Istrinya memberi kabar bahwa Citra dan Amanda sudah pulang ke rumah. Sementara si Prambudi, menantu yang dibencinya tidak ikut pulang ke rumah. Pak Doto tersenyum senang bukan kepalang.

__ADS_1


"Wiryo, percepat jalannya! Anak dan cucuku sudah pulang ke rumah," Pak Doto memberi perintah pada Wiryo sesudah menutup teleponnya. Terlihat senyumnya terkembang di antara kumisnya yang lebat memutih.


"Baik Tuan," Wiryo mengangguk cepat. Meski demikian tidak banyak yang bisa dia lakukan. Jalanan sedang begitu padat saat ini.


Lagi lagi Pak Doto merasakan getaran di HP nya. Kali ini sebuah pesan masuk dari koordinator centengnya. Sebuah kabar yang sekali lagi membuat bibir Pak Doto menyunggingkan senyum.


-Kami berhasil mendapatkan informasi tempat menantu Anda bekerja sekarang-


"Ha ha ha ha. . .kelihatannya hari ini aku mendapat kartu joker," Pak Doto tertawa kencang. Wiryo memperhatikannya namun tak berani bertanya.


-Bawa empat anak buahmu. Kita bertemu di toko sinar Biru-


Pak Doto membalas pesan anak buahnya.


"Wiryo, putar lagu!," Pak Doto memberi perintah yang langsung dituruti oleh Wiryo.


Sebuah lagu dari Trio Libels diputar oleh Wiryo. Wiryo hafal betul apa kesukaan dari majikannya itu.


🎶 Oh gadisku sa sa sa sayang


Oh gadisku sa sa sa sayang


harapanku ada di tanganmu


Oh oh gadisku 🎶


Lagu mengalun, Pak Doto terlihat menggerak gerakkan bahunya sambil bergumam. Pria tua itu benar benar merasa bahagia hari ini. Saat ini anak dan cucu kesayangannya sedang terpisah dengan menantu yang sangat dibencinya. Itu berarti dia bisa leluasa untuk memberi pelajaran menantunya itu. Atau bahkan, mungkin dia bisa saja menyingkirkannya.


Setelah hampir satu jam perjalanan, Wiryo memperlambat laju mobil dan akhirnya berhenti di sebuah toko kecil di tengah pedesaan. Toko bercat biru di bawah pohon beringin yang sangat lebat dan rindang. Sebuah etalase kaca diletakkan di teras toko. Ada beberapa benda yang terpajang di dalamnya. Benda benda unik dan aneh.


Wiryo keluar dari mobil, berjalan tergopoh gopoh menuju ke toko. Sementara Pak Doto membuka jendela mobilnya dan hanya memperhatikan Wiryo dari kejauhan.

__ADS_1


"Weee, Bang Wiryoo," Sapa pemilik toko dengan ramah saat melihat Wiryo datang.


Pemilik toko adalah seorang anak muda berambut ikal, gondrong dan kusut. Badannya terlihat begitu kurus hingga dia dijuluki si ceking. Konon ceritanya, toko tersebut milik ayah Ceking, namun beberapa tahun belakangan menderita sakit yang tak jelas dan tak kunjung sembuh. Maka Ceking lah yang meneruskan usaha toko tersebut, berjualan barang barang untuk kebutuhan perdukunan.


"Kemenyan kan?," Ceking bertanya pada Wiryo.


"Iya, yang seperti biasanya," jawab Wiryo pendek.


"Tinggal satu bang. Untung aja masih kebagian," Ceking menyodorkan sebongkah kemenyan berukuran sebesar jempol tangan.


"Tumben. Biasanya masih banyak, lagi laris?," Wiryo menyodorkan selembar uang lima puluhan ribu.


"Nggak tahu nih Bang. Akhir akhir ini laris banget," Ujar Ceking sambil tersenyum.


"Soalnya yang jual ginian di kota ini ya cuma kamu. Sayangnya tokomu ini terlalu di pelosok," Wiryo menggerutu.


"Biar dapat aura mistisnya bang," Ceking berkilah.


"Gayamuu. . .ganti noh nama tokomu biar tambah mistis. Apaan toko Sinar Biru, ganti kek jadi toko kembang kantil kek, atau toko ganda mayit gitu," Ejek Wiryo.


"Bener juga ya Bang. Waah, terimakasih lho sudah memberi masukan," Ceking terkekeh. Wiryo geleng geleng kepala.


Setelah mendapat barang yang diminta majikannya, Wiryo segera kembali ke dalam mobil. Saat hendak menyalakan mobil, tiba tiba saja sebuah mobil van berwarna hitam datang mendekat. Pak Doto membuka kaca jendela mobilnya.


"Si brengsek itu kerja dimana?," Pak Doto bertanya dengan sedikit membentak pada orang yang berada di dalam mobil van hitam.


"Di Pabrik asbes Bos. Sekitar lima kilometer dari sini," jawab laki laki berbadan kekar dengan jaket kulit berwarna gelap dari dalam mobil.


"Oke. Kita segera kesana. Kalian cari itu si Prambudi. Bikin babak belur, kalau perlu hancurin wajahnya biar anakku tak mau lagi sama garangan satu itu," Ujar Pak Doto memberi perintah.


Tanpa berlama lama, mobil van hitam itu segera melaju dengan suara knalpotnya yang keras dan sangar meraung raung di tengah panasnya udara siang hari. Wiryo pun segera menginjak pedal gasnya, dia mengikuti arah laju mobil van hitam.

__ADS_1


Dan tanpa disadari oleh Wiryo maupun Pak Doto, ada satu lagi mobil yang meluncur mengikuti mereka. Sebuah mobil berwarna biru tua terlihat menjaga jarak. Dua orang yang berada di dalam mobil tersebut terlihat tegang dan waspada.


Bersambung . . .


__ADS_2