
Hari yang sangat sibuk bagi Prambudi. Prambudi terus menerus menatap layar komputer semenjak duduk di meja kerjanya pagi tadi. Matanya lelah namun belum ada waktu untuk sekedar mengalihkan pandangan. Dia ingat belum sempat membalas pesan Citra. Tapi, untuk saat ini memang belum ada waktu untuk memikirkannya.
Grafik penjualan asbes sedang naik, kebutuhan konsumen sedang banyak banyaknya. Hal itu tentunya berimbas pada setumpuk laporan yang harus diinput oleh Prambudi dengan teliti dan tidak boleh ada selisih ataupun kekeliruan.
Hingga akhirnya, tepat jam dua belas siang terdengar bunyi musik dari pengeras suara yang menandakan bahwa jam istirahat telah tiba. Prambudi menyandarkan punggungnya di kursi. Dia bisa sedikit selonjoran dan bersantai sejenak.
Prambudi segera mengambil HP di dalam tasnya. Ternyata cukup banyak jejak panggilan dari istrinya. Prambudi menghela nafas, dia harus mengarang cerita untuk membalas pesan istrinya itu.
-Aku belum bisa menjemputmu Cit. Aku masih harus menginap di panti untuk dua atau tiga hari kedepan-
Prambudi mengetik pesan untuk Citra. Dia segera mengirimkannya. Prambudi jelas telah berbohong pada istrinya, namun untuk saat ini dia merasa tidak ada pilihan lain.
"Aku harus segera menyelesaikannya," Prambudi bergumam lirih. Dia menggenggam sebuah pulpen di tangan kanannya dengan sangat erat.
"Mas Pram sedang apa?," Sebuah suara menyapa, disusul tepukan di bahu Prambudi. Prambudi cukup kaget, dia sedikit terlonjak dari tempat duduknya.
"Linda?," Prambudi menoleh, menatap Linda yang berdiri di belakangnya dengan wajah heran.
"Kok segitu kagetnya sih Mas?," Linda tersenyum kecil.
"Ah, nggak juga," Prambudi mencoba tersenyum, menutupi kegundahannya.
"Ke kantin yuk, kita makan siang. Aku lapar banget," Ajak Linda dengan manja.
"Kamu duluan aja Lin. Nanti aku nyusul," Jawab Prambudi.
"Nggak mau, aku maunya barengan sama kamu Mas," Linda bergelayut dengan manja di lengan Prambudi.
"Lin, please. Aku risih dengan semua tingkah lakumu yang seperti ini," Prambudi mulai kesal, dia melepaskan tangan Linda dari lengannya.
__ADS_1
"Ihh, gitu aja marah. Padahal asal Mas Pram tahu aja, di dunia ini wanita yang tertarik padamu dengan tulus dan tidak pernah berbohong padamu itu cuma aku lho Mas. Cuma aku!," Linda menatap Prambudi tajam, memberi penekanan pada kalimatnya.
"Apa maksud perkataanmu? Kamu pikir istriku tidak tulus padaku?," Prambudi mengernyitkan dahi.
"Ya, mungkin saja Citra adalah pembohong. Dia membohongi dan membodohimu Mas. Uppss. . .keceplosan deh," Linda menutup mulutnya dengan telapak tangan. Seolah perkataannya itu keluar tanpa sengaja.
"Kamu jangan asal ngomong Lin. Jangan keterlaluan!," Prambudi membentak, dia marah.
Suasana ruang kerja sudah sepi saat ini. Selain Linda dan Prambudi, semua karyawan lainnya telah pergi ke kantin. Mereka memanfaatkan waktu istirahat yang hanya empat puluh lima menit untuk bersantai, makan dan sebagian merokok. Berbeda dengan Linda dan Prambudi saat ini. Waktu istirahat yang berharga malah digunakan untuk perang urat dalam berdebat.
"Aku nggak asal ngomong Mas. Aku tahu semua hal tentang istrimu," Linda tersenyum licik.
"Apa yang kau tahu?," Prambudi bertanya, nada suaranya masih tinggi.
" Pertama, aku tahu Citra adalah anak Pak Doto, pengusaha kaya raya. Terus kenapa anak orang kaya tinggal di rumah kontrakan di tengah pedesaan? Menurutku ada satu kemungkinan yang masuk akal, yaitu karena hubungan kalian tidak mendapat restu," Citra menatap wajah Prambudi. Dia memperhatikan setiap perubahan ekspresi Prambudi ketika dia melontarkan kalimatnya. Kemudian, Linda merasa yakin bahwa dugaannya tepat sasaran. Linda semakin bern*fsu untuk meneruskan kalimatnya.
"Kedua, aku adalah sepupu dari Andre, mantan pacar Citra . . . istrimu Mas," Linda sekali lagi memperhatikan ekspresi Prambudi.
Ketika Citra dicampakkan oleh Andre, Prambudi mencoba menghibur putri majikannya itu yang setiap hari hanya duduk mematung di depan kolam ikan di belakang rumah. Kala itu, Prambudi merasa tak tega melihat Citra yang seolah kehilangan cahaya hidupnya. Hingga akhirnya, Prambudi berhasil mengisi kekosongan hati Citra. Begitupun sebaliknya, Citra melengkapi kehidupan Prambudi yang selalu berada dalam ruang kesendirian.
Saat mendengar nama Andre diucapkan oleh Linda, ada rasa takut di hati kecil Prambudi. Setahu Prambudi, Andre sudah pindah ke luar negeri. Dia takut, Andre telah kembali. Dia takut Citra akan meninggalkannya dan memilih bersama Andre. Ketakutan itu jelas tergambar di wajah Prambudi saat ini. Dan hal itu membuat Linda merasa puas, dia menemukan titik lemah dari hubungan Prambudi dan Citra.
"Andre sekarang sudah menyelesaikan studinya. Dan saat ini dia sudah kembali ke kota ini. Kamu tahu Mas, kemarin aku dan Andre ketemu dengan Citra," Linda memicingkan matanya. Prambudi terdiam, raut wajahnya menyiratkan kegelisahan.
"Dan, Andre kemarin mengatakan padaku kalau Amanda adalah darah dagingnya. Apakah Citra membohongimu Mas? Ataukah kamu memang bersedia menggantikan tanggung jawab Andre?," Linda menyerang Prambudi dengan kata katanya yang tajam menusuk.
Glotakkk
Prambudi berdiri dari duduknya. Kursi jatuh di lantai, menimbulkan bunyi nyaring yang bergema di dalam ruangan. Badan Prambudi bergetar, wajahnya terlihat memerah.
__ADS_1
"Cukup Lin! Kamu tak tahu apapun!," Prambudi mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Linda.
Masih dengan wajah merah padam, Prambudi berjalan meninggalkan Linda yang masih berdiri dengan senyumnya yang menyebalkan.
Prambudi berjalan keluar dari tempat kerjanya. Dia hanya ingin mencari udara segar, pikirannya kalut, moodnya hancur berantakan. Prambudi berjalan menyusuri pinggiran aspal yang terlihat tidak rata. Sinar matahari cukup terik saat ini, namun kepalanya terasa lebih panas dibandingkan hitamnya aspal yang tertimpa cahaya sang surya.
Saat menemukan beberapa kerikil di tepi jalan, Prambudi menendangnya dengan penuh emosi. Dia tak peduli sepatu pantofelnya lecet atau bahkan jebol karena ulahnya.
Sebuah mobil van berwarna hitam tiba tiba saja berhenti di samping Prambudi. Pintu mobil terbuka dan ada empat orang berpostur tinggi besar keluar dari dalam mobil. Prambudi yang sedang kalut pikirannya tidak sadar, dia sedang diincar.
Dua orang langsung berusaha menyergap Prambudi. Mereka langsung menggenggam lengan Prambudi dengan erat, bahkan salah satunya mengalungkan lengan kekarnya di leher Prambudi. Sementara, satu orang lagi mengayunkan tinjunya, tepat menghantam ulu hati Prambudi.
Buukkkk
"Huukkk," Prambudi merasakan nyeri di perutnya. Dia hendak muntah. Untung saja otot perut Prambudi cukup terbentuk, sehingga efek pukulan tidak sampai membuatnya pingsan.
Melihat target yang dipukulnya masih terlihat kuat, tinju kembali dilayangkan kali ini mengarah ke dagu.
Buuaakkk
Prambudi terkena pukulan hingga mendongak, tubuhnya sedikit terangkat. Kali ini benar benar telak, mata Prambudi berkunang kunang. Pijakan kakinya goyah, Prambudi kesulitan mempertahankan kesadarannya.
Saat, Prambudi setengah pingsan, sayup sayup terdengar teriakan.
Doorrr
Terdengar sebuah suara. Semacam ledakan atau tembakan. Prambudi tak tahu pasti apa yang sedang terjadi, dia sudah lemas.
Bersambung . . .
__ADS_1
Halloo gaeess . .
mohon maaf ya nggak bisa update berhari hari. Kebetulan ada kerjaan di luar kota. Baru balik kemarin, jadi tadi malam baru mulai ngetik ngetik lagi.