
Hari berganti, matahari terbit di ufuk timur memancarkan kehangatan. Sinarnya menyilaukan, menembus korden kamar yang tipis dan transparan. Prambudi bangun dari tidurnya. Badannya terasa kaku dan sedikit sakit di bagian pinggang. Luka di pipi dan mata kanannya terasa sudah membaik. Namun dia masih merasa perlu untuk meminum obat pereda nyeri.
Prambudi beranjak keluar kamar. Dia berjalan menuju ke ruang tamu. Melalui jendela depan dia mengintip halaman rumahnya. Sudah bersih, tak ada lagi mobil Linda ataupun motor Rohmat yang terparkir. Prambudi memutar badan kemudian berjalan ke dapur sambil melihat HP nya. Begitu banyak pesan masuk dari istrinya yang belum dia balas.
Prambudi menghela nafas, sedikit ragu akhirnya dia menekan nomor Citra. Prambudi menelepon istri yang dirindukannya, ada rasa yang memang sudah tak mampu dia tahan. Satu jam seperti satu windu. Sehari bagaikan satu abad. Begitulah rindu, menggerogoti relung hati manusia, mengingatkan tentang perihnya sebuah rasa kesepian.
Tuutt Tuuttt Tuuttt
"Halo," Suara Citra terdengar. Suara yang begitu Prambudi rindukan. Suara yang mampu menguatkan sekaligus melemahkan Prambudi di waktu bersamaan.
"Mas Pram?," Citra memanggil Prambudi yang terdiam beberapa saat lamanya.
"Cit, maafkan aku," Ucap Prambudi lirih. Hanya permintaan maaf yang terpikirkan oleh Prambudi saat ini.
"Aku nggak cepet bales pesanmu. Aku nggak segera menjemputmu," Prambudi menelan ludah setelah mengucap kalimatnya. Ada rasa takut istrinya akan marah. Kalau dipikir lagi, wanita mana yang nggak bakal jengkel atau marah saat sang suami tiba tiba saja mengantarkan dia pulang ke rumah orang tuanya, kemudian tanpa alasan yang jelas selama beberapa hari sang suami susah untuk dihubungi.
"Aku yakin Mas Pram punya alasan tersendiri," Ucap Citra lembut. Sebuah kalimat yang membuat Prambudi semakin merasa rindu dan ingin segera memeluk istrinya itu. Istri yang selalu ada untuk Prambudi, berusaha mengerti dan selalu percaya padanya.
__ADS_1
"Jadi, kapan Mas Pram akan menjemput aku dan Manda?," Citra bertanya setelah beberapa saat mereka sama sama terdiam.
"Besok sore. Aku pasti akan menjemputmu Cit," Prambudi mengepalkan tangannya erat, dia berbicara dengan sungguh sungguh.
"Aku tunggu Mas," jawab Citra singkat.
"Sekarang Mas Pram cepet mandi terus berangkat kerja ya. Pokoknya yang penting besok sore Mas kesini menjemput aku dan Manda," Citra mengakhiri pembicaraan di telepon dengan sebuah pesan manis.
Ada rasa semangat di hati Prambudi setelah menelepon Citra. Dia bertekad untuk menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Tinggal satu 'korban' lagi yang harus Prambudi temukan, dan semua akan berakhir bahagia, begitu keyakinan di hati Prambudi. Malam ini dia akan 'berburu' kembali.
Prambudi menyeduh kopi dengan air termos yang sudah tidak terlalu panas. Mungkin sudah dari kemarin air termos itu tidak diganti, panasnya sudah menguap meninggalkan air yang yang hanya hangat suam suam kuku. Ya begitulah Prambudi, laki laki yang tak pandai mengurus diri sendiri jika tidak ada Citra di sampingnya. Dia mengaduk kopi tanpa menambahkan gula. Akhirnya secangkir kopi pahit telah tersaji.
Dua orang dengan kondisi terikat tangan dan kakinya berada di pojok ruangan. Mbah Kadir tergeletak dengan mata tertutup, nafasnya yang semakin terdengar pelan dan jarang. Mungkin kakek tua renta itu tinggal menunggu waktu hingga ajalnya tiba. Sementara di sebelah Mbah Kadir ada Linda dalam kondisi setengah telanj*ng merintih kesakitan. Kepala bagian belakangnya terluka dengan darah yang sudah mengering, mulutnya tersumbat lakban sehingga dia tak mampu berbicara ataupun berteriak. Dia terlihat ketakutan melihat kedatangan Prambudi.
Prambudi menyeret kursi, kemudian duduk di hadapan Linda. Dia memandangi Linda dengan wajah yang terlihat sendu. Entah apa yang membuatnya sedih, apakah karena teringat semua orang yang disakitinya atau dia tak tega melihat kondisi rekan kerjanya itu. Prambudi mengusap rambut Linda perlahan. Wanita itu tergeletak menggigil kedinginan.
"Maafkan aku Lin. Sebenarnya aku tak pernah berniat melakukan ini padamu. Aku terpaksa. Aku harus melakukannya agar aku bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupku nanti. Kamu juga tahu kan bahwa setiap kebahagiaan selalu membutuhkan pengorbanan, entah itu besar ataupun kecil," Prambudi menghela nafas, kepalanya tertunduk lesu. Linda membuang muka, dia tak sudi menatap wajah Prambudi yang terlihat menyesal dengan perbuatannya.
__ADS_1
Prambudi memperhatikan tubuh bagian bawah Linda. Terlihat sebercak noda darah disana. Prambudi turun dari kursi, dia kali ini duduk bersimpuh di hadapan Linda. Prambudi menyentuh noda darah di paha Linda.
"Sudah waktunya Lin. Maafkan atas segala salahku padamu. Jujur aku cukup tertarik padamu. Semoga kamu bisa mengerti alasanku berbuat seperti ini. Sama sepertimu yang berusaha untuk bersamaku meskipun tahu aku sudah memiliki Citra, akupun demikian. Aku rela melakukan apapun agar bisa bersama dengan orang yang kucinta," Prambudi menitikkan air mata, suaranya terdengar bergetar. Linda melotot mendengar perkataan Prambudi. Sorot matanya penuh kebencian dan umpatan yang tidak bisa keluar karena mulutnya yang tersumbat.
Prambudi menyeruput kopi pahit yang telah dia siapkan. Matanya terpejam, mulutnya komat kamit. Prambudi mengambil nafas dalam dalam, menghembuskannya dengan pelan. Bersamaan dengan itu, perlahan lahan tercium bau busuk. Baunya mirip telur busuk ataupun bangkai hewan yang bercampur dengan aroma wewangian bunga. Aroma yang benar benar membuat mual dan menjijikkan. Linda merasa ingin muntah. Perutnya seakan diaduk aduk, tak karuan.
Grrrrr Grrr Grrrrr
Terdengar suara geraman dari sudut ruangan sebelah pintu. Tidak terlihat makhluk apa yang menggeram itu, suasana terlampau gelap. Suara geraman seperti harimau terdengar semakin mendekat pada Prambudi.
"Hmmmphhh Hmmpphhh Hmmpphhh," Linda menjejak jejakkan kakinya. Dia berusaha berteriak tapi tidak bisa, mulutnya tersumbat. Dia menangis sejadi jadinya. Mengiba, meminta ampun, sambil terus bergerak liar. Namun semua upaya itu sia sia, suara geraman buas itu semakin mendekat.
Linda benar benar ketakutan, dia tidak menduga hidupnya akan berakhir dengan cara seperti ini. Dulu dia tak percaya pada istilah yang mengatakan cinta ini membunuhku, namun ternyata istilah itu benar benar terjadi pada hidupnya. Dia benar benar bisa terbunuh karena cinta butanya pada Prambudi.
Tiba tiba saja suara geraman menghilang. Prambudi membuka mata. Namun sorot matanya berubah, ada seringai mengerikan di bibirnya. Dia beranjak dari duduknya. Prambudi berperilaku aneh. Dia merangkak mengitari tubuh Linda. Air liurnya menetes menjijikkan. Dan dengan kasar dia mencengkeram tubuh sintal Linda.
Ggrrrrrrrrrr
__ADS_1
Bersambung . . .