
Sepasang tangan mer*mas r*mas kemudi mobil. Sesekali, pukulan juga mendarat di benda berbentuk lingkaran pengatur gerak roda itu. Emosi dan amarah terlampiaskan pada benda mati, yang tak sanggup melawan ataupun memprotes.
"Sialan! Brengsek!," Seorang perempuan mengumpat sendirian di dalam mobil di tempat parkir sebuah klinik di pusat kota. Tatapannya penuh dengan emosi dan rasa kesal yang berkecamuk di benaknya.
"Apapun caranya aku akan merebutmu Prambudi!," Perempuan itu mengambil sebatang rokok dari laci dasboard mobilnya.
Perempuan itu adalah Linda. Dia menyulut rokoknya dengan pemantik, kemudian menyesapnya dalam dalam. Linda membuka kaca jendela mobil, hingga nampak asap putih tipis keluar dari dalam mobilnya di tengah udara dingin gerimis yang sedari tadi tidak kunjung mereda.
Udara memang terasa sangat dingin, namun hatinya sedang panas membara. Linda sendiri tidak begitu mengerti dengan perasaannya kali ini. Bagaimana bisa dia jatuh hati begitu dalam pada suami orang. Hingga rasa cemburu terasa begitu kuat menancap di hatinya melihat Prambudi yang membela Citra di hadapannya.
Linda sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Semenjak sekolah dulu dia selalu menjadi gadis yang populer, dengan prestasi akademis yang mentereng pula. Belum pernah ada satupun laki laki yang menolaknya. Dengan kepintarannya, kecantikannya dan kelicikannya.
Sampai akhirnya Linda bertemu Prambudi. Laki laki itu terlihat memiliki kharisma yang luar biasa, selain memang wajahnya yang menarik dan badannya yang atletis sempurna. Linda sadar betul, menyukai suami orang lain adalah sebuah kesalahan. Namun perasaan itu sudah terlanjur mengakar dan merenggut tidur nyenyaknya setiap malam.
Drrtttt Drrttt Drtttt
Hp yang tergeletak di dasboard mobil bergetar. Linda mengambil dan melihatnya. Tertulis nama Andre memanggil. Sedikit terkaget, Linda hampir lupa dengan janjinya nonton di bioskop.
"Hallo Ndre," Linda mengangkat teleponnya.
"Lagi dimana sih? Aku udah di bioskop ini. Hidungmu tak nampak aku cari cari," Suara laki laki bernama Andre terdengar kesal.
"Iya Sorry. Aku lagi njenguk temen yang sakit ini," Linda menjawab enteng.
"Yaudah buruan kesini. Kamu tahu kan aku nggak nyaman sendirian berada di tengah keramaian," Andre memberi perintah, kemudian mematikan teleponnya.
Sedikit kesal, Linda melempar HP nya ke kursi sebelah. Buru buru dia menghidupkan mobilnya. Saat hendak keluar dari tempat parkir, sorot lampu mobil Linda menerpa sesosok perempuan yang berdiri di tengah jalan. Dalam rintik hujan, perempuan itu berdiam saja di depan mobil Linda yang hendak lewat. Wajahnya tak terlihat jelas tertutup gelapnya malam.
__ADS_1
Perempuan itu terlihat memakai dress berwarna serba hitam. Sekujur badannya terlihat basah oleh air hujan. Kelihatannya perempuan itu sudah sedari tadi berada disana. Linda mengernyitkan dahi. Bingung dan kesal bercampur di benaknya.
"Wooee minggir wooeee!," Linda berteriak sembari memencet klaksonnya berulangkali. Perempuan di depan mobilnya tidak bergeming, tetap saja diam di tempatnya.
"Gila nih orang," Linda membuka kaca jendela mobilnya.
"Brengsek! Minggir! Mau mati ya?!," Linda mengumpat. Kepalanya melongok keluar dari mobil.
Akhirnya perempuan itu berjalan perlahan, menepi. Kini dia berdiri di tepi jalan, masih tak menghiraukan hujan yang membasahi tubuhnya.
Linda segera menginjak gas mobilnya, dia sempat menoleh memperhatikan perempuan gila yang menghalangi jalannya. Wajah perempuan itu pucat pasi, dengan tatapan sayu dan terlihat sedih. Perempuan itu menggigil kedinginan, dan entah bergumam apa. Linda tidak bisa mendengarnya, hanya terlihat bibir perempuan itu bergerak gerak seperti mengatakan sesuatu.
"Dunia ini makin banyak orang yang stres," Linda geleng geleng kepala. Linda tak begitu terpengaruh melihat kejadian seperti itu. Pada dasarnya dia tipe orang yang tidak ingin tahu urusan ataupun masalah orang lain.
Mobil Linda meraung raung membelah rintik hujan. Linda lumayan ngebut berkendara. Jalanan yang halus dan begitu sepi membuatnya leluasa untuk menginjak pedal gas lebih dalam. Apalagi saat ini dia sedang kesal, Linda semakin bernafsu untuk menambah kecepatan.
Di sudut ruangan depan pintu masuk bioskop, seorang laki laki duduk di sofa sambil mengedarkan pandangannya. Laki laki berkulit putih dengan kacamata yang terlihat kalem dan ganteng. Laki laki itu memakai hoodie berwarna biru dengan celana berwarna krem yang terlihat pas dan nyaris sempurna. Beberapa gadis memperhatikannya, berharap dapat berkenalan dengannya.
"Hai Ndre," Linda menyapa laki laki tampan yang jadi pusat perhatian itu.
"Lama banget sih?," laki laki bernama Andre itu mendengus kesal.
Beberapa gadis yang tadi sempat memperhatikan Andre, kini beralih mencuri pandang ke arah Linda. Sebagian takjub dengan tubuh Linda yang begitu seksi, sebagian lainnya berbisik bisik nyinyir.
"Duh, selalu saja seperti ini Ndre. Aku nggak suka bertemu denganmu karena selalu jadi pusat perhatian," Linda berkacak pinggang di hadapan Andre.
"Jadi begini sambutanmu padaku," Andre masih terlihat kesal.
__ADS_1
"Makanya, seharusnya kamu menjemputku ke rumah," Linda menyahut.
"Jauh Lin. Kamu tahu kan aku baru sampai di negara ini kemarin. Aku capek tahu," Andre bersungut sungut. Dia sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Iya iya aku yang salah, wahai sepupuku yang baru selesai kuliah s3 di luar negeri," Linda menaikkan salah satu alisnya, Andre terkekeh.
Andre adalah sepupu Linda yang baru menyelesaikan studi nya di luar negeri. Usianya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Linda. Laki laki pintar dengan wajah yang menawan, dan merupakan seorang yang introvert parah.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka memasuki ruang bioskop. Mereka duduk di deretan kursi bagian tengah. Linda dan Andre sepakat menonton film horor lokal yang sudah lama tidak Andre tonton selama berada di luar negeri.
"Menonton film horor lokal selalu membuatku bersemangat. Aku seperti kembali ke masa masa yang lalu," Ujar Andre setelah film yang mereka tonton telah selesai.
"Hah? Jangan jangan kamu dulu punya seseorang yang special Ndre, yang suka nonton film horor, begitukah?," Linda bertanya penuh selidik.
"Memangnya nggak boleh?," Andre masih menatap layar bioskop.
"Seorang Andre ternyata punya seorang pacar, wah wah. . .kupikir kamu tidak menginginkan sebuah hubungan semacam itu," Linda terkekeh mengejek.
"Yah seorang mantan. Seorang yang kutinggalkan. Sebuah kesalahan yang seharusnya kuperbaiki," Ucap Andre lirih. Wajahnya terlihat sedih.
"Ha ha ha. . .kamu boleh pintar di bidang akademis Ndre, tapi kamu begitu bodoh soal percintaan. Terlihat jelas, kamu nggak bisa move on. Oh, Andre. . .banyak gadis di dunia ini, banyak bunga cantik di luar sana," Linda tertawa lebar kali ini.
"Ah tahu apa kau. Bahkan sampai saat ini pun kau sama sepertiku. Jomblo," Andre tersenyum masam.
"Ha ha ha. . .sialan kau!," Linda tertawa, begitupun Andre.
Dua orang jomblo yang merupakan saudara sepupu tersebut terlihat menikmati pertemuan pertama mereka setelah sekian lama terpisah. Selesai menonton film, mereka makan, beli es krim dan berjalan jalan belanja. Andre memang cukup dekat dengan sepupunya itu. Linda memang sedikit nakal untuk ukuran seorang gadis, namun bagi Andre dia yang paling nyambung dengannya. Hobi yang serupa dan karakter yang nggak terlalu ingin mencampuri urusan orang lain yang membuat Andre klop dengan Linda.
__ADS_1
Bersambung . . .