Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Kepo!


__ADS_3

Tiba di ruang VVIP sambutan hangat tertuju pada mereka "Jeje, sayang, Mami kangen." Sang mertua menghambur memeluk penuh cinta menantunya, padahal sebulan yang lalu wanita itu berbicara ketus padanya, rupanya bocoran berita tentang kehamilan Jelita membuat sikap Emma melembut.


"Jelita, sayang." Satu persatu keluarga Jelita pun bergantian memeluk wanita hamil itu, dari Tristan Abang sulung Jelita beserta isterinya, Galang Abang kedua Jelita beserta isterinya kemudian Anson Dwi Pangga, juga ayah dan ibunya Jelita, Marseille dan Mirea.


"Selamat sayang, akhirnya kamu hamil juga." Mirea menyeka satu bulir air mata bahagianya menatap haru wajah cantik putrinya.


"Terimakasih Mah."


"Siapa dulu dong yang ngasih ramuan, Emma gitu loh!" Percaya diri sekali wanita itu berucap, padahal Jelita hamil bukan karena ramuan herbal yang ia berikan satu bulan lalu tapi karena Brandon yang sudah menaburkan sel selnya pada malam penuh peluh itu.


"Iya, terimakasih ya Jeng! Akhirnya aku mau punya cucu lagi." Sambung Mirea merangkul besan perempuannya.


Hadiah demi hadiah Jelita terima, terutama dari Anson Dwi Pangga yang memberinya kartu member VIP untuk berbelanja di sebuah gerai brand ternama, juga mobil yang harganya ratusan miliar.


"Terimakasih ya Pi." Jelita mencium pipi mertuanya, penuh khidmat.


"Wah, Pi, yang bikin Jeje hamil kan E'den, masa cuma Jeje yang di kasih mobil?" Protes laki-laki itu seraya tergelak. Termasuk keluarga yang lain juga ikut tertawa renyah bersamaan.


Kemudian setelah itu semua orang menghadapi hidangan spesial di mejanya masing-masing, segera memulai ritual makan malam bersama sambil mengobrol ringan seputar kehamilan Jelita.


"Kamu kenapa ga mau makan Jeje?" Brandon bertanya pada isterinya dengan sedikit menundukkan wajahnya mendekati wanita itu.


"Aku ga selera." Jutek Jelita.


"Aku suapi?" Tawar Brandon.


"Ga perlu!"


Huff, Brandon terlihat membuang kesah dari dalam dadanya sembari menyandarkan punggung pada penopang kursi.


"Sabar E'den, kelakuan ibu hamil memang suka begitu, kamu harus lebih sabar lagi." Galang menyeletuk dari tempatnya menasehati adik iparnya.


"Iya, dulu Mami mu juga begitu. Sabar, turuti saja kemauan Jelita." Anson ikut menimpali.


"Sabar nak." Imbuh Marseille sembari menepuk pundak menantunya.


Mata Jelita mengelilingi wajah keluarganya seolah protes "Lihat lah, seakan akan cuma kamu yang perlu kesabaran, padahal aku yang teraniaya selama ini." Batinnya sinis, entah hilang kemana Jelita yang tertindas, setelah hamil wanita itu menjadi lebih sering berang.


"Tenang, E'den selalu sabar, demi istri tercinta."

__ADS_1


"Uueegh!!" Tiba-tiba saja Jelita meluah tak terkendali sesaat setelah Brandon mengucap kalimat itu.


"Kenapa hmm?"


"Maaf yah, Jeje ke toilet dulu." Pamitnya sambil menutup mulutnya menahan mual.


"Aku antar?" Brandon berusaha siaga tapi Jelita mendorong tangannya, menolak.


"Aku bisa sendiri. Maaf Pah Mah, Pi Mi, bang, kak, Jelita ke toilet dulu ya."


"Hati-hati Jeje." Tatapan khawatir berasal dari semua mata keluarganya.


Jelita kemudian berjalan gontai menuju toilet, rasanya sudah tak sabar ingin segera memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Uueegh!" Tiba di dalam Jelita reflek meluah kan semuanya hingga kekuningan, lemas yang dia rasakan setelah itu.


Ia kemudian mencuci mulutnya dengan meraup seluruh wajahnya menggunakan air dari keran wastafel. Sejenak ia berdiri kelu menatap bayangan wajah cantiknya di cermin.


"Aku cuma mau makan masakan di rumah Dylan. Huh, tapi gimana bisa coba? E'den pasti ga ngizinin aku, lagian kenapa sih nak, kamu cuma mau menerima makanan Om mafia itu hah! Malu-maluin ajah!" Jelita mengusap perut merutuki bayinya.


Pagi dan siang tadi Brandon di kantor jadi tak perlu takut ketahuan, lalu apa jadinya jika sampai Brandon tahu sudah dua hari ini Dylan lah yang memberinya makan?


"Jeje!" Seorang wanita masuk memangilnya dan lumayan membuat nya tersentak kaget.


"Shasha! K-kamu di sini?" Toleh nya terbata "Gimana kalo dia dengar gerutuan ku?" Sisi batinnya.


"Iya, aku kebetulan ketemu seseorang di sini juga. Kamu masih sama keluarga yah?"


"Iya." Angguk Jelita merasa lebih tenang, sepertinya Shasha tidak mendengar ucapan nya barusan.


"Aku liat kamu di kasih hadiah, BTW apa ajah hadiahnya?"


"Emmh, aku juga belum tahu Sha, kan belum di buka kado-kado nya." Kilah Jelita padahal Anson memberinya mobil dan kartu member VIP tanpa di bungkus, Jelita rasa Shasha tidak perlu tahu apa pun hadiahnya.


"Oh."


"Ya udah, sekarang, aku keluar yah." Jelita pamit lalu Shasha mengangguk mempersilahkan.


Jelita kemudian keluar dari ruangan itu, tiba di luar matanya membulat saat melihat laki-laki tampan bersandar di bawah plang bertuliskan toilet, sembari mengembangkan senyum manis padanya "Hai."

__ADS_1


"Dylan!" Kejut nya.


"Kamu muntah lagi?" Tanya laki-laki itu seraya mengangkat punggung dari dinding kemudian berdiri menghadap Jelita dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana.


"Mau tau ajah urusan perempuan!" Jelita dengan cepat mengambil jalan lain berusaha menghindari laki-laki itu, di dalam toilet masih ada Shasha entah kenapa Jelita takut di adukan pada Brandon "Dasar Om mafia, di mana mana ada dia! Bosen!" Gerutunya yang berlainan dengan hatinya.


"Tapi BTW, dia mau ngapain di sini? Apa, kencan? Ih lagian kenapa juga aku kepo? Dia juga bukan siapa-siapa ku!"


Dylan hanya tersenyum miring menatap berlalunya punggung wanita itu.


...🖋️................🖋️...


Seperti malam-malam biasanya ketika Shasha menginap, Jelita menutup pintu kamar tamu, tempat di mana malam ini dia akan tidur sendiri, tentunya setelah memboyong hadiah-hadiah dari keluarganya masuk ke dalam.


"Je, kamu kok tidur di sini lagi sih? Kan Shasha gak ada!" Brandon mencegah tertutupnya pintu berwarna putih itu.


"Ya terus? Kenapa?"


"Kita tidur bareng lagi lah, kamu kenapa akhir-akhir ini begitu, cuek, aku ngerasa kamu sengaja menghindari ku. Aku punya salah hmm? Bilang Jeje, apa salah ku?"


Mata Jelita melolong tajam ke arah laki-laki itu sedang tangannya meremas perutnya sendiri, ada seberkas sesal yang wanita itu rasakan, mengapa satu bulan lalu ia menyerahkan kesuciannya pada suami yang hanya menganggap nya boneka.


"Aku yang salah mempercayai rayuan mu! Kenapa aku harus mau tidur dengan mu!" Sayangnya Jelita hanya berani mengungkapkan kata-kata itu dalam hati saja.


"Jeje, jawab aku." Tuntut Brandon nanar.


"Kamu ga salah apa-apa, ya cuma masih mual ajah E'den, Papi juga bilang Mami begitu dulu, kamu ngertiin dong." Keluh Jelita.


"Nih." Brandon menyodorkan satu masker pada isterinya "Pake itu dulu, biar kan aku memeluk mu sebentar saja." Pintanya memelas.


Meskipun keberatan Jelita tetap menuruti perkataan suaminya, ia pakai masker dari Brandon kemudian membiarkan laki-laki itu mendekapnya erat.


"Aku merindukan mu!" Ucap Brandon lirih lalu mendaratkan kecupan pada puncak kepala isterinya "Kamu tahu, rasa damai ini yang membuat ku tak pernah bisa melepas mu meski Shasha terus menerus mendesak ku menceraikan mu." Sisi batinnya.


Jelita terdiam, sejenak dia memberikan kesempatan untuk laki-laki itu menyentuhnya meskipun dogol masih tergalang dalam dadanya begitu menyesakkan.


Tiada satu patah katapun lagi, ucapan Brandon yang mampu menyentuh hati Jelita setelah tahu alasan mengapa Brandon mau menidurinya. Luka itu masih meradang bahkan semakin membengkak di dalam sana.


"Bulsyiittt." Kata Jelita dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kamu tidur." Brandon mengecup sekali lagi kening wanita itu lalu melangkah keluar juga menutup pintu kamar.


__ADS_2