Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kemenyan


__ADS_3

Jam delapan malam. Mas Adi masih berada di depan layar komputernya. Dia tidak sedang mengetik, ataupun mengerjakan laporan dan semacamnya. Mas Adi sibuk memperhatikan benda kecil yang dia temukan di sudut ruangan kamar salah satu wanita penghibur yang hilang beberapa waktu lalu.


Sampai saat ini sudah ada 6 orang wanita yang hilang secara misterius. Dan Mas Adi belum menemukan sama sekali titik terang dari kasus ini. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, satu satunya barang bukti hanyalah sebuah benda yang berbau klenik seukuran jari tangan yang saat ini dipegangnya. Mas Adi nggak mungkin menunjukkan benda ini pada rekan kerjanya yang lain, bisa jadi bahan guyonan nantinya.


Mas Adi mulai merasa kalau kasus hilangnya wanita wanita penghibur di wilayah kerjanya ini mungkin berhubungan dengan hal hal yang bersifat mistis. Namun, Mas Adi sudah bertekad untuk menyelesaikan kasus yang ditanganinya ini hingga ke akar akarnya. Setiap orang punya hak yang sama untuk hidup di dunia, tidak ada satupun orang yang boleh merenggut hak tersebut, apapun alasannya.


"Dii, nggak pulang?," Salah satu teman yang jaga malam bertanya pada Mas Adi. Mas Adi tak menyahut, dia enggan memulai percakapan, pikiran Mas Adi masih berada dalam lamunan.


"Dii, itu yang kamu pegang bukannya kemenyan ya?," Sebuah pertanyaan yang membuat Mas Adi tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya," Buru buru Mas Adi menjawab, menggenggam kemenyan yang sedari tadi dilihatnya.


"Udah lama datang, Ji?," Mas Adi bertanya pada Tarji, rekan kerjanya yang hari ini memang sedang bertugas jaga malam.


"Owala Di Dii. . .ngalamun to ternyata," Tarji geleng geleng kepala.


"Ngomong ngomong, ngapain kamu bawa bawa kemenyan?," Tarji bertanya penuh selidik.


"Nemu tadi," Jawab Mas Adi pendek.


"Coba lihat," Tarji langsung merebut kemenyan di tangan Mas Adi. Memperhatikannya dengan seksama seakan mengetahui sesuatu.


"Apaan sih? Memangnya kamu ngerti?," Mas Adi mencibir Tarji.


"Waahh kamu belum tahu aja. Aku tuh punya Pak Dhe seorang dukun. Kemenyan tuh banyak banget di rumahnya. Kadang aku suka bingung kalau pas ke tempat Pak Dhe, dia itu sebenarnya dukun apa kolektor kemenyan," Tarji terkekeh sambil bercerita.


"Teruuussss?," Mas Adi menatap Tarji.


"Terus, setahuku ini kemenyan kualitasnya bagus," Tarji bergumam.


"Hah? Jangan becanda. Memangnya kemenyan ada jenis jenisnya gitu?," Mas Adi kembali mencibir, tidak percaya dengan omongan Tarji.


"Serius deh. Kemenyan tuh ada yang bening, ada yang warnanya kekuningan. Ini kekuningan, agak susah nyari yang kayak gini," Ucap Tarji, dia terlihat serius.

__ADS_1


"Oh ya?," Mas Adi masih ragu dengan rekannya itu.


"Beneran deh. Setahuku ya, toko yang menjual kemenyan jenis ini hanya ada satu di wilayah kabupaten sini," Tarji menatap Mas Adi, meyakinkan.


"Hah? Dimana itu?," Mas Adi kali ini bertanya antusias.


"Pengen tahu aja apa pengen tahu petis?," Tarji bertanya mempermainkan Mas Adi.


"Serius lah," Mas Adi bersungut sungut.


"Lha tadi kamu nggak percaya, sekarang tanya tanyaaa," Tarji masih terus mempermainkan Mas Adi yang sudah sangat penasaran.


"Memangnya kalau tahu tempat yang jual kemenyan ini kamu mau apa Di?," Tarji bertanya, mengangkat kedua alisnya. Wajahnya yang menyebalkan membuat Mas Adi mendengus kesal.


"Kemenyan ini aku temukan di kamar wanita yang hilang beberapa waktu yang lalu," Mas Adi menghela nafas. Akhirnya dia menceritakan hal itu pada Tarji.


"Kasus yang sedang kita tangani? Enam wanita penghibur yang hilang itu kan?," Tarji bertanya antusias.


"Iyaa, makanya aku penasaran banget. Jangan jangan kemenyan ini ada hubungannya," Mas Adi masih ragu ragu bercerita, khawatir ditertawakan oleh Tarji.


"Itu, setahuku. . .kemenyan jenis ini hanya dijual di toko Sinar Biru di kecamatan K," Ucap Tarji setengah berbisik.


"Kecamatan K ya," Mas Adi manggut manggut.


"Beberapa tahun yang lalu saat kita belum bertugas, disana juga pernah ada kasus wanita hilang kan," Tarji mengingat ingat. Dahinya yang berkerut semakin mengkerut ketika dia berpikir serius.


"Ya, aku juga pernah dengar. Wanita yang hilang dipagi hari kan?," Mas Adi menimpali. Tarji mengangguk mengiyakan.


"Kasus ditutup karena tidak ada petunjuk apapun. Tapi waktu itu banyak desas desus yang menuduh si suami yang melenyapkannya. Nggak ada bukti sama sekali, sama seperti kasus yang sedang kita tangani saat ini. Aku nggak mau sampai kasus ini juga tidak ada ujung akhirnya. Karena saat ini bukan cuma satu orang yang hilang, namun sudah enam orang. Itu gila," Mas Adi mengepalkan tangannya geram.


"Tapi serem juga Di kalau ada kemenyan kemenyan macam itu," Tarji mengusap tengkuknya yang mulai terasa dingin.


"Kita punya Tuhan. Kamu jangan jadi pengecut Tarji. Ini sudah tugas kita, amanah untuk kita," Mas Adi melotot, Tarji menelan ludah.

__ADS_1


Drrttt Drrttt Drrtttt


HP Mas Adi bergetar, sebuah telepon masuk membuyarkan perdebatan Mas Adi dan Tarji. Nama Sinta tertulis disana. Sinta, salah satu wanita penghibur kenalan Mas Adi. Yang terakhir kali telah memberi Mas Adi petunjuk tentang Kemenyan yang sekarang berada di tangannya itu.


"Wiihh, cewek tuh yang telepon," Tarji menaikkan alisnya menggoda Mas Adi.


"Diam kau, bocah tua nakal," Mas Adi menahan tawa, dia sedikit malu digoda oleh Tarji seperti itu.


"Hallo, selamat malam," Mas Adi mengangkat teleponnya.


"Selamat malam. Mohon maaf Mas mengganggu waktu anda," suara Sinta terdengar kalem dan merdu.


"Iya nggak pa pa Mbak. Ada yang bisa saya bantu?," Mas Adi berjalan menjauh meninggalkan Tarji yang senyum senyum sendiri nggak jelas.


"Emm, ada yang mau saya bicarakan dengan Mas Adi. Mas ada waktu? Bisa kesini?," Sinta bertanya, terdengar ragu ragu.


"Soal apa Mbak?," Mas Adi menggaruk garuk kepalanya. Hari ini badannya terasa pegal pegal, ingin sekali pulang dan segera tidur. Mas Adi sedang tidak ingin nongkrong di lok*lis*si untuk melakukan pengintaian malam ini.


"Ini tentang Vira Mas. Teman saya yang hilang beberapa waktu yang lalu," Sinta setengah berbisik di telepon.


"Baiklah, saya segera kesana kalau begitu," Mas Adi segera menyanggupi permintaan Sinta. Mas Adi memang sangat lelah, namun informasi atau petunjuk sekecil apapun yang bisa dia dapatkan saat ini tidak boleh disia siakan.


"Lhah, kemana?," Tarji bertanya heran melihat Mas Adi bergegas menyambar jaketnya.


"Mau ikut?," Mas Adi bertanya setengah mengejek.


"Aku kan tugas jaga Diii. Lagian kayaknya dari mimik wajahmu. . .emm kamu mau kencan nih," Tarji terkekeh.


"Iya dongg, memangnya kamu. Bujang lapuk," Mas Adi membalas olok olok Tarji.


"Kurang ajar . . . ha ha ha," Tarji tertawa lebar.


Mas Adi setengah berlari menuju tempat parkir. Sedikit terburu buru dia menghidupkan motornya dan segera tancap gas menuju tempat Sinta. Perlahan lahan petunjuk muncul di kasus yang sedang ditanganinya itu. Mas Adi berharap secepatnya bisa menolong korban korban yang sampai saat ini belum jelas keberadaannya.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2