Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Persahabatan


__ADS_3

"Sudah tujuh orang yang hilang. Dan kita belum mengalami kemajuan yang berarti dalam penyelidikan," Mas Adi memainkan pulpen di tangannya.


"Nggak ada petunjuk dan bukti," Ujar Tarji enteng.


"Aku malah semakin curiga, kasus ini benar benar berhubungan dengan hal ghaib. Kita bisa apa coba?," Tarji bicara setengah berbisik.


"Kalaupun demikian, apa kita bisa membiarkan hal ini terus terulang? Harus berapa orang lagi yang hilang Ji?," Mas Adi menatap tajam pada Tarji.


"Ya mana kutahuuu," Tarji nyengir.


Suasana hening. Malam ini hanya ada Mas Adi dan Tarji di ruangan pos jaga depan. Mas Adi membaca kembali berkas tentang orang ke tujuh yang hilang. Namanya Wiwit Syaileni atau biasa dipanggil Leni. Usianya baru 25 tahun. Dan orang terakhir yang bersama Leni sekaligus yang menelepon Mas Adi adalah Sinta.


Masih teringat beberapa malam yang lalu, Mas Adi menerima telepon dari Sinta. Wanita itu begitu gugup dan panik mengatakan bahwa Leni telah hilang. Melalui telepon dia juga menceritakan ada aroma wangi yang terbakar di dalam ruangan. Juga ditemukan secuil kemenyan yang terbakar sebagian. Semua harta benda utuh tidak ada yang hilang, bahkan HP masih tergeletak di dalam kamarnya. Satu satunya benda berharga yang ikut raib adalah sebuah cincin yang selalu Leni kenakan.


"Waktunya rehat broo, badanmu bukan mesin, otakmu bukan komputer. Jangan siksa dirimu sendiri, bekerja jangan berlebihan lah, ini waktunya kita istirahat," Tarji menceramahi Mas Adi yang tampak masih betah membolak balik kertas.


"Aku nggak bisa istirahat tenang Ji," Mas Adi menghela nafas.


"Kamu tahu, akhir akhir ini aku sering dihantui perasaan bersalah, beberapa kali aku berhalusinasi bertemu wanita wanita yang hilang itu, minta tolong padaku Jii," Ucap Mas Adi, dia mendongak menyandarkan lehernya di kursi.


"Hah? Masak?," Tarji terbelalak kaget. Mas Adi mengangguk pelan.


"Itu halusinasi atau kamu memang didatangi? Hii serem ah," Tarji begidik ngeri.


"Kamu tahu kan Ji, nasibku dulu sama seperti orang orang yang hilang itu. Tak punya sanak saudara. Dengan tugas yang kuemban sekarang, kalau aku nggak bisa menyelesaikan kasus ini rasanya aku benar benar menjadi orang yang tak berguna," Mas Adi terlihat begitu sedih.


"Kan kita udah berusaha juga. Bukan berarti kamu berpangku tangan kan?," Tarji mendekati Mas Adi, memijat mijat bahunya mencoba memberi semangat.


"Aku ada ide," Tarji tersenyum lebar.


"Apa?," Mas Adi bertanya antusias.


"Gimana kalau kita ke dukun. Minta wejangan," Ucap Tarji bersungguh sungguh.


"Betismu meledak! Kamu aja cari dukun sana. Aku sih ogah," Mas Adi memukul lengan Tarji. Rekan kerjanya itu memang tak pernah memberi ide yang benar.


"Ya kan lawan kita kali ini yang begituan Dii. . .," Tarji masih mencoba meyakinkan Mas Adi.

__ADS_1


"Suka suka kamu saja lah," Mas Adi tak menggubris.


"Lha terus, apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?," Tarji bertanya, sedikit jengkel karena idenya ditolak Mas Adi.


"Aku mau nyari info dari toko yang jual benda ini," Mas Adi menggenggam kemenyan di tangannya. Kemenyan khusus yang hanya dijual di sebuah toko di kecamatan K.


Drrtt drrtt drtt


HP Mas Adi di atas meja bergetar. Sebuah telepon dari Sinta. Akhir akhir ini, Sinta memang cukup sering menghubungi Mas Adi. Mas Adi merasa sedikit senang saat Sinta menelepon.


"Siapa Di?," Tarji bertanya penasaran.


"Dih, ngapain tanya tanya," Mas Adi menyambar HP nya kemudian beranjak menjauh dari Tarji.


"Yee, kalau susah aja cerita ke temen. Kalau pas seneng ditinggalin," Tarji berteriak sewot. Mas Adi tergelak, tertawa.


"Hallo Assalamualaikum," Mas Adi mengangkat telepon dari Sinta dan mengucap salam lebih dahulu.


"Waalaikum salam. Mas Adi dimana?," suara Sinta terdengar kalem.


"Emm, kebetulan saya ada di warung makan dekat kantor Mas Adi. Bisa kita bertemu?," Sinta bertanya lirih.


"Ah begitu, baiklah," Mas Adi mengiyakan ajakan Sinta.


"Nggak nge ganggu kan Mas?," Sinta bertanya lagi, mungkin merasa tak enak hati.


"Nggak kok, kamu di warung makan yang mana nih?," Mas Adi kembali ke tempat duduknya, membuka laci dan mengambil dompetnya


"Heii, mau kemana?," Tarji bertanya ketika melihat Mas Adi keluar dari ruangan.


"Keluar bentar," Jawab Mas Adi singkat.


Tarji melongo ditinggal sendirian. Dia menggerutu dalam hati. Tarji memainkan HP nya karena tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan.


Brug


Terdengar benda jatuh di rak belakang. Tarji dengan cepat menoleh. Sepi dan sunyi. Entah kenapa udara tiba tiba saja berubah menjadi semakin dingin. Bulu kuduk Tarji berdiri, dia mengusap usap tengkuknya.

__ADS_1


"Duh, lebih baik aku ke kantor belakang deh daripada disini sendirian," Tarji segera berlari keluar ruangan menuju bangunan belakang.


* * *


"Udah lama?," Tanya Mas Adi saat dia sudah duduk di hadapan Sinta. Mereka saat ini berada di sebuah rumah makan padang.


"Belum sih Mas," Sinta tersenyum.


"Mas, kemarin aku lupa. Aku mau mengembalikan ini," Sinta menyodorkan sebuah tas plastik.


"Ah, iya aku juga lupa," Ucap Mas Adi setelah melihat isi tas. Ternyata jaketnya tertinggal saat dia ketiduran di tempat Sinta malam itu.


"Terimakasih ya," Mas Adi tersenyum sumringah.


Sinta memperhatikan Mas Adi. Di bawah lampu yang terang, laki laki itu terlihat semakin menawan. Namun, dari sorot mata dan ekspresi Mas Adi, Sinta menduga petugas kepolisian itu sedang bersedih atau kelelahan.


"Mas Adi terlihat capek," Ucap Sinta kemudian. Dia menopang dagu, menatap Mas Adi dari jarak yang cukup dekat.


"Ah, iya kah?," Mas Adi kikuk dan sedikit salah tingkah diperlakukan seperti itu.


"Iya. Emm aku nggak tahu ya, apakah mungkin Mas Adi terlalu kepikiran dengan hilangnya orang orang di tempatku?," Sinta mencoba menebak.


"Ya begitulah," Mas Adi menghela nafas, wajahnya terlihat sayu.


"Sedari kecil aku nggak punya siapa siapa. Aku tinggal di sebuah panti asuhan. Aku hanya akrab dengan dua orang penghuni panti, yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Namun akhirnya aku kehilangan mereka karena sebuah tragedi. Aku tahu betul rasa sakit dan kesepian karena kesendirian. Aku nggak bisa membiarkan orang orang sepertiku harus menghilang tanpa dipedulikan. Dengan amanah yang telah diberikan Tuhan padaku sekarang, aku benar benar ingin menolong orang orang yang tak punya sanak saudara sepertiku. Kegagalan mengungkap kasus ini membuatku merasa tak bisa menjaga amanah," Mas Adi menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.


"Mas Adi, itu bukan salahmu. Lagipula kamu belum gagal," sergah Sinta.


"Aku malah sangat ingin berterimakasih padamu Mas," Sinta menatap Mas Adi, matanya terlihat bergetar.


"Terimakasih untuk apa?," Mas Adi mengernyitkan dahi.


"Karena kamu adalah satu satunya laki laki yang pernah kutemui, yang peduli pada orang orang sepertiku. Saat laki laki lain menatapku dengan matanya yang penuh hasrat, kamu terlihat begitu tulus peduli padaku," Ucap Sinta pelan. Jantungnya berdebar begitu hebat.


Mas Adi dan Sinta terdiam cukup lama, mereka telah saling jujur. Persahabatan yang terjalin dari sebuah jalan hidup yang serupa membuat mereka mengerti satu sama lain. Ada yang lebih kental dari hubungan antar manusia karena ikatan darah, yaitu hubungan antar manusia karena ikatan persahabatan.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2