Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Sungai belakang rumah


__ADS_3

Rrr Rrrrr Rrrrr Rrrrrr


HP bergetar, membangunkan Citra dari tidur lelapnya. Dia segera meraih HP di atas kepalanya. Dilihatnya jam, sudah setengah 6 pagi. Berarti alarm sudah beberapa kali berbunyi. Citra ingat betul tadi malam dia menyetel alarmnya jam 5 pagi. Kepalanya terasa berat, masih merasakan kantuk yang luar biasa. Entah sejak kapan Citra jadi doyan sekali dengan yang namanya tidur.


Citra beranjak dari tempat tidurnya, mengucek ngucek kedua bola matanya. Dilihatnya Prambudi sudah tidak ada di tempat tidur. Sementara Amanda masih terlihat lelap. Citra keluar kamar menuju ke dapur.


"Duh, Rohmat si tukang sayur pasti udah lewat tadi," Citra bergumam sendiri. Dia bingung, hendak masak apa. Tidak ada bahan makanan di rumah.


Duk duk duk


Terdengar langkah kaki menuruni tangga, Citra menoleh. Ada Prambudi dengan senyuman yang terkembang.


"Udah bangun? Tidurmu nyenyak kan?," Tanya Prambudi, entah kenapa suaranya membuat Citra merasa rindu. Citra menghambur memeluk Prambudi.


"Ngapain Mas dari atas?," Citra bertanya dalam pelukan Prambudi.


"Lihat pemandangan aja sih," Prambudi menjawab pendek.


"Maafin aku ya Mas," Citra tiba tiba meminta maaf pada Prambudi.


"Maaf? Untuk apa?," Prambudi mengernyitkan dahi. Dia merasa bingung istrinya tiba tiba saja minta maaf.


"Soalnya aku bangun kesiangan. Nggak sempet beli bahan masakan. Jadi nggak ada sarapan hari ini," Citra terdengar sangat menyesal, merasa bersalah.


"Nggak pa pa sayang. Nanti biar aku beli di kantin kantor. Kamu, sama Manda nanti ke pasar aja ya, pake becak motor. Beli apa gitu yang Manda suka," Prambudi membelai lembut rambut Citra.


"Memangnya Mas Pram ada uang?," Citra kembali bertanya, khawatir dengan keuangan keluarganya.


"Tenang, masih ada kok. Pokoknya kamu itu tugasnya, cukup satu. Ba-ha-gia. Kamu harus bahagia. Karena bahagia tidaknya sebuah keluarga itu tergantung dari istri. Kalau istri bahagia, sebuah keluarga pasti terlihat bahagia. Soal keuangan dan lainnya itu tugasku sayang," Prambudi mengecup kening Citra.


Citra semakin erat memeluk Prambudi. Pria yang selalu lembut padanya. Pria yang selalu ada buatnya. Pria yang selalu memberi maaf ketika dia berbuat salah. Pria yang selalu menerima apapun kekurangan dirinya. Citra merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Prambudi.


"Eh Mas, sungai di belakang rumah kayaknya indah deh," Citra tiba tiba saja teringat sungai yang dia lihat dari balkon pada waktu awal pindah rumah.

__ADS_1


"Iya, emang. Tadi aku juga lihat sungai itu dari balkon, kelihatan seger," Prambudi masih membelai lembut rambut Citra.


"Mau lihat dari atas?," Prambudi bertanya, melepas pelukan Citra. Menggandeng tangan Citra, hendak mengajaknya ke lantai atas.


"Nggak Mas," Citra menggeleng.


"Aku maunya lihat langsung ke sungai sana," Citra bergelayut manja.


"Tapi kan Manda tidur sendirian Cit. Masak kita tinggal," Prambudi kurang setuju dengan ide istrinya.


"Manda tidurnya pules kok. Bangunnya agak siang biasanya," Citra menatap Prambudi.


"Mau lihat apa sih? Sungai itu indahnya dilihat dari balkon, kelihatan berkelok, indah gitu," Prambudi masih merasa enggan, udara dingin membuatnya malas keluar rumah.


"Kan banyak batu gedhe gedhe Mas, airnya jernih juga. Beda sama di kota. Masak udah hampir satu minggu disini, sungai belakang rumah aja belum pernah lihat secara langsung," Citra memasang wajah cemberut.


"Kan nanti kamu bisa lihat sendiri Cit," Prambudi menggaruk garuk kepalanya.


"Ini bukan sejuk Ciitt. . .ini dingin. Tapi yaudah deh, ayuk kita jalan jalan sebentar," Prambudi menghela nafas, akhirnya mengalah. Menuruti keinginan istrinya itu.


"Yeeaayyy," Citra melonjak girang, mengecup pipi Prambudi.


Mereka berdua keluar rumah melalui pintu belakang, kemudian menyusuri jalan setapak dengan tanaman pohon asem dan beberapa singkong di kiri kanan jalan.


"Ini semua milik Mbah Kadir ya Mas?," Citra bertanya pada Prambudi, ketika melihat kebun belakang rumah yang ternyata cukup luas.


"Kayaknya sih begitu. Beliau sepertinya tuan tanah daerah sini," Prambudi menjawab dengan ekspresi wajah datar.


"Emm, aku dengar dari tetangga, katanya menantu Mbah Kadir itu hilang Mas waktu tinggal di rumah yang kita tempati sekarang," Citra memulai pembicaraan yang sebenarnya pengen dia bahas dengan Prambudi dari kemarin.


"Ya aku juga sudah dengar dari orang orang waktu pertama kali datang dan lihat rumah itu," Prambudi menjawab enteng.


"Kok Mas Pram tetep pilih rumah itu sih? Gimana kalau . . .," Citra tidak meneruskan kalimatnya karena tiba tiba Prambudi menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Cit, kan sudah aku katakan berulangkali. Aku memilih rumah itu karena biaya sewanya yang murah. Rumahnya juga masih cukup baru, luas pula. Aku tuh udah keliling nyari rumah lain, tapi nggak ada yang cocok. Kalaupun ada, jauh dari tempatku kerja," Prambudi terlihat jengkel.


"Kamu ngajakin aku jalan jalan pagi cuma buat ngajakin debat ini lagi ya," Prambudi bersedekap, entah kenapa akhir akhir ini dia merasa sering berdebat dengan istrinya itu.


"Ya enggak Mas. Aku cuman takut aja," Citra jadi merasa bersalah.


"Kamu nggak usah mikir macem macem. Percaya sama aku, tugasmu cuma satu. Bahagia," Prambudi menggenggam tangan Citra. Citra mengangguk pelan. Mereka berdua kemudian berjalan kembali ke arah sungai.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka sampai di sungai. Memang tidak terlalu jauh dari rumah. Sebuah sungai khas pedesaan, bebatuan besar dengan air yang jernih dan arus yang cukup deras. Bunyi gemericik air yang khas, menentramkan pikiran setiap insan yang mendengar dan menikmatinya.


"Mas, fotoin aku dong," Citra menyerahkan HP nya pada Prambudi. Kemudian dia bersandar pada salah satu batu besar di tepi sungai. Citra berpose menghadap ke rumahnya. Nampak jelas lantai dua rumah dan balkonnya dari tempat dia berdiri sekarang.


Prambudi tersenyum, mengarahkan kamera HP pada istrinya. Cantik, postur tubuh yang tidak berubah, sama seperti saat pertama Prambudi mengenalnya. Prambudi mengambil beberapa foto, istrinya benar benar cocok menjadi model. Citra masih terus berpose, bersandar pada batu. Prambudi mendekat, dan langsung mendaratkan beberapa ciuman di bibir istrinya itu.


"Apa sih Mas?," ujar Citra manja.


"Kamu cantik," Prambudi berbisik, kemudian sedikit menggigit telinga istrinya yang tampak semburat memerah.


"Ahhh," Citra sedikit kaget.


Prambudi memasukkan tangannya di sela sela piyama yang dikenakan Citra.


"Maasss, ini di luar rumah lho. Nanti kalau ada orang gimana?," Citra seolah menolak, tapi tangannya telah dia kalungkan di leher Prambudi.


"Nggak bakal ada orang jam segini," Prambudi berbisik nakal.


Citra tersenyum, mendekap Prambudi. Pada saat itu dia melihat ke arah balkon rumahnya. Disana tampak seorang anak kecil perempuan berdiri di atas pagar balkon. Dan detik berikutnya anak itu melompat.


"Mandaaaa," Citra menjerit. Prambudi terkejut, tidak tahu apa yang terjadi. Citra mendorong tubuh Pambudi yang sedang mendekapnya hingga jatuh terjengkang. Citra tak peduli lagi, dia langsung berlari sekuat tenaga kembali ke rumah.


"Mandaaa,"


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2