Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Kamu akan selalu punya aku


__ADS_3

"Aku nggak mau kamu melihatku dalam keadaan seperti ini Cit," Prambudi mendesah pelan. Dia menatap Citra. Tampak kesedihan di wajahnya saat melihat istrinya itu gemetar ketakutan.


Hati Prambudi bagai diiris sembilu. Bukan kejadian seperti ini yang dia rencanakan. Seburuk dan sebusuk apapun kejahatan yang telah dia lakukan, Prambudi tetaplah seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Dia hanya ingin membuat keluarganya bahagia, namun ternyata rencananya hampir pasti gagal total kali ini.


"Aku bisa menjelaskan semuanya padamu Cit. Aku tidak akan menyakiti kalian, jadi tolong berhenti melihatku dengan ketakutan seperti itu," Prambudi menyandarkan badannya di dinding. Citra terus menangis. Dia duduk bersimpuh di lantai, sementara Amanda masih erat memeluknya.


"Aku terpaksa harus mencari sembilan tumbal untuk kehidupan keluarga kita," Ucap Prambudi lirih.


"Kamu nggak waras Mas," Citra terisak, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.


Citra sama sekali tak menyangka, laki laki yang telah dinikahinya bertahun tahun ternyata memiliki sifat yang sangat jahat. Dibalik sikap lembutnya pada keluarga, nyatanya Prambudi tega mengorbankan orang lain untuk ambisi pribadinya.


"Aku terpaksa Cit," Prambudi mendongak menatap langit langit.


"Sejak kapan Mas, kamu melakukan hal jahat seperti ini?," Citra terus bertanya menuntut penjelasan.


"Aku sudah mengontrak rumah ini jauh sebelum kita pindah kesini. Awalnya aku ingin menyelesaikan semuanya sebelum kita pindah. Namun ternyata aku mendapatkan pekerjaan di daerah sini. Dan setelah kupikir sekarang, kesalahan terbesarku adalah mengajak kalian pindah, sebelum apa yang aku lakukan selesai," Prambudi menarik nafas dalam dalam.


"Aku harus mencari wanita yang sedang datang bulan. Sembilan wanita untuk menyelesaikan ritualnya. Tidak ada batas waktu, namun sekalinya itu dimulai maka tak bisa lagi dibatalkan," Prambudi menjatuhkan badannya, ikut duduk bersimpuh di lantai.


"Darimana kamu temukan wanita wanita itu Mas? Dan bagaimana bisa aku tak menyadarinya?," Citra memotong ucapan Prambudi, dia bertanya dengan sekujur badannya yang terus gemetar.


"Setiap malam aku selalu membakar kemenyan dan memantrai rumah ini. Agar kamu bisa tidur pulas, tidak pernah terbangun di malam hari. Sekaligus agar kita tidak diganggu oleh hal hal mistis, juga untuk menghindarkan kamar ini dari lalat, dan serangga serangga pemakan bangkai," Prambudi mengehentikan ceritanya, memandang Citra yang terlihat geleng geleng kepala tak percaya.


"Wanita wanita itu kupilih dari tempat hiburan malam. Wanita wanita yang biasa disewa oleh Pak Doto, ayahmu," Prambudi sedikit memberikan penekanan pada ucapannya.


"Ayah?," Citra cukup kaget dengan perkataan Prambudi.


"Ya, ayahmu bukanlah orang yang setia. Jadi, aku pernah seharian membuntuti ayahmu dan kutemukan dia di tempat wanita wanita penghibur. Dan dari sana jugalah akhirnya aku menentukan target ritual ini," Prambudi memijat mijat keningnya. Kepalanya terasa pusing.


"Terus, ritual ini, korban korban ini untuk apa Mas? Semua ini untuk apa?," Citra kembali terisak. Rasa marah, kecewa, takut bercampur aduk menjadi satu.

__ADS_1


"Agar aku bisa terus bersamamu Cit," tukas Prambudi dengan cepat.


"Aku nggak meminta semua ini Mas. Aku rela hidup susah dan kekurangan asalkan bersamamu. Aku bisa hidup sampai sekarang karena kamu. Jadi, meskipun kamu tak punya apa apa, kamu akan selalu punya aku Mas," Ucap Citra lirih. Dibalik rasa marah dan kecewanya, Citra sadar rasa di hatinya yang paling besar saat ini adalah rasa takut. Takut kehilangan Prambudi.


"Aku tahu itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur Cit. Semua sudah terlanjur, dan aku tak bisa mundur," Prambudi kembali berdiri menepuk nepuk lututnya.


"Ritual ini akan selalu mengikutiku sepanjang hidupku jika aku tak melengkapi 9 mantu yang diminta. Dan kini aku sadar, seharusnya kamu tidak bersamaku Cit. Kamu berhak bahagia dengan orang yang jauh lebih baik dari aku," Prambudi mengucap kalimatnya dengan berkaca kaca.


Doorrrrrr


Terdengar suara tembakan di halaman rumah. Prambudi terlihat semakin panik, begitupun Citra segera berdiri dan mendekat pada suaminya. Dia benar benar ketakutan.


"Aku tadi datang kemari bersama dua orang petugas kepolisian Mas," Ujar Citra lirih.


"Sepertinya aku harus menyerahkan diri untuk mengakhiri semua ini," Ucap Prambudi sambil memeluk Citra dan Amanda. Citra masih saja menangis, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Kriieett


Pintu kamar kembali terbuka. Laki laki bertongkat berdiri menatap Prambudi dengan ekspresi kesal dan marah.


"Tak ada pilihan lain Mbah. Sebelum semakin banyak lagi korban berjatuhan," Prambudi menjawab dengan tegas.


"Kalau kamu menyerahkan diri sekarang, hukumanmu akan sangat berat dan lama. Apa kamu yakin setelah keluar dari tahanan kamu bisa menyelesaikan ritual ini? Hah?," Laki laki bertongkat melotot. Wajahnya terlihat menakutkan.


"Jika tidak berhasil menyelesaikan ritual ini aku tak apa Mas. Meskipun kita miskin yang penting kita tetap bersama," Citra memotong pembicaraan dan menatap Prambudi begitu dalam.


"Ha ha ha. . .bukan begitu nduk! Jika sampai Prambudi tak berhasil membawakan mantu dengan jumlah songo atau sembilan hingga akhir hayatnya, maka ritual ini wajib diteruskan oleh garis keturunannya. Begitu seterusnya!," Laki laki bertongkat tertawa terbahak bahak.


"Dan aku telah gagal Cit. Malam ini seharusnya aku membawa korban ke 9, tapi ternyata aku salah, wanita yang kubawa di dalam kamar itu saat ini tidak sedang datang bulan," Prambudi tersenyum masam.


Citra diam saja, dia menurunkan Amanda dari gendongan. Kemudian Citra berjongkok menatap putrinya itu.

__ADS_1


"Manda, tolong Manda turun ke bawah terus sembunyi di dalam kamar ya. Mamah bentar lagi nyusul, ini mau ngobrol dulu sama yayah, oke?," Citra tiba tiba saja berkata demikian.


"Baik Mah," Amanda mengangguk setuju.


Anak kecil itu tidak banyak bertanya. Dia menuruti perintah Mamahnya tanpa protes sedikitpun. Dengan perlahan Amanda berjalan menuruni anak tangga sendirian. Dia sempat menoleh, memperhatikan ayah dan Mamahnya yang berdiri berhadap hadapan.


"Selesaikan ritualmu Mas," Bisik Citra saat Amanda sudah pergi.


"Hah? Apa maksudmu?," Prambudi kaget tak mengerti maksud ucapan Citra.


"Aku sedang datang bulan," jawab Citra dengan pelan.


"Ha ha ha ha. . .pucuk dicinta ulam pun tiba. Prambudi, ayo kita selesaikan ritualnya," Laki laki bertongkat tergelak, tawanya pecah kembali.


"Tidak Mbah! Kita harus cari mantu yang lain," Prambudi membantah kali ini.


"Tidak ada waktu. ayo kita selesaikan!," Laki laki bertongkak berjalan mendekati Citra.


Laki laki bertongkat berusaha meraih lengan Citra, namun segera ditampik oleh Prambudi.


"Jangan sentuh istriku!," Prambudi membentak cukup keras.


"Untuk setiap kebahagiaan selalu dibutuhkan pengorbanan, bodoh! Jadi, kalau kamu ingin bahagia, kita selesaikan ritualnya," Kembali laki laki bertongkat berusaha membujuk Prambudi.


Namun Prambudi tak bergeming dengan keputusannya. Dia tidak akan pernah mau menjadikan Citra sebagai mantu pelengkap ritualnya. Prambudi melakukan semua ini agar bisa hidup damai bersama dengan Citra. Jika Citra tidak ada, apa gunanya semua ini?


"Wani sliramu mbantah aku!," Teriak laki laki bertongkat, kemudian dia menutup matanya.


"Sedaya janma sungkem marang Mbah Gogor," Laki laki bertongkat menghentakkan tongkatnya sebanyak 3 kali ke lantai. Di saat bersamaan, kesadaran Prambudi mulai menghilang. Dia mulai kerasukan, kelopak matanya terlihat memutih.


Begitupun orang orang berpakaian hitam yang sedang bergumul dengan Mas Adi dan Tarji. Saat satu orang terkapar terkena tembakan Tarji, orang yang lain terlihat kejang kejang dengan mata yang memutih. Mereka semua sedang dalam kondisi kerasukan.

__ADS_1


Sementara itu, para centeng Pak Doto berusaha membuka jalan agar Nyonya Doto bisa masuk ke dalam rumah. Adu jotos pun tak terhindarkan. Namun melawan orang orang yang kerasukan, para centeng pun merasa kewalahan. Memang lawan mereka bertubuh kecil dan mudah dipukuli. Tapi, setiap pukulan yang mereka berikan seolah tidak memberikan rasa sakit pada lawannya.


Bersambung . . .


__ADS_2