
Citra meringis menahan sakit. Berjalan terseok seok, berpegangan pada tembok. Air matanya telah jatuh. Dia menangis, panik, takut bercampur aduk menjadi satu. Peluh sudah membasahi hampir seluruh tubuhnya. Dengan susah payah akhirnya dia berhasil mencapai pintu kamar.
Citra melongok ke dapur. Lampu yang belum dinyalakan membuat pandangannya terbatas. Citra mencoba berjalan lebih dekat ke dapur. Angin semilir berhembus pelan, terasa seperti meniup tengkuk Citra. Membuat bulu bulu halus di bagian belakang lehernya meremang hebat.
"Manda? Kamu dimana Nak?," suara Citra bergetar.
Citra mengusap air mata menggunakan punggung tangannya. Dia masih berpegangan pada tembok, nyeri terasa di setiap langkah kakinya. Tidak ada jawaban dari Amanda, benar benar senyap dan sunyi.
Tangan Citra akhirnya berhasil menggapai saklar lampu dapur. Segera dia menghidupkan lampu, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Amanda ternyata berjongkok membelakangi Citra di salah satu sudut dapur. Citra bernafas lega, Amanda baik baik saja.
"Amanda sayang, dipanggil Mamah kok diam saja sih Nak?," Citra kembali memanggil Amanda. Namun, putrinya itu tetap diam tak bergeming.
"Manda?," Citra merasa aneh, Amanda tak seperti biasanya. Anak itu sama sekali tidak bergerak di sudut ruangan.
"Manda?," Citra sekali lagi memanggil putrinya.
Tiba tiba saja Amanda mengangkat tubuhnya, merangkak dengan tetap membelakangi Citra. Bocah balita itu benar benar bertingkah aneh, dia merangkak mundur mendekati Citra.
"Manda, jangan aneh aneh sayang," Citra gusar melihat tingkah aneh putrinya itu.
Amanda tak menggubris perkataan Citra, dia semakin cepat merangkak mundur mendekati Citra. Sesekali terdengar sebuah suara, tawa yang meringkik aneh. Suara berasal dari tangga lantai atas. Citra menoleh, melihat tangga. Tidak ada apapun tak ada siapapun. Citra kembali menoleh, melihat tempat dimana Amanda merangkak tadi. Amanda tidak ada, lenyap.
Citra mengedarkan pandangan, panik, dan ketakutan. Tiba tiba saja, Citra merasakan kakinya seakan dicengkeram sebuah tangan. Karena dia berdiri dengan satu kaki, keseimbangannya goyah.
Bruuggg
Citra jatuh ke lantai dengan sangat keras. Matanya berkunang kunang. Sebelum pingsan, saat kesadarannya di ambang batas, Citra seperti melihat beberapa perempuan mengerubutinya. Siapa mereka?
"Cit . . .Citra," Sebuah suara terdengar lembut. Sebuah belaian dan tepukan pelan terasa di pipi Citra.
Citra mengerjap ngerjapkan matanya. Sayup sayup terdengar suara adzan maghrib. Prambudi berada di samping Citra yang sedang tidur di ranjang. Begitupun Amanda, terlihat duduk di pangkuan Prambudi.
__ADS_1
"A Aku. . .dimana Mas?," Citra merasakan sedikit pusing dan nyeri bukan hanya di kaki, namun juga di keningnya. Citra meraba keningnya, terdapat plester disana.
"Aku baru pulang, nemuin kamu di depan pintu kamar. Kamu mau kemana sih?," Prambudi masih membelai lembut istrinya.
"Aku tadi nyari Amanda Mas, tadi Amanda. . .," Citra tidak melanjutkan kalimatnya, menatap putrinya yang berada di pangkuan Prambudi. Amanda terlihat seperti biasanya, tidak ada keanehan dari wajah dan ekspresi polosnya itu.
"Kamu tadi mungkin tertidur sayang. Menjelang maghrib atau Surup kan memang nggak baik tidur. Terus karena mendadak terbangun, jadi semacam bingung gitu mungkin," Prambudi terlihat menggaruk garuk alisnya. Kalimatnya terasa penuh keraguan.
"Lebih baik kita ke dokter deh," Prambudi menatap Citra, pandangannya sayu dan terlihat sedih. Sekujur tubuh istrinya itu penuh dengan luka lecet dan memar. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi suami yang baik jika membiarkan istrinya terluka seperti itu?
"Mas, kamu tadi darimana? Kok pulang telat?," Citra teringat dengan Prambudi yang pulang terlambat.
"Ohh itu," Prambudi membuka tas kerjanya, merogoh ke dalamnya, mencari cari sesuatu.
"Aku nyari ini dulu sayang," Prambudi menyodorkan sebuah hp baru yang masih berada di dalam dus.
Citra memperhatikan HP baru dari suaminya itu. Sebuah HP keluaran teranyar meskipun bukan merk yang paling populer, tapi HP itu cukup mahal untuk ukuran keuangan Prambudi.
"Hmm, aku mengajukan pinjaman di kantor," Prambudi menghela nafas pelan.
"Yakin? Nggak pinjam ke Linda kan?," Citra bertanya penuh selidik. Ada rasa curiga di hatinya.
"Ya, nggak lah sayang. Percaya sama aku. Jangan curigaan gitu deh," Prambudi merasa sedikit jengkel.
Citra menatap Prambudi. Dia merasa suaminya itu tidak berbohong. Akhirnya dia menerima HP pemberian Prambudi.
"Seharusnya nggak usah buru buru beli HP baru Mas. Siapa tahu yang kecelup air tadi masih bisa dibenerin," Citra membuka kardus HP barunya.
"Kalaupun bisa diperbaiki pasti biayanya sama seperti beli HP baru Cit. Jadi kupikir mending beli baru aja sekalian," Prambudi menurunkan Amanda dari pangkuannya. Amanda ikut melihat HP baru Mamahnya.
"Nak, tadi kamu mecahin gelas di dapur ya?," Citra bertanya pada Amanda.
__ADS_1
"Nggak Mah," Amanda terlihat bingung dengan pertanyaan Citra.
"Tadi Mamah denger lho, suara gelas jatoh. Terus Manda Mamah panggil panggil nggak menjawab," Citra menatap Amanda, bocah balita itu nampak semakin bingung.
"Tadi bukannya Manda itu, merangkak. . .," Citra kembali terdiam, tidak meneruskan kalimatnya. Dia mengingat sekali lagi kejadian tadi. Citra bingung, mungkinkah kejadian yang dialaminya tadi hanya sebuah mimpi atau halusinasi? Kepalanya kembali terasa berat.
"Cit, mungkin kamu tadi mimpi. Bisa jadi kamu tadi ngigau, berjalan dalam tidur dan akhirnya jatuh kan," Prambudi mengelus elus punggung tangan kanan Citra.
"Tapi Mas. . .aku nggak pernah kayak gitu, aku nggak pernah tidur ngigau," Citra membantah penjelasan Prambudi.
"Makanya jangan tidur saat Surup, nggak baik. Hmmm, yaudah aku tak mandi dulu sebentar, terus kita ke dokter ya," Prambudi berdiri hendak pergi ke kamar mandi saat Citra mencegahnya, menggenggam lengan Prambudi dengan erat.
"Jangan lama lama," Ucap Citra dengan manja.
"Iya iya, apa kamu mau ikut?," Prambudi tersenyum nakal.
"Ihh, aku aja sudah mandi sendiri yah. Masak yayah minta dimandiin," Amanda nimbrung dengan wajah polosnya.
" Ha ha ha ha," Prambudi dan Citra tergelak, mereka tertawa bersama.
Sehabis mandi, Prambudi membopong Citra menuju ke mobil. Sebuah mobil van warna hitam terparkir di halaman depan.
"Mobil siapa Mas?," Citra bertanya, kedua tangannya dikalungkan dengan erat di leher Prambudi.
"Pinjam, punya panti," Jawab Prambudi singkat.
Citra di dudukkan Prambudi di kursi belakang, sementara Amanda minta untuk duduk di depan, sebelah kursi kemudi. Akhirnya mereka meluncur menuju ke kota. Prambudi mengemudi pelan pelan, gerimis turun membiaskan sorot lampu jalanan. Prambudi menuju ke klinik yang dirasa memiliki peralatan yang bagus untuk memeriksa kondisi kaki dan tubuh Citra.
Sebenarnya keluarga Citra memiliki klinik langganan untuk berobat. Namun tidak mungkin mereka menuju kesana. Pasti perawat disana akan segera menghubungi Pak Doto memberitahukan keadaan putrinya. Prambudi masih enggan untuk berjumpa kembali dengan mertuanya itu. Jika mereka bertemu dalam keadaan Citra terluka seperti saat ini, pasti akan terjadi pertengkaran. Minimal Prambudi harus merasakan bogem mentah dari para centeng Pak Doto.
Bersambung . . .
__ADS_1