Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Citra dan Amanda kembali ke rumah


__ADS_3

"Ada apa Mas? Kamu kok terlihat ketakutan begitu?," Citra bertanya ketika memperhatikan Prambudi yang terlihat bingung dan gelisah.


Prambudi masih menggigiti kuku tangannya. Dia begitu gusar dan panik. Prambudi belum menjawab pertanyaan Citra, pikirannya mengawang jauh.


"Mas?," Citra menepuk bahu Prambudi pelan. Prambudi terlihat seperti teringat sesuatu.


"Cit, aku mau ke panti malam ini. Ini penting banget. Emm, gimana kalau untuk sementara kamu dan Manda pulang dulu ke rumahmu," Prambudi menatap Citra dengan begitu tajam. Dua bola matanya terlihat sedikit melotot.


"Ada apa Mas?," Citra meminta penjelasan.


"Pengurus panti sakit," Jawab Prambudi cepat.


"Kalau begitu aku mau ikut Mas," Citra menggenggam tangan Prambudi.


"Jangan!," Prambudi melarang. Dia sedikit membentak.


"Kenapa?," Citra semakin bingung.


"Itu. . .pengurus panti sakitnya tuh belum jelas. Pokoknya jangan ikut dulu, kasihan Manda nanti kalau dia ikut nengok orang yang sakit kayak gitu," Prambudi memberi penjelasan.


"Tapi Mas. . .," Citra hendak mendebat, namun Prambudi segera memeluknya.


"Plis Cit. Bundamu juga kangen sama kamu. Pokoknya kamu pulang dulu ke rumah ya," Prambudi berbisik, terdengar memohon agar Citra menurut padanya. Citra akhirnya mengangguk pelan.


"Jangan cerita dulu ke bunda tempat tinggal kita yang sekarang ya? ," Prambudi melepas pelukannya, menatap Citra begitu lekat.


"Baiklah. . .," Citra menghela nafas.


"Kita mau ke rumah Oma ya Mah?," Amanda bertanya dengan wajah polosnya.


"Iya sayang. Ayah mau pergi dulu, kamu sama Mamah sementara bobok di rumah Oma dulu ya," Prambudi membelai lembut rambut hitam putrinya.


"Yeeaayyy. . .asyiikkk," Amanda melompat kegirangan.


"Cemong diajak juga ya Mah? Ya Yaah?," Amanda menggendong kucing kesayangannya yang entah sejak kapan kucing itu bergabung di tengah obrolan keluarga Prambudi.


"Iya Nak," Citra mengangguk, tersenyum memandangi wajah putrinya itu.

__ADS_1


* * *


Jam setengah tujuh malam, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah kontrakan Prambudi. Citra dan Amanda telah selesai berkemas, beberapa baju ganti telah dimasukkan ke dalam koper kecil.


"Mas?," Citra memanggil Prambudi yang terlihat melamun, duduk di kursi ruang tamu.


"Iya?," Prambudi menoleh, memperhatikan istrinya yang kali ini memakai sebuah sweater berwarna hijau yang membuatnya terlihat lebih manis dan seger.


"Aku nggak mau kita berdebat, dan aku nggak ingin banyak bertanya kali ini karena aku percaya sama kamu. Tapi kuharap kepercayaan yang kuberikan padamu tidak kamu salah gunakan," Citra menatap Prambudi, ekspresinya begitu serius kali ini.


"Iya sayang, aku beneran harus ke panti kali ini. Aku nggak berbohong padamu," Prambudi berdiri menggenggam tangan Citra.


"Kalau pengurus panti sudah sembuh, aku janji akan mengajakmu kesana," Prambudi mengelus lembut punggung tangan istrinya itu.


"Baiklah," Citra menghela nafas.


"Yayah, Mamah. . .ayok berangkat," Amanda terlihat sumringah, berlari lari kecil keluar rumah.


Akhirnya keluarga Prambudi naik mobil yang dikemudikan oleh Pak sopir yang sama saat pertama kali mereka datang ke rumah kontrakan tersebut. Citra sebenarnya hendak memprotes suaminya, kenapa memakai sopir yang terlihat kurang ramah itu lagi. Namun Citra merasa tidak perlu untuk berdebat kali ini.


Di perjalanan, hanya Amanda yang terlihat riang dan bersemangat. Anak kecil itu tak henti hentinya bernyanyi dan bersenandung. Sementara Prambudi, sedari tadi hanya mer*mas rem*s tangannya sendiri. Citra memperhatikan suaminya itu. Citra baru kali ini melihat suaminya begitu gusar dan cemas.


"Pengurus panti pasti segera sembuh," Citra berusaha menenangkan Prambudi.


"Ah iya Cit," Prambudi tersenyum sekilas.


Tiga puluh menit berikutnya mereka sampai di persimpangan jalan beberapa puluh meter sebelum rumah Pak Doto. Prambudi menyuruh si sopir berhenti disana.


"Kalian turun disini saja ya. Aku nggak mau kita ketahuan ayahmu. Bisa bisa mobil ini dilacak dan dicari. Kamu tahu sendiri kan ayahmu kayak gimana," Prambudi membuka pintu mobilnya.


"Terus, gimana cara kamu menjemputku besok?," Citra bertanya heran.


"Emm, belum tentu besok aku menjemputmu Cit," Prambudi menatap Citra.


"Maksudmu Mas?," Citra kembali bertanya.


"Ya bisa saja aku lebih dari satu hari di panti. Pokoknya kamu tenang saja, aku pasti akan selalu menghubungimu kok. Ya?," Prambudi terlihat mencoba meyakinkan Citra.

__ADS_1


Citra menjadi ragu ragu. Mungkinkah suaminya itu menutupi sesuatu darinya? Ada apa sebenarnya? Beberapa pertanyaan muncul di dalam benak Citra.


"Aku janji akan segera menjemputmu saat keadaan sudah membaik sayang. Oke?," Prambudi kembali menggenggam tangan Citra. Citra mengangguk pelan. Kemudian keluar dari mobil bersama Amanda.


"Aku akan mengawasi dan menunggu kalian masuk ke rumah dari sini," Prambudi tersenyum.


"Yayah, hati hati ya," Amanda berkata dengan wajah polosnya. Prambudi sedikit gemas, kemudian mengusap usap poni Amanda.


Citra dan Amanda berjalan menenteng koper kecil menuju rumah yang terlihat mentereng dengan sinar lampunya yang begitu terang di tengah gelapnya langit malam hari. Prambudi mengawasi istri dan anaknya itu. Saat mereka telah sampai di depan pintu pagar, Prambudi segera masuk ke dalam mobil.


"Kita jalan sekarang," Prambudi memberi perintah. Pak sopir tersenyum sekilas dan mengangguk, kemudian menginjak gas cukup dalam. Mobil meraung keras dan dalam sekejap saja sudah menghilang ditelan kegelapan.


Sementara itu Citra disambut sukacita oleh nyonya Doto. Pelukan dan ciuman penuh kasih sayang secara bertubi tubi diterima Citra dan Amanda.


"Ayah kemana Bun?," Citra bertanya pada Bundanya saat Pak Doto tidak terlihat batang hidungnya di rumah.


"Ayahmu keluar kota sayang. Mungkin lusa baru pulang," Nyonya Doto terlihat begitu berbinar. Rasa kangen yang luar biasa terobati kali ini. Apalagi cucunya terlihat sehat dan semakin tumbuh besar. Nyonya Doto segera menggendong Amanda dengan gemasnya.


"Cucu Oma udah besar. Ya ampuunn," Nyonya Doto terharu menciumi Amanda.


Semenjak bayi, Amanda selalu diasuh oleh Nyonya Doto. Cucu pertama yang berwajah begitu mirip dengan masa kecil Citra. Jadi ketika tiba tiba saja Citra pergi dari rumah membawa serta Amanda, Nyonya Doto merasa seakan kehilangan semangat dan kebahagiaan di masa tuanya.


"Mana itu si Prambudi?," Nyonya Doto menoleh, bertanya pada Citra. Menantunya itu memang tidak terlihat ikut pulang kali ini.


"Mas Pram sibuk kerja Bunda. Dia nggak ikut kali ini," Citra menjawab bersiap mendapat omelan dari Bundanya.


"Kenapa Bunda nyari Mas Pram? Mau Bunda marahi?" Citra bertanya ketika Bundanya diam saja.


"Beristirahatlah. Malam ini Manda biar tidur sama Bunda ya," Nyonya Doto mengalihkan pembicaraan. Dia enggan memulai perdebatan dengan putrinya yang baru saja pulang ke rumah.


Citra pun akhirnya menahan diri, dia menuruti keinginan Nyonya Doto. Citra segera beranjak menuju kamarnya. Citra meletakkan koper di sudut ruangan, dan mengganti sweater yang dia kenakan dengan piyama bermotif pulkadot yang tersedia di dalam lemari.


Citra duduk di sudut tempat tidurnya. Dia memperhatikan cincin yang terpasang di jari telunjuknya. Cincin pertama pemberian suaminya. Citra merebahkan badannya, menggenggam dan memeluk cincin bergambar segitiga itu. Dia berdoa dalam hati untuk keselematan suami tercinta.


* * *


Tepat tengah malam, sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah kontrakan Prambudi. Prambudi turun dari mobil, kali ini dia mengenakan pakaian serba hitam. Kaca jendela mobil terbuka, seseorang yang ada di dalam mobil menatap Prambudi begitu tajam. Tatapan yang mengkilat mengerikan di tengah kegelapan malam.

__ADS_1


"Ingat, kurang dua lagi," Ujar sosok misterius itu dari dalam mobil. Prambudi mengangguk pelan.


Bersambung . . .


__ADS_2