Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate
Biarkan aku bersamamu


__ADS_3

Setelah menitipkan Amanda pada Andre, Citra terdiam sejenak di depan pintu kamar. Dia termenung, sedikit ragu dengan keputusan yang telah dipilihnya. Apakah sudah benar dia menitipkan Amanda pada Andre? Bisakah dia mempercayakan putri kecilnya itu pada Andre?


Citra beralih memandang kakek tua bertongkat yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Kakek tua itu tak bergerak, nafasnya pun sepertinya sudah tiada. Citra berjalan mendekatinya. Amarah dan kebencian nampak jelas dari ekor matanya yang menyala berkilat.


"Semua ini gara gara kalian!," Citra menitikkan air matanya. Ingin rasanya dia meluapkan kemarahannya pada mayat di depannya itu. Citra hanya bisa mengutuk dalam hati agar semua orang orang jahat yang telah menyeret suaminya pada kesesatan tidak akan pernah mendapatkan ketenangan.


Dooorrrrr


Terdengar sebuah letupan senjata dari lantai atas.


"Mas Pram!," Citra terpekik.


Citra langsung teringat dengan suaminya. Dia ingin segera berlari ke atas, namun lututnya terasa kehilangan tenaga. Rasa khawatir dan firasat buruk seperti merenggut tenaganya. Citra seakan sudah tahu siapa yang tertembak, meskipun belum melihatnya secara langsung. Air matanya sudah tumpah, membuat pandangan matanya berkunang kunang. Dia hampir saja pingsan, namun masih berusaha sekuat tenaga bertahan.


"Citra anakku!," Nyonya Doto berteriak dari ruang tamu. Dengan tergopoh gopoh dia mendekati Citra.


"Ayo kita pergi dari sini Nak!," Nyonya Doto segera menarik lengan Citra. Namun terasa berat. Citra menolak, kakinya seakan terpaku di tempatnya berdiri sekarang.


Braaakk Praangg


Terdengar kaca jendela depan pecah. Disusul kobaran api yang menjalar dari obor yang dilemparkan oleh warga. Api mulai membakar pintu kayu, korden dan jendela. Nyonya Doto semakin panik, sementara Citra malah terlihat berjalan menuju lantai dua.


"Kamu mau kemana Nak?," Nyonya Doto menarik lengan Citra, suaranya terdengar bergetar.


"Lepaskan aku Bunda," Ucap Citra pelan. Sorot matanya nampak kosong. Dia sama sekali tak peduli dengan kobaran api yang mulai terlihat meliuk liuk.


"Ayo kita keluar dari rumah ini. Manda mana Manda? Mandaa dimana kamu cucuku?," Nyonya Doto mulai menangis. Dia mengguncang guncangkan lengan putrinya dengan kasar. Rasa panik dan ketakutan membuatnya tak tenang.


"Diam Bunda!," Citra berteriak. Nyonya Doto terdiam seketika, dia melepaskan genggaman tangannya.


"Kalau saja Bunda tidak menghina Mas Pram. Kalau saja Bunda tidak mengolok ngolok Mas Pram. Kalau saja Bunda mau menerima Mas Pram. Ini semua takkan pernah terjadi! Ini semua salah Bunda!," Citra membuang muka. Dengan sempoyongan dia berjalan menyusuri tangga menuju lantai atas.


Nyonya Doto terpaku. Dia terdiam membisu, melihat sorot mata putri satu satunya yang berubah mengerikan. Nyonya Doto syok. Seumur hidupnya, sedari kecil hingga dewasa, Nyonya Doto belum pernah melihat ekspresi wajah dan sorot mata yang demikian itu dari Citra.

__ADS_1


"Kenapa Nak? Aku ibumu Nak. . . Hanya kamu dan Amanda yang kumiliki sekarang Nak," Nyonya Doto tersedu, terisak bersama dengan suara kobaran api yang mulai membakar plavon teras depan.


"Ah, Amanda. Dimana kamu cucuku?," Nyonya Doto teringat cucunya. Dengan tergesa gesa dia masuk ke dalam kamar. Mencoba mencari cucunya itu.


"Mandaaa, sayang. Cucunya Omaaa," Nyonya Doto memungut boneka doraemon berwarna pink kesukaan Amanda yang tergeletak di atas kasur. Perempuan tua itu kemudian duduk di lantai. Punggungnya dia sandarkan pada pinggiran dipan. Nyonya Doto membelai lembut boneka doraemon, dan menimang nimangnya.


Nyonya Doto teringat kembali hari dimana Amanda, cucunya terlahir ke dunia. Kebahagiaan menyelimuti keluarga. Sakit hati karena anak semata wayangnya harus menikahi orang tak berpunya sedikit terobati dengan lahirnya cucu yang sehat nan cantik.


Kini potret keluarga bahagia itu hanya ada di angan saja. Suaminya telah pergi terlebih dahulu dalam kecelakaan tragis. Anaknya baru saja membentak dengan tatapan penuh kebencian padanya. Dan cucu kesayangannya tak ada dimanapun. Hanya ada boneka doraemon berwarna pink yang masih menyisakan aroma dari gadis kecil itu. Nyonya Doto memeluk boneka doraemon pink itu dengan erat. Sementara kepulan asap hitam mulai memasuki kamar, mengepung nenek tua yang sedang menangis kesepian.


Citra mencapai lantai atas. Dan sesuai dugaannya, Prambudi terduduk dengan perut bersimbah darah. Tubuh Citra gemetar hebat. Air matanya terasa kering untuk menangis. Citra mendekat, merengkuh tubuh suaminya yang masih terasa begitu hangat.


"Kenapa . . . kamu kembali . . .kemari?," Prambudi bertanya terbata bata. Nafasnya terdengar kasar. Citra tak menjawab, dia berusaha menekan luka Prambudi agar darah berhenti mengalir dari sana.


"Dimana Amanda?," Prambudi kembali bertanya.


"Anak kita aman Mas," Citra menjawab di antara isak tangisnya.


Braakkk


Suara pintu kamar terbuka secara kasar. Mas Adi keluar dari kamar membopong seorang perempuan. Dia bertemu pandang dengan Citra. Mas Adi langsung sadar, Citra menatapnya dengan penuh kebencian di hatinya.


"Kenapa kamu lakukan ini? B*jing*n!," Citra memekik, mengumpat sambil menangis. Suaranya serak memilukan.


"Jangan . . .salahkan Adi Cit. Aku. . .yang merebut pistolnya tadi. Dan menembak diriku . . .sendiri," Ucap Prambudi lirih.


"Kenapa Mas? Mas mau ninggalin aku? Udah nggak sayang lagi sama aku?," Citra mengiba lirih.


"Karena aku sudah . . .tak ada. . .jalan untuk kembali," Prambudi berbisik lirih. Citra menangis sejadi jadinya.


"Ayo kita keluar dari sini Mbak," Mas Adi mencoba membujuk Citra. Asap mulai mengepung lantai dua. Suhu udara pun meningkat tajam. Si jago merah mulai menjalar membakar pegangan tangga yang terbuat dari kayu.


"Pergilah. Biarkan kami berdua menjadi abu bersama sama," Ucap Citra cepat. Dia mendekap Prambudi dalam genangan darah.

__ADS_1


Mas Adi tak ada pilihan lain. Dia tak mungkin berlama lama berada di tempat itu. Oksigen semakin menipis, karbonmonoksida membuat dadanya semakin terasa sesak. Apalagi Sinta dalam keadaan pingsan. Mas Adi berlari menuju ke balkon. Tanpa pikir panjang dia langsung melompat sambil membopong tubuh Sinta.


Brukkk


Mas Adi mendarat dengan tumpuan kaki kanan terlebih dahulu. Kakinya terkilir, namun untunglah dia dan Sinta berhasil keluar dengan selamat.


Lantai atas semakin penuh oleh kepungan asap. Prambudi menatap Citra dengan sisa sisa tenaganya.


"Pergilah sayang. Pergi," Ucap Prambudi lirih.


"Aku takkan meninggalkanmu Mas. Sama halnya sepertimu yang tak meninggalkanku ketika aku terpuruk," Citra membelai lembut pipi suaminya. Kini sekujur tubuh mereka berdua penuh dengan noda darah.


"Tanpa kamu, aku sudah tak ada di dunia ini. Jadi sekarang, ijinkan aku pergi dari dunia ini bersama denganmu," Ucap Citra dengan lugas.


"Amanda?," Prambudi kembali bertanya.


"Anak itu punya masa depannya sendiri Mas. Percayalah dia akan tumbuh menjadi orang hebat. Sedangkan aku sebagai istrimu, masa depanku sudah selesai jika tidak bersamamu," Citra merogoh saku celana Prambudi. Diambilnya HP suaminya itu. Kemudian dia mengambil headset yang ada di dalam tas kecil yang dia pakai.


Citra memasukkan sebelah headset pada telinganya yang kiri. Kemudian memakaikan bagian yang sebelahnya lagi, ke telinga kanan Prambudi. Citra memutar sebuah lagu.


🎶Sesungguhnya aku tak bisa. . .


Jalani hari tanpamu


Perpisahan bukanlah duka


Meski harus menyisakan luka 🎶


Citra mendekatkan wajahnya pada Prambudi. Dia mendaratkan kecupan sepenuh hatinya pada bibir suaminya itu. Bibir yang awalnya terasa hangat, namun perlahan lahan berubah menjadi sedingin es. Mata biru Prambudi menatap Citra dengan tatapan kosong. Sementara api sudah mengepung mereka berdua.


Citra menangis tak bersuara, dia mendekap Prambudi bersama dengan dekapan api yang langsung menyelimuti tubuh keduanya.


Bersambung . . .

__ADS_1


__ADS_2