Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Lari . . . Sumini


__ADS_3

Amanda meminum susu buatan Mamahnya saat terdengar suara orang mengucap salam dari pintu depan. Bu Utami ternyata telah datang dengan senyum ramahnya. Bukan hanya Bu Utami, ada pula Bu Sumini yang ikut bertamu ke tempat Citra.


"Waahh, ada Bu Sumini juga," Ucap Citra ramah. Dia memyambut dua tamunya sambil berjalan sedikit tertatih tatih.


"Duhh, Mbak jangan banyak gerak dulu kalau masih sakit," Bu Utami membantu Citra, mereka akhirnya duduk di kursi ruang tamu.


"Ini tadi si Sumini pas lagi di rumahku Mbak. Pagi pagi udah ngajakin nge gosip aja. Pas Mas Prambudi ke rumah ngabarin Mbak Citra baru jatuh, eehh dianya minta ikut kesini," Bu Utami mencolek colek lengan Bu Sumini, terlihat lucu.


"Ya aku kan pengen lihat juga kondisi rumah ini sekarang. Udah lama nggak main kesini," Bu Sumini mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Ihh, lukisannya kok serem sih," celetuk Bu Sumini spontan.


"Iya Bu, aku juga kurang nyaman melihatnya," Citra menimpali.


"Buang aja Mbak," Bu Sumini sedikit berbisik, dengan mata yang melotot. Benar benar tipe tukang kompor.


"Pengennya juga gitu. Tapi Mbah Kadir nggak mengijinkan," Citra menghela nafas pelan.


"Dasar orang aneh itu, si Pak Tua," Bu Sumini menopang dagu, matanya masih menjelajah seisi ruangan.


"Owalah Sum Sum, kamu itu kalau ngomentari hidup orang paling enteng memang. Kamu kesini tadi mau njenguk Mbak Citra atau mau 'maido' Mbah Kadir sih?," Bu Utami sewot.


"He he he," Bu Sumini cengengesan.


"Mbak Citra gimana ceritanya sih kok sampek kakinya kayak gitu?," Bu Utami mengalihkan obrolan.


"Jatuh Bu. Kepleset di tangga," Jawab Citra pendek.


"Kita semua nggak ada yang tahu kalau Mbak Citra rawat inap di klinik," Bu Utami terlihat bebar benar peduli pada Citra. Sedangkan Bu Sumini masih sibuk memperhatikan detil rumah kontrakan Citra.


"Yah cuma rawat inap dua malam kok," Citra tersenyum.

__ADS_1


"Ngomong ngomong, kemarin malam aku kayak mendengar suara mobil parkir di rumah ini deh Mbak," Bu Sumini terlihat seperti sedang mengingat ingat sesuatu.


"Nggak mungkin lah Bu Sum. Orang kami semua tidur di klinik. Nggak ada yang pulang kesini," Citra menyangkal, karena setahu dia tidak ada yang pulang ke rumah dalam dua malam ini.


"Lagian, mana mungkin kamu denger Sum Sum. . .jarak rumahmu kesini tuh ada kali dua ratus meter," Bu Utami menimpali.


"Beneran, soalnya tuh pas tengah malem. Ada suara kucing bertengkar di halaman depan rumahku. Aku dan my bojo keluar tuh buat ngusir kucing kucing itu. Terus denger ada suara mobil, aku yakin parkir di rumah ini," Bu Sumini bersikeras dengan pernyataannya.


"Alaahhh, kupingmu itu perlu diperiksakan ke dokter THT," Bu Utami terus membantah perkataan Bu Sumini. Mereka berdua terlibat perdebatan yang nggak penting.


Sementara itu, Citra teringat dengan gelagat aneh Prambudi saat pagi hari pertama di klinik. Sebagian badannya basah, seperti habis kehujanan, badannya lebam lebam, dan Prambudi keceplosan berkata pada Amanda bahwa dia sebelumnya pulang ke rumah. Citra terdiam, berpikir, untuk apa suaminya itu pulang tengah malam? Ada barang yang tertinggalkah? Dan kenapa pula dia mesti berbohong? Citra memijat mijat keningnya.


"Mbak Cit," Bu Utami menyentuh lengan Citra. Menyadarkan Citra dari lamunannya.


"Udah jangan dipikirkan omongannya si Sumini," Bu Utami tersenyum ramah. Debat kusirnya dengan Bu Sumini telah usai tanpa pemenang.


"Oh iya Mbak, Amanda mana kok nggak kelihatan ya?," Bu Utami mencari cari Amanda.


"Ah, iya. . .dia di dapur sendirian tadi. Mari kita berpindah ke dapur kalau gitu Ibu ibu. Sekalian mungkin bisa masak masak bareng nanti," Citra beranjak dari duduknya, diikuti Bu Utami yang langsung menggamit lengan Citra. Bu Utami membantu sang tuan rumah yang sedang sakit untuk berjalan.


Selang beberapa saat, Bu Sumini hendak menyusul Bu Utami dan Citra, hingga akhirnya dia menemukan tangga ke lantai atas yang terletak di sebelah kamar. Bu Sumini sedikit berjingkat naik tangga ke lantai dua. Entah kenapa dia merasa penasaran, berharap menemukan sesuatu untuk dijadikan bahan bergunjing.


Lantai atas terdiri atas dua kamar. Satu kamar dengan pintu terbuka memiliki balkon yang terlihat luas dan satu kamar dengan pintu yang tertutup rapat. Bu Sumini kini berada di balkon, memandang sungai yang indah dengan gemericik air tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Enak juga ini rumah," Bu Sumini bergumam sendiri, kepalanya mengangguk angguk membayangkan memiliki rumah seperti ini.


Bu Sumini kembali beranjak, hendak turun ke lantai satu.


Tok tok tok tok


Tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk. Pintu kamar yang tertutup rapat terdengar ketukan lirih dari dalamnya. Bu Sumini diam mematung, mencoba menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


Tok tok tok tok


Kini terdengar jelas, memang benar ada sebuah suara seperti pintu diketuk dari arah kamar yang tertutup rapat. Bu Sumini mendekat, sedikit ragu dia mencoba membuka pintu tersebut,


namun gagal. Pintu terkunci dengan kokoh.


Wshhh wshhh wshhh


Kali ini terdengar suara seperti ada seseorang yang bergumam di balik pintu. Bu Sumini menempelkan telinganya di daun pintu. Dia mencoba mendengarkan suara apa itu.


"Tooo loonggg kaa miiiii," Sebuah suara yang lirih, serak dan mengerikan tertangkap indera pendengaran Bu Sumini.


Bu Sumini langsung merasakan hawa dingin di tengkuknya. Bulu kuduknya berdiri, dia merinding hebat. Tanpa mengucap sepatah katapun Bu Sumini mundur beberapa langkah dan langsung balik badan. Dia berusaha untuk tenang, namun keringat dingin sudah mengucur membasahi seluruh tubuhnya.


Bu Sumini segera berlari menuruni tangga, dia tidak ikut menyusul Bu Utami dan Citra di dapur melainkan berlari kencang keluar dari rumah itu.


"Mbak Citra aku pamit pulang duluuu," Bu Sumini berteriak sambil berlari tunggang langgang.


"Itu pasti Mbak Retno, pasti. . .hiii emoh akuu, omah demit omah demit," Bu Sumini bergumam sendiri sambil terus berjalan tergesa gesa meninggalkan rumah Citra.


Citra dan Bu Utami sedikit kaget mendengar Bu Sumini yang tiba tiba saja pamit sambil berlari. Apalagi terdengar, Bu Sumini lari dari lantai atas.


"Jadi si Sumini tadi naik ke lantai atas, pasti nyari bahan buat nge gosip itu," Bu Utami bergumam jengkel.


"Biarin lah Buu, aku suka sama Bu Sumini orangnya ceplas ceplos, jujur," Citra sedikit tertawa.


"Halah mbaakk, kalau Sumini itu bukannya jujur, tapi rem nya blong. Ngomongnya mbrodol, kayak knalpot jebol," Bu Utami geleng geleng kepala, Citra tertawa mendengar perkataan Bu Utami.


Citra dan Bu Utami kali ini membuat rujak petis. Mereka sibuk menyiapkan sayur dan menghaluskan cabe. Sementara Amanda terlihat riang bermain boneka barbie bersama si Cemong.


Bersambung . . .

__ADS_1


Jangan lupa like, klik favorit dan komentarnya ya gaes.


Komentar kalian selalu kutunggu, menyenangkan rasanya bisa berinteraksi via tulisan dengan banyak orang 😊😊😊


__ADS_2