Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kasus selesai?


__ADS_3

Setelah kemarin Mas Adi bertemu dengan Prambudi, sore ini dia merasa seperti mendapatkan semangat baru. Semangat dan keyakinan bahwa dia bisa bertemu dengan Mbak Retno lagi. Jika Prambudi berubah ketus terhadapnya, Mas Adi berharap Mbak Retno masih tetap seperti Mbak Retno yang dulu. Mbak Retno yang mengayomi dan menyayangi dirinya seakan mereka benar benar saudara kandung.


Mas Adi teringat kembali saat saat sulit di masa lalu. Ketika jatah nasi hanya cukup untuk dua piring kecil. Mbak Retno rela menahan laparnya agar Mas Adi dan Prambudi tetap bisa kenyang dan tidur pulas. Saat Mas Adi tanpa sengaja menjatuhkan piring hingga pecah, Mbak Retno yang pasang badan menerima hukuman dari Bu Ginah pengurus panti. Kala Mas Adi jatuh sakit demam dua hari dua malam, Mbak Retno lah orang yang merawatnya. Dengan telaten Mbak Retno mengompres Mas Adi hingga badannya sehat kembali.


Mengingat itu semua, tanpa terasa air mata Mas Adi jatuh dengan sendirinya. Ada rasa bersalah ketika saat ini dia hidup berkecukupan, namun belum bisa bertemu dengan malaikat penolongnya.


"Ngapain sih?," Tarji menepuk pundak Mas Adi. Mas Adi diam saja tak menyahut, dia terlihat mengucek ngucek matanya.


"Nangis Di?," Tarji bertanya heran, sedikit tak percaya dengan yang dilihatnya. Seorang Mas Adi menangis?


Tarji tahu betul, Mas Adi adalah laki laki tangguh, lulusan terbaik akademi kepolisian beberapa tahun silam. Tergores, dihantam, seperti apapun laki laki itu mampu bersikap tenang dan menahan sakit. Lalu apa yang membuatnya kini menitikkan air mata?


"Kamu nangis?," Tarji menggoncang goncangkan bahu Mas Adi dengan sedikit kasar.


"Nggaaak, lagi ngiris bawang," Jawab Mas Adi sekenanya.


"Ngelawak. Kenapa sih bro? Cerita dong, biar perasaanmu lebih lega," Tarji duduk di sebelah Mas Adi.


"Aku ingin ketemu Mbak Retno," Ucap Mas Adi lirih.


"Ngomong ngomong soal itu, aku kemarin setelah bertemu si Prambudi, iseng iseng cari info tentang dia," Tarji menatap Mas Adi dengan tajam.


"Terus?," Mas Adi nampak tidak terlalu tertarik berbincang bincang untuk saat ini.


"Saat ini Prambudi menempati sebuah rumah di kecamatan K. Kamu ingat, kasus hilangnya wanita di pagi hari yang pernah kita bicarakan dulu?," Tarji bertanya, Mas Adi terlihat mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


"Iya. Terus?," Mas Adi penasaran.


"Wanita yang hilang itu adalah pemilik rumah yang sekarang ditempati oleh Prambudi. Dan entah kebetulan atau bagaimana, wanita yang hilang itu bernama Retno," Tarji setengah berbisik.


Mas Adi terbelalak kaget. Sebuah kebetulan yang terlalu ajaib. Mas Adi mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan jari telunjuk. Dia terlihat memikirkan sesuatu.


"Kamu punya berkas penyelidikan wanita yang hilang itu? Fotonya?," Mas Adi melotot pada Tarji.

__ADS_1


"Ada di gudang, ayo kutunjukkan," Tarji dengan cepat beranjak dari duduknya. Begitupun Mas Adi, segera menyusul berjalan mengekor Tarji.


Sampai di gudang penyimpanan di bagian belakang kantor, terlihat setumpuk berkas berkas dengan map berwarna coklat. Tertata rapi dan bersih, diurutkan berdasarkan tanggal, bulan dan tahun suatu penyelidikan dilakukan. Tarji dengan cekatan mengambil salah satu dokumen yang terletak di rak bagian atas, kemudian menyodorkannya pada Mas Adi. Mas Adi membuka dokumen tersebut, dan membacanya sekilas. Ada sebuah foto di dalamnya. Foto wanita yang dilaporkan hilang, seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di dagunya.


Seakan tak percaya dengan yang dilihatnya, Mas Adi diam membisu. Dia tak mampu berkata kata. Foto itu, foto orang yang dicarinya selama ini. Foto malaikat penyelematnya di masa kecil dulu. Foto wanita yang memberinya kasih sayang, wanita pertama di dunia yang memberinya kebahagiaan dan kehidupan.


"Ini. . .nggak mungkin. Ini Mbak Retno," Suara Mas Adi bergetar.


"Dia sudah lama hilang Di, dan rumahnya sekarang ditempati sama Prambudi," Tarji menepuk bahu Mas Adi. Dia merasa prihatin.


Mas Adi ingin menangis rasanya. Baru saja dia merasa bersemangat dan yakin bisa bertemu lagi dengan Mbak Retno. Namun kini asa itu pupus kembali. Fakta menunjukkan bahwa Mbak Retno hilang selama bertahun tahun, belum ditemukan hingga kini. Bahkan suaminya saat ini berada di luar negeri.


"Jii, antar aku ke rumah Prambudi sekarang," Mas Adi menarik lengan Tarji. Tarji mengangguk pelan.


Mereka bergegas berjalan kembali ke meja kerja masing masing. Mas Adi mengambil tas slempang kecilnya. Saat hendak melangkah keluar dari kantor, saat itulah tersiar kabar yang sekali lagi membuat Mas Adi kaget bukan main. Menurut info yang beredar di kantor, mobil Pak Doto mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang.


"Dii, gimana ini? Mobil tersangkamu jatuh ke jurang," Tarji berjalan tergopoh gopoh mendekati Mas Adi.


Mas Adi diam sejenak. Dia berpikir langkah apa yang selanjutnya harus dia ambil.


"Baiklah, kita lihat dulu kondisi Pak Doto. Kita juga perlu berkomunikasi dengan petugas disana, kira kira apa yang menyebabkan kecelakaannya. Apakah artinya kasus yang sedang kita tangani sudah selesai dengan kejadian ini, atau jangan jangan kita yang telah salah membuat kesimpulan," Mas Adi bergumam.


"Aku yakin, dengan begini kasus hilangnya wanita wanita itu rampung Di," Tarji tersenyum yakin.


* * *


Sampai di lokasi kecelakaan, hari sudah beranjak petang. Sinar matahari sudah mulai memudar, berganti kegelapan dan hawa dingin yang menusuk tulang. Hujan rintik rintik menambah suasana semakin muram. Dengan mengenakan jas hujan berwarna hitam, Mas Adi dan Tarji melongok ke dasar jurang. Sebuah mobil hitam terlihat ringsek di bawah sana.


Mas Adi telah selesai menanyai para petugas yang ada disana. Berdasar informasi yang didapat, dipastikan Pak Doto beserta sopirnya tidak selamat. Namun evakuasi tidak bisa dilakukan, karena medan yang sangat curam dan sulit, juga cuaca yang tidak mendukung.


Mas Adi berteduh di bawah pohon pucung yang besar dan rindang. Tarji menyusul, dia terlihat kedinginan. Bibirnya membiru dan bergetar.


"Kelihatannya sopir Pak Doto kaget ada petir menyambar pohon besar di sebelah sana. Banting setir ke kanan," Suara Tarji terdengar bergetar, kedinginan.

__ADS_1


"Tapi katanya ada yang aneh Ji. Sebelum warga sekitar datang, sudah banyak jejak kaki di bawah pohon yang tersambar petir itu," Mas Adi menunjuk pohon yang dimaksud.


"Bisa saja jejak kaki itu sudah ada sebelum kejadian Di," Ucap Tarji enteng. Mas Adi mengangkat kedua pundaknya, seolah berkata 'entahlah'.


Drrttt Drrttt Drttt


HP Mas Adi yang tersimpan di dalam saku celana bergetar. Sebuah telepon dari Sinta. Mas Adi segera mengambil jarak dengan Tarji kemudian mengangkat telponnya. Mas Adi nggak mau Tarji menguping pembicaraannya dengan seorang perempuan. Karena bisa menjadi bahan olok olokan.


.


"Hallo," Suara Sinta terdengar merdu di telepon.


"Halloo, emm ada apa?," Mas Adi bertanya, sedikit gugup.


"Aku hanya ingin meneleponmu," Ucap Sinta pelan. Mas Adi merona mendengarnya.


"Kamu dimana Mas? Kok terdengar suara air hujan? Sedang di luar?," Sinta bertanya penasaran.


"Yah, sedang menyelidiki sesuatu," jawab Mas Adi asal asalan.


"Ohh. Emm, Mas?," Sinta memanggil Mas Adi pelan, seperti ragu untuk menyampaikan sesuatu.


"Iya ada apa?," Mas Adi balik bertanya pada Sinta.


"Aku ingin berhenti dari pekerjaanku sekarang. Kamu mau mendukungku?," Sinta bertanya ragu ragu. Mas Adi terdiam sesaat. Ada rasa bahagia dan perasaan yang sulit diungkapkan di hati Mas Adi.


"Apa ini? Asap apa ini?," Belum sempat Mas Adi menjawab, Sinta terdengar menjerit panik.


"Sinta ada apa? Sin? Jawab aku!," Mas Adi berteriak gusar.


Tidak terdengar jawaban dari Sinta. Hanya terdengar sebuah suara, seperti seorang laki laki yang bergumam.


"Heii? Sinta? Kamu kenapa? Siapa disana? Heii!," Mas Adi terus berteriak, namun tak ada jawaban. Sementara suara laki laki bergumam terdengar semakin jelas. Mas Adi segera menarik Tarji, mengajaknya untuk segera kembali ke dalam mobil. Tarji yang tidak mengerti hanya bisa menuruti permintaan rekannya itu tanpa bertanya.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2