
"Ada apa sebenarnya Di?," Tarji akhirnya bertanya. Tak tahan dengan rasa penasaran di benaknya yang semakin membesar.
"Temanku dalam bahaya!," Jawab Mas Adi, sambil menginjak pedal gas mobil Tarji dalam dalam.
Tarji sedikit ketakutan dengan cara menyetir Mas Adi. Benar benar kesetanan, suara mobil meraung raung sangar. Padahal jalanan yang mereka lewati banyak lubang dan genangan genangan air, tapi Mas Adi tak peduli dan main hajar saja. Tarji merem melek membayangkan per shock mobilnya. Bunyinya terdengar menyakitkan.
Mobil melaju semakin cepat saat berada di jalanan yang lebih rata. Tarji tak berani komplain, cara menyetir Mas Adi benar benar seperti adu balap mobil dalam film holywood. Tarji mengumpat dalam hati, kesal, jengkel dan takut bercampur aduk.
"Di, nyebut Di!," Tarji akhirnya tak bisa menahan lagi rasa gusarnya. Dia takut celaka.
"Nggak ada waktu Ji. Kamu merem aja," Ucap Mas Adi, tak mempedulikan Tarji yang nyengir ketakutan.
"Merem mbah mu salto. Kalau kita kenapa kenapa, malah nggak ada yang menolong temenmu nanti," Tarji menggenggam erat seat belt nya.
Ckiitttttt
Mobil direm dengan sangat mendadak. Suara ban berderit memekakkan telinga, juga terlihat sedikit asap di bagian depan. Tarji terantuk cukup kencang, untunglah dia memakai seat belt dengan benar. Mobil berhenti sepenuhnya kali ini.
"Kamu marah Di?," Tanya Tarji masih gemetaran.
"Kita sudah sampai," Ucap Mas Adi, dia bergegas keluar dari mobil.
Tarji celingak celinguk, menperhatikan sekitar. Mobil berhenti di depan sebuah gang. Tarji baru sadar tempat ini adalah area lokalis*si dimana kasus wanita wanita hilang berasal. Untuk apa Mas Adi datang kemari?
Tarji turun dari mobil, kakinya masih lemas gemetaran. Sementara Mas Adi sudah tidak terlihat, berlari meninggalkannya sendirian. Tarji segera menyusul masuk ke dalam gang yang terlihat gemerlap lampu kelap kelip nan indah. Tarji sempat memperhatikan arlojinya. Sekarang sudah jam 7 malam rupanya.
Mas Adi berlari tak menghiraukan orang orang di warung kopi yang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Hanya ada Sinta di pikiran Mas Adi saat ini. Dia berlari sambil berdoa dalam hatinya, semoga Sinta tidak apa apa, semoga dia tidak terlambat.
__ADS_1
Mas Adi sampai di rumah Sinta. Rumah bercat hijau, dengan lampu depan yang dibiarkan mati. Terlihat pintu depan terbuka lebar, dengan pencahayaan ruang tamu yang temaram. Mas Adi menghambur masuk ke dalam rumah.
"Sintaa! Sintaa!," Mas Adi berteriak, berkeliling ruang tamu.
Sinta tak terlihat dimanapun. Mas Adi kalut, pikirannya kacau. Dia memeriksa kamar tidur, dapur, kamar mandi, bahkan halaman belakang. Namun, tidak ada tanda tanda Sinta disana. Mas Adi benar benar panik kali ini. Apalagi Mas Adi menemukan HP Sinta tergeletak begitu saja di atas sofa.
Mas Adi duduk, mengambil nafas perlahan, mencoba bersikap tenang. Dia tidak boleh panik dan gegabah, karena hal itu malah akan menghancurkan ketelitian dan instingnya. Jika demikian, maka dia akan melewatkan petunjuk petunjuk penting yang mungkin saja tertinggal.
Setelah sedikit tenang, Mas Adi baru menyadari, bahwa ruang tamu beraroma wangi yang tajam. Juga di pojok ruangan terdapat secuil kemenyan yang terbakar sebagian. Mas Adi memungut kemenyan tersebut, dan saat itulah Tarji datang mendekat dengan nafasnya yang ngos ngosan.
"Rumah siapa ini Di? Bau apa ini?," Tarji celingak celinguk. Dia masih mengatur nafas, kekelahan berlari menyusul Mas Adi.
"Kita salah Ji. Kita melakukan kesalahan besar brengsek!," Mas Adi memukul mukul lantai.
"Ada apa Di?," Tarji bertanya. Dia bingung, nggak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Lihat kemenyan ini Ji!," Mas Adi melotot, menyodorkan kemenyan yang ada di tangannya ke hadapan Tarji.
"Apa maksudmu?," Tarji masih tidak mengerti dengan perkataan Mas Adi.
"Rumah ini dihuni oleh temanku Ji. Dia tadi meneleponku, telponnya putus di tengah obrolan. Ada suara laki laki setelahnya. Dan lihatlah sekarang! Temanku hilang Ji, Sinta hilang! HP nya di atas sofa itu, juga ada kemenyan yang terbakar separuh, sialan!," Mas Adi mendorong pundak Tarji. Dia marah pada dirinya sendiri, pada keteledorannya.
Tarji diam saja kali ini. Dia tak menduga telah melakukan kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Dia teringat penjual kemenyan waktu itu mengatakan selain Pak Doto ada satu lagi orang yang telah membeli jenis kemenyan itu. Tapi waktu itu Tarji terlalu fokus pada Pak Doto.
"Ji, aku juga baru menyadari bagaimana cara pelaku memilih korbannya," Mas Adi berdiri di ambang pintu. Tatapannya terlihat kosong.
"Kamu ingat aku pernah cerita korban yang menghilang selalu wanita yang sedang datang bulan kan?," Mas Adi melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Iya, kenapa Di?," Tarji bertanya penasaran.
"Lihatlah rumah ini. Lampu terasnya tidak menyala," Mas Adi menunjuk bohlam di teras yang dibiarkan padam.
"Terus kenapa?," Tarji masih tidak mengerti.
"Rumah para wanita disini, selalu menyala terang dengan kerlap kerlip warna warni tiap malam. Itu dimaksudkan, mereka terbuka dan siap menerima 'tamu'. Sementara, lampu teras yang padam artinya mereka tidak bisa menerima 'tamu'. Mereka sedang datang bulan Ji," Mas Adi menatap tajam Tarji. Tarji manggut manggut mengerti.
"Sebentar Di. Kalau memang pelakunya bukan Pak Doto, kenapa semua wanita yang hilang selalu saja setelah berkencan dengan Pak Doto?," Tarji menggaruk garuk kepalanya.
"Ada dua kemungkinan Ji. Pertama itu hanya kebetulan saja, kedua pelaku pintar, memanfaatkan Pak Doto sebagai umpan untuk kita," Mas Adi memijat keningnya sendiri, dia tiba tiba saja teringat sesuatu.
"Kamu tahu rumah Prambudi kan?," Mas Adi menepuk bahu Tarji. Tarji mengangguk mantab. Sepertinya dua orang itu menemukan kesimpulan yang sama.
Belum sempat Mas Adi melangkah keluar rumah, sebuah telepon masuk. Telepon dari nomor yang tak dikenal.
"Haloo selamat malam," Mas Adi mengangkat telepon.
"Selamat malam. Benarkah ini pihak yang mencari orang hilang, yang disiarkan di radio Pesona FM?," terdengar suara seorang perempuan.
"Iya benar. Nama saya Adi. Anda mengetahui keberadaan orang hilang atas nama Leni?," Mas Adi bertanya penuh selidik.
"Bukan seperti itu. Mohon maaf ini mungkin kebetulan saja. Namun, saya nggak tenang. Di radio disebutkan ciri ciri orang yang hilang memakai cincin emas putih dengan lambang segitiga," Suara perempuan di telepon terdengar ragu ragu. Mas Adi mendengarkan dengan seksama.
"Kebetulan saya memakai cincin yang sama. Cincin ini pemberian dari suami saya beberapa waktu yang lalu. Mohon kiranya kita bisa bertemu untuk melihat dan memastikan cincin yang saya kenakan sekarang ini. Meskipun saya tidak yakin ini ada hubungannya, namun saya merasa harus menelepon anda," Ucap perempuan itu. Suaranya terdengar bergetar, meskipun sepertinya dia berusaha tenang namun cara bicaranya terasa sekali dia gusar.
"Baiklah. Mohon maaf, bolehkah saya tahu siapa nama suami Anda?," Mas Adi kembali bertanya setelah beberapa saat diam mendengarkan.
__ADS_1
"Prambudi . . .,"
Bersambung . . .