
Prambudi berjalan lesu menuju mesin foto copy. Ada beberapa berkas yang mesti dia gandakan pagi ini. Pikirannya mengawang, dia sedang tidak fokus bekerja. Prambudi teringat keadaan Citra, dia sadar betul istrinya itu merasa tidak nyaman berada di rumah kontrakan pilihannya. Prambudi menghela nafas, ada sebuah beban yang terasa berat dan mengganjal di hatinya.
Plakkk
Sebuah tepukan cukup keras di bahu, mengagetkan Prambudi. Berkas yang dipegangnya jatuh berhamburan di lantai. Prambudi menoleh, ternyata Linda berdiri di belakangnya dengan senyuman yang terlihat manis. Linda memakai riasan yang cukup tebal dengan bibir yang terlihat merah merekah.
"Kok segitu kagetnya sih Mas?," Linda bertanya sambil berkacak pinggang.
"Ah, Mbak Linda. Bikin kaget saja," Prambudi membungkuk hendak memungut berkas yang berserakan.
Linda buru buru ikut berjongkok, berusaha membantu Prambudi. Dengan rok pendek dan ketat, Linda seakan memamerkan p*ha mulusnya pada Prambudi.
"Uhuuk uhuukk uhuukk," Prambudi tersedak. Dia mengumpat dalam hati. Wanita di hadapannya itu benar benar menguji kesetiaannya pada Citra.
"Pelan Mas, pelan," Linda berdiri menepuk nepuk punggung Prambudi.
Prambudi segera berdiri setelah memungut semua berkasnya. Karena terburu buru, tanpa sengaja bagian kepala belakang Prambudi membentur dahi Linda cukup keras.
"Auuww auww," Linda memegangi dahinya.
"Duh," Prambudi pun sama, mengaduh kesakitan.
Linda berpegangan pada tembok, dahinya terlihat memerah. Bukan karena bedaknya yang merona tapi memang benturan yang terjadi cukup keras. Prambudi yang menyadari hal itu, segera memegangi Linda supaya tidak jatuh.
"Maaf Lin, eh Mbak Linda," Prambudi panik.
Linda melirik pada Prambudi yang sedang memegangi tangannya. Prambudi terlihat khawatir. Terlintas di benak Linda untuk memanfaatkan keadaan tersebut. Linda sekilas tersenyum licik, kemudian menjatuhkan badannya pada Prambudi.
"Linda. . .Lin, kamu nggak pa pa kan?," Prambudi setengah memeluk Linda, menjaga agar Linda tidak jatuh ke lantai.
Prambudi menggamit pinggang Linda, dengan sedikit terseok mereka mencari tempat duduk. Kebetulan juga area kantor tempat fotocopy sedang sangat sepi. Tidak ada siapapun disana kecuali mereka berdua.
Akhirnya Prambudi menemukan sebuah kursi panjang di bawah tangga menuju ruangan lantai dua. Prambudi mendudukkan Linda disana.
"Kamu nggak pa pa?," Prambudi bertanya, menatap dahi Linda yang kini terlihat benjol. Sebenarnya kepala belakang Prambudi juga masih terasa sedikit sakit.
"Agak pusing Mas," Linda menjawab pendek.
"Duh, benjol tuh. Maafin aku ya, nggak sengaja tadi," Prambudi meminta maaf, dia benar benar merasa bersalah. Linda tersenyum dalam hati.
__ADS_1
"Iya Mas nggak pa pa. Tapi, nanti antarin aku pulang ya," Linda mengelus elus dahinya.
"Hah?," Prambudi terlihat keheranan dengan permintaan Linda.
"Kamu nggak separah itu deh sampai harus minta antar pulang segala," Prambudi akhirnya merasa Linda memanfaatkan kesalahannya.
"Ya kan sebagai ganti rugi Mas," Linda memasang wajah cemberut, masih mengelus elus dahinya yang benjol.
"Ganti rugi?," Prambudi mengernyitkan dahi.
"Iya. Lihat nih jidatku jenong," Linda menunjuk benjolan di dahinya.
"Kan aku nggak sengaja. Udah minta maaf juga," Prambudi menghela nafas.
"Nggak cukup hanya dengan minta maaf dong. Dahiku luka soalnya. Pokoknya aku minta ganti rugi," Linda mendesak Prambudi.
"Maaf Linda, aku nggak bisa," Prambudi kekeuh menolak. Dia merasa harus menjaga jarak dengan Linda.
"Kenapa Mas? Dilarang sama istrimu?," Linda bertanya, semakin menyudutkan Prambudi. Prambudi hanya diam saja tak menjawab.
"Sadar nggak sih, kamu itu terlalu dikekang Mas. Istrimu terlalu posesif. Padahal dalam hidup, kita selalu membutuhkan teman Mas. Hanya berteman kan, tidak lebih. Ah, mungkin memang hal ini tidak akan bisa dimengerti oleh istri yang hanya di rumah. Dia tidak mengerti tentang berkarier, dan pentingnya rekan kerja," ujar Linda dengan kalimatnya yang terasa pedas.
"Cukup Lin. Setiap orang selalu mempunyai kekurangan, dan aku menerima kekurangan istriku," Prambudi menjawab setelah termenung sesaat.
Prambudi masih enggan berdiri. Dia terdiam, tak memandang Linda, kepalanya tertunduk. Terlihat jelas perkataan Linda barusan mempengaruhi pikirannya.
"Baiklah Mas. Ganti ruginya dirubah saja ya. . . lain hari, traktir aku makan siang Mas. Oke?," Linda bertanya sambil berjalan meninggalkan Prambudi. Dia sengaja tidak menunggu jawaban dari Prambudi.
Prambudi menoleh, hanya mampu menatap Linda yang memunggunginya, berjalan pergi dengan lenggak lenggok yang terlihat seksi.
"Bodoh," Prambudi menampar pipinya sendiri dengan cukup keras.
* * *
Hampir setengah 6 sore. Prambudi belum juga terlihat batang hidungnya. Citra merasa khawatir sekaligus curiga. Jangan jangan suaminya sedang bersama Linda. Hendak menelponnya pun tak bisa, HP Citra mati total.
Bu Utami sudah pulang sebelum ashar tadi. Citra tinggal berdua dengan Amanda. Kakinya masih terasa sulit digerakkan. Dia hanya tiduran saja seharian, sementara Amanda terlihat begitu riang bermain bersama si Cemong, kucing barunya.
"Mah mamah," Amanda memanggil Citra, memecah kesunyian.
__ADS_1
"Iya Nak, ada apa?," Citra tersenyum memandang putrinya yang masih asyik dengan si Cemong. Ada sedikit rasa takut di benaknya, teringat kembali bayangan anak kecil yang melompat dari balkon. Citra begidik ngeri.
"Manda aus, mau mimik," Amanda mendekati Citra. Ternyata dia kehausan.
"Gimana ya Nak, kaki Mamah masih sakit," Citra berusaha bergerak, mencoba turun dari tempat tidurnya.
"Biar aku ambil sendiri saja Maahh," Ujar Amanda.
"Kamu bisa sendiri?," Citra mengelus elus rambut Amanda.
"Bisa Maahh," Amanda tersenyum, menunjukkan deretan gigi susunya yang menambah imut dan terlihat menggemaskan.
"Pinteerrr, hati hati ya," Citra mengecup kening putrinya itu.
Sejurus kemudian Amanda berlari lari kecil menuju dapur. Disusul si Cemong yang mengekor di belakang majikan kecilnya. Citra kembali menyandarkan punggungnya di bantal. Luka di kakinya tidak seberapa, tapi entah kenapa terasa nyeri yang cukup menyakitkan ketika di gerakkan.
Praangggg
Sebuah suara mengagetkan Citra. Suara benda yang seperti gelas atau semacamnya jatuh dan pecah.
"Manda sayaang? Kamu kenapa Nak?," Citra gusar dan panik.
Hening, tidak ada jawaban dari Amanda.
"Manda sayaangg? Nak? Jawab Mamah Nak," Citra semakin panik. Suaranya bergetar.
Masih tetap hening.
Citra berusaha memaksa menggerakkan kakinya. Dia turun dari ranjang tempat tidurnya.
"Auuwwww," Citra meringis kesakitan. Tulang keringnya benar benar terasa ngilu.
Citra berpegangan pada tembok kamar, mengangkat satu kakinya yang terluka. Dia berusaha berjalan dengan satu kaki, badannya setengah bersandar pada tembok.
Citra meringis menahan sakit. Berjalan terseok seok, sangat lambat.
"Manda sayang? Jawab Mamah Nak, kamu nggak pa pa kan sayang?," Citra kembali memanggil manggil Amanda.
Sstttt Sttt Sttt
__ADS_1
Sebuah suara berdesis terdengar. Seakan ada orang yang meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan memperingatkan orang lain untuk diam. Disusul sebuah tawa yang meringkik aneh di tengah suasana rumah yang suram.
Bersambung . . .