
Citra melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Sesekali dia memegangi lehernya yang terasa sakit di bagian luar dan perih di pangkal tenggorokannya. Saat mencapai lantai satu, dilihatnya kakek bertongkat terkapar di lantai. Matanya melotot menghadap ke atas. Sepertinya dukun jahat itu sedang meregang nyawa.
Citra bergegas membuka pintu kamar. Dia mencari keberadaan Amanda, putrinya. Namun gadis kecil itu tak terlihat di dalam kamar.
"Manda? Nak? Dimana kamu?," Citra mulai panik.. Dia mencoba memanggil manggil putrinya. Suaranya yang serak dan pelan kalah oleh suara ramai kericuhan di halaman depan rumah.
Greekkkk
Terdengar pintu lemari terbuka. Citra menoleh, memperhatikan dan akhirnya menemukan Amanda duduk bersembunyi dalam lemari pakaian.
"Amanda," Citra berlari kemudian memeluk putrinya itu.
Amanda terlihat begitu ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dia langsung memeluk Citra dengan sangat erat.
"Aku takut Mah," Amanda berbisik, suaranya bergetar. Wajar saja, anak sekecil itu tiba tiba mengalami kejadian yang di luar nalar.
"Maafin Mamah nak. Maafin Mamah telah memintamu untuk bersembunyi sendirian," Citra mengelus elus punggung Amanda dengan lembut.
Di luar rumah, suara orang orang berteriak semakin riuh. Sementara di lantai atas terasa sunyi, tak terdengar suara dari Prambudi ataupun Mas Adi. Citra merasa khawatir dan cemas pada keadaan suaminya itu.
"Nak kita harus segera keluar dari rumah ini. Nanti Manda sama temen Mamah dulu ya. Mamah mau jemput ayah di lantai atas. Oke?," Citra memegang kedua pundak putri kecilnya. Dia berencana menitipkan Amanda pada Tarji.
"Tapi Mahh, Manda takut," Amanda terlihat hendak menangis.
"Anak mamah itu berani. Jangan takut, karena dimanapun kamu, ayah sama Mamah pasti akan selalu ada bersamamu Nak," Citra memeluk putrinya.
Belum sempat Citra dan Amanda keluar dari kamar, di depan pintu terlihat seseorang berdiri menatap mereka berdua. Nafasnya tersengal, peluh membasahi wajahnya yang terlihat tampan dan bersih. Dialah Andre, laki laki yang merupakan mantan Citra itu terlihat cemas dan gusar.
"Andre?," Citra bertanya heran. Dia tak menduga mantannya itu berada di rumah ini.
"Bagaimana bisa kamu sampai disini?," Citra menggenggam erat tangan Amanda.
"Aku mengikutimu, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya," Andre mengalihkan pandangannya pada gadis kecil di sebelah Citra. Gadis cantik, yang berwajah sangat mirip dengan Citra. Andre berjalan mendekat.
__ADS_1
"Siapa namanya Cit?," Andre bertanya, wajahnya nampak sendu. Citra tak bergeming, dia diam tak menyahut.
"Namamu siapa?," Andre bertanya pada Amanda. Dadanya terasa berdesir. Teringat bagaimana dia dulu begitu kejam meninggalkan kekasihnya yang tengah berbadan dua. Ambisi pribadi dan egonya terlalu tinggi kala itu. Kini dia sadar akan kesalahannya, dan berusaha untuk memperbaiki, sehingga tidak ada lagi penyesalan di kehidupan mendatang.
"Amanda Rahayu Putri Prambudi," jawab Amanda dengan wajah polosnya.
Andre tertegun. Semakin teriris rasanya hati Andre. Sedih sekaligus sesak di dadanya semakin menjadi jadi.
"Apa yang kamu lakukan disini?," Citra bertanya setelah beberapa saat terdiam. Suaranya semakin lirih dan serak.
"Aku hanya ingin melihatnya Cit. Aku ingin melihat Amanda," Andre menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
"Citra, aku tak begitu mengerti dengan apa yang terjadi pada keluargamu sekarang. Kerusuhan di luar, aku sama sekali tak faham. Namun, bisakah Amanda memperoleh rasa aman dan nyaman? Dia terlalu kecil untuk mengalami kejadian seperti ini," Andre nampak memelas.
"Lalu, bisakah aku mempercayakan Amanda padamu? Bisakah kamu membawanya pergi dari rumah ini?," Citra menatap Andre. Sorot matanya tajam dan menakutkan.
"Aku akan membawa kalian pergi dari sini," Andre mengulurkan tangannya. Dengan cepat Citra meraihnya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Berjanjilah padaku, kamu akan membawa Amanda pergi dari sini dengan aman. Kamu akan menjaga Amanda," Ucap Citra dengan tegas dan lugas.
"Berjanjilah Ndre," Citra mendesak.
"Iya, aku berjanji," Andre menjawab cepat.
Citra tersenyum sekilas kemudian melepaskan genggaman tangannya. Citra berjongkok, membelai lembut rambut putrinya itu.
"Kamu ikut om Andre dulu ya," Ucap Citra pelan.
"Tapi Mah," Amanda hendak memprotes, namun jari telunjuk Citra dengan cepat menempel di bibirnya.
"Mamah mau menjemput ayah dulu. Kamu duluan sama om Andre. Kamu tadi kan denger sendiri om Andre sudah berjanji bakal jagain kamu. Nanti Mamah sama Ayah bakalan nyusul. Secepatnya," Citra berbisik kemudian memeluk Amanda. Amanda membalas memeluk Citra dengan erat.
Dalam eratnya dekapan Amanda, Citra berdoa dalam hati. Dia mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk putri kecilnya itu. Dikecupnya kening Amanda, dan dicubitnya hidung kecil yang selalu membuat Citra gemas. Citra meraih tangan Amanda dan menuntunnya untuk menggenggam tangan Andre.
__ADS_1
"Cit, aku bisa membawa kalian berdua pergi dari sini dengan aman," Andre mencoba membujuk Citra.
Citra merogoh saku celananya. Dia mengambil HP dan menyerahkannya pada Andre.
"Bawa ini bersamamu. Paswordnya tanggal lahirku, jika kamu masih ingat. Lihat draft pada emailku. Itu kutulis setelah kamu datang ke rumah beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya mau kukirimkan padamu, namun belum sempat kulakukan. Bacalah nanti," Citra menyodorkan HPnya. Andre menerimanya dengan ragu ragu.
"Please Cit, ikut aku saja. Bukankah semua kejadian ini membuktikan bahwa suamimu tidak lebih baik dari aku?," Andre masih mencoba membujuk Citra.
"Cukup Ndre! Tugasmu adalah menjaga putriku!," Citra melotot menahan amarah.
"Suamiku memang bukan orang yang sempurna, tapi dia bukanlah seorang pengecut yang lari dari sebuah tanggung jawab. Dia selalu ada untukku, dan tak pernah meninggalkanku. Jadi, jangan bandingkan kamu dengannya. Kamu tidak ada apa apanya!," Citra melotot, telunjuknya diacungkan ke wajah Andre.
Andre terdiam seketika. Dia sadar tidak lagi memiliki tempat di hati Citra. Andre segera memeluk Amanda, dan segera menggendongnya dengan balutan selimut.
"Apapun itu, aku menunggu kamu. . .dan suamimu keluar dari tempat ini, menjemput anak ini. Dan kita bisa memperbaiki kehidupan dan hubungan kita menjadi lebih baik. Setidaknya kita bisa bersahabat untuk Amanda," Andre berbisik. Kemudian bergegas berlari dan keluar melalui pintu belakang, sama seperti saat dia masuk tadi. Dia mendekap Amanda dengan erat.
Suara di halaman rumah semakin ramai dan riuh. Suasana tidak terkendali, meskipun orang orang yang kerasukan berhasil dibekuk, namun warga terbawa emosi dan gelap mata.
"Rumah ini bikin sial!," Teriak Prapto lantang.
"Kita bakar saja!," Teriak Sumini tak kalah kencang.
Kemarahan yang sebelumnya sudah menyala kini semakin berkobar. Sebagian besar warga tak sudi memiliki tetangga di lingkungannya yang memuja iblis. Mereka juga meyakini sumber kesesatan adalah rumah yang berada persis di ujung pertigaan ini.
"Bakar rumah tusuk sate!," Teriak warga yang lain.
Nyonya Doto yang sedari tadi berada di dalam mobil semakin panik. Dia khawatir cucu dan anak kesayangannya terjebak di dalam rumah. Dia merasa tidak apa apa kehilangan suaminya, namun dia takkan bisa hidup jika kehilangan putri dan cucu kesayangannya. Tanpa pikir panjang, Nyonya Doto turun dari mobil kemudian berlari sekuat tenaga masuk ke dalam rumah.
"Hei hei, siapa wanita itu?," Salah satu warga menunjuk Nyonya Doto yang memasuki rumah.
"Itu pasti salah satu pengikut orang orang sesat. Ayo segera kita bakar rumah ini. Biarkan iblis bersama dengan api!," Lagi lagi Sumini menyulut api kemarahan.
Dan benar saja, dimulai dari Prapto, warga satu persatu melempar obornya ke dalam rumah itu. Api mulai membakar pintu depan yang terbuat dari kayu jati dan menjalar ke bagian plavon dan atapnya.
__ADS_1
Bersambung . . .