
Citra terbangun di kasur empuknya yang begitu nyaman dan wangi. Diliriknya jam berwarna silver mengkilat yang terpasang di dinding. Jam setengah delapan, Citra ternyata bangun kesiangan. Mungkin tubuhnya begitu menikmati sensasi melepas rindu dengan kamar tidur yang sudah bersamanya sejak SD itu.
Citra meraih HP di meja. Ada beberapa pesan masuk dari Prambudi.
-Sayang mimpi indah ya-
-Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu sudah bangun belum?-
Citra segera mengetik balasan.
-Aku baru bangun Yang. Kamu sudah makan? Kapan mau jemput aku?-
Citra mengirim pesan pada suaminya. Citra masih tetap memperhatikan layar HP nya. Berharap pesan tersebut segera dibaca dan dibalas oleh Prambudi.
-Aku kangen-
Citra kembali mengirim pesan. Namun, tak ada tanda tanda Prambudi membuka pesan darinya. Citra menghela nafas. Dia sadar Prambudi sekarang pasti sedang sibuk bekerja, dan nggak akan menyentuh HP nya kecuali jam istirahat nanti.
Citra menyibak selimutnya dengan sedikit kasar. Cincin yang dipeluknya saat tidur tadi malam terlempar ke atas dan jatuh ke lantai.
Trakk
Ting ting ting ting
Cincin menggelinding masuk ke kolong tempat tidur, dan menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Duh," Citra mendengus kesal.
Citra berjongkok, mencoba melihat ke bawah kolong tempat tidur. Cukup sulit, karena jarak lantai dan kayu penyangga tempat tidurnya sangat mepet, mungkin sekitar dua puluhan centimeter saja.
Citra akhirnya tengkurap, mengintip bagian bawah kolong tempat tidur. Meski gelap Citra dapat melihat sebuah benda mengkilap tergeletak disana. Citra menjulurkan tangan kanannya. Dia berusaha meraih cincin tersebut.
"Aahhhh," Citra berusaha menjangkau dengan meraba raba dimana tempat cincin tadi terlihat. Nyatanya cukup sulit untuk meraihnya, karena letaknya hampir di tengah kolong tempat tidur.
Dengan sekuat tenaga, Citra berusaha memasukkan tangannya lebih dalam, ke bagian tengah kolong tempat tidur. Dan akhirnya berhasil, Citra mendapatkan cincin pemberian suaminya itu.
__ADS_1
"Akhirnya. . .," Citra bergumam senang.
Sshhhaaaa
Sebuah suara terdengar, seperti hembusan angin. Dan entah kenapa bulu kuduk Citra berdiri. Ada hawa dingin yang tidak biasa dirasakan olehnya. Citra hendak menarik tangannya keluar dari kolong tempat tidur, namun tiba tiba saja sebuah tangan yang terasa dingin seperti es mencengkeram lengannya.
Citra begitu kaget dan ketakutan. Dia terus berusaha memaksa tangannya keluar dari kolong tempat tidur. Namun upaya yang dilakukannya sia sia. Tangan yang tak kasat mata itu mencengkeram terlalu kuat.
Bahkan kini tangan misterius itu berusaha menarik Citra ke kolong tempat tidur. Citra semakin ketakutan. Dia ingin berteriak, namun tenggorokannya tercekat, terasa macet, dia tak mampu bersuara.
Dugg
Kepala Citra membentur kayu penyangga tempat tidur. Citra merasakan nyeri dan pelipisnya berdenyut. Citra menjejakkan kakinya ke kayu penyangga, dengan sekuat tenaga dia menarik tangannya.
"Hnggggg," Citra mengerahkan kekuatannya.
Kali ini Citra berhasil menarik tangannya sekaligus tangan yang mencengkeramnya. Kini nampak di hadapan Citra sebuah tangan berkulit pucat membiru dengan kuku jari berwarna hitam. Sosok yang menarik Citra terlihat menjulurkan kepalanya keluar dari kolong tempat tidur.
Sosok perempuan dengan rambut hitam legam terurai. Matanya melotot memerah, namun sebagian wajahnya tak terlihat jelas karena tertutupi rambut panjangnya.
Citra menelan ludah, seluruh badannya gemetar. Ketakutan menyelimuti hatinya. Keringat dingin sudah membasahi dahi, lengan serta punggungnya. Hampir seluruh bagian piyama yang dia kenakan basah oleh keringat. Citra hanya bisa diam mematung dan membisu, rasa takut telah membekukan sekujur tubuhnya.
Dokkk Dokkk Dokkk
Terdengar pintu kamar di ketuk.
"Cit . . .Citra, bangun sayang. Sarapan yuk," Terdengar suara Nyonya Doto di depan pintu.
Citra refleks menoleh, namun dia tak sanggup menjawab panggilan Bundanya itu.
"Cit?," Nyonya Doto akhirnya membuka pintu kamar Citra, karena tak ada jawaban dari dalam.
"Ngapain kamu disitu?,' Nyonya Doto bertanya saat melihat putrinya sedang duduk di lantai, bawah tempat tidur.
Citra masih diam mematung. Matanya menatap Nyonya Doto dengan begitu tajam.
__ADS_1
"Cit?," Nyonya Doto kembali memanggil Citra.
Citra terkesiap, seakan nyawa baru saja kembali ke raganya. Kemudian Citra menoleh memperhatikan tangannya yang tadi dicengkeram sosok menakutkan. Namun kini, tak ada apapun di hadapannya. Tidak ada tangan pucat yang mencengkeramnya, pun sosok wanita seram tadi telah hilang, lenyap tak berbekas.
"Cit? Kamu kenapa?," Nyonya Doto mulai panik melihat Citra yang berkeringat duduk di lantai dengan ekspresi kebingungan.
"Ah, aku tadi cuma mimpi buruk Bunda," Citra mencoba tersenyum di hadapan Bundanya.
"Hmmm. . .ada ada saja. Eh ayuk kita ke dapur, sarapan," Nyonya Doto membelai rambut Citra yang lepek penuh keringat.
"Manda mana Bun?," Citra mencari sosok putrinya yang saat ini tak terlihat batang hidungnya..
"Di depan TV tuh. Katanya kalian di rumah nggak ada TV ya? Manda nggak bisa nonton kartun," Nyonya Doto bertanya setengah menyalahkan.
"Yah namanya juga rumah tangga baru mulai mandiri Bun," Citra berdiri dari duduknya.
"Kamu juga kelihatan nggak ke urus Nak," Nyonya Doto nampak sedih menatap rambut dan wajah Citra. Bagi Nyonya Doto, putrinya itu kini terlihat lebih kusam.
"Tapi aku bahagia Bun. Aku bahagia sama Mas Pram. Bahkan mau se miskin apapun aku, selama bareng Mas Pram hatiku tentram Bun," Citra menatap cincin yang ada di genggamannya. Cincin yang tadi sempat diminta oleh sosok menyeramkan. Citra nggak mengerti apakah kejadian yang baru saja dia alami adalah sebuah kenyataan atau jangan jangan hanya sebuah ilusi saja.
"Sudah sudah, pagi pagi aku nggak mau debat sama kamu. Sekarang kita ke meja makan saja. Kita sarapan," Nyonya Doto menghela nafas. Dia berusaha lebih mengalah. Sebenci bencinya Nyonya Doto pada menantunya, dia lebih tersiksa jika Citra dan Amanda pergi dari rumah lagi. Untuk itu Nyonya Doto mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Citra.
Akhirnya Citra dan Nyonya Doto menuju ke ruang makan. Cincin pemberian Prambudi kembali dikenakan Citra di jari telunjuk tangan kirinya. Di ruang makan, Citra hanya mengambil selembar roti dengan selai blueberry. Kemudian dia berjalan ke ruang keluarga, dimana Amanda terlihat asyik menonton kartun sambil mengelus elus si cemong.
"Eh Mamah sudah bangun," Sapa Amanda saat melihat Citra berjalan mendekati tempat duduknya.
"Sudah dong sayangg," Citra duduk di samping Amanda yang terlihat asyik menonton kartun di TV.
"Citra, ini untukmu," Nyonya Doto tiba tiba saja datang dan menyodorkan sebuah kartu kredit.
"Buat apa Bun?," Citra bertanya tak mengerti.
"Punyamu kan sudah diblokir sama ayah, jadi pakai punya Bunda. Sekarang kamu butuh perawatan sayang. Wajahmu kusam banget. Ingat Cit, seorang laki laki itu selalu mudah bosan, dan selalu ingin melihat pasangannya terlihat cantik. Jadi rawatlah dirimu, jangan sampai si Prambudi itu berpaling ke wanita lain," Nyonya Doto memberi nasehat
Citra mengangguk setuju dan akhirnya menerima kartu kredit pemberian Nyonya Doto. Apa yang dikatakan Nyonya Doto ada benarnya juga. Citra memutuskan untuk ke mall jalan jalan, sekaligus memanjakan kulit wajah dan tubuhnya siang nanti.
__ADS_1
Bersambung . . .