
"Jadi, setelah itu kalian tidak pernah bertemu lagi?," Tarji bertanya antusias setelah mendengar kisah masa lalu Mas Adi.
"Ya begitulah. Setelah sekian lama, barulah hari ini aku bertemu dengan Prambudi lagi. Namun, sepertinya dia juga terpisah dengan Mbak Retno," Mas Adi menenggak es teh yang baru dihidangkan oleh pramusaji.
"Dan kelihatannya dia nggak senang bertemu denganmu," Tarji bergumam menimpali.
"Mungkin sekarang dia sudah menemukan kebahagian, jadi dia mau melupakan kejadian susah dan menyedihkan di masa lalu," Mas Adi menghela nafas, sorot matanya mengawang jauh.
"Tapi rasanya aku masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu?," Mas Adi memainkan sendok, mengaduk ngaduk es teh di gelasnya.
"Hei hei, setelah kebakaran itu kamu tinggal dimana?," Tarji menyela.
"Aku ditempatkan di sebuah panti sosial. Aku mendapat pendidikan, dan sekolah yang layak. Makan yang cukup, bergizi juga. Waktu itu hidupku terasa membaik. Namun, aku terus memikirkan dua saudaraku yang tak karuan dimana rimbanya. Salah satu hal yang semakin mendorongku untuk menjadi seorang polisi pun karena aku merasa dengan menjadi seorang polisi suatu saat nanti aku bisa mencari dan menemukan saudara saudara ku itu," Mas Adi terlihat bersedih, ekspresinya begitu sendu.
"Kamu sudah menemukannya Di. Hari ini kamu sudah bertemu dengan Prambudi. Terlepas dia suka atau tidak bertemu denganmu, yang penting dia sehat, punya kehidupan yang baik, kurasa itu sudah cukup," Tarji menepuk bahu Mas Adi.
"Kehidupan baik bagaimana, kalau tadi kita nggak datang dia hampir terbunuh," Mas Adi memprotes perkataan Tarji.
"Yah itu kan urusan rumah tangganya Di. Dia juga nggak bakalan suka kalau kamu ikut campur, apalagi meskipun kamu menganggapnya saudara nyatanya kalian sudah nggak bertemu belasan tahun lamanya. Mungkin benar apa yang dikatakannya Di, jangan hidup di masa lalu," Ucap Tarji menasehati. Mas Adi hanya diam saja kali ini.
"Sudahlah Dii. . .mungkin ini sebuah pertanda untukmu. Agar segera mencari pasangan, membentuk keluarga yang sebenarnya," Tarji memainkan kedua alisnya, menggoda Mas Adi.
"Halah, fokus dulu ke Pak Doto," Mas Adi bersungut sungut.
"Iya juga ya. Jelas sudah sekarang, Pak Doto pelanggan tetap toko sinar biru, juga selalu beli kemenyan jenis yang sama dengan yang kamu temukan di TKP," Tarji manggut manggut.
__ADS_1
"Tapi Ji, tadi si pemilik toko kan ngomong kalau ada orang lain yang akhir akhir ini sering memborong kemenyan itu," Mas Adi memijat mijat pelipisnya sendiri.
"Ya namanya juga kemenyan Di, banyak yang butuh. Kehidupan kita tidak bisa terlepas dari adat yang sudah mengakar dari dulu," Tarji menghela nafas. Dia sadar betul di daerah tempat tinggalnya memang masih kental dengan praktek perdukunan.
"Kamu hari ini jadi bijak banget Ji. Habis makan kemenyan?," Mas Adi meledek.
"Sialan!," Tarji bersungut sungut kesal.
"Tapi kita belum bisa melakukan tindakan apapun pada Pak Doto. Kita belum punya bukti Ji," Mas Adi menatap Tarji dengan serius kali ini.
"Kita lakukan pengintaian," Tarji memberikan usulan, Mas Adi manggut manggut.
Sementara itu, Prambudi berjalan gontai menyusuri trotoar. Tampak beberapa orang memperhatikannya. Bagaimana tidak, penampilan Prambudi seperti pasien rumah sakit yang kabur dari kamar perawatan. Bajunya penuh noda darah, perban juga terpasang di beberapa bagian tubuhnya.
Prambudi tak menduga Mas Adi masih hidup. Dia pikir dulu Mas Adi ikut terbakar bersama bangunan panti asuhan. Namun ternyata bocah laki laki yang selalu berlagak menjadi kakaknya itu masih ada, sehat, dan terlebih lagi menjadi seorang petugas kepolisian. Prambudi mendongak menatap langit yang terlihat biru bersih. Dia tersenyum, mencibir jalan hidupnya. Sungguh roda takdir berputar bagaikan mempermainkan Prambudi.
"Kenapa? Tak bolehkah aku bahagia," Prambudi bergumam lirih.
Prambudi tetap mendongak memandang langit selama beberapa saat lamanya. Sinar matahari sedikit terasa menyengat, luka di pipi dan matanya kembali terasa berdenyut. Rasa sakit yang kembali mengingatkan rasa bencinya pada Pak Doto, mertuanya.
"Tak ada waktu untuk meratap. Rawe rawe rantas malang malang putung," Prambudi mengepalkan tangan, kemudian mengayunkan kakinya dengan lebih kuat, dia mempercepat langkah.
Prambudi berjalan menuju pangkalan ojek. Tanpa mempedulikan ekspresi heran pengemudi ojek yang menatapnya, Prambudi segera memesan salah satu untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Prambudi memilih pengemudi ojek dengan motor 2 tak yang terlihat lebih bisa ngebut dibandingkan yang lain.
"Mas, mohon maaf nih. . .emm memangnya Mas habis jatoh darimana sih? Kenapa babak belur begitu?," Tanya pengemudi ojek penasaran.
__ADS_1
"Nggak usah banyak tanya Pak. Tolong lebih cepat lagi, saya harus buru buru pulang," jawab Prambudi jutek.
Mendengar penumpangnya yang enggan diajak berbicara, pengemudi ojek itu akhirnya hanya diam saja sepanjang perjalanan. Dia fokus menambah kecepatan namun tetap memperhatikan kenyamanan penumpangnya. Pengalamannya menghafal medan yang berlubang dan ketrampilannya menyetir motor layak mendapatkan acungan jempol.
"Sudah sampai," Ujar pengemudi ojek dengan senyuman yang penuh rasa bangga. Dia yakin penumpangnya terkesan dengan caranya mengemudi.
Prambudi menyodorkan selembar uang lima puluh ribu. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi.
"Kebanyakan Mas. Tiga puluh ribu aja, kalau ada uang pas. Soalnya nggak ada kembalian, dari pagi belum dapat penumpang," Ujar pengemudi ojek.
"Simpan kembaliannya," Ucap Prambudi sambil tetap menyodorkan uangnya.
"Ah, terimakasih Mas," Pengemudi ojek akhirnya menerima uang dari Prambudi. Rejeki penumpang pertama, begitu pikirnya.
Prambudi tak mempedulikan pengemudi ojek yang tersenyum sumringah menatapnya. Dia bergegas berjalan masuk ke rumah. Namun saat sampai di pintu depan, dia tertegun. Beberapa saat lamanya Prambudi diam mematung.
Pintu depan dalam keadaan tidak terkunci. Prambudi ingat betul, dia sudah menguncinya saat berangkat pagi tadi. Lalu, bagaimana bisa sekarang dalam keadaan tidak terkunci? Siapa yang masuk ke rumahnya? Maling? Atau Citra sudah pulang? Namun, kalaupun Citra sudah pulang dia tidak mungkin bisa masuk rumah karena dia tidak memiliki kunci. Satu satunya kunci rumah ada di tangan Prambudi.
Prambudi kemudian bergegas membuka sepatunya. Dia membuka pintunya perlahan dan menutupnya kembali. Dia melakukannya dengan sangat pelan. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dengan sedikit berjingkat Prambudi menyusuri ruang tamu, kemudian melongok ke dalam kamar. Tidak ada siapapun disana. Prambudi berjalan menuju ke dapur, juga nihil.. Pintu belakang dalam keadaan terkunci sempurna.
Prambudi sadar, tamu yang tak diundang itu ada di lantai atas. Dengan pelan dia berjalan menyusuri tangga, melongok dan mengintip kondisi di lantai atas. Begitu kagetnya Prambudi saat menemukan pintu kamar yang seharusnya terkunci rapat terbuka lebar, kamar yang tak pernah dia buka kecuali pada saat saat tertentu saja.
Dengan sedikit ragu dan ketakutan, Prambudi masuk ke dalam kamar. Dia menemukan tubuh seorang kakek tua jatuh tertelungkup di lantai. Ternyata Mbah Kadir sang pemilik rumah, terlihat tengkurap dengan mata tertutup. Terdengar nafasnya tersengal dan rintihan kesakitan dari kakek renta itu.
Bersambung . . .
__ADS_1