
Sudah jam setengah 7 pagi, namun Rohmat masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Sejak tadi malam moodnya buruk, ada perasaan jengkel dan amarah yang tertahan di hatinya. Ya, Rohmat kesal dan geram pada Prambudi, orang yang menempati rumah tepat di ujung pertigaan itu.
Laki laki tegap dan rupawan itu seakan telah merendahkan harga diri Rohmat. Menghina Rohmat, mengatakan bahwa dia jijik melihat Rohmat yang memandangi istrinya. Rohmat merasa sudah cukup jika orang lain mengolok oloknya, namun Prambudi tidak memiliki hak untuk menghinanya. Dia merasa iri dan sakit hati pada kehidupan Prambudi.
Bagi Rohmat, Prambudi memiliki kehidupan yang enak dan nyaris sempurna. Kehidupan yang begitu dia cita citakan. Wajah tampan rupawan, istri cantik mempesona, pekerjaan yang juga mapan. Rohmat merasa orang yang seberuntung Prambudi tak punya hak untuk mengolok olok orang seperti dirinya. Rohmat yang selalu sendirian, kesepian, juga harus banting tulang dengan penghasilan yang tak pasti.
"Haaahh, pancen as*!," Rohmat kembali mengumpat. Dia meraih gelas dan teko berisi air putih di atas meja. Dia minum dengan tergesa gesa.
Rohmat melewatkan jam kerjanya hari ini. Karena hatinya yang sedang uring uring an dia tidak berangkat berjualan sayur. Yang ada di otaknya sekarang adalah bagaimana cara membalaskan sakit hatinya.
Rohmat berdiri dari duduknya. Dia tiba tiba saja seperti mendapatkan sebuah ide. Rohmat berjalan mondar mandir sebentar sambil menggigiti kuku jari tangannya. Hingga akhirnya dia mengambil HP yang tergeletak di atas meja dan menyambar jaket yang ada di gantungan baju.
Rohmat bertekad, hari ini dia akan mengintai Prambudi. Dia ingin tahu seluk beluk dari suami Citra, bahkan dia ingin mencari tahu keburukan dan kelemahan orang yang telah menghinanya itu. Rasa sakit hatinya begitu besar, mungkin akibat dari rasa ndongkol yang menumpuk selama ini. Memang, hampir semua orang mengolok oloknya yang belum juga memiliki pasangan.
Rasa sakit hati yang sedikit terobati saat bertemu Citra yang memberinya senyum di pagi hari. Wanita cantik, ramah juga baik padanya. Rohmat menjadi terobsesi dan mendambakan Citra. Namun sayang, nyatanya suami Citra menghancurkan kebahagiaannya yang hanya secuil itu.
Rohmat menghidupkan motor dan segera menarik gasnya dengan kasar. Bersama sinar matahari yang mulai jatuh menerangi dunia, Rohmat menggeber motornya di jalanan menuju rumah Prambudi. Sepanjang jalan dia selalu terngiang dengan kata kata Prambudi.
Berhenti memandangi istriku dengan tatapanmu yang menjijikkan!
Bagaikan bara api yang tersiram minyak, amarah Rohmat semakin meluap luap di hatinya. Obsesi, rasa suka yang berlebihan, berubah menjadi benci dan dendam. Rohmat semakin mempercepat laju motornya.
Ketika sudah semakin dekat dengan rumah Prambudi, Rohmat mengurangi kecepatan motornya. Di kejauhan nampak Prambudi sudah naik betor untuk berangkat kerja. Juga ada seorang kakek tua berjalan meninggalkan halaman rumah Prambudi.
__ADS_1
Rohmat memarkir motornya di pinggir jalan, agak jauh dari pertigaan. Dia berjalan sambil mengawasi keadaan sekitar. Sepeninggal Prambudi dan kakek tua tadi, area tempat tinggal Prambudi benar benar sepi. Ada sedikit rasa takut di hati Rohmat, teringat sosok perempuan yang memakan daging ayam mentah beberapa waktu lalu. Namun, amarahnya sudah mendidih, dia memberanikan diri berjalan memasuki halaman Rumah Tusuk Sate itu.
Sepi dan sunyi, itu kesan yang Rohmat dapati. Kemana Mbak Citra? Sudah beberapa hari dia tak pernah lagi belanja padanya. Rohmat sedikit berjingkat menuju ke pintu depan. Dengan pelan dia mencoba membuka pintu, namun tak bisa. Pintu dalam keadaan terrkunci. Rohmat mengintip lewat kaca jendela, sunyi tak ada siapapun. Di dalam rumah nampak gelap gulita.
Rohmat menduga Citra sedang tidak ada di rumah. Tapi kemana? Mungkinkah keluarga Prambudi dan Citra sedang bermasalah? Rohmat termenung sejenak. Kemudian Rohmat berjalan mengitari samping rumah. Dia terus berjalan hingga ke bagian belakang rumah. Rohmat mendongak, terlihat balkon di bagian atas, di lantai dua. Rohmat tidak menemukan apapun kali ini, hanya kesunyian.
Rohmat hendak kembali ke depan saat dia tanpa sengaja melihat sebuah pecahan genteng tergeletak di pojokan. Pecahan genteng dengan sesuatu yang terbakar di atasnya dan sebuah cangkul penuh lumpur tergeletak disana. Rohmat berjalan mendekat, semakin dekat semakin tercium aroma harum sesuatu yang terbakar.
Rohmat akhirnya dapat melihat dengan jelas, beberapa arang dengan kemenyan diletakkan di atas pecahan genteng. Asap tipis nan wangi menyeruak di udara. Sementara cangkul di sebelahnya terlihat penuh tanah dan lumpur, seperti baru digunakan untuk menggali sesuatu.
Rohmat memegangi tengkuknya, entah kenapa tiba tiba saja dia merinding. Aroma kemenyan membuat perasaannya tidak enak. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh keluarga ini? Amarahnya yang sedari tadi menggebu gebu kini mulai mereda. Berganti dengan rasa penasaran berbalut ketakutan.
Rohmat tak mau berlama lama lagi di tempat itu, dia segera berlari ke halaman depan, kemudian kembali ke tempat motornya terparkir tadi. Badan yang tambun membuatnya ngos ngosan meskipun hanya berlari tak lebih dari seratus meter saja.
Rohmat perlu mengisi perutnya. Dia berniat kembali ke rumah tusuk sate itu saat Prambudi sudah pulang nanti. Dia harus tahu apa yang dilakukan suami Citra itu dengan arang dan kemenyan yang telah ditemukannya tadi.
* * *
Jam setengah lima sore. Rohmat sedari tadi tiduran di pangkalan ojek, bermain kartu, catur ataupun sekedar ngobrol dengan tukang ojek untuk mengusir kebosanan. Dan Rohmat merasa ini saatnya dia kembali mengintai rumah Prambudi.
Setelah berpamitan dengan kawan kawannya di pangkalan ojek, Rohmat meluncur kembali ke rumah Prambudi. Dia memarkirkan motornya di tempat yang sama, seperti pagi tadi. Pintu depan sudah terbuka, artinya yang punya rumah sudah pulang. Entah itu Citra ataupun Prambudi.
Rohmat kali ini tidak mendekat, dia menatap rumah itu dari kejauhan. Seperti orang dungu yang tak tahu apa yang dilakukannya, Rohmat merasa bosan. Setengah jam berlalu, tidak ada apapun yang dia dapatkan. Lampu rumah sudah dinyalakan namun masih sepi, seakan tak ada aktivitas apapun di dalamnya.
__ADS_1
Rohmat semakin merasa bosan. Prambudi tidak kemana mana, hanya di rumahnya saja. Terus apa gunanya Rohmat mengintainya dari pagi? Hanya menemukan arang dan kemenyan. Rohmat menguap, menimbang nimbang untuk kembali mendekat ke rumah itu. Namun bagaimana jika ketahuan?
Rohmat terlalu lama termenung. Ketika terdengar suara adzan maghrib berkumandang pada saat itulah terlihat sebuah mobil sedan memasuki halaman rumah Prambudi. Samar samar terlihat seorang perempuan cantik turun dari mobil. Rohmat meyakini perempuan itu bukan Citra.
"Oohh, akhirnya ketahuan busukmu," Rohmat bergumam girang.
Perempuan itu masuk ke dalam rumah. Rohmat menimbang nimbang haruskah mendekat atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk mengintip. Rohmat berjalan berjingkat, langit mulai menghitam dan gelap. Rohmat memfoto mobil dan plat nomor yang dikendarai wanita tadi. Dia berencana menunjukkan fotonya nanti pada Citra jika sudah bertemu. Dia ingin membalas kata kata Prambudi yang menyakiti hatinya.
Rohmat kembali mengendap endap, mengintip ruang tamu dari celah pintu yang tidak tertutup. Rohmat mengumpat dalam hati melihat apa yang terjadi di dalam rumah. Dilihatnya Prambudi berc*mbu dengan tamu wanitanya itu. Wanita itu juga terlihat menanggalkan pakaiannya, Rohmat mengamati apa yang terjadi sambil menahan nafas. Jantungnya berdetak lebih cepat, n*fsunya pun timbul mengintip adegan pergumulan Prambudi.
Braakkkk
Prambudi terlihat menghantam tamu wanitanya dengan vas bunga hingga pingsan. Rohmat terbelalak kaget. Dia menutup mulutnya, namun matanya masih fokus mengawasi. Nampak Prambudi menyeret tamunya yang pingsan dalam keadaan setengah telanj*ng.
Rohmat tidak sempat memfotonya. Apa yang harus dilakukan sekarang? Rohmat mengambil keputusan ceroboh. Dengan mengendap endap dia masuk ke dalam rumah. Dia berusaha membuntuti kemana Prambudi membawa wanita pingsan itu. Rohmat menajamkan pendengarannya, terdengar langkah kaki menaiki tangga. Rohmat mengambil jarak, dengan berhati hati Rohmat ikut menaiki tangga. Dia berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Lantai atas gelap gulita, tak ada lampu yang menyala. Sementara sore sudah berganti dengan malam. Rohmat berdiam sesaat. Setelah terbiasa melihat dalam kegelapan, Rohmat kembali berjalan berjingkat. Ada aroma wangi kemenyan yang kembali tercium. Rohmat kembali merasakan dingin di tengkuknya. Ada sebagian dari hatinya yang mengajaknya untuk segera pergi, berlari dari tempat itu. Namun, Rohmat mengacuhkan perasaannya itu.
"Apa yang kamu lakukan kunyuk?," Sebuah suara menghardik Rohmat dari belakang.
Rohmat terdiam, bibirnya kelu. Dia ketahuan. Detik berikutnya, sepasang lengan kekar menghimpit leher Rohmat. Rohmat tercekik, nafasnya tersengal. Dia hendak melawan tapi secara postur dan kekuatan Rohmat kalah jauh. Hendak berteriak pun tak mampu, pita suaranya serasa pecah. Rohmat akhirnya mulai merasa pusing dan badannya mengejang. Dan saat kesadarannya di ambang batas, Rohmat seperti ditunjukkan kilas balik hidupnya. Dia begitu menyesal dengan kecerobohannya hari ini.
"Acckkk ackkk ackk," Rohmat melotot kehabisan nafas.
__ADS_1
Bersambung . . .