Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Draft Email


__ADS_3

Puncak perayaan tahun baru tinggal menghitung jam. Jalanan ramai dengan orang yang berlalu lalang. Banyak harapan dipanjatkan. Menyambut tahun 2017 semua menginginkan kehidupan yang lebih baik lagi.


Meskipun hujan turun dalam bentuk rintik rintik halus, orang orang masih bersemangat keluar rumah. Sekedar untuk ngopi, makan ataupun nongkrong bersama sahabat dan sanak family. Mereka semua terlihat menikmati liburan di penghujung tahun.


Andre menghentikan mobilnya di parkiran stadion. Ruko yang berjejer di bagian luar terlihat ramai dengan hiasan lampu kelap kelip. Di kursi sebelah kemudi, gadis kecil cantik dengan rambut hitam berkilau terlihat diam saja memperhatikan keramaian.


"Manda, mau turun? Beli boneka di ruko sana mau?," Andre bertanya dengan sangat kalem.


"Nggak mau Om. Aku maunya ikut Mamah sama Yayah," Ucap Amanda jutek.


Andre menghela nafas. Dia menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sungguh Andre bingung, dan kewalahan mengurus anak balita dengan segala pertanyaan pertanyaan kritisnya. Andre nggak mungkin memberitahu Amanda kalau Ayah dan Ibunya tewas terbakar di rumah. Namun, dia juga sadar tidak mungkin terus menerus membohongi gadis kecil itu.


"Ayah sama Mamah kemana sih om? Sudah tiga hari lho. Kata Om bakal jemput, mana buktinya?," Amanda kembali memprotes. Bibirnya manyun, terlihat lucu sebenarnya.


"Masih sibuk Nak. Pokoknya Manda sama Om Andre dulu. Manda mau apa aja bakal Om Andre beliin," Andre mengusap kepala Amanda.


Andre memilih untuk berbohong sementara waktu. Dia menunggu Amanda sedikit lebih dewasa lagi untuk memberitahukan kenyataan yang sebenarnya. Andre juga menyelidiki kediaman keluarga Doto setelah kejadian kemarin. Ternyata rumah besar itu saat ini ditinggalkan, tidak ada penghuninya. Ya wajar saja, pemilik rumah itu sudah tiada. Begitupun keluarga dan ahli warisnya


"Sekarang, Manda mau kemana?" Andre menatap gadis kecil di hadapannya itu dengan lembut. Setiap melihat Amanda dia selalu teringat dengan Citra.


"Aku mau pulang aja om," jawab Amanda lirih.


"Emm, pulang ke rumah Om lagi ya," Andre tersenyum, Amanda mengangguk pelan.


Andre mengendarai mobilnya dengan pelan, membelah rintik hujan di malam tahun baru. Sampai di rumah, ternyata Amanda tertidur. Ada dengkuran lirih yang terdengar dari mulut mungilnya. Andre tersenyum, ingin rasanya dia mencubit pipi gadis kecil yang menggemaskan itu. Namun Andre mengurungkan niatnya, khawatir jika anak itu malah terbangun. Andre mengangkat tubuh Amanda dengan pelan, kemudian menggendongnya dan menidurkannya di kamar lantai atas.


Andre menatap wajah Amanda yang sedang terlelap. Dan sekali lagi dia teringat dengan Citra. Andre mengalihkan pandangannya pada rintik hujan yang membasahi kaca jendela. Ada rasa bersalah di hatinya. Rasa penyesalan yang selalu saja datang terlambat.


"Seandainya aku tak meninggalkanmu waktu itu, mungkin semua ini takkan terjadi Cit. Kamu masih ada disini bersamaku," Gumam Andre lirih. Dia meraba dadanya yang terasa nyeri.


Saat Andre termenung, hembusan angin terasa seperti meniup tengkuknya. Ada sensasi dingin yang membuat Andre begidik merinding. Dan bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan bergerak cepat di luar kamar.


Andre segera berlari keluar dari kamar. Dia mencari cari bayangan apa yang barusan lewat. Namun nyatanya tidak ada apapun di luar kamar. Hanya saja kamar sebelah, pintunya terlihat sedikit terbuka. Kamar yang biasa Andre gunakan untuk bekerja dan menyimpan barang barangnya.


Dengan sedikit berjingkat Andre mendekati kamar tersebut. Dia mengintip dari celah pintu. Jangan jangan ada maling, begitu pikirnya. Namun, nyatanya kamar tersebut kosong dan sunyi.


"Sialan, kenapa aku jadi parno sendiri sih," Andre membuka pintu kamar dengan kasar. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri.


Andre menjatuhkan badannya pada kursi empuk yang biasa dia gunakan untuk bekerja. Dia membuka laptop di meja, menghidupkannya, dan memeriksa beberapa email yang masuk. Andre saat ini bekerja sebagai konsultan bisnis dari beberapa perusahaan besar. Latar pendidikannya yang mentereng memang berhasil membuatnya menjadi orang yang terkenal dan banyak perusahaan berebut untuk memakai jasanya.

__ADS_1


Saat Andre mulai tenggelam dalam pekerjaannya, membuka dan membalas email yang masuk, kembali lagi hembusan angin membuat bulu kuduknya berdiri. Ada perasaan tak nyaman yang dia rasakan.


DRRTT DRTTT DRTTT


Sebuah suara benda bergetar mengagetkan Andre. Suara itu berasal dari dalam laci meja. Andre segera membuka laci dan melihat benda apa itu yang bergetar. Ternyata sebuah HP tergeletak disana dalam keadaan menyala terang. Ada sebuah notifikasi, baterai tersisa 10 persen.


HP yang diberikan Citra malam itu. Dia hampir saja terlupa untuk mengecek email Citra pada bagian draft. Sebuah pesan yang katanya hendak Citra kirim untuknya.


"Pasword ulang tahun ya. . .," Andre bergumam sendiri, sambil memasukkan kombinasi angka pada layar HP, dan berhasil.


Andre kemudian membuka akun email Citra dan melihat pada bagian draft nya.


Untuk Andre


Setelah sekian lama, akhirnya kamu kembali ke negara ini. Aku ucapkan selamat, aku yakin kamu telah berhasil meraih cita citamu. Pertemuan kita di mall yang tak direncanakan sungguh membuatku terkejut, dan kupikir kamu sudah melupakanku saat dulu mencampakkan aku.


Ada beberpa hal yang perlu aku jelaskan. Pertama, aku tidak lupa padamu, aku hanya berusaha untuk tidak teringat saja. Karena masa itu adalah titik terendah dalam hidupku.


Mulai dari sini, mungkin pesan ini akan terasa seperti aku marah padamu. Kamu pergi meninggalkanku saat aku berbadan dua. Aku seperti orang bodoh yang percaya dengan pernyataan cintamu. Namun ternyata hanya manis di mulutmu saja.


Wajar sebenarnya saat kita berusaha untuk meraih mimpi. Kamu berusaha mengejar mimpimu, tapi kamu lupa bagaimana dengan aku? Kamu meninggalkanku, mencampakkan aku saat aku butuh sosok yang sebelumnya memberiku janji janji setinggi langit.


Saat kamu belajar di negeri seberang sana, saat kamu asyik dengan mimpi mimpimu, setiap hari aku berusaha untuk menyakiti diriku sendiri. Jiwa ragaku terguncang. Seorang Citra yang terkenal pintar dan cantik, dengan segala pujian yang setiap hari tertuju padaku, ternyata dicampakkan oleh manusia sepertimu.


Aku sakit, lahir dan batin. Hingga akhirnya petaka kedua pun datang. Aku kehilangannya. Kehilangan janin yang ada di dalam perutku. Tak ada yang tahu, bahkan kedua orangtuaku. Aku merasakan sakit sendirian, sakit yang kamu nggak bakal bisa membayangkannya.


Dan kamu tahu, pada titik terendah itu siapa yang selalu ada untukku?


Dialah Prambudi, suamiku sekarang. Dia mengulurkan tangannya untukku, mendengarkan segala ceritaku. Dan kami menanggung sakit itu secara bersama sama. Luka dan duka terobati dengan kehadirannya. Laki laki sederhana yang jauh lebih sempurna daripada kamu yang berlagak seperti seorang pangeran berkuda.


Andre, satu hal yang pasti. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Aku nggak mau kamu mengira kita masih terikat sebuah hubungan karena anakku. Amanda itu anakku dan Mas Prambudi. Bukan anakmu.


Terakhir, aku sudah memaafkanmu.


Andre tertegun membaca draft email tersebut. Sebuah pesan yang membuat perasaan Andre kacau balau.


Braakkk


Sebuah suara terdengar dari kamar sebelah.

__ADS_1


"Amanda," Andre segera beranjak dari kursinya. Kemudian berlari kembali ke kamar tempat Amanda tertidur.


Kamar kosong, selimut tersingkap. Amanda tidak ada disana.


"Amanda?,"'Andre gusar dan panik.


"Amanda?" Andre kali ini berteriak.


"Ada apa om?," Amanda terlihat berdiri di luar kamar.


Andre memperhatikan gadis kecil itu. Pakaian yang dikenakan Amanda basah kuyup. Dia terlihat menggendong seekor kucing berwarna hitam legam.


"Darimana kamu kok sampai basah kuyup begitu?," Andre bertanya keheranan.


"Ini, ambil cemong om." Amanda mengangkat kucing hitam di gendongannya.


"Kucing siapa itu? Kamu dapat darimana Manda?," Andre sedikit memelototi Amanda.


"Ini kucingnya Manda Om. Kemarin dibawa sama temen temennya Yayah. Malam ini dikembalikan pada Manda," Amanda tersenyum riang.


"Hah? Temennya Ayahmu? Dimana?," Andre semakin tak mengerti.


"Tuh di luar," Amanda menunjuk jendela.


Andre refleks melongok, melihat keluar melalui jendela. Di antara rintik hujan dengan beberapa kilat yang menyala terang, terlihat belasan orang memakai jas hujan berwarna hitam berdiri di luar pagar rumah Andre. Mereka hanya berdiri saja disana, tak bergerak dan tak bersuara.


TAMAT


Akhirnyaaaaa. . .


Selesai sudah cerita RTS 2.


Terimakasih banyak untuk yang sudah baca tulisan receh dari saya. Karena like, vote, komentar kalianlah semangat untuk nulis itu selalu ada dan tumbuh.


Ingat, cerita ini hanya fiktif belaka. Segala kesamaan kejadian, tempat, nama dan sifat tokoh hanya kebetulan semata.


Sampai jumpa lagi, ditulisan tulisan berikutnya. . .


Yang nulis mau menikmati akhir tahun dulu kayaknya 😁

__ADS_1


__ADS_2