Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Leni


__ADS_3

Malam pun tiba. Suasana tempat tinggal Sinta mulai terdengar riuh. Lampu kerlap kerlip dinyalakan, memancarkan warna yang indah dari cat rumah yang beragam coraknya. Aroma parfum juga menyeruak di udara dari berbagai jenis dan merk. Sungguh gemerlap dunia yang terasa memabukkan.


Sinta kali ini tidak menyalakan lampunya, pun tidak berdandan seperti biasanya. Dia mengambil sebatang rokok, duduk di teras rumah sambil menopang salah satu kakinya. Sinta menyesap rokoknya dalam dalam, memperhatikan rumah di seberang jalan. Sang penghuni rumah yaitu si Leni, belum juga pulang dari sebelum subuh tadi setelah dibawa mobil Pak Doto entah kemana.


"Ngapain kamu Sin? Nggak buka 'lapak'?," Tanya salah satu tetangga Sinta.


"Lagi nggak mood," jawab Sinta pendek.


"Yah terserahmu deh," tetangga itu melakukan hal yang sama dengan Sinta. Duduk di teras rumah dengan sebatang rokok dijepit menggunakan jarinya. Bedanya, tetangga itu memakai pakaian yang seksi, dan riasan yang cukup menor.


Sinta memang sedang malas menerima tamu. Dia lebih memilih menunggu Leni pulang. Sinta ingin membantu penyelidikan Mas Adi. Karena Mas Adi juga lah hari ini dia bermalas malasan saja di rumah. Seharian Sinta hanya melamun, pikirannya penuh dengan petugas kepolisian ganteng tersebut.


"Fuuhhhh," Sinta menghembuskan asap rokok dari mulutnya kuat kuat.


Sinta menoleh, memperhatikan jaket berwarna biru gelap yang tergantung di tempat jemuran di sudut teras rumah. Dia teringat dengan si pemilik jaket. Apakah belum sadar kalau jaketnya tertinggal? Kenapa juga belum diambil? Sinta merasa ingin kembali bertemu dengan si pemilik jaket. Ada rasa ingin segera menghubunginya meskipun mungkin hanya menanyakan bagaimana kabarnya hari ini, dan semua orang tahu bahwa itulah yang dinamakan rindu.


Waktu terus berjalan, hingga cukup larut Sinta menunggu di teras depan rumah. Menghabiskan beberapa batang rokok, hingga akhirnya terlihat Leni berjalan di depan rumahnya. Leni sudah kembali. Sinta segera beranjak menyusul Leni yang sudah membuka pintu rumahnya. Sinta ikut masuk ke rumah Leni.


"Sinta?," Leni mengernyitkan dahi, sedikit kaget melihat Sinta yang nyelonong masuk ke rumahnya.


"Kamu darimana seharian nggak kelihatan batang hidungmu?," Sinta bertanya basa basi.


"Hari ini aku sama bos besar, Pak Doto," Leni menyandarkan badannya di sofa. Begitupun Sinta ikut duduk di sebelah Leni.


"Gimana? Orang itu beneran punya banyak uang ya?," Sinta melanjutkan pertanyaannya.


"Ho oh, buanyak pake banget. Sayangnya aku nggak jadi diajak keluar kota," Leni menghela nafas, terlihat sedikit kecewa.


"Lha kenapa?," Sinta semakin antusias bertanya.


"Aku 'halangan' siang tadi. Yah gagal deh jalan jalan sama bos besar," Leni melemparkan tas slempang kecilnya ke meja depan TV.

__ADS_1


"Kamu sekarang lagi dapet?," Sinta tersentak kaget.


"Iya, kenapa sih? Kok kayak kaget gitu?," Leni menatap Sinta, tetangga sekaligus rekan kerjanya itu bersikap aneh sedari tadi.


"Yaa. . .enggak pa pa sih," Sinta menghela nafas pelan.


Sinta mulai merasa khawatir pada Leni. Jangan jangan kejadian hilangnya Vira terulang kembali. Sinta kali ini nggak mau kecolongan lagi, dia bertekad untuk mengawasi Leni semalaman nanti.


"Emmm, malam ini aku tidur sini ya?," Sinta tersenyum menatap Leni.


"Hah?," Leni benar benar merasa heran dengan permintaan Sinta. Kenapa tiba tiba Sinta terasa ingin akrab dengannya?


"Soalnya semenjak Vira ngilang gak pulang pulang, aku sering amnesia Len, sulit tidur," Sinta cengengesan.


"Imsomnia Ibuuukk, bukan amnesia," Leni mendengus kesal. Sinta tertawa.


"Boleh ya? Pliisss," Sinta merengek seperti anak kecil minta permen lolipop.


"Bai de wei, kamu nggak buka lapak to?," Leni balik bertanya pada Sinta kali ini. Sinta menggeleng cepat.


"Kenapa?," Leni gantian yang banyak bertanya pada Sinta.


"Males, nggak mood," Sinta membuang puntung rokok di asbak.


"Idiiihhh, gaya banget, sok sok an nggak mood segala. Yaudah deh, aku mau mandi dulu. Menghapus jejak jejak mister Doto di tubuh indahku ini," Leni terkekeh, segera pergi ke kamar mandi meninggalkan Sinta sendirian duduk di sofa.


Sinta duduk bersila di sofa, dia menopang dagunya yang lancip memakai tangan kanannya. Sinta melamun, teringat kembali perkataan Mas Adi yang sedikit mencurigai Pak Doto atas hilangnya orang orang di wilayah tempat tinggalnya.


Melamunkan perkataan dan nasehat Mas Adi, di sudut hati Sinta malah teringat sosok gagah rupawan dari sang petugas kepolisian. Sinta sadar, dia telah jatuh hati pada Mas Adi. Sosoknya yang sopan dan terasa begitu menghargai seorang wanita. Sorot mata yang terasa meneduhkan sekaligus mengingatkan rasa kesepian yang Sinta rasakan.


Sinta jadi ingin menelepon Mas Adi. Mumpung saat ini ada alasan untuk berbicara dengannya. Sinta ingin melaporkan kalau Leni sudah kembali ke rumah. Alasan yang pas untuk menutupi bahwa sebenarnya dia sedang rindu. Sinta senyum senyum sendiri, kemudian merogoh saku celana pendeknya. Celaka, HP nya lupa tak terbawa.

__ADS_1


"Leeenn, aku pulang dulu sebentar ya. Mau ambil HP sama selimut," Sinta setengah berteriak. Entah Leni di kamar mandi dengar atau tidak, Sinta bergegas pulang ke rumahnya.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Leni mengguyurkan air di badannya. Beberapa nyanyian dia senandungkan. Dia begitu menikmati mandinya petang ini. Air adalah pengobat kelelahan yang paling mujarab. Air terasa mampu melunturkan setiap rasa malas dan capek yang terkumpul seharian. Kemudian membawanya pergi, menghanyutkannya serta menggantinya dengan kesegaran dan sebuah rasa semangat


Dokkk Dookk Dokkk


Terdengar suara pintu kamar mandi diketuk dari luar.


"Ada apa Sin?," Leni bertanya, mengira Sinta membutuhkan sesuatu.


Dokk dokk dokk


Kembali pintu kamar mandi diketuk. Kini ketukan terdengar lebih kencang dan cepat.


"Kamu kebelet? Tunggu bentar," Leni meneruskan mengguyur badannya.


Dokk dokk dokk dokk dokk dokk dokkk dokk dokkk


Kali ini suara ketukan benar benar terdengar cepat, panjang dan kencang. Pintu kamar mandi serasa mau jebol karenanya. Leni merasa sangat jengkel. Baginya Sinta sudah keterlaluan, mengganggu acara mandi yang hendak dia nikmati. Leni segera menyambar handuk di gantungan. Membelit dan menutupi lekuk tubuhnya yang seksi dan sintal dengan handuk berwarna pink keunguan.


"Sialan! Ngapain sih gangguin orang lagi mandi?" Leni setengah berteriak sambil membanting pintu kamar mandinya.


Namun, dugaan Leni salah. Bukan Sinta yang mengetuk ngetuk pintu kamar mandinya tadi. Ada seseorang di hadapannya, bersama dengan aroma wangi melati, kenanga dan sesuatu yang sangit terbakar. Leni merasakan kepalanya sedikit pusing dan kosong. Akhirnya Leni lupa sepenuhnya, kehilangan kesadarannya.


* * *


Sinta yang berniat mengambil HP dan menelepon Mas Adi sebentar, nyatanya betah berlama lama mengobrol lewat sambungan telepon. Tak terasa setengah jam terlewati, dan akhirnya obrolan itu berakhir dengan senyum terkembang begitu manis dari bibir Sinta. Sudah lama rasanya hati wanita itu tidak berbunga bunga seperti saat ini. Dengan berjalan setengah melompat seperti anak balita, Sinta menuju ke rumah Leni lagi.


Sinta masuk ke rumah Leni, terasa kosong dan lengang. Pintu kamar tidur terbuka namun tak ada siapapun disana. Begitupun di kamar mandi, lampu dibiarkan menyala namun si penghuni tidak ada. Dapur, dan seluruh sudut rumah sudah Sinta periksa, Leni tak ada dimanapun. Dan satu hal yang membuat Sinta terduduk lemas, di sudut ruangan depan pintu kamar mandi tergeletak batu kemenyan sebesar jempol tangan yang terbakar sebagian. Leni telah hilang . . .


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2