Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Serangan Linda


__ADS_3

Pagi tadi saat Prambudi masuk kerja, langsung disambut heboh oleh Linda. Linda begitu antusias ketika bertemu Prambudi di parkiran motor. Prambudi sebenarnya merasa risih juga, khawatir rekan kerja yang lain ada yang berpikir macam macam tentang dirinya dan Linda.


Dan akhirnya jam makan siang pun tiba. Prambudi merasakan cacing cacing di perut sedang memprotesnya karena kelaparan. Bagaimana tidak, dia sedari pagi belum makan apapun, baik sesuap nasi atau secuil roti. Lambungnya terasa perih minta diisi.


"Makan siang yuk Mas," Linda tiba tiba saja sudah berdiri di belakang tempat duduk Prambudi. Tubuhnya di condongkan ke depan, dagunya dia sandarkan di bahu Prambudi.


"Ah, Aku tidak lapar Mbak," Prambudi menggeser tempat duduknya, sedikit menjauhi Linda.


Kruucuuukkkkk


Perut Prambudi berbunyi, terdengar mirip seperti suara ayam jantan berkokok. Prambudi memalingkan wajahnya, dia merasa malu karena ketahuan berbohong. Mulut boleh berkata tidak, namun perut tak mau diajak kompromi.


"Ini setahuku ya Mas, kalau orang yang nggak lapar atau sedang kenyang itu yang terdengar suara sendawa bukan perut yang keroncongan, bahkan dangdutan tuh kayaknya," Linda tersenyum manis, menggoda Prambudi. Prambudi diam saja tak bergeming.


"Lagian kamu ada hutang sama aku lho mas," Linda melanjutkan kalimatnya, dia memasang wajah cemberut.


"Hutang? Hutang apa?," Prambudi menoleh, dia tidak mengerti dengan ucapan Linda.


"Duh, Mas Pram usia berapa sih? Udah pikun," Linda mencubit lengan Prambudi dengan manja, ganjen lebih tepatnya.


"Beberapa waktu lalu Mas Pram nubruk dahi aku kan? Sampek benjol. Ganti ruginya kan dianggap hutang," Linda terus tersenyum menatap Prambudi.


"Ohh itu. . .terus?," Prambudi garuk garuk kepala. Dia merasa bagaikan terbelit lilitan ular, hanya bisa pasrah.


"Traktir aku makan siang," Linda meraih tangan Prambudi, hendak mengajaknya berdiri.


"Sekarang?," Prambudi masih enggan menuruti permintaan Linda.


"Tahun depan, nungguin perutmu kosong terus diisi sarang laba laba," Linda berkacak pinggang.


"Ya sekarang lah Mas," Linda kembali menarik tangan Prambudi. Mau tak mau akhirnya Prambudi mengalah, menuruti kemauan Linda.


Linda dan Prambudi berjalan bersama ke kantin yang terletak di bagian belakang kantor. Raut wajah Linda terlihat berbinar sementara Prambudi terlihat malas, berjalan dengan gontai. Kantin berdiri berjejer di bawah rindangnya pohon kersen. Beberapa burung emprit terlihat bersarang di bagian atas pohon yang berdaun lebat.

__ADS_1


"Kamu mau ditraktir apa Lin?," Prambudi bertanya pada Linda, setelah beberapa saat diam saja.


"Iihh, baiknyaaa, nawarin cewek buat milih," Linda bergelayut manja pada Prambudi, padahal suasana kantin sedang cukup rame. Prambudi salah tingkah, khawatir ada yang berpikiran macam macam. Namun kelihatannya semua orang tak peduli dengan mereka berdua.


"Yok lah, aku udah lapar ini," Prambudi sedikit jengkel dengan polah tingkah Linda.


"Iya iya Mas . . .emm, aku nasi campur aja deh, pake ayam. Minumnya jasmine tea," Linda memainkan jari telunjuknya di bibir. Prambudi sempat meliriknya, warna bibir yang pink cerah, terlihat menantang.


"Ya udah biar aku yang pesan, kamu cari tempat duduk gih. Yang nyaman dan teduh ya," Prambudi segera berjalan menuju loket pemesanan makanan. Linda tersenyum memperhatikan laki laki yang berjalan memunggunginya itu. Pundaknya yang bidang, cara jalannya yang tegap dan gagah, Linda tanpa sadar menggigit sendiri bibir bagian bawahnya. Hati dan tubuhnya semakin penasaran untuk mendapatkan Prambudi.


"Stt ssttt," Seorang perempuan yang sedang duduk tak jauh dari tempat Linda berdiri mengayun ayunkan tangannya. Dia memanggil Linda agar mendekat padanya.


"Apa?," Linda bertanya setengah berbisik pada perempuan itu.


"Mangsa baru?," Perempuan yang memakai kemejau hijau muda itu bertanya pada Linda sambil menunjuk nunjuk Prambudi.


"Ini beda . . . Ini spesial," Linda tersenyum, matanya berbinar.


"Yah, maybe. . .aku baru kali ini lho merasakan yang kayak gini. Falling in love pokoknya," Linda menatap Prambudi dari kejauhan. Laki laki itu tak tahu sedang dijadikan bahan omongan.


"Eh, tapi bukannya dia udah punya istri?," Perempuan itu kembali bertanya pada Linda.


"Ya gimana, hatiku terlanjur kembang kempis," Linda berbisik.


"Udah ah, aku mau nyari tempat duduk. Kamu jangan nge ganggu," Linda tersenyum sekilas kemudian beranjak, berjalan menjauhi perempuan itu.


"Dasar edan," Perempuan itu geleng geleng kepala melihat tingkah laku Linda.


Beberapa menit berikutnya Prambudi mengikuti Linda duduk di sudut kantin, di bawah pohon kersen yang rindang dengan buahnya yang kecil kecil, merah nan imut.


"Mbak Citra gimana Mas?," Linda membuka percakapan.


"Udah baikan kok," Prambudi menjawab singkat.

__ADS_1


"Oh ya? Syukurlah," Linda menghembuskan nafas, terlihat seolah olah ikut merasa lega.


"Emmm Mas Pram sayang banget ya sama Mbak Citra?," Linda kembali bertanya, sambil menopang dagunya yang terlihat oval manis.


"Ya iya lah, dia kan istri aku," Prambudi menghela nafas. Obrolan kali ini benar benar terasa tidak menarik bagi Prambudi. Dia merasa nggak nyaman duduk berdua dengan Linda di tempat terbuka seperti saat ini.


Beberapa saat berikutnya makanan yang mereka pesan telah datang. Karena perut Prambudi benar bebar kosong, dia segera melahap makanan di hadapannya. Dia seolah lupa ada Linda di depannya yang menatap dengan begitu tajam.


"Tadi minta traktir, lha itu kok nggak dimakan?," Prambudi menunjuk piring Linda yang masih utuh tak tersentuh.


Linda tak menjawab, dia malah mengambil tisu. Dan tanpa di duga Linda mengelap sudut bibir Prambudi yang terdapat saos kacang tercecer disana. Linda mengusap bibir Prambudi dengan lembut. Tatapan mereka bertemu dalam diam, begitu lekat begitu dalam.


"Ah, maaf aku bisa sendiri," Prambudi sedikit tersentak kaget. Dia berhasil menguasai diri dan perasaannya.


"Seandainya Mas Pram bertemu aku sebelum Mbak Citra, apa mungkin Mas Pram mau denganku?," Linda bertanya, kalimatnya menusuk tajam ke ulu hati.


"Uhuuuk uhhukk uhhukk" Prambudi tersedak, kaget. Wajahnya terlihat memerah. Dia segera meneguk es teh di hadapannya.


"Santai Mas santai, makannya jangan buru buru," Linda menepuk nepuk bahu Prambudi.


Prambudi tidak meladeni, dia berusaha mengacuhkan Linda dan meneruskan makannya.


"Kamu mungkin sudah sadar kan Mas? Aku tertarik padamu," Linda kali ini semakin berani mengungkapkan isi hatinya. Dia berpikir lebih baik segera berterus terang daripada ditahan, malah terasa menyiksa.


"Aku sudah beristri Lin. Kamu cantik, menarik, karirmu bagus. Banyak laki laki yang jauh lebih oke dariku dan masih sendiri yang mau sama kamu," Prambudi menatap Linda kali ini. Dia berusaha memberi penekanan pada kalimatnya.


"Beri aku waktu denganmu Mas. Cukup kencan satu malam saja. Gimana?," Linda tersenyum nakal.


"Kamu sudah nggak waras Lin," Prambudi berdiri dari duduknya. N*fsu makannya telah hilang. Prambudi berjalan meninggalkan Linda yang duduk sendirian.


"Bodohnya aku," Linda bergumam sendiri. Dia terkekeh, tertawa kecil sendirian.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2