
Sayup sayup terdengar suara kereta api yang melintas, sudah cukup membuat Mas Adi terjaga dari tidurnya. Mas Adi menatap langit langit ruangan yang terasa asing. Mas Adi berdiam sejenak, mengucek ngucek matanya dan akhirnya tersadar, dia ketiduran di sofa ruang tamu rumah Sinta. Mas Adi melirik jam tangan yang dia kenakan, jam 3 pagi.
"Astaghfirullah . . .," Mas Adi menghela nafas. Dia tidak habis pikir bagaimana mungkin bisa ketiduran sedemikian pulas di rumah orang.
Terdengar pintu kamar terbuka. Sinta keluar kamar hanya mengenakan kaos singlet ketat, dengan hot pants berwarna putih sedikit transparan. Mas Adi langsung mengalihkan pandangannya. Sementara Sinta terlihat berjalan menuju dapur.
Beberapa menit berikutnya Sinta sudah berada di hadapan Mas Adi mengenakan sweater dan membawa dua cangkir minuman hangat.
"Silahkan diminum Mas," Sinta mempersilahkan tamunya untuk minum.
"Maafkan saya Mbak Sinta, saya ketiduran," Mas Adi menunduk sedikit merasa malu.
"Nggak pa pa Mas. Saya juga nggak berani bangunin Mas Adi. Soalnya Mas kelihatan capek banget," Sinta tersenyum, terlihat cantik. Mas Adi sedikit salah tingkah dibuatnya.
Terdengar sebuah suara mobil dihidupkan. Mas Adi segera beranjak dari duduknya. Dia mengintip melalui jendela, sedikit menyibak tirai yang terpasang disana.
Mobil mewah berwarna hitam, plat nomor yang tidak asing bagi Mas Adi. Mobil Pak Doto. Mas Adi menyipitkan matanya, nampak seorang wanita cantik masuk ke dalam mobil Pak Doto. Sopir Pak Doto yang bernama Wiryo berjalan tergopoh gopoh menenteng koper dan segera masuk ke dalam mobil. Detik berikutnya, mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan sebuah pertanyaan di benak Mas Adi. Kemana pengusaha kaya raya itu pergi?
"Pak Doto," Gumam Sinta, dia juga ikut mengintip dari balik tirai.
"Kamu kenal dengan perempuan yang ikut di mobil Pak Doto tadi?," Mas Adi bertanya pada Sinta. Sinta mengangguk mengiyakan.
"Namanya Leni. Anak baru disini Mas, usianya masih muda. Di bawahku setahunan," Sinta memberi penjelasan.
Mas Adi mendengarkan perkataan Sinta, meskipun konsentrasinya sedikit buyar. Sinta berdiri di sebelah Mas Adi, cukup dekat. Aroma tubuhnya tercium wangi natural membuai indera penciuman Mas Adi.
"Saya bisa minta tolong sama Mbak Sinta?," Mas Adi kembali ke tempat duduknya semula.
__ADS_1
"Apa Mas?" Sinta bertanya penasaran.
"Tolong awasi Leni setelah pulang nanti. Kalau perlu temani dia Mbak," Mas Adi menopang dagunya terlihat berpikir.
"Menemani Leni?" Sinta kembali bertanya, terlihat dia tidak begitu faham dengan permintaan Mas Adi.
"Iya, semua orang yang dinyatakan hilang selalu saja sebelumnya bersama Pak Doto. Saya khawatir Leni akan bernasib serupa," Mas Adi menatap Sinta, raut wajah dan sorot matanya tajam menakutkan.
"Mbak bisa kan lebih mengawasi Leni?," Mas Adi terasa sedikit mendesak Sinta.
"I Iya Mas. Baiklah, saya mengerti," Sinta mengangguk cepat.
"Jadi. . .menurut Mas Adi, pelaku yang membuat orang orang hilang adalah Pak Doto?" Sinta bertanya ragu ragu, takut salah berbicara.
"Hanya jaga jaga. Tidak diperbolehkan untuk menuduh orang lain tanpa bukti nyata. Bisa jadi fitnah Mbak," Mas Adi menghela nafas. Dia merasa bersalah meminta tolong pada Sinta untuk mengawasi Leni. Bagaimana kalau Sinta membicarakan hal itu dengan orang lain? Bukankah hal itu bisa menjadi bahan pergunjingan, tuduhan pada Pak Doto yang tak beralasan.
"Hmm baiklah Mbak. Intinya kita tak boleh asal tuduh dan gegabah. Ini semua demi Vira teman Mbak, dan juga keselamatan Mbak Sinta sendiri. Saya harap Mbak tidak membicarakan hal ini dengan orang lain," Mas Adi kembali menatap Sinta dengan tajam.
"Iya Mas, saya mengerti," Sinta mengangguk.
Entah kenapa Sinta ingin sekali bisa membantu dan berguna untuk Mas Adi. Sepanjang hidupnya Sinta selalu berlaku sesuka hati. Dia tidak pernah suka untuk diatur atur ataupun dinasehati. Namun, menatap laki laki di depannya itu, dia ingin sekali menurut padanya, membantu meringankan tugas tugasnya. Dari sorot mata Mas Adi, Sinta merasa pria itu sama seperti dirinya. Seorang manusia yang penuh kesedihan dan kesepian.
"Mbak Sinta saya pamit dulu ya," Mas Adi berdiri setelah menghabiskan minuman hangat pemberian Sinta.
"Ah, nggak nanti saja Mas? Nunggu agak cerah dikit. Jalanan masih cukup gelap," Sinta mencegah Mas Adi, dia merasa ingin berlama lama dengan laki laki itu.
"Ah nggak Mbak. Udara jam segini seger kok," Mas Adi melihat jam tangannya kembali. Setengah 4 pagi.
__ADS_1
"Emmm baiklah kalau begitu," Sinta akhirnya mengalah. Dia segera membukakan pintu keluar pada Mas Adi.
Udara dingin langsung menembus masuk ke dalam ruangan. Sinta mengusap usap lengannya, berusaha agar tubuhnya tidak menggigil.
"Mbak sekali lagi saya mohon maaf telah ketiduran di tempat Mbak," Mas Adi kembali meminta maaf pada Sinta.
"Never mind Mas Adii. . .Apa Mas Adi lupa sekarang sedang berada dimana, disini sudah biasa laki laki menginap Mas," Sinta tersenyum masam. Ada rasa tak enak di hatinya berbicara seperti itu pada Mas Adi.
"Yah, terimakasih kalau begitu Mbak. Terimakasih telah memberi tahu saya informasi yang sangat berharga, terimakasih juga karena menyetujui permintaan saya tadi," mas Adi segera meralat ucapannya. Suasana canggung terjadi di antara mereka berdua.
Setelahnya, dengan sedikit tergesa gesa Mas Adi segera menyalakan motornya dan pergi meninggalkan Sinta sendirian di teras rumah. Setelah kepergian Mas Adi, Sinta baru sadar jaket tebal Mas Adi tertinggal, tergantung di tembok bagian luar. Sinta mengambil jaket Mas Adi, memeluknya. Tercium aroma laki laki gagah itu. Sinta tersenyum bahagia.
"Ada alasan untuk bertemu lagi denganmu Mas Adi," Sinta bergumam sendiri.
Sementara itu, Mas Adi memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Dia merasa salah tingkah saat berlama lama bersama Sinta. Udara dingin yang menembus baju tipisnya tak berasa. Mas Adi sepenuhnya lupa tentang jaketnya, yang ada di benaknya dia harus segera pergi dari rumah Sinta. Mas Adi merasa malu dan kikuk di hadapan wanita itu. Entah apa yang terjadi, namun ini adalah pertama kali baginya.
Di lain tempat, Wiryo mengendarai mobil dengan hati hati. Sesekali dia melirik ke kursi belakang, melihat majikannya yang asyik bermesraan dengan wanita cantik yang mungkin seumuran dengan anaknya. Dalam hati Wiryo mengumpat, saat menyaksikan majikannya itu dengan penuh n*fsu mencumbu wanita yang bukan istrinya.
"Wiryo, kita ke hotel dekat bandara ya. Nanti jam 9 kita kan mau terbang," Pak Doto memberi instruksi pada Wiryo, nafas tuanya sedikit terengah engah.
"Baik Tuan," Wiryo mengangguk dengan cepat.
"Ada kabar belum dari para centeng? Sudah ketemu si brengsek Prambudi belum sih?," Pak Doto kembali bertanya.
"Belum ada Tuan. Tidak ada info apapun untuk sementara ini," Wiryo menjawab cepat.
"Yasudah, . .," Ucap Pak Doto ketus. Kemudian kembali menatap wanita yang baru dia jemput tadi. Mengusap usap wajah muda nan cantik, sementara senyuman tersungging nakal di antara kumisnya yang rimbun dan memutih.
__ADS_1
Bersambung . . .