Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Lupa???


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu Andre tiba di Indonesia. Dia telah menyelesaikan studinya di negeri sakura. Saat ini, dia sedang berada di kamar menikmati alunan musik jazz kesukaannya. Sore nanti, sepupunya yang cerewet meminta untuk ditemani jalan jalan ke mall. Katanya mau mencari parfum untuk diberikan pada laki laki incarannya.


Andre merupakan anak kedua dari pengusaha plastik kaya raya di kota T. Andre merupakan laki laki yang hampir bisa dikatakan sempurna. Harta yang melimpah, pandai di bidang akademis hingga mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan studinya di luar negeri. Sayang, hingga kini dia masih betah untuk sendiri.


Andre pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis paling cantik di tempat kuliahnya waktu menempuh strata satu dulu. Sayangnya hubungan mereka harus kandas, dan itu semua karena kesalahan Andre sendiri. Hingga kini, rasa bersalah menghantui hatinya, dan akhirnya dia menutup diri pada gadis lain. Dia merasa takut jika menjalin hubungan dan kembali menyakiti orang yang disayanginya.


Drrtt Drttt Drtt


HP di meja bergetar. Andre menyambarnya dengan cepat. Sebuah telepon yang dia tunggu dari kemarin.


"Haloo. . .gimana?," Andre mengangkat teleponnya, tanpa basa basi langsung bertanya.


"Sudah tidak disana lagi? Baiklah. Kutunggu kabar berikutnya," Andre mengakhiri sambungan teleponnya.


Andre terlihat kesal, wajahnya tertekuk. Andre melemparkan HP nya ke meja begitu saja. Seolah dia tak peduli jika HP nya pecah ataupun rusak. Dia merebahkan badannya di kasur, pikirannya menerawang jauh. Tanpa sengaja dia terlelap.


* * *


"Hei bangun!," sebuah suara membangunkan Andre.


Perlahan Andre membuka matanya, badannya terasa diguncang guncangkan secara kasar. Saat matanya terbuka sempurna barulah terlihat ada Linda di hadapannya.


"Jam berapa sih ini? Ganggu orang tidur saja," Andre menggerutu kesal.


"Ini udah jam lima Nyet!," Linda melotot.


"Hah? Masak?," Andre segera bangun, duduk dan meraih HP nya di atas meja. Dan benar saja, saat ini sudah jam lima sore.


"Bagaimana bisa pemalas sepertimu memiliki otak yang begitu cemerlang," Linda geleng geleng kepala.


"Sialan. Aku mandi dulu ya," Andre beranjak dari tempat tidurnya.


"Terserah kau saja. Aku tunggu di ruang depan ya," Linda ikut keluar kamar.


Rumah tempat tinggal Andre saat ini adalah rumah pribadi yang dihuni oleh tiga orang. Hanya ada pak satpam, seorang asisten rumah tangga dan Andre. Sementara orangtua dan kakak Andre menempati rumah yang lain, terletak di dekat pabrik plastik milik keluarga.

__ADS_1


Linda berada di depan tv, menyalakannya dan menikmati program tv masak dan makan di sore hari. Perutnya tiba tiba saja terasa lapar. Sedari pagi tadi dia memang belum makan. Linda sedang melakukan diet ketat, dia ingin terlihat lebih ramping demi bisa dilirik oleh Prambudi. Mengingat bahwa Citra istri Prambudi, meskipun sudah memiliki satu anak namun tubuhnya terlihat lebih ramping darinya.


"Biii," Linda berteriak memanggil asisten rumah tangga.


"Iya Neng Linda," Si Bibi datang tergopoh gopoh.


"Ada susu rendah lemak nggak di kulkas?," Linda bertanya tanpa menatap lawan bicaranya.


"Sepertinya sih ada Neng," Si Bibi sedikit membungkuk di hadapan Linda. Bibi sudah hafal siapa dan seperti apa Linda ini. Meskipun sudah lama mereka tak bertemu, karena selama ini Andre tidak di rumah sehingga Linda tak pernah berkunjung. Namun, Bibi tahu betul gadis di hadapannya itu lebih galak dan suka memerintah dibandingkan majikannya.


"Ambilin dong, segelas aja. Gelasnya yang gedhe," Linda menunjuk nunjuk si bibi dengan remot tv.


"Itu aja Neng?," Bibi bertanya menawari, siapa tahu Linda menginginkan sesuatu yang lain.


"Nggak Bi. Bibi pengen aku gendut atau gimana? Pake nawar nawarin makanan lain," Linda terdengar sewot.


"Ah, nggak kok Neng," Bibi segera beringsut mundur. Dia nggak mau kena marah jika berbicara lebih banyak lagi. Bibi berjalan ke dapur, meninggalkan Linda sendirian.


"Aku udah siap berangkat nih," Andre telah siap, dia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru tua dengan celana berwarna krem.


"Dibanding laki laki incaranmu, aku lebih baik ya?," Andre tersenyum menyombongkan dirinya.


"Nggak juga Ndre. Mungkin kamu sedikit lebih ganteng darinya, tapi soal kharisma tidak ada yang bisa mengalahkannya. Uhh, rasanya aku udah kangen pengen ketemu dia," Linda tersenyum sambil menopang dagu.


"Ha ha ha, suka suka kau lah," Andre tertawa, dia merasa sepupunya itu benar benar sudah dimabuk cinta.


"Yuk berangkat," Linda berdiri, mematikan tivi.


Andre dan Linda bersiap keluar rumah saat Bibi datang membawa segelas susu.


"Neng, ini susunya," Bibi memanggil Linda yang sudah berada di depan pintu.


"Nggak jadi Bi, kelamaan sih," Linda melambaikan tangannya.


"Buat Bibi saja ya," Andre tersenyum singkat. Linda dan Andre pergi meninggalkan si Bibi yang bengong dengan nampan berisi segelas susu di tangannya.

__ADS_1


"Kan aku nggak doyan susu," Ujar si Bibi pasrah.


* * *


Sudah satu jam Andre menemani Linda berkeliling mall mencari cari parfum yang sesuai kehendaknya. Dan setelah memutari setiap sudut mall, akhirnya Linda mengajak kembali ke toko parfum yang pertama kali mereka datangi.


"Plis dehhh," Andre menggerutu kesal. Linda tak peduli dan terus menggandeng serta menyeret Andre agar mengikutinya.


Linda kembali memilih milih, dan akhirnya memutuskan membeli salah satu parfum yang sebenarnya dari awal sudah disarankan oleh Andre.


"Kan sudah kubilang daritadi, yang itu paling cocok. Aromanya kalem tapi enak gitu," Andre bersungut sungut.


"Iya kah? Ya tapi kan kalau kita nggak keliling muter muter dulu, kita nggak akan tahu kalau ini yang paling pas," Linda menjawab enteng. Andre hanya bisa menghela nafas, pasrah.


Saat menunggu Linda mengantre di kasir, Andre berdiri di depan pintu masuk toko. Pada saat itulah dia melihat orang yang selama ini sangat ingin ditemuinya. Dia bersama seorang ibu ibu dan gadis kecil yang terlihat cantik dan imut. Andre segera berlari mengejar orang tersebut.


"Citra?," Andre memanggil lirih.


Orang yang dipanggilnya menoleh. Mereka saling menatap dalam diam. Andre menatapnya dengan pandangan yang penuh kesedihan dan kerinduan, sementara orang itu memiliki sorot mata yang terlihat seperti ketakutan.


"Citra, akhirnya kita bisa bertemu," Andre bernafas lega. Orang yang dicari Andre, mantan yang membuatnya tidak mampu move on selama ini, tak lain dan tak bukan adalah Citra. Dan kali ini Citra sedang jalan jalan bersama Amanda dan Nyonya Doto.


"Ka kamu siapa?," Citra bertanya, suaranya bergetar. Tiba tiba Citra menggenggam tangan Amanda dengan begitu erat.


"Hah? Ini aku. . . Andre Cit," Andre berusaha meyakinkan. Dia sedikit salah tingkah, mungkinkah salah orang? Atau jangan jangan memang wajahnya banyak berubah sehingga Citra tak mengenalinya lagi. Ah, itu mustahil.


"Aku tidak kenal denganmu!" Citra meninggikan suaranya.


"Siapa Nak?," Nyonya Doto ikut bertanya, penasaran.


"Nggak tahu Bun, nggak kenal. Ayok kita pulang," Citra menarik lengan Bundanya.


Andre hanya terdiam mematung, mulutnya tertutup rapat. Dia bingung dan tak mengerti, bagaimana mungkin Citra bisa melupakannya? Lupa dalam arti yang sesungguhnya. Seolah olah dia tidak mengenal Andre sama sekali.


Sementara itu, Linda menatap kejadian itu dari kejauhan. Ada rasa penasaran sekaligus ide gila di benaknya. Bagi Linda apa yang dilihatnya kali ini, bisa menjadi salah satu senjata untuk merebut Prambudi.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2