Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Malam dan hati yang kelam


__ADS_3

Prambudi menyandarkan badannya di pagar balkon. Peluh menetes membanjiri seluruh bagian tubuhnya. Tangannya gemetar, pandangannya nanar, jelas saat ini dia dalam keadaan tertekan dan ketakutan.


Prambudi mengambil sebatang rokok yang patah di bagian ujungnya. Selama ini dia tidak merokok, namun baru saja dia menemukan rokok kumal di dalam saku celana Rohmat si tukang sayur. Entah kenapa Prambudi berniat untuk menyalakan rokok itu. Pikirannya kacau, dia berharap bisa menenangkan diri dengan asap rokok.


Prambudi memungut korek api yang juga tersimpan di saku celana lusuh si Rohmat. Prambudi menyulut rokok di tangannya. Dengan sedikit ragu dia memasukkan rokok itu ke dalam mulut dan menyesapnya dalam dalam.


"Uhhukk uhhuukk uhuukk," Prambudi tersedak, dia melemparkan putung rokok yang baru di sulutnya itu.


Prambudi beralih menatap langit yang hitam legam. Malam telah datang, meskipun tak ada rintik hujan namun bintang tak terlihat barang satupun. Seakan angkasa yang gelap melambangkan hati Prambudi yang benar benar kelam.


Prambudi kembali menoleh pada jasad Rohmat si tukang sayur yang tergeletak begitu saja, tak jauh dari tempat dia duduk bersandar. Prambudi benar benar tak menduga dengan kedatangan Rohmat. Dia tak memiliki pilihan lain selain menghabisinya, karena Rohmat mengendap ngendap mengintip lantai atas. Sebenarnya Prambudi tidak mau terjadi hal yang demikian itu. Dia benar benar terpaksa melakukannya.


Prambudi menatap kedua telapak tangannya. Di bawah kelamnya langit malam, dalam bayang bayang kegelapan, telapak tangan Prambudi terlihat bagaikan penuh noda. Di mata Prambudi tangan itu nampak penuh dengan darah yang sudah mengering.


Tanpa terasa butiran air bening hangat menetes dari sudut mata Prambudi. Prambudi menangis, jiwanya terguncang, mentalnya hancur. Dia hanya menginginkan kehidupannya bahagia, namun semakin hari dia merasa kebahagiaan enggan datang padanya.


Prambudi merogoh HP nya. Ada getaran getaran pelan dari gawainya yang terlihat kusam itu. Sebuah pesan whatsapp masuk dari Citra, istrinya. Ada belasan pesan yang belum dia balas. Hampir seluruhnya menanyakan kapan Prambudi datang untuk menjemputnya.


Prambudi meletakkan HP nya di lantai begitu saja. Dia menunduk, memasukkan kepalanya di antara kedua lutut yang tertekuk. Prambudi menangis terisak, bersamaan dengan suara jangkrik dan hewan hewan nokturnal lainnya yang menjadi pertanda bahwa malam semakin larut.


"Uhh uhh uhhhhh," Terdengar suara erangan lirih dari kamar sebelah.


Prambudi tersadar, ada dua orang dalam keadaan sekarat di dalam sana. Dia mengusap kedua matanya menggunakan punggung tangan. Tak ada gunanya meratapi kehidupan. Meskipun harus berkubang dalam kolam darah, Prambudi sudah bertekad untuk merangkak keluar dengan senyuman.

__ADS_1


Kebahagiaan harus diperjuangkan, apalagi untuk orang orang yang sedari lahir sudah ditimpa kemalangan. Saat Prambudi bertemu Citra, dia akhirnya mulai tahu bagaimana rasa hati yang terisi dan terlengkapi. Dan untuk mempertahankan rasa itu Prambudi tak boleh menyerah sekarang. Prambudi menepuk nepuk pipinya beberapa kali, kemudian dia berdiri.


Prambudi menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dengan sekuat tenaga dia mengangkat tubuh tambun Rohmat. Prambudi menggendong mayat tukang sayur itu. Lumayan berat, Prambudi sedikit terseok seok menuruni tangga. Prambudi terus berjalan menuju dapur, kemudian ke halaman belakang.


Brruukkkk


Prambudi menjatuhkan mayat Rohmat ke tanah dengan sedikit kasar. Kemudian Prambudi mengambil cangkul yang mata pisau nya masih terlihat kotor penuh dengan tanah dan lumpur. Prambudi bergegas memanggul cangkulnya, berjalan ke kebun ketela yang rimbun di belakang rumah. Dia hanya menggunakan senter di HP nya sebagai sumber penerangan.


Sampailah Prambudi di bagian tengah kebun. Di sela sela pohon ketela 'pohong' yang tumbuh subur menjulang tinggi, terdapat beberapa petak tanah yang terlihat baru saja ditimbun. Prambudi segera mengayunkan cangkulnya. Dalam gelap dan sunyinya malam suara ayunan cangkul menghantam tanah terdengar nyaring.


Prambudi terus menggali, hingga badannya basah oleh keringat. Lubang tercipta sudah cukup dalam, sebatas pinggangnya. Prambudi melempar cangkulnya, dia duduk di dalam lubang galiannya sendiri. Prambudi merasa kelelahan, terlalu banyak kejadian yang menguras tenaganya seharian ini.


Kuu kuuu kuuu kuuu


Aku ra duwe padhang ati, duweku dimar kurung cumanthol pulunge atiku


Kekuwunge byar padhang ketrawangan, lir kadiyo suryo medal saking wetan


Prambudi membuka matanya perlahan. Serta merta keberaniannya mulai tumbuh. Rasa lelahnya pun seakan ikut memudar, berganti dengan gejolak dan semangat di hatinya. Prambudi melompat keluar dari dalam lubang. Setengah berlari dia kembali ke halaman belakang rumahnya.


Prambudi kembali mengangkat tubuh Rohmat. Dengan sedikit menyeretnya, Prambudi membawa mayat tukang sayur itu menuju ke tempat lubang galian tadi. Setelah sampai, dengan sekali ayunan Prambudi melempar tubuh tambun Rohmat ke dalam lubang.


Gedebug

__ADS_1


Tubuh Rohmat jatuh berdebum, meringkuk tertelungkup di dalam lubang. Dengan sigap Prambudi segera mengambil cangkul dan menimbunnya. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar lima belas menit Prambudi selesai menimbunnya. Dia menginjak injak hasil timbunan supaya lebih padat.


Prambudi mengusap peluh di dahinya. Dia berjalan memanggul cangkul kembali ke rumahnya. Setelah meletakkan cangkul di tempatnya semula, Prambudi mengambil HP dan segera menelepon sebuah nomor.


"Tolong segera datang kemari. Ada beberapa yang harus dibereskan. Kebetulan mantu nomer wolu juga sudah siap," Ucap Prambudi, nafasnya masih terdengar berat.


Selepas mematikan telepon, Prambudi melepas kaosnya yang kotor penuh keringat dan tanah. Kemudian Prambudi mengambil pengki plastik dan kain pel. Dia bergegas ke ruang tamu. Prambudi membersihkan pecahan vas bunga lalu mengepel noda darah yang sudah mulai mengering. Ada aroma anyir yang menusuk hidung saat Prambudi mengelapnya.


Prambudi memungut pakaian Linda yang tadi dia lepaskan secara sembarangan. Prambudi membawanya kembali ke halaman belakang. Prambudi menyalakan korek api dan membakar kaos dan dalaman Linda yang berbau wangi, yang tentunya tadi telah Linda persiapkan untuk Prambudi. Prambudi tersenyum kecut, sedikit menertawakan kemalangan gadis yang begitu menyukainya itu.


Awalnya Prambudi juga tak ada niatan untuk melakukan hal itu pada Linda. Linda bukanlah target dari Prambudi. Namun, saat Linda mengatakan bahwa esok hari adalah jadwal biasa dia datang bulan, Prambudi seperti mendapatkan petunjuk. Petunjuk bahwa memang Linda lah orang yang dikirim oleh garis takdir untuk menjadi mantu ke wolu.


Beberapa menit berikutnya terdengar suara mobil memasuki halaman depan rumah. Prambudi bergegas memakai baju, dan berjalan ke depan. Sebuah mobil hitam tanpa plat nomor terparkir. Dua orang berpakaian hitam turun dari mobil. Satu orang masih muda dan satu lagi seorang laki laki tua, memakai tongkat dan bertudung kepala.


"Mobil ini harus dibereskan. Juga motor di sebelah sana," Ucap Prambudi sambil menunjuk tempat motor Rohmat terparkir.


"Baik. Akan saya bereskan," Ucap laki laki yang masih muda.


"Mantu ke wolu gimana?," Tanya laki laki tua bertongkat pada Prambudi.


"Nunggu besok, baru siap," Jawab Prambudi sambil membungkuk.


"Sekalian besok cari yang ke songo. Dan tujuanmu bakal kelaksanan," Laki laki tua itu tersenyum, terlihat deretan giginya yang menghitam.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2