Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Cincin


__ADS_3

Sepasang mata mengerjap ngerjap, menatap langit langit ruangan yang terlihat gelap. Beberapa saat setelah terbiasa, barulah samar samar terlihat sudut ruangan dengan lemari kayu bersandar disana. Citra memegangi kepalanya yang terasa berat. Sedikit terasa pusing, dengan kening yang terasa berdenyut.


Citra meraba raba kasur tempat tidurnya. Tak ada Prambudi disana, saat ini dia tidur sendirian. Citra mengalihkan pandangan, menatap tempat tidur kecil yang terpisah dengannya. Amanda terlihat tidur pulas membelakanginya.


Citra mencoba duduk, meski badannya terasa loyo dan tak bertenaga dia memaksa bersandar pada dipan kayu di belakangnya. Dia benar benar merasa ngantuk dan lemas. Dan hal itulah yang membuatnya heran. Semenjak pindah ke rumah kontrakan, hampir di setiap malam Citra selalu merasakan kantuk yang luar biasa. Badan yang lemah, dan tenaga yang menghilang secara tiba tiba. Citra berpikir mungkin saja saat ini dia anemia.


Citra meraih HP di sebelah tempatnya tidur. Jam setengah satu malam. Citra kemudian menoleh, tempat tidur Prambudi benar benar kosong. Kemana suaminya itu? Seingatnya tadi, setelah pulang kerja Prambudi mengajaknya makan di luar. Malam harinya suaminya itu membuatkan Citra teh hangat, juga susu untuk Amanda. Setelahnya, entah kenapa Citra merasakan kantuk yang luar biasa. Hingga akhirnya tanpa menunggu Prambudi, Citra tidur terlelap lebih dahulu.


Saat ini dia merasa bersalah pada suaminya itu. Dia tidak menawari Prambudi untuk bermain di ranjang, padahal mereka sudah lama tak melakukannya. Citra merasa bersalah akhir akhir ini dia mudah sekali mengantuk dan tidak melayani Prambudi dengan benar.


"Uuhhhh," Citra menahan untuk tidak menguap. Dia memijat mijat keningnya sendiri.


Citra membuka selimut, kemudian beranjak dari kasur lusuhnya. Citra berjalan keluar kamar masih dengan sedikit terseok. Badannya terasa berat, kedua bola matanya pun terasa begitu terbebani. Beberapa kali dia menutupi mulutnya menahan rasa kantuk yang terus menyerang.


Citra melongok ke ruang tamu, sepi. Prambudi tidak ada disana. Pintu depan nampak terkunci dari dalam. Citra beranjak menuju ke dapur, pun sama tidak ada Prambudi disana. Dua buah gelas berisi sisa teh tadi malam masih tergeletak di atas meja.


"Aroma apa ini?," Citra bergumam. Ada aroma wangi yang asing menusuk indera pembau Citra. Dia mengendus endus, mencari sumber aroma wangi tersebut.


Di sudut dapur, ada sebuah pecahan genteng dengan abu bekas sesuatu yang terbakar. Aromanya wangi yang menenangkan. Citra berpegangan pada tembok, pijakan kakinya goyah. Wewangian yang dia hirup saat ini entah kenapa terasa seperti obat tidur yang membuatnya semakin mengantuk tak tertahan.


Duk duk duk


Terdengar seperti langkah kaki di lantai atas. Citra yakin itu suaminya. Masih berpegangan tembok, Citra berjalan terseok menuju ke tangga. Kantuknya semakin menjadi jadi, matanya mengajak pasrah untuk terpejam, namun rasa penasaran di hatinya terus mengajaknya berjalan.


Dengan kaki yang baru sembuh, Citra menapaki satu demi satu anak tangga. Tangannya berpegangan erat pada pagar besi yang tertancap di anak tangga, sementara kakinya yang terasa semakin lemas tetap dia paksakan berjalan. Setengah merangkak Citra menuju lantai atas. Aroma wewangian mulai menghilang di pertengahan tangga, berganti dengan angin semilir yang terasa dingin menusuk kulit yang hanya terbungkus piyama tipis.


Citra terus melangkah, rasa kantuk yang hampir saja membuatnya menyerah kini mulai sirna. Dinginnya udara malam yang berhembus sudah cukup membuatnya terjaga. Citra akhirnya sampai di lantai atas. Jalannya masih tetap terseok seok.


Lantai atas, kamar yang selalu terkunci saat ini juga tetap tertutup rapat. Kamar satunya lagi terlihat pintu terbuka lebar, angin malam berhembus dari sana. Citra melongok ke dalam kamar, terlihat Prambudi duduk bersila menghadap ke arah balkon.


Di tengah udara yang begitu dingin Prambudi terlihat hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam tanpa mengenakan baju. Otot punggungnya terlihat begitu kekar dan kokoh tertimpa sinar lampu yang tak begitu terang.

__ADS_1


"Mas Pram?," Citra memanggil suaminya itu pelan.


"Citra?," Prambudi menoleh, ekpresinya terlihat begitu aneh. Dia terlihat terkejut dan sedikit ketakutan.


Duk


Thing Thing thing thing


Sebuah benda jatuh dari tangan Prambudi, menggelinding dan meluncur ke arah Citra.


Trak


Sebuah cincin berputar putar dan terhenti tepat di bawah kaki Citra. Citra membungkuk dan memungutnya. Sebuah cincin emas putih yang terlihat mengkilap indah. Ada sebuah ukiran dengan lambang segitiga di tengah cincin.


"Cincin siapa ini Mas?," Citra bertanya penuh selidik.


Prambudi menghela nafas, kemudian berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Citra. Prambudi menggenggam tangan istrinya itu, dan menatapnya begitu dalam.


"Itu cincin buatmu sayang. Aku tadi ragu mau memberikannya padamu," Prambudi berkata lirih.


"Emmm, aku memang sudah lama ingin membelikanmu sebuah cincin. Aku takut kamu nggak suka, jadi ya selama ini cincin itu kusimpan saja," Prambudi membelai lembut rambut istrinya.


"Bagus kok Mas, aku suka," Citra memperhatikan cincin itu, begitu indah.


"Sini aku pakaikan," Prambudi meraih cincin itu, memasangkannya ke jari manis Citra. Ternyata terlalu besar, terlalu longgar.


"Waduh, nggak pas ya. Maafin aku ya sayang," Prambudi terlihat kecewa.


"Nggak pa pa Mas. Biar kupakai di sini saja," Citra memasangkan cincin itu di jari telunjuknya, ternyata pas.


"Makasih ya Mas," Citra tersenyum, memeluk suaminya itu dengan begitu erat.

__ADS_1


Saat memeluk Prambudi, Citra merasakan badan suaminya sedikit lengket. Bagaimana mungkin di tengah hawa dingin seperti saat ini, suaminya itu berkeringat?


"Mas Pram habis ngapain sih?," Citra kembali bertanya, masih dalam pelukan Prambudi.


"Ah cari angin saja. Entah kenapa aku gampang berkeringat," Prambudi menjawab enteng.


"Sedingin ini lho Mas padahal," Citra masih memeluk Prambudi.


"Iya, nggak tahu nih. Badanku terasa gerah," Prambudi melepaskan pelukan istrinya itu.


"Kamu sendiri kok bisa bangun?," Prambudi balik bertanya.


"Hah? Ya bisa lah, kalau nggak bisa bangun ya gawad dong Mas?," Citra menjawab setengah bercanda.


"Maksudnya kok sudah bangun, ini kan tengah malam. Banyakin istirahat sana gih," Prambudi menggaruk garuk kepalanya.


"Aku nyariin kamu Mas, habisnya kamu nggak ada. Nggak bobok di sebelahku," Citra menjawab manja.


"Ngomong ngomong di bawah itu Mas bakar apa sih? Baunya bikin ngantuk," Citra teringat aroma wewangian aneh di area dapur.


"Ohh, itu. . .obat nyamuk alami," Jawab Prambudi sedikit tergagap. Citra mengangguk angguk percaya.


"Mas, maafin aku ya. Akhir akhir ini aku sering tidur duluan nggak nungguin kamu," Citra menggenggam tangan Prambudi, dia merasa perlu untuk meminta maaf pada suaminya itu.


"Iyaa Cit. Nggak pa pa kok. Kamu mungkin masih perlu adaptasi, jadi kecapek an, masak sendiri, nyuci, momong Amanda juga. Its oke sayang," Prambudi tersenyum membelai rambut Citra.


"Emm, ngomong ngomong Mas nggak pengen?," Citra bertanya ragu ragu pada Prambudi.


"Hah? Pengen apa?," Prambudi mengernyitkan dahi nggak ngerti.


"Pengen aku," Citra tiba tiba saja menanggalkan piyama tipis yang dia kenakan. Prambudi sedikit kaget, namun akhirnya mengerti. Istrinya itu sedang rindu, rindu padanya. Harus diakui, mereka memang sudah lama tak melakukannya.

__ADS_1


Dan akhirnya malam ini suami istri itu menikmati dinginnya udara malam dengan saling bersentuhan dan saling menghangatkan.


Bersambung . . .


__ADS_2