
Sebuah mobil sedan terparkir di rubanah mall dengan lampu yang menyala. Andre berada di dalam mobil, dia terlihat gusar. Jelas sekali dia begitu syok dengan kejadian yang baru dialaminya. Sedangkan Linda, duduk di kursi kemudi tidak segera menjalankan mobilnya. Linda hanya diam saja menatap Andre.
"Ndree?," Linda memanggil Andre dengan pelan. Andre tidak menyahut.
"Cerita dong sama aku. Itu tadi siapa? Dan kenapa?," Linda menepuk nepuk bahu Andre dengan lembut.
"Bisa nggak sih kali ini kamu nggak banyak tanya?," Andre menggaruk garuk kepala bagian belakang. Ekspresinya masih terlihat tegang.
"Ya siapa tahu aku bisa bantu," Linda menjawab enteng.
"Dia mantanku. Tapi dia bilang tak mengenaliku. Dan anak kecil tadi, mungkinkah anaknya? Argghh, sialan!," Andre memukul dasboard mobil.
"Hey hey kesal boleh, anarkis jangan dong. Cicilan belum lunas ini," Linda mencoba sedikit berkelakar. Andre tak mempedulikannya.
"Gini gini, coba deh cerita sama aku. Percaya sama aku, meskipun mungkin aku nggak bisa memberi solusi setidaknya hal itu bisa membuatmu lebih lega," Linda kembali menepuk nepuk bahu Andre. Andre terdengar menghela nafas.
"Jalan dulu nanti aku cerita," Andre meminta Linda menjalankan mobilnya.
"Oke deh, siap Bapak," Linda cengengesan. Linda menginjak pedal gas mobilnya, mereka keluar dari parkiran mall.
Suasana kota malam hari terlihat begitu semarak. Lampu dan juga pernak pernik bersinar di sepanjang jalan seakan menegaskan perbedaan peradaban antara kota dan desa. Di sepanjang jalan juga banyak pedagang yang mulai membuka lapaknya. Warung kopi, nasi goreng, hingga jenis makanan yang dibakar, semua ada. Asap tipis hasil pengolahan makanan terbang masuk ke dalam mobil melalui celah kaca yang terbuka. Aroma yang sedap dan berbumbu begitu harum menggoda perut dan lidah Linda yang sedari tadi belum makan.
"Sialan! Aku lapar," linda mengusap usap perutnya.
"Makan yuk?," Linda bertanya pada Andre yang masih diam saja.
Karena tak kunjung mendapat jawaban ataupun tanggapan dari Andre, Linda memutuskan berhenti di sebuah warung bakso. Kepulan asap dengan aroma kaldu sapi menyeruak, benar benar membuat Linda semakin lapar tak tertahan.
"Ayok turun," Linda menarik lengan Andre. Sepupunya itu masih diam saja tak bergeming dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Andre, ayoklah. . .plis, aku lapar banget," Linda menggerutu.
Andre mendengus kesal, namun akhirnya dia menuruti Linda. Dengan gontai Andre berjalan masuk ke warung dan mengambil tempat duduk di pojok ruangan.
"Bakso urat dua dan es teh juga dua ya Pak," Linda memesan makanan.
"Ndree, ayoklah cerita. Jangan bikin aku penasaran lah," Linda mendesak Andre untuk bercerita.
"Kenapa kamu jadi maksa? Kan sudah kubilang tadi itu mantanku," Andre sedikit kesal merasa diinterogasi oleh Linda.
"Iya aku juga tahu kalau itu mantanmu. Yang jadi pertanyaanku kenapa setelah bertemu dengannya kamu seperti kangkung tercelup air panas, layu?," Linda meledek.
"Dia mantanku satu satunya," Andre mendesah pelan. Dia mendongak menatap langit langit.
"Aku berpacaran dengannya kurang lebih dua tahun. Dia cantik dan cukup pintar. Aku nyaman banget bersamanya waktu itu. Dia adalah anak dari Pak Doto pengusaha kaya raya, kamu pasti kenal kan dengan Pak Doto?," Andre menatap Linda, Linda hanya mengangguk.
"Terus kalau dia begitu sempurna, kenapa kalian berpisah? Pasti kamu ditinggalkan ya, karena dia dapat orang yang lebih baik," Linda terus meledek Andre. Bisa saja kan Citra jatuh hati pada Prambudi saat masih bersama Andre.
"Hal yang paling kusesali dalam hidupku hingga kini adalah aku meninggalkannya," Andre tampak begitu sedih, wajahnya tertekuk.
Pelayan mengantarkan makanan yang telah dipesan oleh Linda. Dengan perut yang sudah keroncongan tak tertahan, Linda segera menyambar bakso yang telah disajikan. Linda menuang sambal dan kecap dan segera menjejalkan bola bola daging itu ke mulut mungilnya. Dia tidak perlu merasa segan untuk makan secara bar bar di hadapan Andre.
"Kenapa kau meninggalkannya? Hidup itu seharusnya dinikmati, bukan disesali kau tahu," Linda menunjuk wajah Andre menggunakan garpu di tangan kirinya.
"Aku lebih memilih studiku. Jujur, memiliki hubungan itu cukup menguras waktuku, mengurangi fokusku. Aku memutuskan meninggalkannya saat berangkat ke luar negeri," Andre terlihat hanya memainkan sendoknya.
"Itu pilihanmu Ndre. So, jangan sesali dong. Lagipula dia sudah bahagia, bahkan lupa siapa kamu," Linda terkekeh.
"Itu masalahnya, nggak mungkin dia lupa padaku. Bahkan dia menatapku seperti tak mengenalku sama sekali. Seakan aku itu orang asing," Andre tidak menyentuh makanan di hadapannya, hanya memainkan sendok di tangannya.
__ADS_1
"Apa mungkin dia dicuci otak? Atau diguna guna hingga lupa padaku?," Andre mengutarakan apa yang ada dipikirannya, sebuah dugaan yang konyol sebenarnya untuk seorang Andre.
"Uhuukk uhhukk uhukk," Linda tersedak.
"Ndree, plis lah. Kamu percaya gituan?," Linda kali ini tertawa. Linda merasa heran pada pemikiran sepupunya yang sudah terbukti kepintarannya itu.
"Karena nggak mungkin dia lupa padaku Lin. Impossible, mustahil!," Andre menatap Linda tajam.
"Kenapa kamu seyakin itu?," Linda kembali bertanya dengan mulut penuh kuah bakso.
"Karena. . .karena waktu itu aku meninggalkannya ke luar negeri dalam keadaan hamil muda," Andre sedikit ragu untuk bercerita.
Bagai disambar petir disiang bolong, Linda benar benar terkejut dengan apa yang didengarnya. Beberapa detik, Linda hanya terdiam membisu. Mulutnya terkunci rapat.
"Kamu sudah gila Ndre," Ujar Linda setelah beberapa saat.
"Ya aku sudah gila. Aku berhutang maaf padanya. Dan gadis kecil di sampingnya tadi, mungkinkah itu anakku?," Andre memijat mijat keningnya sendiri.
"Kamu laki laki brengsek ternyata. Bagaimana mungkin kamu meninggalkan wanita hamil muda untuk mengejar keegoisanmu sendiri," Linda melotot, dari raut wajahnya seakan tak percaya dengan kelakuan sepupunya itu. Padahal sejatinya Linda juga tak lebih baik dari Andre.
"Iya aku tahu, aku sadar. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi nggak bisa. Begitu sampai di negara ini aku juga langsung meminta orang untuk mencari tahu apakah dia masih tinggal di rumahnya dulu. Dan ternyata, kabarnya dia sudah pindah bersama suaminya," Andre menghela nafas. Terlihat jelas penyesalan dari sorot matanya.
"Terus? Kamu tadi sudah bertemu dengannya Ndre, apa yang mau kamu lakukan sekarang? Dia tak mengenalimu lagi. Sebagai seorang wanita seandainya aku di posisinya aku juga akan melupakanmu," Linda berbicara dengan nada sinis.
"Aku yakin ada yang tidak beres dengannya. Aku harus menemui dan bicara dengannya sekali lagi. Paling tidak dia harus ingat tentangku, aku harus memperbaiki kesalahanku yang dulu," Andre mengepalkan tangannya dengan erat.
Linda tak berkomentar kali ini. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi, Amanda bukan anak Prambudi? Terus bagaimana mungkin Prambudi terlihat begitu sayang pada bocah itu, seakan Amanda adalah darah dagingnya? Atau mungkin selama ini Citra telah menipu Prambudi?
Bersambung . . .
__ADS_1