
Awal tahun 2000, udara terasa hangat, siang cukup terik. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun sedang menyapu di halaman sebuah panti asuhan. Bangunan panti yang lawas dan terkesan kumuh, bagian genteng terlihat bolong bolong dari luar. Tembok dengan cat dan semen terkelupas serta retak di beberapa bagian.
Namun, tempat yang sedemikian usang itu tetap menjadi tempat ternyaman untuk tiga orang bocah yang tinggal disana. Mereka tak punya apa apa dan tak punya siapa siapa. Sedari bayi mereka tinggal di panti asuhan tersebut. Dialah Retno yang paling tua dan berperan sebagai kakak perempuan, serta dua anak laki laki berusia sekitar sembilan tahun yang dipangil Prambudi dan Mas Adi.
Prambudi, bocah yang terlihat begitu tampan dengan kulit bersih meskipun sebenarnya tak terurus. Dia sedikit nakal dan bandel, juga begitu manja pada Mbak Retno. Sementara bocah satunya lagi bernama Adi. Kulitnya sedikit lebih gelap, cara bicaranya seperti orang dewasa, dan dia lebih suka dipanggil Mas Adi. Meskipun Prambudi dan Adi secara usia sebaya, namun Adi merasa dia adalah seorang kakak yang bisa diandalkan.
"Mbak Retno istirahat saja deh. Biar aku yang nyapu," Ujar Mas Adi pada Mbak Retno.
"Baiklah," Mbak Retno menghela nafas, kemudian menyerahkan sapu di tangannya pada Mas Adi. Mbak Retno tersenyum dan tak lupa mengusap usap rambut Mas Adi dengan sedikit kasar.
"Mbak Retno, aku lapaarr," Prambudi datang, memegangi perutnya. Wajahnya penuh keringat, mungkin bocah itu baru saja berlarian di jalanan.
"Iya, sebentar lagi Mbak masakin ya. Kamu darimana sih?," Mbak Retno mendekati Prambudi, terdengar nafas bocah laki laki itu ngos ngosan.
"Baru main bola mbak. Di SD depan terminal," Jawab Prambudi.
"Aku juga mau sekolah di SD seperti mereka mbak," Ucap Prambudi, matanya berkaca kaca. Nampak jelas gurat kesedihan dari ekspresinya.
"Kita kan udah sekolah di paket A. Itu juga sudah cukup. Yang penting kita bisa calistung Budi," Seloroh Mas Adi sambil menyapu.
"Sekolah di Paket A bareng mbah mbah, nggak enak Mas. Aku pengen kayak anak anak yang lain, jam istirahat bisa main bola, pake sragam. Kenapa kita nggak bisa kayak gitu?," Prambudi memprotes, dia nampak kesal.
Mbak Retno mengusap keringat di dahi Prambudi. Wajahnya sendu, Mbak Retno pun merasakan kesedihan yang sama seperti Prambudi. Namun, karena sudah lebih dewasa dia sadar bahwa keinginan seperti itu tidak bakal terwujud. Mereka bertiga adalah anak anak yang tak diharapkan. Tak mengenal orangtua dan keluarga. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan fasilitas yang sama dengan anak anak di luar sana? Yang berada dalam hangatnya dekapan keluarga.
__ADS_1
"Kita itu harus pandai bersyukur Budi. Dengan bersyukur hidup kita akan lebih menyenangkan. Dan bisa saja dengan hidup yang kita jalani sekarang suatu saat nanti kita bisa jadi orang yang sukses," Ucap Mbak Retno kalem. Suaranya begitu menenangkan.
"Memangnya cita cita Prambudi mau jadi apa kalau sudah gedhe nanti?," Mbak Retno tersenyum menatap wajah bocah laki laki itu. Matanya terlihat sedikit berwarna biru.
"Aku mau jadi pegawai kantoran. Pake dasi, bawa tas, punya istri cantik kayak Mbak Retno," jawab Prambudi dengan polos. Mbak Retno terkekeh mendengarnya.
"Kalau aku mau jadi polisi Mbak Retno. Menolong dan mengayomi orang orang," Mas Adi ikut ikutan menjawab. Wajahnya nampak begitu serius.
"Jangan ngimpi tinggi tinggi, nanti kalau jatuh rasane sakit. Wong kere macam kalian ujung ujungnya juga jadi beban masyarakat," Sebuah suara tiba tiba saja nimbrung di tengah obrolan.
Seorang perempuan tua berjalan terseok seok dari dalam bangunan panti, mungkin usianya hampir enam puluh tahun. Dialah pemilik panti, namanya Bu Ginah. Badannya gempal, rambutnya sudah memutih, memakai perhiasan berlebih yang kontras dengan tempat yang ditinggalinya saat ini.
Bu Ginah dulu merupakan sosok yang terasa lembut dan penyayang. Namun seiring berjalannya waktu, saat para donatur panti asuhan berhenti mengirimkan sumbangan, perempuan itu berubah sifatnya. Perangainya berubah kasar, suka marah marah tak jelas, bahkan seringkali main tangan.
"Retno, nanti sehabis maghrib kamu ke ruanganku ya. Ada yang mau aku bicarakan!," Ucap Bu Ginah dengan ketus. Tatapannya yang dulu terasa keibuan sekarang berubah menjadi bengis dan kejam. Mbak Retno segera mengangguk, menunduk karena takut.
"Aku mau ikut," Ucap Mas Adi dengan berani. Dia merasa perlu untuk ikut mendengarkan apa yang akan dibicarakan pengurus panti dengan Mbak Retno.
"Anak kecil nggak usah ikut campur!," Bu Ginah melotot. Mas Adi merasa ngeri sebenarnya, namun prinsipnya selama dia benar tak perlu merasa takut.
"Mbak Retno adalah kakak kami. Kita adalah keluarga, kalau ada yang mau dibicarakan seharusnya kita bicarakan bersama," Lagi lagi Mas Adi berani membantah, ucapannya seperti orang dewasa.
Plaakkkk
__ADS_1
Sebuah tamparan keras menghantam pipi Mas Adi dengan telak. Mas Adi yang tak menduga Bu Ginah akan menamparnya, jatuh terpelanting ke tanah. Pipinya terasa berdenyut sakit sekali. Ingin rasanya dia menangis, namun pantang baginya untuk terlihat lemah di hadapan Prambudi yang gemetar ketakutan.
"Anak setan!," Umpat Bu Ginah sambil berjalan pergi meninggalkan tiga bocah malang itu.
* * *
Saat maghrib tiba, Mas Adi menggigil di tempat tidurnya. Badannya panas, pipinya bengkak terasa sakit luar biasa. Prambudi menungguinya sambil menangis tersedu. Sementara Mbak Retno pergi menghadap Bu Ginah, pengurus panti.
"Kenapa nanges? Yang sakit aku kok kamu yang nanges," Mas Adi tersenyum menatap Prambudi.
"Aku takut Mas. Aku takut Mbak Retno dibawa pergi orang, diadopsi orang. Kita gimana Mas? Nggak ada yang ngurus lagi," Prambudi masih menangis.
"Tenang, aku yakin kok Mbak Retno nggak bakal ninggalin kita. Tapi memang rasanya aku perlu tahu apa yang mereka bicarakan sekarang," Mas Adi mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
"Jangan Mas. Biar aku saja," Prambudi mencegah Mas Adi bangun. Kemudian, Prambudi bangkit dari duduknya. Dia mengusap ingus di hidungnya. Dari sorot lampu yang remang remang, Mas Adi dapat melihat ekspresi Prambudi yang berusaha memberanikan diri.
"Kamu yakin?," Mas Adi bertanya, kepalanya terasa begitu pusing, mungkin efek suhu tubuhnya semakin tinggi.
Prambudi diam saja, dia langsung berjalan keluar kamar. Mas Adi tak bertanya lagi, juga tidak berusaha mencegah Prambudi. Badannya semakin terasa lemas, panas tubuhnya semakin tinggi, pipinya juga terasa sakit berdenyut. Dan akhirnya bocah sembilan tahun yang berperilaku layaknya orang dewasa itu terlelap, tertidur tak kuasa menahan rasa sakitnya.
Tertidur beberapa saat dan ketika terbangun, Mas Adi mendapati dirinya sudah berada digendongan seorang petugas kepolisian. Panti asuhan tempat tinggalnya dilalap si jago merah. Tubuhnya yang lemah tidak mampu berbuat apapun. Dia hanya bisa pasrah. Dia tak tahu dimana Mbak Retno, dan bagaimana keadaan Prambudi. Malam itu, Panti Asuhan yang bernama Rumah Tangguh Sejahtera (RTS) itu hangus terbakar tak bersisa.
Bersambung . . .
__ADS_1