Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
6 Wanita di perlintasan kereta


__ADS_3

Rintik hujan, udara yang dingin serta jalanan yang sunyi tidak melunturkan keinginan Mas Adi untuk menemui Sinta. Kasus hilangnya para wanita penghibur di area lok*lis*si terbesar di wilayah tugasnya menjadi prioritas utama dalam hidupnya kini. Kepingan petunjuk satu persatu mulai bermunculan membuat rasa penasaran sekaligus semangat di hati Mas Adi semakin berkobar.


Mas Adi menarik gas motornya dalam dalam. Entah berapa kecepatan motor yang dikendarainya kini, tiupan angin terasa kencang menerpa jaket tebalnya yang tahan air. Sesekali kilat menyala di ujung langit yang hitam pekat.


Wiiuuuuwww Wiiuuwwww Wiiuuwww


Terdengar suara sirine peringatan palang pintu perlintasan kereta api akan tertutup. Mas Adi memperlambat laju motornya. Mas Adi berhenti agak jauh dari perlintasan kereta api. Dia memilih berada di bawah pohon rindang, berteduh dari dinginnya guyuran hujan.


Suasana benar benar sepi dan sunyi. Tidak ada seorang pun di jalanan kali ini, hanya ada Mas Adi seorang. Begitupun di seberang rel kereta api, nihil, tak ada kendaraan satupun yang hendak melintas. Mas Adi melirik jam tangannya, setengah sembilan malam. Mungkin semua orang malas keluar rumah di tengah cuaca yang kurang bersahabat ini.


Wiiuuuwwww Wiiuuwww Wiiuuwww


Suara sirine merupakan satu satunya teman Mas Adi yang berhasil memecah kesunyian. Mas Adi menghela nafas, hujan semakin deras. Mas Adi mengusap kaca helmnya yang semakin terlihat buram terkena cipratan air.


"Toloonggg," Sayup sayup terdengar suara orang yang meminta tolong.


Mas Adi sedikit tersentak kaget. Dia menajamkan pendengarannya.


"Toloonggg," lagi, terdengar suara orang minta tolong. Suara yang terdengar lirih, jauh, dan bergema. Seakan suara tersebut diucapkan oleh beberapa orang.


Mas Adi mengedarkan pandangannya. Mencari cari sumber suara. Namun hasilnya nihil. Di tengah guyuran hujan, penglihatan terbatas, Mas Adi tidak menemukan apapun, tidak ada siapapun.


"Mas?," Sebuah suara lirih, mengagetkan Mas Adi. Suara perempuan yang terdengar dari arah belakang.


Mas Adi melirik kaca spion motornya. Seorang perempuan berdiri di belakangnya. Mas Adi menoleh, dan benar saja ada sosok perempuan berdiri tegak dengan tatapan kosong. Perempuan itu memakai baju piyama berwarna hitam. Badannya basah kuyup, bibirnya pucat pasi, kulitnya putih sedikit terlihat membiru.


Mas Adi menelan ludah. Jujur saja, saat ini dia merasa ketakutan. Dia sadar sosok yang di belakangnya itu bukanlah manusia. Mana mungkin ada manusia hujan hujan an di malam hari memakai sebuah piyama?


"Siapa kamu?," Mas Adi bertanya, setelah berhasil menguasai rasa takutnya.

__ADS_1


"Tolong kami Mas," ucap sosok perempuan itu. Ekspresinya tetap, tidak berubah.


"Menolongmu?," Mas Adi mengernyitkan dahi.


"Iya, tolong Vira Mas. Tolong kami," kali ini sosok perempuan itu menoleh, menatap Mas Adi begitu lekat.


"Vira?," Mas Adi teringat nama perempuan keenam yang menghilang, perempuan yang satu kamar dengan Sinta.


Wuushhh wuushh wuushh


Suara kereta api lewat, mengalihkan perhatian Mas Adi. Perempuan di belakangnya telah lenyap, hilang tak berbekas. Di jalanan seberang rel, di sela sela gerbong kereta yang melintas berurutan, nampak enam orang perempuan berdiri berjajar menatap Mas Adi. Salah satu di antara mereka adalah perempuan yang tadi berada di belakang Mas Adi.


"Tolong kami," Ucap enam perempuan itu kompak. Suara yang lirih, namun tetap terdengar jelas di telinga Mas Adi. Suara yang terasa sendu dan penuh kesedihan.


Mas Adi entah bagaimana tidak merasakan takut. Mas Adi malah menitikkan air matanya. Mas Adi begitu sedih, sudah jelas sekarang dia telah terlambat. Mas Adi terlambat untuk menyelamatkan enam wanita penghibur yang menghilang. Tangan Mas Adi terkepal erat. Dia semakin geram dan sangat ingin segera meringkus dalang di balik kasus yang sedang ditanganinya itu.


Saat gerbong kereta terakhir telah melintas, sosok enam perempuan yang berjejer di seberang jalan telah lenyap. Palang pintu perlintasan terangkat perlahan. Mas Adi kembali menarik gas motornya dalam dalam.


Mas Adi menghentikan motornya di salah satu rumah. Seorang perempuan muda nan cantik terlihat sedang duduk di teras menunggunya. Seulas senyum terkembang di bibirnya saat mengetahui orang yang dinantikan akhirnya datang juga.


"Selamat malam," sapa Mas Adi ramah. Dia melepas jaket dan menggantungnya di paku yang tertancap di tembok bagian luar rumah.


"Selamat malam Mas. Maaf mengganggu, mari masuk Mas," Ucap Sinta membuka pintu rumahnya untuk Mas Adi.


"Mungkin sebaiknya kita di luar saja," Mas Adi menolak dengan halus ajakan Sinta.


"Aku nggak bisa cerita Mas kalau di luar sini," Sinta celingak celinguk, terlihat khawatir seakan ada yang mengawasi.


"Baiklah kalau begitu," Mas Adi menghela nafas, kemudian menuruti ajakan Sinta untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mas Adi duduk di sebuah sofa panjang yang empuk di tengah ruang tamu. Sinta menutup pintu dan segera beranjak ke dapur. Mengambil sebuah minuman bersoda di kulkas dan menyuguhkannya pada Mas Adi.


"Sekarang, bisakah kamu memulai bercerita?," Mas Adi menatap Sinta, badannya dicondongkan ke depan, bersiap mendengarkan.


Sinta mengamati sosok di hadapannya itu. Pria yang kekar, dengan sorot mata tajam dan rahang yang terlihat tegas. Kumis tipis, rambut ikal yang sedikit basah, entah kenapa jantung Sinta berdegup kencang. Sinta masih muda, meskipun sudah beberapa kali berkencan dengan para pria, dia tidak pernah merasa deg deg an seperti saat ini.


"Mbak Sinta?," Mas Adi memanggil ketika Sinta hanya diam saja menatapnya.


"Ah iy iya Mas," Sinta tergagap.


"Kamu nggak usah ragu ataupun takut Mbak. Silahkan bercerita," Mas Adi mengira Sinta takut berada di hadapannya.


"Emm, begini Mas.. .entah cerita ini akan berguna untuk penyelidikan atau tidak. Sebenarnya . . .dihari Vira menghilang, Vira sedang tidak mungkin melayani tamu atau berkencan," Sinta mer*mas r*mas tangannya sendiri.


"Maksudnya?," Mas Adi mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Hari itu, Vira sedang datang bulan," Sinta setengah berbisik.


"Dan, setahu saya beberapa teman yang menghilang sebelumnya juga dalam keadaan datang bulan," Sinta kembali berbicara dengan setengah berbisik.


Mas Adi menopang dagunya, berpikir. Sebuah informasi baru dia dapatkan. Sesuatu yang luput dari pengamatan dan penyelidikan. Sebuah kemenyan dan korban yang sedang datang bulan. Mas Adi semakin yakin kasus yang dihadapinya kini adalah sesuatu yang bersifat jahat dan berbau klenik.


"Ada lagi yang kamu ingin ceritakan Mbak Sinta?," Mas Adi kembali bertanya, melihat gelagat Sinta yang masih mengetahui sesuatu.


"Jadi, beberapa hari sebelum Vira menghilang dia di 'pesan' untuk menemani pengusaha kaya raya keluar kota, entah ini ada hubungannya atau tidak saya tak berani beramsumsi," Sinta berkata ragu ragu.


"Pak Doto kan maksudmu?," Mas Adi menebak, Sinta dengan cepat mengangguk.


Mas Adi tidak kaget dengan cerita Sinta tentang Pak Doto. Pak Doto merupakan salah satu tersangka dicatatan penyelidikan Mas Adi. Enam wanita penghibur yang hilang semuanya pernah bersama Pak Doto pergi keluar kota, beberapa hari sebelum mereka lenyap tak ditemukan. Meski tak ada bukti atau petunjuk apapun yang mengarah ke Pak Doto, namun Mas Adi merasa terlalu aneh jika fakta tersebut dihiraukan.

__ADS_1


Mas Adi menyandarkan badannya di sofa. Dia mendongak, menengadah, menatap lampu di atas kepalanya yang putih menyilaukan. Kasus yang rumit, sulit dan membuatnya pusing. Semakin dipikirkan semakin Mas Adi merasa lelah. Dan entah mengapa Mas Adi ingin memejamkan matanya sejenak. Tubuh dan pikirannya benar benar sudah dia gunakan secara berlebihan. Tanpa sengaja, entah bagaimana Mas Adi ketiduran . . .


Bersambung . . .


__ADS_2