
Gerimis berubah menjadi hujan deras saat mobil yang dikendarai Prambudi mencapai jalan kabupaten yang rata dan halus. Mobil bergerak dengan lebih tenang, dibandingkan ketika berada di jalan kecamatan yang penuh dengan lobang dan bergelombang. Prambudi melirik ke kursi belakang, Citra mengantuk, beberapa kali terlihat menguap.
"Kamu mengantuk Cit?," Prambudi membuka percakapan, memecah kesunyian.
"Ah, iya nih Mas," Citra sekali lagi menguap pelan.
Jalanan yang halus membuat laju mobil terasa nyaman. Hal itulah yang membuat rasa kantuk datang, apalagi udara dingin dan rintik hujan yang terlihat menerpa kaca mobil, seakan menghipnotis agar segera terlelap.
"Manda ngantuk nggak?," Prambudi beralih bertanya pada putrinya.
"Nggak Yah," Ucap Amanda sambil memeluk boneka doraemon warna pink kesayangannya.
"Mau muter lagu?," Prambudi kembali bertanya pada Citra.
"Emm, radio aja Mas. Cariin Pesona FM dong, di 89,2 . . .," Citra meminta diputarkan radio.
"Baiklah," Prambudi menuruti permintaan Citra. Dia menghidupkan radio dan memilih frekuensi yang diminta istrinya itu.
🎶Meski ku bukan yang pertama di hatimu tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit tapi cintaku yang terbaik🎶
Sebuah lagu terdengar. Lagu yang disukai oleh Citra. Dengan mulut tertutup dia sedikit bergumam menirukan nada lagu yang terdengar syahdu.
"Kenapa sih kamu suka banget sama radio? terutama frekuensinya Pesona FM," Prambudi bertanya, menyadari istrinya begitu suka mendengarkan radio.
"Lagunya enak enak, penyiarnya ramah ramah. Kalau di WA request lagu cepet banget diputerin," Citra menjawab, kantuknya sedikit menghilang.
"Ya itu artinya nggak ada yang dengerin dong selain kamu. Makanya kalau kamu WA cepet ditanggepin," Prambudi sedikit mengejek.
__ADS_1
"Yee, nggak juga kok. Biasanya yang WA banyak, nitip salam, tapi jarang request lagu. Soalnya mungkin semua suka sama playlist nya," Citra menyangkal pernyataan Prambudi.
"Yaudah deh, terserah kamu aja. Asal kamu seneng," Prambudi malas berdebat dengan istrinya, toh bukan sesuatu yang penting untuk diperdebatkan.
"Diam dulu deh Mas. Ini penyiar favoritku kayaknya yang lagi siaran," Citra meletakkan telunjuknya di depan bibir.
"Agak kencengin dikit Mas volumenya," Citra memohon pada Prambudi. Prambudi geleng geleng kepala namun tetap menuruti keinginan istrinya itu.
Sebuah lagu bertajuk Cinta terbaik sudah Dani luncurkan ke ruang dengar kamu. Hmmm, cuaca yang gerimis manja mungkin membuat kamu merasa enggan keluar rumah, lebih memilih untuk berdiam di balik selimut. Nah, sambil ngemil atau mungkin ngobrol dengan orang orang terkasih, paling enak tentunya dengerin lagu lagu pilihan dari Pesona FM. Kalian bisa request via whatsapp ataupun di fanpage Radio Pesona Fm.
Oke, di Whatsapp ada Citra yang katanya lagi di jalan bersama suami tercinta, request lagu berjudul Janji Suci. Salamnya buat Suaminya yang baiiiiik banget beliin HP baru.
Suara penyiar radio membacakan request dari Citra via whatsapp.
"Ihh, apaan sih Cit. Itu yang denger kan banyak orang, malu tahu. Kayak ABG aja," Prambudi mendengus, terlihat sedikit jengkel.
"Sekali kali Mas. Lagian begitulah asyiknya dengerin radio Mas. Kita bisa berkomunikasi dua arah secara langsung dengan penyiarnya. Request lagu, nitip salam, seru deh," Citra terlihat girang. Prambudi hanya diam saja.
Sementara di mata Prambudi, rumah mertuanya itu tak ubahnya seperti benteng kokoh yang ingin dia robohkan. Sebuah simbol keangkuhan dan penghinaan untuk dirinya yang tidak punya apa apa.
"Aku kangen Mas," Ujar Citra lirih.
🎶Mmmm, I've got to go home
Let me go home
I'm just too far from where you are
I want to come home🎶
__ADS_1
Sebuah lagu mengalun di radio, seakan menjawab perasaan Citra.
"Yah aku tahu," Prambudi menghela nafas pelan.
"Tapi kuharap, kamu tidak menganggap rumah itu sebagai rumahmu lagi. Karena rumahmu, rumah kita adalah tempat dimana kita bertiga, keluarga kecil kita, bisa bahagia," Prambudi bergumam, tatapannya tajam ke arah rumah mertuanya itu.
Setelah melewati rumah Pak Doto, Prambudi sedikit menambah kecepatan mobilnya. Masih ditemani alunan lagu di radio, Citra menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil. Tatapan matanya menerawang jauh. Ada kesedihan di hatinya, ketika harus pergi dari rumah dengan cara sembunyi sembunyi. Ada rasa bersalah pada Bundanya, pergi tanpa pamit dan tak memberitahukan keberadaannya hingga detik ini. Namun, Citra tidak bisa menyalahkan Prambudi atas keputusan yang telah dia ambil.
Prambudi melirik Citra, dia sadar istrinya sedang gundah. Prambudi merasa belum bisa membahagiakan Citra. Dia membawa istrinya itu pergi dari rumah, membuatnya merasakan kehidupan yang jauh dari kata nyaman. Dua hati yang saling menyayangi itu hanya mampu terdiam di tengah rintik hujan malam ini.
Akhirnya mobil yang dikendarai Prambudi sampai di sebuah klinik di pusat kota. Klinik yang terlihat cukup ramai dengan bangunan yang relatif baru. Prambudi segera turun dari mobil, membukakan pintu untuk Amanda. Selanjutnya, Prambudi membuka pintu belakang dan membopong Citra menuju ruang UGD.
Citra diperiksa dengan teliti dan telaten oleh perawat. Sementara Prambudi dan Amanda berdiri di sudut ruangan. Mereka menunggu hasil pemeriksaan kesehatan Citra. Ternyata Citra harus dirawat dan diperiksa lebih lanjut untuk rontgen di bagian kakinya esok hari.
Citra dipindahkan ke kamar perawatan. Prambudi menghendaki Citra ditempatkan di ruang VIP.
"Kamu ada uang Mas?," Citra bertanya ragu ragu.
"Pilih yang kamar biasa saja Mas," Ucap Citra khawatir.
"Tenang sayang. Aku ada uang kok. Pilih kamar VIP supaya Manda bisa tidur nyaman juga," Prambudi mengusap rambut Citra dengan lembut.
Akhirnya Citra menurut. Malam ini Prambudi, Citra dan Amanda tidur di klinik. Prambudi memandang wajah istrinya yang sedang tidur. Keningnya yang terluka, dan beberapa bagian tubuhnya memar dan lecet. Rasa sedih dan kesal hinggap di hati Prambudi.
"Seharusnya nggak seperti ini," Prambudi bergumam sendiri. Prambudi menggigiti kuku tangannya. Sejurus kemudian, Prambudi beranjak keluar dari kamar setelah menyelimuti Amanda yang tidur dengan memeluk boneka doraemonnya.
Prambudi bergegas menuju parkiran. Dengan sedikit kasar Prambudi membuka pintu mobil dan segera pergi membelah dinginnya malam. Prambudi melirik jam di dasboard mobil, pukul sebelas malam. Semakin larut hujan semakin deras, begitupun guntur dan kilat bersahut sahutan menemani perjalanan Prambudi.
Lebih dari setengah jam, dengan kecepatan yang cukup tinggi akhirnya Prambudi sampai di rumah kontrakannya. Prambudi sampai di rumah yang disebut warga sekitar sebagai 'Rumah Tusuk Sate' itu. Dengan tergesa gesa Prambudi membuka pintu depan. Dengan tubuh yang sedikit basah terkena air hujan Prambudi melangkah menaiki tangga. Mengambil kunci di saku celananya, dan membuka pintu kamar atas. Kamar yang selalu terkunci, kamar tanpa balkon. Citra ataupun Amanda belum pernah memasukinya, hanya Prambudi yang tahu, hanya Prambudi yang bisa membukanya.
__ADS_1
Bersambung. . .