Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Menuju babak akhir


__ADS_3

Citra menghubungi nomor telepon yang sudah dia dapatkan dari pengumuman di radio. Sang pemilik nomor ternyata adalah seorang petugas kepolisian. Dia menghendaki bertemu di rumah yang saat ini ditinggali Prambudi.


Citra semakin gusar, banyak pertanyaan menyelimuti benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin orang yang dia telepon ternyata adalah seorang petugas kepolisian? Apalagi ternyata dia sudah tahu rumah kontrakan Prambudi dan mengajak Citra bertemu disana.


"Mas Pram, apa yang sudah kamu lakukan?," Citra bergumam lirih, dia seperti hendak menangis. Hatinya gundah, orang yang sangat dia cintai berada dalam masalah.


Citra beranjak mengambil baju ganti untuknya dan sebuah jaket untuk Amanda. Sedikit tergesa gesa, dia berganti baju. Setelan kaos panjang dan blazer warna hitam dengan rok yang juga berwarna gelap. Entah kenapa kali ini hatinya ingin memakai busana yang terkesan kelam.


Citra menenteng tas slempang kecil, berisi HP dan dompetnya. Kemudian dengan sedikit berlari dia menuruni anak tangga mencari cari putrinya.


"Manda, Manda sayang," Citra memanggil manggil Amanda.


"Iya Maahh," Amanda berlari lari kecil menghambur ke arah Mamahnya.


"Pakai ini nak," tanpa berlama lama Citra langsung memakaikan jaket pada Amanda.


"Kita mau kemana Mah?," Amanda bertanya dengan wajah polosnya.


"Mau ke tempat Yayah, oke?," Citra tersenyum sambil membelai lembut rambut putrinya yang hitam dan lebat.


"Yeee, asyiikkk. Manda kangen Yayah," Amanda melompat kegirangan. Ya, gadis kecil itu rindu dengan Ayahnya. Sudah lama rasanya Amanda tidak melihat senyum ayahnya yang selalu terlihat sabar dan menyenangkan.


"Mau kemana kalian?," Tiba tiba saja Bu Doto datang, bertanya dengan nada suaranya yang terdengar tinggi.


"Mau ke tempat Mas Pram Bun," Jawab Citra lugas.


"Malam malam gini? Lihatlah di luar, saat ini sedang hujan Cit," Nyonya Doto berusaha menghalang halangi niat Citra.

__ADS_1


"Cuma gerimis Bun. Lagipula aku tadi sudah pesan taxi," Citra menggandeng tangan Amanda, tekadnya sudah bulat.


"Ngapain sih? Besok pagi saja bisa kan?," Nyonya Doto melotot mencegah kepergian putri dan cucu kesayangannya itu.


"Nggak Bun. Aku mau ketemu sama Mas Pram. Bunda nggak berhak melarang," Ucap Citra sambil berjalan pergi.


Citra terus berjalan keluar rumah memggandeng Amanda. Sebuah mobil taxi terlihat sudah menunggu di luar pagar. Sementara Nyonya Doto mengambil HP di sakunya, kemudian menelepon salah satu anak buah suaminya.


"Hei. Kalian sedang berjaga di sekitar rumah sini kan? Aku minta salah satu mengikuti mobil taxi yang baru saja keluar!" Nyonya Doto memberi perintah.


Nyonya Doto berbalik badan, hendak menuju kamarnya saat telepon rumah berdering nyaring.


"Hallo selamat malam," Nyonya Doto mengangkat telepon. Kali ini suaranya terdengar lembut tanpa membentak.


"Selamat malam bu, bisa bicara dengan Nyonya Doto?," Suara seseorang dalam telepon terdengar lirih kalah oleh suara guyuran air hujan.


"Mohon maaf Ibu. Kami dari kepolisian ingin memberikan informasi bahwa mobil suami Ibu mengalami kecelakaan di daerah perbukitan desa N," Suara lirih namun terdengar jelas di telinga Nyonya Doto.


Detik berikutnya Nyonya Doto hanya bisa diam terpaku mendengarkan penjelasan dari kepolisian. Selesai menerima telepon Nyonya Doto duduk di sofa, hanya diam saja memandangi foto keluarga yang terpasang di dinding di hadapannya.


"Bi Iraahhh," Nyonya Doto berteriak melengking. Bi Irah berlari tergopoh gopoh.


"Cubit saya!," Perintah Nyonya Doto. Bi Irah bengong, dia bingung menanggapi maksud ucapan majikannya itu.


"Cubit lengan saya Bi! Cepat!," Nyonya Doto membentak. Bi Irah sedikit ragu akhirnya melayangkan cubitan di lengan Nyonya Doto.


"Sakit. Berarti tidak mimpi," Ucap Nyonya Doto sambil melamun.

__ADS_1


"Kamu tahu Bi, Bapak dan Wiryo kecelakaan. Mereka berdua tewas. Tapi anehnya air mataku nggak mau keluar, aku nggak merasa sedih. Padahal, banyak orang bilang kehilangan suami itu menyakitkan, tapi kenapa bagiku terasa biasa saja," Nyonya Doto bergumam sendiri.


Mendengar hal itu, Bi Irah menjatuhkan pant*tnya di lantai. Dia duduk bersimpuh menahan tangis. Sang sopir Wiryo, orang yang dikasihinya telah tewas kecelakaan? Ada rasa sesak dan kehilangan menjalar di hati Bi Irah. Sangat berbeda dengan kondisi Nyonya Doto yang terlihat tenang. Dua wanita yang sama sama kehilangan lelakinya di waktu yang sama, namun memiliki reaksi yang berbeda.


"Apa yang membuatmu begitu sedih Irah? Kau menangisi Wiryo? Atau kau kasihan padaku karena aku tak bisa menangis meski kehilangan seorang suami?," Nyonya Doto berjalan menuju kamarnya sambil menelepon.


Melalui sambungan telepon, Nyonya Doto memanggil anak buahnya yang tersisa untuk mengantarkan dirinya menyusul Citra dan Amanda.


"Aku nggak masalah kehilanganmu Doto. Tapi aku tidak akan bisa hidup tenang jika ditinggalkan anak dan cucuku sendirian di rumah ini!," Nyonya Doto bergumam sendiri.


Sementara itu, taxi yang dinaiki Citra dan Amanda telah keluar dari kompleks perumahan menuju jalan raya. Tanpa Citra sadari ada dua mobil yang membuntutinya. Pertama adalah mobil anak buah orang tuanya. Dan satu lagi mobil yang dikendarai oleh Andre.


Andre yang sempat diusir oleh Citra, masih belum menyerah untuk mendapatkan pengakuan bahwa Amanda merupakan darah dagingnya. Dia tidak ingin merusak hubungan Citra dan suaminya, namun setidaknya dia diperbolehkan untuk melihat dan bertemu Amanda. Dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Saat dulu usianya belum matang, dia lari dari tanggung jawab. Namun kini dia telah sadar, dia ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Sebenarnya hari ini Andre ingin bertemu Linda. Dia ingin curhat dan meminta pendapat padanya. Karena bagi Andre, hanya Linda kerabat sekaligus sahabat yang bisa mengerti tentang dirinya. Namun Linda sama sekali tidak bisa dihubungi. Bahkan tersiar kabar mobil Linda tercebur di rawa rawa kabupaten sebelah. Akhirnya, dari tadi siang Andre hanya berdiam di dalam mobil mengamati rumah Citra dari kejauhan.


Saat Andre hendak pulang, saat itulah dia melihat Citra dan putrinya masuk ke dalam taxi. Dan akhirnya disinilah Andre sekarang, membuntuti Citra diam diam.


"Maafkan aku Cit. Aku sebenarnya nggak mau menjadi penguntit seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku ingin melihat wajah anakku," Andre bergumam sendiri. Wajahnya nampak sayu. Ada gurat kesedihan terpancar dari sana.


Taxi yang dinaiki Citra berbelok masuk di jalan kecamatan yang terlihat begitu banyak lubang dengan genangan air berwarna coklat nan keruh di dalamnya. Taxi bergerak perlahan, memilih jalan yang pada dasarnya nggak ada yang bisa dipilih. Begitu jelas perbedaan jalan poros kota dengan kecamatan. Beberapa kali taxi terantuk karena lobang di jalanan ternyata cukup dalam.


Taxi terus melaju, hingga mencapai jalanan yang terbuat dari semen. Kemudian berhenti agak jauh dari rumah di ujung pertigaan, rumah kontrakan Prambudi. Sebuah mobil terparkir di hadapan Citra, dengan dua orang laki laki yang berdiri di depannya. Dua orang itu adalah sang petugas kepolisian, Mas Adi dan Tarji.


Jam setengah 8 malam, semakin banyak orang yang berkumpul di sekeliling Rumah Tusuk Sate. Pion telah lengkap, bersama dengan rintik hujan, panggung permainan takdir malam ini akan bergerak menuju babak akhir.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2