Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Pengintaian


__ADS_3

Mas Adi membuka mata, dia terbangun dari tidurnya. Semalaman dia tidur di sofa kantor. Jam 5 pagi, suasana masih cukup sepi. Mas Adi berjalan keluar ruangan untuk menikmati segarnya udara yang belum terjamah polusi.


Pikiran Mas Adi terasa lebih fresh, semangatnya juga seperti terisi ulang. Aroma wangi jaket yang dia kenakan entah kenapa begitu melekat di indera penciumannya. Jaket yang tertinggal di rumah Sinta, yang sudah dicuci dan dikembalikan oleh gadis cantik itu.


Mas Adi melakukan peregangan sebentar, kemudian mengayunkan kakinya di jalanan beraspal depan kantornya. Tubuh atletisnya harus dijaga kebugarannya. Jogging adalah aktivitas yang murah dan mudah, selalu Mas Adi lakukan sebelum memulai aktivitas hariannya.


Mas Adi berlari memutari area kantor yang cukup luas. Jalanan masih benar benar lengang. Udara dingin berhembus menimbulkan uap air yang mengepul dari setiap hembusan nafas Mas Adi yang sedang berlari.


Tibalah Mas Adi di bagian belakang kantor, dengan beberapa pohon ketapang besar berdiri berjejer di luar pagar besi. Sekilas Mas Adi melihat dengan ekor matanya, ada sesosok perempuan duduk tertunduk di bawah pohon.


Mas Adi menghentikan langkahnya. Dia berpikir sejenak, buat apa perempuan duduk sendirian disana? Jangan jangan dia sedang ada masalah, atau mungkin membutuhkan pertolongan. Akhirnya Mas Adi berbalik, mendekati sosok perempuan itu.


"Permisi . .mohon maaf, mbaknya sedang apa sendirian di tempat sepi seperti ini?," Mas Adi tersenyum menyapa.


Perempuan itu tak bergeming. Tetap diam, menunduk dan mengabaikan Mas Adi.


"Mungkin ada yang bisa saya bantu Mbak?," Mas Adi kembali menyapa dengan ramah. Mas Adi sadar betul sudah menjadi tugasnya untuk mengayomi dan memberikan bantuan pada orang orang yang membutuhkan.


Perempuan itu masih saja diam dan menunduk. Wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya yang terurai berantakan. Perempuan itu mengenakan setelan piyama berwarna putih, dan tidak memakai alas kaki. Mungkinkah warga sekitar yang baru bangun tidur, kemudian langsung berolahraga?


"Mbak?," Mas Adi kembali memanggil, kali ini dia berjongkok di hadapan perempuan itu.


Lirih, terdengar suara isak tangis. Perempuan itu ternyata menangis. Suaranya kecil dan pelan namun terasa begitu menyedihkan.


"Tolong aku Mass," Ujar perempuan itu lirih, di antara suara isak tangisnya. Kali ini Mas Adi terdiam, dia mulai merasakan keanehan. Hawa di sekitarnya terasa begitu dingin.


"Tolong carikan cincinkuu," Perempuan itu masih terisak, menyodorkan tangan kirinya pada Mas Adi.


Tangan yang terlihat begitu pucat membiru. Jari manis tangan kirinya terlihat terkelupas. Terdapat sebuah bekas cincin disana, seakan ada yang baru saja merebutnya dengan paksa.


"Tolong aku Mass," Perempuan itu masih terus meracau dan menangis sesenggukan, sementara Mas Adi membisu. Suaranya menghilang, tubuhnya seakan membeku.


Tiinn Tiinn Tiinn


Sebuah suara klakson mobil mengagetkan Mas Adi. Mas Adi seakan disadarkan dan diseret dari alam lain. Dia mengedarkan pandangannya. Mas Adi saat ini sedang duduk di bawah pohon ketapang di bagian belakang kantornya, sendirian. Perempuan yang baru saja menangis minta tolong tidak ada disana. Mas Adi mencoba mencubit pahanya dan terasa sakit.


"Bukan mimpi," gumam Mas Adi sendirian.

__ADS_1


"Hooee, ngapain sih bengong disitu?," Teriak orang yang berada di dalam mobil berwarna biru tua yang baru saja membunyikan klaksonnya. Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tarji.


"Syukurlah Ji kamu datang," Mas Adi menghela nafas.


"Hah? Ada apaan sih?," Tarji garuk garuk kepala tak mengerti.


"Udah lah, ayo kita ke kantor. Nebeng aku," Mas Adi nyelonong masuk ke dalam mobil Tarji. Tanpa bertanya lebih lanjut, Tarji menuruti perintah rekannya itu.


* * *


Jam 9 pagi, Mas Adi menyambar jaketnya yang tergeletak di kursi. Tarji yang melihat rekannya hendak pergi segera menyusul mendekat.


"Mau kemana sih?," Tarji bertanya setengah berbisik.


"Ada yang harus aku lakukan," Mas Adi menjawab tanpa menatap lawan bicaranya.


"Jangan gitu dong, kamu nggak bisa keluyuran seenakmu sendiri," Tarji memprotes ulah rekannya itu.


"Yaudah, mintakan ijin nanti. Aku mau menyelidiki sesuatu," Mas Adi memakai jaketnya, kemudian menepuk nepuk bahu Tarji.


"Aku tahu, kamu pasti mau ke Toko Sinar Biru kan? Ikut doongg," Tarji merengek, menatap Mas Adi.


"Kali ini nggak. Aku janji. Lagian cuaca lagi terik, daripada kepanasan naik motor, mending pakai mobilku," Tarji tersenyum nyengir. Mas Adi mendengus pelan, dan akhirnya menyetujui usulan Tarji.


Dengan menggunakan mobil, dua orang petugas kepolisian itu meluncur menuju ke toko Sinar Biru di kecamatan K. Namun di tengah perjalanan, Mas Adi meminta untuk berhenti di sebuah stasiun radio.


"Kamu tunggu disini saja. Aku mau menemui seorang kenalan," Ujar Mas Adi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Tarji.


Mas Ardi berjalan memasuki sebuah ruangan dengan hiasan piringan hitam tertempel di sepanjang tembok. Sebuah sofa berwarna coklat berada di tengah ruangan menghadap kamar siar dengan sekat berupa kaca tembus pandang yang besar. Di dalam kamar siar duduk seorang pria yang mungkin seumuran dengan Mas Adi. Melihat kedatangan Mas Adi, pria itu segera keluar dan menyambut Mas Adi.


"Lama tidak bertemu Mas," Ujar pria itu sambil menyalami Mas Adi.


"Aku mau minta tolong Mas Dani," Ucap Mas Adi sambil mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat di dalam saku jaketnya. Pria yang berprofesi penyiar radio bernama Dani itu menerima kertas dari Mas Adi dan membacanya sekilas.


"Baik Mas. Nanti bakalan aku bacain pas lagi naik. Aku juga bakalan minta tolong temen temen penyiar lain buat bacain info darimu ini Mas," Tukas Dani meyakinkan.


"Baiklah, terimakasih sebelumnya. Aku pamit dulu kalau gitu," Ucap Mas Adi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nggak ngopi ngopi dulu nih. Emang mau kemana lagi Mas?," Dani bertanya, sedikit basa basi.


"Mau ke kecamatan K, tempat tinggalmu dulu," Ucap Mas Adi sambil berlalu.


Akhirnya Mas Adi kembali ke dalam mobil kemudian melanjutkan perjalanan. Cukup jauh jarak tempuh dari wilayah kota menuju ke kecamatan K. Hampir tengah hari, mereka baru sampai di Toko Sinar Biru di wilayah kecamatan K.


Mas Adi segera turun dari mobil dan menemui pemilik toko Sinar Biru. Si Ceking, pemuda kurus kerempeng dengan senyumnya yang nyengir datang menyambut.


"Mau cari apa Pak?," Sapa Ceking ramah.


"Kemenyan jenis ini," Mas Adi menyodorkan sebuah bongkahan kecil kemenyan.


"Waahh, tinggal dikit yang jenis ini," Ujar Ceking sambil mencari cari benda yang dicari Mas Adi.


"Yang langganan atau biasanya beli kemenyan jenis ini banyak to Mas?," Mas Adi bertanya. Dia mulai mengumpulkan keterangan dari pemilik Toko Sinar Biru.


"Nggak sih Mas. Biasanya sih Pak Doto. Tahu kan Pak Doto? Pengusaha kaya raya itu lho Mas. Beliau sering beli kemenyan jenis ini," Ceking bercerita dengan bangga, Mas Adi manggut manggut.


"Tapi, akhir akhir ini ada juga Mas yang suka beli kemenyan ini selain Pak Doto. Seorang laki laki, pelanggan baru kayak Mas nya ini," Ceking melanjutkan bercerita.


Beberapa menit ngobrol dengan pemilik toko, Mas Adi akhirnya kembali ke dalam mobil. Dia membawa sekantong kemenyan, kemudian menyodorkannya pada Tarji.


"Idiihh buat apa?," Tarji nyengir.


"Ya sapa tau kamu butuh buat melet orang," Mas Adi berseloroh.


"Brengsek!," Tarji mengumpat, Mas Adi tertawa.


"Kemana kita sekarang?," Tarji kembali bertanya.


"Sementara kita pulang dulu," Mas Adi menggaruk garuk alisnya yang terasa gatal. Tarji setuju dan segera menghidupkan mobilnya. Namun, belum sempat mobil berputar arah, datang sebuah mobil mewah berwarna hitam dengan plat nomor yang tidak asing bagi Mas Adi. Mobil Pak Doto.


Terlihat sopir Pak Doto turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke toko Sinar Biru.


"Ji, kita awasi dulu si Doto itu," Mas Adi memberi perintah.


"Siap Bos," Tarji berlagak memberi hormat.

__ADS_1


Bersambung . . .


__ADS_2