
Setelah jam istirahat berakhir, Linda kembali ke meja kerjanya. Ada setumpuk laporan yang harus dia selesaikan hari ini. Lehernya terasa kaku, namun tak ada waktu untuk bersantai. Perutnya sudah terisi, sudah waktunya dia bekerja kembali.
Linda sempat melirik meja kerja di depannya. Meja Pramudi masih kosong, rupanya laki laki idamannya itu belum juga kembali. Padahal tadi selama jam istirahat Prambudi sama sekali tidak terlihat batang hidungnya di kantin.
"Hmmm, kemana dia? Apa mungkin dia frustasi gara gara kata kataku tadi?," Linda bergumam, menopang dagunya yang lancip mungil.
Linda menghela nafas, kembali mencoba fokus pada berkas di hadapannya yang menumpuk tinggi. Lima belas menit, setengah jam, hingga satu jam lamanya ternyata Prambudi tak kunjung kembali ke meja kerjanya. Linda penasaran sekaligus cemas.
Linda berdiri, kemudian berjalan menuju ke meja kerja Prambudi. Komputer dalam keadaan 'tertidur', tidak dimatikan. Begitupun tas Prambudi masih tergeletak di atas meja. Linda merogoh HP di saku bajunya. Dia mencoba untuk menelepon nomor Prambudi.
Tuutt Tuutt Tuuttt
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini. Cobalah beberapa saat lagi.
Tidak ada jawaban dari Prambudi. Linda semakin gelisah dan cemas. Linda sedikit merasa bersalah dan khawatir, jangan jangan karena perkataannya tadi Prambudi berbuat hal yang berbahaya untuk dirinya sendiri. Cinta memang telah membutakan Linda, bagaimana mungkin dia bisa begitu peduli pada suami orang lain.
Linda memutuskan untuk ke ruangan depan, dia menuju ke bagian resepsionis. Rasa cemasnya sudah tak tertahankan.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak Linda?," Sapa respsionis dengan ramah.
"Ada yang tahu Prambudi? Pegawai yang satu ruangan dengan saya. Pekerjaan lumayan banyak tapi dia belum kembali sejak jam istirahat tadi," Linda bertanya, nada bicaranya terdengar terburu buru.
"Ah iya, tadi sudah kami sampaikan ke pimpinan. Mas Prambudi sedang bersama anggota kepolisian untuk dimintai keterangan sebagai saksi dalam sebuah kasus. Seorang petugas kepolisian baru saja kemari menyampaikan hal tersebut," jawab resepsionis dengan tersenyum.
"Oohh, baiklah. Terimakasih," Linda segera memutar badan, dia bergegas kembali ke ruang kerjanya.
Linda semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Prambudi tiba tiba saja berurusan dengan pihak kepolisian? Meskipun banyak pertanyaan di benaknya, namun tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Linda mencoba kembali fokus pada tumpukan map di meja kerjanya.
* * *
__ADS_1
Jam empat sore, pekerjaan Linda selesai dengan sempurna. Linda memang cukup nakal dalam urusan asmara, namun soal pekerjaan wanita satu ini tidak pernah main main. Dia sangat rajin, smart dan cekatan.
Linda membereskan meja kerjanya, kemudian dia juga membereskan meja kerja Prambudi. Dengan sedikit rasa panasaran, Linda membuka dan melihat lihat isi tas Prambudi. Terdapat beberapa map di dalamnya. Ada juga sisir dan satu botol parfum serta sebuah benda terbungkus kertas kumal dengan tulisan bahasa kawi yang tidak Linda mengerti.
Linda membuka bungkusan kertas tersebut, dan ternyata di dalamnya terdapat dua butir kemenyan berwarna kekuningan sebesar ibu jari tangan. Tercium pula aroma minyak wangi yang menyengat, seperti bau bunga melati dan kenanga yang bercampur. Linda buru buru menutup kembali bungkusan tersebut.
Prambudi bermain dukun? Untuk apa? Mungkinkah demi mendapatkan Citra? Jadi, benar dugaan Andre, Citra diguna guna sehingga lupa padanya? Linda menyandarkan badannya di tembok. Dia merasa akan semakin sulit mendapatkan Prambudi jika dugaan Andre itu benar. Linda mendengus kesal.
Drrtt Drttt Drttt
HP di saku baju Linda bergetar. Sebuah telepon masuk, bukan dari Prambudi melainkan dari Andre.
"Halloo Ndre. Kamu punya telepati atau apa sih? Baru saja aku teringat kamu. . eee telepon darimu langsung masuk," Linda nyerocos tanpa salam.
"Hah? Ngapain kamu mikirin aku?," Andre terdengar kaget.
"Nggak mikirin kunyuk! Cuma ingat aja, kasihan sepupuku ini udah makin tua tapi nggak laku laku. Bahkan mantan pun melupakannya. Ngeness," Linda terkekeh.
"Ha ha ha. . .by the way, anyway busway, ngapain kamu telepon?," Linda mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah, ini. . .emm aku mau minta saran," Suara Andre terdengar terbata bata. Sepertinya dia ragu.
"Apaan?," Linda mengernyitkan dahi.
"Jadi, aku baru dapat info. Ternyata Citra, mantanku kemarin itu sedang di rumah orangtuanya. Dia sedang tidak bersama suaminya. Ada rumor yang mengatakan mereka pisah ranjang," Andre terdengar seperti berbisik.
Linda tertegun. Jadi, saat ini Prambudi sedang ada masalah dengan Citra? Berarti laki laki idamannya itu bisa jadi saat ini sedang berada di rumahnya sendirian. Bukankah itu berarti kesempatan untuk Linda masuk di celah hati Prambudi? Linda senyum senyum sendiri memikirkannya.
"Hoee, lampir! Kok diam saja sih diajak curhat," Andre terdengar membentak, kesal merasa dikacangi.
__ADS_1
"Terus kalau dia pisah ranjang sama suaminya kamu mau apa?," Linda bertanya sambil menahan tawa. Hatinya sedang girang saat ini.
"Menurutmu kalau aku datang ke rumah Citra untuk mengajaknya ngobrol gimana? Etis nggak sih?," Andre bertanya ragu ragu.
"Ya jelas nggak etis lah dodol. Tapi kurasa kamu perlu untuk kesana, setidaknya untuk memastikan kalau dia memang benar benar telah lupa padamu," Linda memberi saran.
"Emm gitu ya. Terus enaknya kalau ke rumahnya aku bawa apa nih? Makanan?," Andre kembali bertanya.
"Bawa golok," jawab Linda bergurau.
"Sialan. Yaudah deh aku tutup teleponnya, ngomong sama kamu nggak guna. Dasar lampir!," Andre bersungut sungut.
Tuutt tuutt tuuut
Telepon diputus oleh Andre.
"Yeeee, gitu aja sewot ha ha ha," Linda tertawa.
Linda memasukkan HP nya ke dalam saku, kemudian menyambar tas Prambudi. Linda hendak mengembalikan tas itu pada pemiliknya. Mumpung Prambudi sedang di rumah sendirian. Dengan berkedok mengembalikan tas, Linda yakin bisa berduaan dengan Prambudi di rumahnya. Memikirkannya membuat jantung Linda terasa berdenyut lebih kencang.
Linda sedikit melompat saking girangnya. Dia harus buru buru pulang, membersihkan badannya, merias diri, memakai pakaian terbaiknya dan segera ke rumah Prambudi. Dengan memanfaatkan kekosongan hati Prambudi saat istrinya tak di rumah, Citra yakin kali ini Prambudi akan jatuh ke pelukannya.
Linda cukup ngebut mengendarai mobil sedannya. Tak lebih dari lima belas menit, dia sudah sampai di rumah. Buru buru dia melepas dan melempar sepatunya di teras, kemudian masuk ke rumah dan segera menuju kamar mandi. Sambil berdendang dia membasuh tubuhnya, menghapus keringat dan bau badan setelah seharian bekerja.
"Cinta satu malam, oh indahnya. . .cinta satu malam buat ku melayang. . .walau satu malam akan selalu kukenang dalam hidupku," Linda semakin menjadi, bersenandung semakin kencang.
Sesekali Linda menatap cermin besar yang terletak di belakangnya. Dia memperhatikan kulitnya yang mulus terawat. Juga terasa sangat kencang dan kenyal, serta perut dan pinggulnya yang ramping. Dia semakin percaya diri, untuk bisa menaklukkan Prambudi. Linda tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Tunggu aku, Prambudi . . .,"
__ADS_1
Bersambung . . .