
Citra sedari pagi tadi hanya memperhatikan layar HP nya. Dia berharap segera mendapatkan balasan pesan dari Prambudi. Perasaannya kalut dan campur aduk. Dia tidak mengerti, kenapa Prambudi terasa seperti menjauhinya.
Citra mengingat ingat kembali, barangkali dia telah tanpa sengaja berbuat salah ataupun menyakiti perasaan Prambudi. Citra menjatuhkan badannya di kasur, wajahnya tertekuk, dia galau. Sudah lama dia tidak merasakan yang seperti ini. Seperti anak muda yang lagi pacaran dan tiba tiba saja si dia menghilang tanpa kabar. Gelisah, curiga dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membuat perasaan tidak nyaman.
Pintu kamar terbuka, Amanda dan Nyonya Doto masuk ke dalam kamar. Citra buru buru bangun, dan duduk di sudut ranjang tempat tidurnya.
"Kelakuanmu kayak ABG saja," Nyonya Doto geleng geleng kepala menatap anaknya yang cemberut.
"Prambudi itu memulangkanmu kemari. Dia tidak menunjukkan batang hidungnya pada mertuanya ini. Bukankah itu sudah jelas, artinya dia mengembalikanmu, nggak sanggup lagi memikul tanggung jawab kehidupanmu," Nyonya Doto tersenyum sinis.
"Bunda jangan bicara yang tidak tidak ya. Mas Pram bukan orang yang seperti itu," Citra melotot, kesal.
"Ya sudah, aku kan cuma memberi nasehat. Orang tua itu lebih berpengalaman dan sudah hidup lebih lama dibandingkan denganmu. Asam garam kehidupan, manis, getir pahit sudah kenyang. Bunda sudah pernah merasakan berada di usia seperti kamu, tapi kamu belum pernah merasakan di usia seperti Bunda. Jadi mbok ya sedikit dengerin gitu lho nasehat Bunda," Nyonya Doto terdengar menggurui, kata katanya tajam menusuk hati.
Citra menatap Nyonya Doto dengan tajam. Hati dan moodnya sedang tidak baik. Bukan kritik ataupun penghakiman yang dia butuhkan saat ini. Dia hanya mau mendengar kabar dari suaminya.
"Bunda memang pernah di usia Citra. Tapi Bunda tidak pernah mengalami apa yang Citra rasakan. Pola pikir itu seperti ukuran baju Bunda. Kalau Bunda nyaman dengan sebuah ukuran baju, bukan berarti Bunda harus memaksa Citra untuk memakainya. Karena Citra punya ukuran baju yang nyaman buat Citra sendiri," Tukas Citra kesal, wajahnya terlihat memerah.
"Ya terserah kamu. Memang kayaknya sifat keras kepala itu menurun dari ayahmu," Nyonya Doto berjalan keluar kamar.
Citra mendengus kesal. Sementara Amanda dengan wajah polos berjalan mendekati Mamahnya.
"Mah, aku kangen Yayah," Ucap Amanda tiba tiba.
"Sini Nak, sini," Citra merangkul Amanda. Dia mencium kening dan membelai lembut rambut putrinya itu.
"Ayahmu masih sibuk. Sebentar lagi juga dia kesini menjemput kita," Citra tersenyum menatap Amanda.
"Permisi Non," Bi Irah tiba tiba saja datang dan membungkuk di depan pintu kamar.
"Ada apa Bi?," Citra bertanya, masih sambil merangkul putrinya.
"Ada tamu yang nyari Non Citra di bawah," Bi Irah berbicara sambil menunduk.
"Siapa Bi?," Citra kali ini melepas pelukan Amanda, dia penasaran. Seingatnya dia tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun.
__ADS_1
"Bibi nggak tahu Non, nggak kenal," jawab Bi Irah cepat.
"Yasudah, biar aku temui. Bi Irah tolong temenin Amanda dulu ya," Citra beranjak dari kasurnya. Dia berjalan keluar kamar, sementara Bi Irah duduk bersimpuh menemani Amanda.
Citra menuruni tangga sambil memperhatikan tamu yang mencarinya. Sang tamu terlihat duduk membelakangi area tangga sehingga tak terlihat wajahnya. Saat mendengar suara langkah Citra mendekat, sang tamu menoleh.
Citra begitu kaget dengan tamu yang datang ke rumahnya kali ini. Tubuh Citra terasa dingin, langkahnya terhenti seketika. Andre, orang yang tempo hari bertemu dengannya di mall. Orang yang berkata dan memaksa bahwa dia adalah mantan pacar Citra. Untuk apa orang itu kesini?
"Citra?," Sapa Andre ramah.
"Untuk apa kau datang kemari? Pergi!," Citra melotot, berusaha mengusir Andre.
"Tak bisakah kita bicara sebentar?," Andre mengiba.
Citra berjalan kembali, kemudian mengambil tempat duduk yang jauh dari Andre. Sorot matanya begitu tajam, nampak sebuah amarah pada sang tamu.
"Aku kesini untuk meluruskan beberapa hal. Aku benar benar ingin tahu, apakah kamu tidak mengenaliku sama sekali?," Andre tersenyum, namun diacuhkan oleh Citra.
Andre menghela nafas, tergambar kesedihan dan rasa bersalah di garis wajahnya.
"Kenapa bertanya?," Citra melotot pada Andre, suaranya terdengar sedikit bergetar.
"Citra, apa kamu benar benar lupa padaku? Ini aku Andre, mantanmu," Andre berusaha membuat Citra ingat siapa dirinya.
"Cukup. Aku tak mengenalmu! Silahkan kamu pergi atau kupanggilkan satpam untuk menyeretmu keluar," Citra berdiri dari duduknya, dia berjalan pergi meninggalkan Andre.
Dengan cepat Andre menyusul Citra, kemudian dia meraih dan menggenggam tangan Citra dengan erat. Citra berusaha berontak, tapi Andre tak melepaskannya.
"Lepasin atau aku teriak!," Mata Citra memerah, dia terlihat seperti hendak menangis.
"Dengerin aku! Kamu itu diguna guna sama suamimu untuk lupa padaku. Kamu harus tahu, dahulu kita adalah pasangan yang saling mencintai Citra. Dan aku yakin anakmu itu adalah darah dagingku," Andre semakin erat menggenggam tangan Citra.
PLAAAKKKK
Sebuah tamparan keras melayang menghantam pipi kanan Andre. Kulit Andre yang putih bersih langsung memerah seketika. Sementara Citra melotot, menatap Andre dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak lupa padamu Ndre. Aku hanya pura pura lupa!," Citra menunjuk nunjuk dada Andre, sedikit mendorongnya. Andre yang kaget melepaskan cengkeraman tangannya.
"Kenapa?," Andre bertanya lirih, memegangi pipinya yang terasa panas.
"Hah? Kenapa? Bagaimana bisa dengan semudah itu kamu bertanya kenapa? Apa kamu lupa atas segala perbuatanmu di masa lalu? Kamu adalah orang dengan otak berlian tapi hati terbuat dari batu!," Wajah Citra merah padam, Citra menahan tangis dan hendak meluapkan amarahnya.
"Kamu tak pernah tahu apa yang aku alami saat kamu meninggalkanku dulu. Yang harus kamu tahu sekarang, seburuk apapun suamiku, dia adalah laki laki terbaik yang selalu ada buatku. Dia tidak lari sepertimu, meninggalkanku saat berbadan dua. Kamu adalah pengecut yang hina dan buruk," Citra meninggikan suaranya.
"Dan satu lagi, jangan berani menyebut Amanda sebagai darah dagingmu! Dia anakku, bukan anakmu. Kamu tak punya hak apapun!," Citra membuang muka berjalan meninggalkan Andre.
Andre hanya bisa berdiri termenung. Dia tidak bisa berkata kata. Dia sama sekali tak menduga Citra akan berbicara demikian itu. Andre berjalan keluar dari rumah Citra dengan langkah gontai. Badannya lemas tak bertenaga. Penyesalan dan kesedihan yang begitu dalam menghujam hatinya.
Sementara Citra mengusap air matanya menggunakan punggung tangan. Dia kembali ke kamarnya dengan tersenyum seolah tidak terjadi apa apa. Dilihatnya Amanda yang sedang bermain bersama Bi Irah dengan sangat riang.
"Anak mamah," Citra memeluk Amanda dengan erat.
"Ada apa Mah?," Amanda terlihat bingung dengan sikap Mamahnya itu.
"Nggak pa pa, Mamah cuma gemes saja," Citra tersenyum kemudian mengecup pipi Amanda.
Bersambung . . .
Gaes, terimakasih sudah membaca dan mengikuti cerita ini.
Jangan lupa, klik like, favorit, vote juga ya.
Komentar, kritik dan saran selalu ditunggu.
Meskipun tidak dibalas satu persatu, tapi komentar kalian selalu aku baca.
Sangat menyenangkan ketika banyak yang komen.
Semangaattttt.
Di hutan ada macan
__ADS_1
Sudah musim hujan, jaga kesehatan.