
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Prambudi, Amanda dan Citra berjalan jalan di sebuah taman dalam area klinik. Citra masih berada di kursi roda. Kakinya sudah jauh lebih baik, namun belum boleh terlalu banyak digerakkan terlebih dahulu.
"Ini family time ya, lama rasanya kita nggak bersantai bareng di sore kayak gini," Prambudi membuka percakapan.
"Family time karena terpaksa ini Mas," Citra tersenyum masam.
"Ha ha ha. . .hidup itu lucu ya," Prambudi tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
"Lucu?," Citra mengernyitkan dahi.
"Yah, beberapa waktu lalu aku pengen banget dapat pekerjaan. Setelah dapat pekerjaan baru beberapa hari, sudah kangen rasanya nganggur, bersantai sore dengan istriku yang paling cantik sedunia," Prambudi terkekeh.
"Manusia memang nggak pernah puas dengan hidupnya ya," Prambudi menatap langit yang mulai terlihat semburat kemerahan.
"Jangan jangan Mas juga tidak puas memiliki istri seperti aku?," Citra menatap Prambudi. Sebuah pertanyaan yang terdengar penuh dengan kekhawatiran.
"Kamu dan Amanda adalah anugerah terbesar dan terindah dalam hidup aku Cit. Aku yang tak punya apa apa dan tak punya siapa siapa, akhirnya tahu apa itu Cinta berkat kalian," Prambudi mencium ubun ubun Citra. Sementara Amanda tak mempedulikan percakapan orangtuanya.
"Akan kulakukan apapun untuk membahagiakanmu dan Manda. Apapun . . .," Prambudi terlihat bersungguh sungguh, menatap Citra dengan bola mata yang bergetar.
"Ihh, sok swit," Citra terkekeh.
"Mas, ngomong ngomong. . .akhir akhir ini kamu lumayan sering ditelepon sama panti asuhanmu dulu. Ada apakah?," Citra bertanya, terlihat penasaran.
"Ohhh, itu. . .yah, mungkin pemilik panti kangen sama aku," Prambudi menjawab setengah bercanda.
"Aku belum pernah Mas ajak ke panti lho," Citra memutar kursi rodanya, kini dia berhadap hadapan dengan Prambudi.
"Lha buat apa kamu ke panti?," Prambudi menggaruk garuk alis matanya.
"Ya kan aku pengen tahu tempat dimana kamu dibesarkan," Citra terdengar merengek. Sifat manjanya keluar.
"Nggak ada yang istimewa kok," Prambudi menghela nafas. Dia terlihat enggan menyetujui permintaan Citra.
"Kenapa sih Mas, aku ini istrimu lho. Pengen tahu semua hal tentang kamu Mas," Citra memasang wajah cemberut.
"Iya deh, kapan kapan ya," Prambudi dengan enggan meng iyakan permintaan istrinya itu.
__ADS_1
"Mah, lihat deh. . .banyak ikan," Amanda menunjuk kolam ikan yang terletak di tengah taman. Ada beberapa ikan koi dengan ukuran cukup besar serta ikan nila ekor panjang berenang renang dengan indahnya. Ucapan Amanda mengalihkan pembicaraan orangtuanya.
"Iya sayang bagus ya, ikannya gedhe gedhe," Citra tersenyum melihat Amanda berlari lari kecil di tepian kolam.
Langit semakin meredup, sayup sayup terdengar adzan maghrib berkumandang.
"Mas?," Citra memanggil Prambudi lirih.
"Iya?," Prambudi mengawasi Amanda yang bermain air di pinggir kolam ikan.
"Kita lama ya nggak ibadah," Citra menatap langit, sorot matanya tampak sendu.
"Ohh," Prambudi enggan menyahut.
"Ayok Mas, setelah pulang dari sini kita perbaiki lagi pola kehidupan rumah tangga kita," Citra menatap Prambudi, entah darimana pemikiran itu datang.
"Nggak ada yang perlu diperbaiki Cit. Kita nggak rusak," Prambudi menyahut, ekspresinya datar.
"Ayok kita kembali ke kamar. Udah gelap," Prambudi mengajak Amanda dan Citra untuk segera kembali ke kamar.
Prambudi, Citra dan Amanda sampai di depan kamar. Mereka cukup kaget melihat di ambang pintu ada sosok wanita memakai rok pendek dan kaos yang cukup ketat menunjukkan lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi. Dia adalah Linda.
"Linda?," Prambudi terlihat heran melihat rekan kerjanya itu ada di hadapannya sekarang.
"Hai Mas Pram. Haloo Mbak Citra, Amanda cantik," Sapa Linda dengan ramah.
"Hai tante," Amanda menjawab dengan polosnya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kamu. . .ngapain disini?," Prambudi bertanya, kehadiran Linda tidak dia harapkan saat ini.
"Menjenguk mbak Citra lah," Linda tersenyum, menatap Citra.
Citra diam saja. Jelas sekali Citra nampak kesal dengan kedatangan Linda. Sementara Linda mengamati Citra dari ujung rambut hingga ujung kaki. Citra terlihat tetap cantik mempesona, bahkan Linda yang sudah berdandan maksimal pun merasa keder juga melihat paras istri Prambudi itu.
"Ah, mari masuk," Prambudi mendorong pelan kursi roda Citra ke dalam kamar. Linda mengekor di belakangnya.
"Mbak Citra udah sembuh?," Linda bertanya pada Citra, senyumnya terlihat menyebalkan bagi istri Prambudi.
__ADS_1
"Ya, seperti yang bisa kau lihat," Jawab Citra ketus.
"Syukurlah . .kalau Mbak Citra sembuh Mas Pram bisa masuk kerja lagi besok," Linda menghela nafas, seolah benar benar merasa lega.
"Maaf ya masih awal kerja udah minta ijin nggak masuk," Prambudi mengangkat Citra dari kursi roda, kemudian menurunkannya di tempat tidur. Citra memilih untuk duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Yah nggak pa pa sih Mas. Namanya musibah kita juga nggak ada yang tahu kan. Tapi aku harap Mbak Citra jangan ceroboh saat di rumah. Kalau mbak Citra sakit kayak gini, Mas Pram yang kerepotan. Kerjaan terganggu juga, aku khawatir nanti penilaian kinerja Mas Pram di akhir bulan jadi buruk," Ujar Linda, kalimatnya terasa tajam menusuk. Citra diam saja, kali ini dia tidak bisa membalas perkataan Linda. Citra benar benar merasa geram dengan perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Emm, mohon jangan salahkan Citra Lin," Prambudi membuka suara, membela istrinya.
"Aku nggak menyalahkan kok. Hanya berpesan saja sama Mbak Citra agar lebih hati hati," Linda mengelak.
"Iya, kuingat nasehatmu," Citra akhirnya membuka suara.
Prambudi kali ini diam saja. Dia beranjak mendekati Amanda yang asyik sendiri, bermain dengan HP baru Citra. Anak balita itu tidak mempedulikan percakapan orangtua yang terasa memanas di sebelahnya.
"Oh iya Mas Mbak, aku mau pamit dulu kalau gitu. Pokoknya istirahat yang cukup ya Mbak Citra dan cepet sehat ya," Linda beranjak dari duduknya, berpamitan.
"Kok tergesa gesa banget Lin," Prambudi bertanya, sebuah pertanyaan yang sangat tidak disukai Citra dalam batinnya.
"Aku tadi pulang dari kantor langsung kesini. Sebenarnya sih mau nonton film di bioskop sama temen. Ya sekalian deh, berangkat awal terus mampir kesini nengokin Mbak Citra," Linda beralasan.
"Atau Mas Pram sama Manda, mau ikut aku nonton film di bioskop?," Linda tersenyum ke arah Prambudi dan Amanda.
"Kami mau nonton sekeluarga kalau aku sudah sembuh," Citra menimpali. Tangannya terkepal di balik selimut.
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku pamit ya Mbak Citra. Mas Pram sampai bertemu besok di kantor," Linda tersenyum, memgedipkan matanya pada Prambudi.
"Ah iya, hati hati di jalan," Prambudi mengantar Citra sampai di ambang pintu.
Selepas Linda pulang, Citra terlihat murung dan cemberut. Prambudi menghela nafas. Tidak ada yang bisa dia lakukan ketika mood istrinya itu sedang memburuk. Prambudi hanya bisa menemani Amanda yang sedang bermain, sekaligus memberi waktu untuk Citra agar kejengkelannya mereda.
Sudah menjadi rumus dalam kehidupan berumahtangga. Ketika si istri marah, suami hanya bisa berdiam dan berdoa semoga kemarahannya cepat mereda.
Bersambung . . .
Ahh, akhirnya update juga. Mohon maaf untuk yang baca jadi lumayan tersendat. Semoga tetap betah baca RTS ya . Salam senyum semangat.
__ADS_1