Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Apa yang sudah kamu lakukan?


__ADS_3

Dengan langkah yang pelan dan hati hati 3 orang dewasa dan 1 balita berjalan menuju rumah di ujung pertigaan itu. Mereka mengawasi keadaan rumah, yang tanpa diduga ada 2 buah mobil berwarna hitam terparkir di halamannya. Nampak beberapa orang berdiri di depan pintu masuk.


"Ada sekitar 8 orang," Mas Adi bergumam. Matanya nyalang mengawasi dan menghitung orang orang yang berdiri di depan pintu. Sementara Tarji, Citra dan Amanda berjongkok di balik semak semak.


"Bukankah lebih baik, anakmu tetap berada di dalam mobil?," Tarji bertanya pada Citra. Dia menatap ibu satu anak itu dengan kekaguman. Benar benar baru kali ini dia melihat wanita yang terlihat begitu cantik dan anggun, bahkan meski dalam pencahayaan yang samar samar.


"Anak ini ingin ketemu ayahnya," Tukas Citra dengan tegas.


"Kamu tahu, siapa orang orang yang berada di depan pintu itu?," Mas Adi kali ini yang bertanya.


Citra melongok, menyipitkan matanya. Memperhatikan dengan seksama satu persatu orang yang berada di depan pintu rumahnya. Orang orang berbaju hitam dengan wajah wajah yang terlihat asing.


"Tak ada yang saya kenali," Citra menggeleng pelan.


"Mungkinkah warga sekitar?," Mas Adi kembali bertanya.


"Bukan. Saya baru kali ini melihatnya," Citra menjawab dengan cepat.


"Ji, ada berapa peluru di pistolmu?," Mas Adi menepuk bahu Tarji yang terlihat bengong. Sedikit jengkel juga melihat rekannya itu tak fokus di situasi genting seperti saat ini.


"Eemm, ada 4," Tarji berpikir sejenak kemudian menjawab.


"Kirim pesan ke kantor. Kita butuh tambahan personil," Mas Adi memberi perintah.


"Baik," Tarji mengangguk dan segera merogoh HP di saku jaketnya.


Mas Adi gusar, dia sadar persiapannya kurang matang. Dia hanya membawa 2 butir peluru. Namun, dia tak mungkin menunggu datangnya bantuan. Bagaimana jika hal buruk terlanjur terjadi pada Sinta? Apalagi saat ini tersangka pelaku penculikan adalah Prambudi, 'saudara' nya di masa kecil dulu.


Mas Adi mulai merasa ragu untuk mengambil tindakan. Rasa bimbang menguasai hatinya. Dia tak mau lagi merasakan kehilangan ditinggal oleh orang orang terdekatnya. Baik itu Prambudi, ataupun Sinta. Mereka berdua sama pentingnya bagi Mas Adi.


"Pak, saya mau masuk," Ucap Citra saat melihat kedua polisi di hadapannya itu hanya diam saja.

__ADS_1


"Terlalu berbahaya. Kita tidak tahu siapa mereka? Organisasi atau komplotan apa sebenarnya mereka itu," Mas Adi mencegah Citra bertindak gegabah.


"Saya tadi kemari untuk memberikan cincin ini agar anda periksa. Namun sampai disini anda malah mengajak saya bermain petak umpet di depan rumah saya sendiri. Saya pikir lebih baik saya masuk ke rumah dan bertanya langsung pada suami saya, ada apa sebenarnya ini?," Citra menatap tajam pada Mas Adi.


"Suami kamu, kemungkinan besar merupakan pelaku kasus penculikan yang selama ini kami tangani," Mas Adi membalas tatapan tajam Citra.


"Anda jangan mengada ada," Sergah Citra tak terima.


"Suami saya adalah orang yang sangat baik," gumam Citra. Suaranya terdengar bergetar, dia seperti hendak menangis.


"Percayalah, aku pun masih ragu suamimu melakukan hal buruk. Aku dan dia besar di tempat yang sama," Mas Adi mencoba menenangkan Citra.


Namun Citra sudah kehilangan kesabarannya, dengan menggandeng Amanda dia berjalan masuk ke halaman rumah. Beberapa orang berbaju hitam yang berada di depan pintu terlihat berjalan mendekatinya.


"Siapa kau? Mau apa datang kemari?," Tanya salah satu orang dengan kepala plontos.


"Aku istri Prambudi, pemilik rumah ini," Jawab Citra dengan suara bergetar. Orang orang berbaju hitam langsung saling bertukar pandang mendengar jawaban Citra. Mereka nampak kebingungan.


"Sudah gila! Ini rumahku. Siapa kalian berani melarangku untuk masuk?," Citra melotot. Sementara Amanda terlihat ketakutan memeluk dan menempel pada badan Mamahnya.


Orang orang berbaju hitam tetap mengerubuti Citra. Mereka tidak memberikan jalan pada Citra.


"Semuanya angkat tangan! Dan menyingkir!," Mas Adi dan Tarji berlari menodongkan pistolnya.


Sesaat setelah Citra memaksa untuk masuk ke rumah, Mas Adi tidak ada pilihan lain kecuali menyusul dan berusaha melindunginya. Meskipun peluru yang dia bawa kurang, namun dia berusaha terlihat meyakinkan agar lawan menciut nyalinya.


"Heii! Beri jalan! Beri jalan!," Mas Adi membentak.


Orang orang berbaju hitam mengangkat tangannya kemudian membukakan jalan untuk Citra.


"Masuk, dan bawa suamimu keluar! Cepat," Mas Adi menoleh pada Citra sambil tetap mengacungkan pistolnya ke arah orang orang berbaju hitam.

__ADS_1


Citra mengerti, dia segera menggendong Amanda dan berlari ke dalam rumah. Sementara Mas Adi dan Tarji terus fokus memperhatikan orang orang berbaju hitam di hadapannya. Tidak boleh ada yang saling mendekat. Semuanya terdiam dan hanya saling pandang.


Citra membuka pintu kamar, tak ada siapapun disana. Begitupun dapur, kosong. Dengan masih tetap menggendong Amanda, Citra menapaki anak tangga menuju lantai dua. Terlihat kamar yang biasanya terkunci rapat, sedikit terbuka. Citra ragu untuk melangkah. Dia dan Amanda hanya berdiri di ambang pintu.


"Mas. . .Pram?," Citra mencoba memanggil Prambudi dari balik pintu. Suaranya yang keluar begitu lirih, seakan ada yang mengganjal tenggorokannya.


Kriieettt


Pintu terbuka lebar. Nampak Prambudi dan seorang laki laki tua bertongkat keluar dari dalam kamar. Ekspresi Prambudi terlihat panik dan kaget, melihat istrinya berada di depan pintu.


"Ka kamu. . .sedang apa disini Cit?," Prambudi tergagap menatap Citra.


"Apa yang Mas Pram sedang lakukan?," Citra bertanya, sedangkan Amanda memeluk Mamahnya dengan erat dalam gendongan.


"Sudah kukatakan, aku akan menjemputmu. Bagaimana bisa kamu disini sekarang?," Prambudi berusaha mendekati Citra, namun istrinya itu malah berjalan mundur beberapa langkah, berusaha menjaga jarak.


"Apa yang Mas Pram sedang lakukan?," Citra terus mengulang pertanyaannya. Wajahnya memerah, mata bulatnya terlihat berkaca kaca, penuh dengan genangan air mata yang siap jatuh dari pelupuknya.


Citra mengendus, aroma Prambudi benar benar menjijikkan. Aroma wangi bunga yang sangat menyengat, bercampur dengan bau seperti sesuatu terbakar. Citra baru teringat sekarang, hampir setiap malam selama tidur di rumah ini, Citra menghirup aroma sangit ini. Aroma yang awalnya dia pikir berasal dari pembakaran obat nyamuk.


"Cepat selesaikan drama ini Pram. Ingat, kamu masih kurang 1 mantu," Laki laki bertongkat masuk kembali ke dalam kamar, dia sempat melotot menatap Citra sebentar.


"Siapa dukun itu Mas? Apa yang telah Mas Pram lakukan?," Citra kali ini benar benar menangis.


"Arrghhhh," Prambudi memukul tembok di sampingnya dengan kencang.


Sementara itu di halaman rumah, Mas Adi dan Tarji masih tetap berdiri menodongkan pistolnya pada orang orang berbaju hitam. Sayup sayup terdengar suara mobil mendekat, dengan sorot lampu yang begitu terang. Dua mobil berwarna putih berhenti di seberang jalan.


Mas Adi awalnya berpikir mobil itu dikendarai oleh personil kepolisian yang tadi sempat dihubungi. Namun, ternyata dia salah. Yang datang adalah para centeng Pak Doto, yang langsung saja berlari ke arah kerumunan orang orang berbaju hitam seakan hendak menyergap. Tarji kebingungan dan kehilangan fokusnya, saat itulah salah satu orang berbaju hitam melompat dan berusaha menubruknya. Pergumulan tak bisa dihindarkan kali ini.


DOORRRR

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2