
Kegiatan paling mengasyikkan ketika emak emak sedang berkumpul adalah memasak bersama. Apalagi kalau membuat masakan yang pedes pedes, rasanya semakin klop dan pas. Begitupun juga yang dilakukan Citra dan Bu Utami pagi ini. Mereka asyik memasak sambil bersenda gurau dan terkadang juga membicarakan kabar terbaru artis terfavoritnya di TV.
"Tinggal di kota . . . rasanya enak ya Mbak?," Tiba tiba Bu Utami bertanya pada Citra.
"Enak gimananya Bu?," Citra balik bertanya pada Bu Utami.
"Ya enak, dekat kalau mau kemana mana. Ke mall, tempat belanja, tempat makan, rame juga," Bu Utami menuangkan bumbu kacang pada sayuran yang sudah direbus.
"Ya itu sisi enaknya Bu. Ada juga sisi nggak enaknya. Yah intinya sih Bu, dimanapun itu yang penting bareng bareng sama keluarga dan orang orang yang baik pada kita, pasti tetap enak," Citra berbicara dari hatinya kali ini.
"Hi hi hi, Mbak Citra bicaranya kayak motivator," Bu Utami terkekeh.
"He he he. . . ngomong ngomong maafin kami ya Bu, karena selalu merepotkan. Kalau ada kerepotan, kesusahan selalu manggil Bu Ut buat kesini. Padahal kami kan tetangga baru," Citra memegang lengan Bu Utami. Dalam hati Citra bersyukur memiliki tetangga yang baik dan ramah seperti Bu Utami.
"Yah Mbak, nggak pa pa lah. Lha wong di rumah juga nggak ngapa ngapain. Suami kerja di luar kota, anak juga sekolah. Kalau nggak kesini di rumah palingan cuma nge gosip sama si Sumini," Bu Utami tersenyum menatap Citra.
"Hmmm, mari kita makan Bu rujaknya," Citra mengambil rujak di cobek yang sudah siap disantap.
"Nah, itu yang kutunggu Mbak. Udah ngiler dari tadi," Bu Utami tertawa, begitupun Citra. Mereka berdua menikmati makanan yang telah dibuat bersama.
Selesai makan, Bu Utami dan Citra duduk duduk di halaman belakang sambil mengawasi Amanda yang asyik bermain dengan si Cemong.
"Bu Ut, dulu yang punya rumah ini . . .Mbak Retno maksud saya, itu aslinya orang mana?," Citra tiba tiba saja menanyakan tentang Mbak Retno. Bu Utami langsung menghentikan makannya, dia sebenarnya enggan membahas hal itu.
"Gimana ya Mbak," Bu Utami memperbaiki posisi duduknya.
"Cerita dong Bu Ut, aku penasaran, pengen tahu lho," Citra mendesak, dia tidak peduli dengan Bu Utami yang terlihat nggak suka dengan topik pembicaraan..
"Ini setahuku ya Mbak, Mbak Retno dulu seorang penyanyi, penari juga, ketemu sama anaknya Mbah Kadir dalam sebuah acara. Kabarnya sih Mbak Retno itu sebatang kara, nggak punya orangtua dan keluarga. Dia dulu dibesarkan di sebuah panti asuhan," Bu Utami setengah berbisik.
__ADS_1
"Panti asuhan? Sekitar sini?," Citra bertanya lebih lanjut.
"Nggak tahu Mbak, kurang faham aku," Bu Utami mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Karena asal usul yang nggak jelas itu, yang kabarnya membuat Mbah Kadir nggak begitu suka dengan Mbak Retno. Setiap hal kecil akan dibesar besarkan oleh Mbah Kadir. Tapi kita kan cuma tetangga, kejadian seperti apa yang sebenarnya terjadi hanya Mbah Kadir, anaknya dan Mbak Retno yang tahu," Bu Utami mengakhiri ceritanya.
"Hmm, hidup bareng mertua itu banyak nggak enaknya ya Bu Ut?," Citra bertanya lagi, dia mendongak menatap langit yang terlihat cerah hari ini.
"Ya tergantung orangnya sih Mbak. Aku dulu pernah tinggal bareng mertua hampir satu tahun lamanya. Enak enak aja tuh," Bu Utami tersenyum.
"Ya tapi. . . memang kalau kita malam habis perang perangan, pagi sebelum subuh mau keramas tuh suka malu Mbak Cit," Bu Utami tertawa, menutup mulut menggunakan tangan kanannya.
"Mbak Citra belum pernah tinggal bareng mertua?," Bu Utami bertanya keheranan.
"Emm, Mas Pram dari kecil di panti Bu Ut. Dia nggak punya orangtua. Kisah yang hampir sama sepertinya dengan Mbak Retno. Mas Pram juga tidak begitu disukai oleh ayah bunda," Citra menghela nafas, teringat suaminya itu
"Ah, maafkan omongan saya Mbak," Bu Utami terlihat salah tingkah, dia merasa tak enak hati.
"Emm . . .Mbak Citra anak orang kaya ya?," Bu Utami ragu ragu dengan pertanyaannya.
"Mungkin Bu Ut kenal dengan Pak Doto? Beliau ayah saya," Citra menopang dagunya, pandangannya mengawang ke arah kebun ketela belakang rumah.
Citra merasa beruntung dilahirkan di keluarga yang serba berkecukupan. Namun, dia merasa lebih beruntung lagi ketika dipertemukan dengan sosok suami seperti Prambudi. Kalau boleh memilih, dia lebih suka berada di keluarga yang biasa biasa saja, namun tetap bertemu Prambudi daripada harus menjadi pewaris kekayaan konglomerat namun kehilangan suami seperti Prambudi.
"Pak Doto? Pengusaha yang dikatakan paling kaya di kabupaten ini Mbak?," Pekik Bu Utami kaget. Dia seolah tak percaya dengan perkataan Citra.
"Iya Bu Ut. Tapi sekali lagi jangan bicarakan hal ini dengan Bu Sumini ya," Citra tersenyum melihat Bu Utami yang melotot kaget.
"Ah iya Mbak. Rahasia terjamin," Bu Utami menggerakkan tangannya di depan bibir, seolah sedang menutup resleting. Citra tertawa kecil.
__ADS_1
"Maahh, banyak lalat," Amanda tiba tiba saja merengek.
Baik Citra maupun Bu Utami baru tersadar, di tempat mereka duduk banyak sekali lalat yang beterbangan. Entah darimana datangnya, dan entah mengerubuti apa, serangga itu berdengung dan melayang layang di hadapan mereka. Bahkan ada jenis lalat hijau yang berukuran cukup besar di antara kawanan serangga tersebut.
"Ini kenapa jadi banyak lalat begini ya," Citra bergumam sendiri.
"Kalau banyak lalat gini bisa jadi ada bangkai yang membusuk Mbak," Bu Utami mengibas ngibaskan tangannya.
"Bangkai?," Citra mengernyitkan dahi nggak mengerti.
"Iya Mbak. Di rumahku juga pernah kayak gini. Nggak tahunya di plavon ada kucing mati," Bu Utami menjelaskan.
"Duh, sulit kalau nyari hewan kecil mati di rumah ini. Luas soalnya," Bu Utami garuk garuk kepala. Begitupun Citra, dia baru kali ini melihat kawanan lalat sebanyak ini. Bulu bulu halus di lengannya terlihat berdiri, merinding.
"Gini aja Mbak. Biar aku pel deh lantainya pake karbol, ada kan?," Bu Utami memberikan ide.
"Ada Bu," Citra menjawab singkat. Dia masih merinding memperhatikan lalat yang beterbangan di sekitarnya.
"Biasanya kalau lantai rumah udah dibersihin, dipel pake karbol, aromanya itu bikin lalat pergi menjauh Mbak," Bu Utami berdiri dari duduknya.
"Tapi jadi ngrepotin Bu Ut nih," Citra merasa tak enak hati pada Bu Utami. Padahal dia diundang ke rumah untuk menemani, bukan untuk beberes dan bersih bersih.
"Nggak pa pa Mbak Citra, sekalian olahraga," Bu Utami tertawa. Citra mendesah pelan, dia benar benar merasa sungkan pada tetangganya yang super baik itu.
Dan benar saja, setelah semua lantai dipel dan dibersihkan lalat lalat yang entah datang darimana itu menghilang. Amanda kembali bermain dengan tenang. Begitupun Citra dan Bu Utami, bisa melanjutkan obrolannya sambil minum teh di halaman belakang dengan nyaman.
Nnguuungg nguungg nguuungg
Yang mereka semua tidak tahu adalah lalat lalat hijau itu masih berjubel di lantai atas. Sebagian besar menempel pada pintu kamar yang selalu tertutup dan terkunci rapat.
__ADS_1
Bersambung . . .