Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Jangan pergi!


__ADS_3

Gincu merah merekah dia usapkan ke bibirnya yang tipis. Beberapa kali dia juga menyemprotkan parfum di bagian pergelangan tangan, dan tengkuknya. Aroma harum dan segar semerbak tercium di udara. Linda menatap cermin, dia tersenyum puas.


Linda kali ini mengenakan sebuah kaos berwarna putih dengan rok jeans pendek yang semakin menonjolkan bentuk pinggulnya yang ramping. Dia juga mengenakan kalung dan gelang emas yang indah nan cocok di kulit mulusnya.


Linda terbayang kembali dengan sosok Prambudi. Saat pertama kali mereka berjumpa, tak ada kesan khusus waktu itu. Prambudi memang tampan, tapi bukan itu yang membuatnya begitu menarik. Beberapa kali setelah bertemu, mengobrol dengan laki laki itu, barulah terasa bahwa dia berbeda dengan kebanyakan laki laki yang pernah berhubungan dengannya.


Prambudi terasa begitu menjaga pandangannya. Seolah dia takut menatap wanita lain selain istrinya. Hal itulah yang membuat Linda begitu tertarik. Awalnya Linda berpikir mungkin saja itu sebuah rasa penasaran semata. Nyatanya, semakin mendapat penolakan dari Prambudi, semakin berdebar pula jantung hatinya.


Linda sudah sangat berpengalaman dengan laki laki. Dia pernah berhubungan dengan hampir semua tipe laki laki. Dari yang berondong, penurut, anak orang tajir melintir, hingga laki laki yang gemar berpesta dan berfoya foya. Bagi Linda mereka semua sama. Sorot mata yang hanya melihat body dan materi, bukan memakai hati.


Namun Prambudi begitu berbeda. Matanya yang sedikit berwarna biru, pandangannya yang sering terlihat sendu, benar benar membuat Linda tergila gila. Badannya yang atletis menjadi nilai tambah juga untuknya. Linda merasa kalau kali ini berhasil mendapatkan Prambudi, dia tidak akan melepasnya, dia takkan merasa bosan, tidak seperti hubungan yang sebelum sebelumnya.


Linda selesai merias diri, sekali lagi manatap pantulan wajahnya di cermin. Riasan yang pas dan tidak berlebihan, dia terlihat segar dan manis. Linda membuka laci meja riasnya. Dia mengambil dua bungkus k*ndom yang memang sudah dia siapkan. Dia memasukkannya ke dalam tas slempang kecil berwarna abu abu. Linda begitu yakin dan percaya diri, kali ini Prambudi akan jatuh di pelukannya.


Linda bergegas ke luar rumah, mengunci pintu sambil sekali lagi menatap bayangan dirinya di depan kaca jendela. Sambil menenteng tas kerja Prambudi, Linda masuk ke mobil, memakai sabuk pengaman dan segera menyalakan mobilnya.


Saat mobil keluar dari halaman rumah, tiba tiba saja ada sosok wanita yang seperti hendak menyeberang jalan, namun berhenti tepat di depan mobil Linda. Linda yang kaget, buru buru menginjak rem, sehingga terantuk, dahinya membentur kemudi dengan cukup keras.


"Brengsek!," Linda mengumpat, dia membuka kaca pintu mobilnya.

__ADS_1


"Hei, jal*ng! Minggir!," Linda berteriak, kesal dan marah.


Sosok wanita di depan mobil Linda itu tetap saja diam. Linda memperhatikan dengan seksama sosok itu. Rambutnya panjang sebahu, agak semrawut, memakai semacam piyama polos berwarna gelap dan tidak memakai alas kaki.


Tin Tin Tin Tin


Linda memencet klakson mobilnya secara kasar. Amarah Linda sudah memuncak. Wanita yang berdiri di depan mobilnya itu tetap diam tak bergerak. Sosok itu tetap berdiri menunduk mengacuhkan Linda.


"Dasar gila!," Linda kembali berteriak, kali ini dia menarik rem tangan mobilnya kemudian melangkah turun dari mobil. Dia sudah tak peduli lagi, apakah sosok wanita itu orang gila atau bukan dia hendak menyeretnya untuk minggir.


Saat jarak Linda dengan sosok wanita itu semakin dekat, entah bagaimana Linda merasakan hawa dingin seakan berhembus di tengkuknya. Linda sedikit begidik, namun mengacuhkan alarm peringatan alami dari tubuhnya sendiri. Rasa amarahnya lebih besar dibanding insting dan rasa takutnya.


Linda tertegun, kali ini dia yang terdiam mematung. Amarahnya menghilang, berganti dengan rasa ngeri. Hawa dingin semakin mencengkeram kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis. Namun anehnya, keringat terasa mulai menetes di pelipisnya. Linda menelan ludah, ada rasa sakit di tenggorokannya. Bukan wanita gila yang ada di hadapannya, melainkan sosok lain yang membuat seluruh bulu halus di pergelangan tangannya berdiri.


"Ja- ngan per- gi. Te- tap di rumah," Sosok wanitu itu bersuara. Bibirnya terlihat biru pucat. Suaranya terdengar parau dan terbata bata.


Setelah berucap demikian, sosok itu berjalan perlahan melewati Linda yang terdiam. Saat sosok itu berada sejajar dengan Linda, tercium aroma wangi bunga. Wangi yang benar benar tajam menusuk indera penciuman.


Detik berikutnya Linda seakan tersengat sesuatu, dia terhenyak dan tersadar. Dia segera menoleh, namun sosok yang tadi berjalan melewatinya telah menghilang bagaikan asap. Dan pada saat itu pula, aroma wangi bunga berganti dengan bau busuk yang tajam membuat Linda langsung menutup hidungnya.

__ADS_1


Linda segera masuk ke dalam mobil. Dia menginjak pedal gas dan mobilnya meluncur ke jalanan. Linda seakan tidak menggubris perkataan ataupun peringatan dari sosok aneh yang baru menghampirinya tadi. Baginya peringatan dari makhluk lain seperti itu hanya menyesatkan. Linda bergegas, memacu mobilnya, pikirannya kembali tertuju pada Prambudi.


Tak lebih dari dua puluh menit, Linda sudah sampai di rumah Prambudi. Sayup sayup di kejauhan terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Langit terlihat sedikit gelap, dengan awan hitam tipis di sekitarnya.


Linda menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Entah mengapa dia merasa sedikit gugup. Linda menyambar tas kerja Prambudi kemudian turun dari mobil. Sedikit menepuk nepuk lengan kaosnya, berharap tidak ada lipatan kusut yang terlihat disana.


Linda mengetuk pintu depan dengan perlahan. Selang beberapa detik, akhirnya pintu terbuka. Laki laki pujaannya itu kini ada di hadapannya. Prambudi hanya memakai kolor hitam dengan badan yang terlihat sedikit basah. Linda menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri. Bentuk tubuh Prambudi bagian atas terlihat benar benar sempurna.


Namun, Linda cukup kaget saat melihat wajah Prambudi. Banyak lebam lebam dan luka disana. Pipi dan mata kanannya terlihat sedikit bengkak dan memerah. Begitu pula di bagian leher Prambudi terlihat biru seperti bekas di cengkeram atau tercekik. Sementara pelipis Prambudi tertempel kain kasa yang terlihat baru.


"Linda?," Prambudi menatap Linda dengan heran. Dalam benaknya dia bertanya tanya, untuk apa wanita ini datang ke rumahnya di jam segini?


"Mas Pram, kamu kenapa?," Linda menyentuhkan tangan kanannya pada pipi Prambudi yang bengkak.


"Auw," Prambudi merasakan nyeri saat jari lentik Linda menyentuh kulitnya yang terluka.


"Mas Pram? Jelaskan padaku, apa yang terjadi padamu?," Linda mendesak menuntut penjelasan.


"Mari masuk. Kita ngobrol di dalam," Prambudi menghela nafas pelan. Tidak ada pilihan lain, dia mempersilahkan Linda masuk ke rumahnya.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2