
Sinar matahari pagi menerobos masuk di antara celah kaca jendela yang tak tertutup korden. Prambudi terbangun di kasurnya, menyibak selimut dengan enggan. Dilihatnya jam di dinding, sudah jam 6 pagi. Dia meregangkan badannya sebentar, kemudian beranjak mengambil HP di atas meja.
-Mas, kapan menjemputku?-
Sebuah pesan masuk dari Citra.
Prambudi meletakkan HP nya kembali, dia sengaja tidak membalas pesan istrinya itu. Bukan karena tidak mau menjemputnya, namun ada hal yang harus dilakukan dan diselesaikan oleh Prambudi.
Prambudi keluar kamar, menuju ke dapur. Aroma wangi dan sangit tercium menyengat. Prambudi tak peduli, dia sudah terbiasa dengan bebauan tersebut. Prambudi mengambil sebuah cangkir kecil, menuangkan air panas dari termos dan mengambil dua sendok kopi tubruk tanpa gula. Dia mengaduknya sebentar dan segera menyeruput sambil sesekali meniupnya perlahan.
Sensasi rasa pahit dari kopi tanpa gula membuat matanya yang masih mengantuk akhirnya terbuka sempurna. Entah sejak kapan Prambudi jadi begitu suka dengan minuman kopi pahit. Mungkin, semenjak dia dan keluarganya pindah ke rumah kontrakan ini.
Setelah rasa kantuknya benar benar hilang, barulah Prambudi membuka pintu belakang. Dia mengambil handuk yang tergantung di tali jemuran. Setelahnya dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Prambudi mengguyurkan air ke badannya. Terasa begitu dingin dan menyegarkan. Namun, setelah rasa dingin menghilang, ada sensasi perih di bagian punggung dan lengan Prambudi.
Beberapa luka terlihat di beberapa bagian tubuh Prambudi. Memar dan beberapa luka lecet yang cukup membuat Prambudi meringis menahan nyeri saat air menimpa bagian luka yang terbuka. Prambudi mendesis pelan. Dia menatap cermin yang tertempel di tembok. Memperhatikan wajahnya sendiri.
"Sabar. . .tinggal sedikit lagi Pram," Ujar Prambudi lirih.
Ada rasa sesak di dadanya yang sulit diungkapkan. Prambudi menatap kedua telapak tangannya, mengambil sabun dan mencucinya. Tangan yang sudah terlihat bersih, namun Prambudi terus menerus mengulang mencuci tangannya, membilasnya lagi dan lagi.
"Bau darah," Prambudi mengendus endus jari jemarinya. Tanpa disadari beberapa bulir air mata jatuh di pipinya.
Prambudi menangis terisak. Entah apa yang tiba tiba membuatnya begitu rapuh. Senyum laki laki memang bisa saja penuh kebohongan, namun tangis laki laki adalah ungkapan perasaan yang paling jujur. Prambudi menatap bayangan wajahnya di air bak mandi. Awalnya, dia menepuk nepuk pipinya sendiri dengan pelan, namun lama kelamaan berubah menjadi beberapa tamparan yang membuat kulit wajahnya memerah.
"Rawe rawe rantas, malang malang putung (segala sesuatu yang menghalangi maksud dan tujuan harus disingkirkan)," Prambudi terdengar seperti menggeram saat mengucap kalimatnya.
Prambudi segera menyelesaikan mandinya. Sehabis mandi, Prambudi berganti baju. Hari ini dia mengenakan seragam batik lengan pendek dari perusahaan tempatnya bekerja. Corak batik hitam merah, memberi kesan semakin menonjolkan sisi kelam dan seakan penuh amarah untuk diri Prambudi.
Baru setengah tujuh pagi, Prambudi sudah bersiap berangkat ke kantor. Karena nggak ada makanan di rumah, dia memilih untuk berangkat lebih awal sekalian nanti sarapan di warung. Prambudi berjalan keluar rumah, kemudian berdiri bersandar di tembok pagar menunggu si tukang betor datang menjemput.
__ADS_1
Namun, lain yang ditunggu lain pula yang datang. Yang ditunggu tukang betor namun yang terlihat berjalan mendekat justru seorang kakek tua si pemilik rumah. Mbah Kadir terlihat berjalan mengenakan kaos dan celana kolor hitam lusuh. Udheng atau ikat kepala tak lupa bertengger menutupi rambutnya yang memutih.
"Mbah Kadir? Tumben," Prambudi sedikit kaget dengan kehadiran kakek renta itu.
Mbah Kadir tidak segera menyahut. Dia hanya berdiam saja di hadapan Prambudi. Kulit Mbah Kadir terlihat putih pucat, mungkin saking lamanya tidak keluar rumah.
"Badanku terasa kaku. Aku hanya ingin jalan jalan saja, tak sengaja kemari kok," Jawab Mbah Kadir setelah beberapa saat. Kakek tua itu terlihat kelelahan, nafasnya tersengal. Badan sepuhnya itu kian hari kian melemah.
"Kerjaanmu lancar? Rumahnya gimana? Nyaman?," Mbah Kadir balik bertanya pada Prambudi.
"Iya Mbah," Jawab Prambudi pendek.
"Anak? Istri? Kemana?," Mbah Kadir bertanya lebih lanjut.
"Lagi di rumah kakek neneknya Mbah. Lagi kangen katanya," Jawab Prambudi asal asalan.
"Kamu, . . . apa yang sudah kamu lakukan?," Mbah Kadir terbelalak, matanya melotot menatap Prambudi.
"Ada apa Mbah?," Prambudi tidak mengerti maksud lansia satu itu.
"Kenapa tanganmu?," Mbah Kadir menunjuk luka di lengan Prambudi. Prambudi diam sesaat, ekspresinya terlihat berubah.
"Oh, ini terbentur di tempat kerja," Prambudi tersenyum, namun terlihat jelas bahwa senyum itu penuh dengan dusta.
"Kamu berbohong!," Mbah Kadir membentak.
"Kamu, . .Kamu sama dengan wanita itu!," Mbah Kadir meracau tidak jelas, nafasnya memburu. Prambudi terlihat tetap tenang. Senyum Prambudi terlihat semakin lebar.
"Kenapa? Kenapa harus seperti itu?," Mbah Kadir mundur beberapa langkah. Prambudi malah maju mendekati kakek tua yang gemetaran itu.
__ADS_1
Saat Prambudi hendak membuka mulutnya, terdengar suara klakson dari tukang becak motor. Klakson khas yang berbunyi serak menandakan accu yang hampir tekor.
"Kamu diam saja Mbah, jangan ikut campur. Tidur di rumah saja dan biarkan orang lain bahagia dengan jalannya sendiri," Bisik Prambudi di telinga Mbah Kadir.
Prambudi melangkah pelan meninggalkan Mbah Kadir. Sebuah senyum yang sinis terkembang dari bibirnya. Prambudi segera duduk di kursi penumpang becak motor.
"Jalan Pak," Ujar Prambudi pada tukang betor.
Mendengar perintah dari pelanggan tetapnya itu, si tukang betor segera menarik gasnya dalam dalam. Meskipun ada rasa penasaran di hatinya, melihat kakek tua yang gemetaran di depannya.
"Manungso mung ngundhuh wohing pakarti (kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri). Ra ono kamulyan saka nglarani wong liyan (tidak ada kemuliaan yang didapat dari menyakiti orang lain)," Ucap Mbah Kadir dengan gemetar. Suaranya terdengar bergetar dan tertekan.
Mbah Kadir menyandarkan tubuhnya pada tembok pagar rumah. Dia begitu syok melihat dan mendengar perkataan Prambudi. Dia memang sudah mulai sering lupa dengan nama orang, namun dia ingat betul pertemuan pertamanya dengan Prambudi. Laki laki tampan yang tiba tiba saja ingin ngontrak di rumah yang disebut warga sekitar sebagai rumah angker, rumah tusuk sate.
Mbah Kadir ingat, laki laki itu terlihat begitu sopan, dan halus cara bicaranya. Namun sekarang, laki laki itu berubah menjadi orang asing. Senyumnya, nada bicaranya, sudah sangat berubah.
"Uhuukk uhukkk uhukk," Mbah Kadir terbatuk batuk.
"Aku harus ambil kunci cadangan di rumah. Aku nggak boleh membiarkan kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali," Mbah Kadir sempoyongan. Pijakan kakinya lemah.
Mbah Kadir melangkah perlahan, dia berjalan kembali ke rumahnya.
Bersambung. . .
Hallooo jangan luka like, favorit, dan komen ya. Share juga
Tengkiyuuu
Follow IG : bung_engkus
__ADS_1