
...Part ini mengandung kebucinan, yang Anti Bucin, silahkan menepi!!!...
...ποΈ................ποΈ...
"Aw!" Garry meringis mendapati ketegangan yang menyesakkan celana jeans miliknya setelah bersentuhan dengan wanita seksi.
"Kenapa?" Tanya Ranti polos.
"Hehe." Garry menyengir "Syi Dede bangun, maklum, dia suka terganggu sama...." Baru saja tangan pria itu akan meraih gundukan padat milik Ranti tapi sayangnya si pemilik menepis.
"Resiko mu!"
Sontak Bibir Garry melengkung ke bawah, memelas "Aku ke kamar saja kalo begitu, padahal baru mandi, tapi Neng Ranti bikin basah lagi setelah ini." Keluh nya.
"Memangnya kalo ngga ke kamar, kamu berharap aku membantu mu, begitu?" Sulut Ranti.
Garry menyengir "Tentu saja belum tega, Abang Neng, nanti saja kalo dah resmi, boleh deh biar kata lima kali semalam juga sanggup Abang Neng." Pria itu menutup mulutnya menahan geli sendiri.
Ranti menaikan ujung bibirnya kemudian berjalan menuju wastafel untuk bergegas membersihkan sisa minuman yang tertumpah pada gaunnya.
Garry mendengus lalu membuka pintu toilet "Aku ke atas dulu, terimakasih kiss nya." Ucapnya.
"Hmmm." Sahut Ranti tanpa menoleh. Wanita itu sudah fokus dengan air yang mengalir dari keran wastafel.
Setelah Garry keluar Ranti baru menghela napas panjang dengan mata yang terpejam "Apa aku gila? Memberikan kesempatan kepadanya? Apa aku tega membiarkan dia menikahi ku?" Gumamnya gundah.
...ποΈ................ποΈ...
Di meja berdiameter besar, Jelita dan Dylan masih setia menanti sang ibunda tercinta yang sudah lumayan lama tak nampak, jika hanya untuk membersihkan gaun saja seharusnya tidak selama ini.
"Kenapa Mami lama yah?" Tanya Jelita sambil mengedarkan pandangannya ke mana-mana.
"Sabar, mungkin belum hilang nodanya." Jawab Dylan mengusap tangan isterinya.
"Oh itu dia." Ucap Jelita setelah melihat Ranti mengayunkan langkahnya menuju meja yang dia tempati.
Sambil tersenyum pada putra-putri nya Ranti duduk di kursi sebelah kanan Jelita, dan tak berapa lama keluarga Talia ikut nimbrung di meja tersebut, mereka asyik mengobrol sembari menikmati hidangan.
Sampai pada saatnya seorang pria tampan juga ikut duduk di salah satu kursi itu "Ekm ekm." Dahaman Garry sambil melirik ke arah Ranti yang masih fokus dengan ponselnya.
Dylan sempat mengamati kerlingan mata Garry yang lumayan membuatnya curiga.
"Loh, rambut kamu basah? Kamu mandi lagi Garry?" Tanya Mario pada putra bungsunya.
"Eh?" Garry ******* ***** kecil rambut basahnya sambil menyengir kikuk "Iya Pah, tadi sengaja Garry basahi." Kilahnya.
Lirikan matanya mengarah pada Ranti yang kini tersenyum seakan menertawakan dirinya "Kamu berhasil bikin Abang mandi dua kali malam-malam begini, awas ajah kamu Neng. Kalo sampe misi ku berhasil. Emmmmhhh....." Garry meremas geram waslap yang masih terlipat rapi di atas meja saking gemasnya kala membayangkan pembalasan dendam serangan cintanya.
__ADS_1
Lagi-lagi Dylan masih setia mengamati setiap ekspresi yang ibunya dan Garry tampilkan.
"Apa mereka sudah dekat?" Batinnya.
Kemudian tak lama dari itu, satu laki-laki paruh baya dan seorang gadis duduk di kursi sebelah kanan Garry yang kebetulan kosong.
Dialah Anton dokter spesialis kandungan yang memiliki beberapa klinik dan anaknya Lusy masih kuliah kedokteran.
Garry menoleh pada gadis yang tersenyum manis padanya "Halo Dok, selamat malam." Ucapnya.
"Hmm. Malam." Sapa balik Garry tersenyum sedikit menghiraukan gadis itu.
Anton memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah Garry "Dokter Gaga sudah mau punya anak, lalu Dokter Garry kapan?" Tanyanya.
"Tuh sayang, kamu mulai di tanyain loh, kapan dong?" Timpal Talia mendukung pertanyaan laki-laki itu.
Garry menggaruk tengkuk "Kapan ajah, jodoh ngga ketuker." Katanya nyengir.
"Dokter Garry, gimana kalo sama Lusy? Lusy juga jomblo loh, saya setuju kalo kalian bersatu." Usul Anton lalu beralih pada Mario "Gimana menurut mu Dok? Lusy sebentar lagi lulus sekolah kedokteran juga." Ucapnya promosi.
Mario tersenyum "Saya sih, terserah anak-anak saja." Sambung nya.
Garry menyengir, entah apa arti dari cengiran getir itu yang pasti matanya ia turun kan pada piring miliknya. Lusy yang masih menatapnya tak sekalipun ia balas. Jelas Lusy bukan lah wanita idaman dokter tampan itu.
Di tempatnya Rantai mengerling, entah kenapa tiba-tiba saja hawa panas menyelubungi hatinya. Apa lagi saingannya gadis cantik juga masih sangat muda.
Ponsel miliknya tiba-tiba bersuara dan kontak bertuliskan Garry mengirim pesan padanya.
π© "Jangan cemburu, Abang masih mau menikahi mu." Bacanya.
Ranti tak membalas sepatah katapun, wajahnya masih tak bersahabat kali ini.
Memangnya kenapa, kalaupun iya Garry memilih Lusy bukan kah seharusnya Ranti senang? Bukan kah ini juga yang selama ini Ranti inginkan? Entah lah.
...ποΈ................ποΈ...
Malam semakin larut, Ranti sudah siap memasuki alam mimpi, pakaian tidur seksi sudah membalut tubuh indahnya.
Ranti duduk di ranjang lalu mengoleskan losion pada kaki dan tangannya kemudian menarik selimut dan menenggelamkan tubuhnya di sana.
Getar ponsel lumayan terasa, Ranti meraih gawai tipis itu dari bantal di sebelah kepalanya "Garry? Mau apa tengah malam begini telpon?" Gumamnya.
Meski demikian ia tetap menggeser tombol hijau miliknya "Hmmm." Ponselnya ia letakkan begitu saja di telinga tanpa Ranti pegang.
π"Selamat malam, sayang." Sapa Garry hangat.
"Mau apa malam begini telpon? Ga da kerjaan?" Tanya Ranti dingin.
__ADS_1
π "Kangen, suara Neng Ranti." Terdengar suara cekikikan juga dari seberang sana.
Ranti hanya diam saja.
π "Sekarang Neng Ranti pake baju apa hmm?" Tanya Garry.
"Hitam." Jawab Ranti singkat.
π "Ada tali di perut, tali kecil di pundak, juga renda di belahan dadanya, bener ngga tebakan Abang?" Goda Garry.
Ranti menjauhkan teleponnya dari telinga kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah sebelum kemudian menempelkan gawai tipis miliknya ke telinga kembali "Kamu pasang CCTV di kamar ku? Kenapa tahu?" Tanyanya curiga. Yang Garry tebak memang benar semua.
π "Tentu saja tidak, Abang cuma feeling saja, jadi bener kan? Itu tandanya feeling ku selalu benar, begitu juga dengan feeling tentang jodohnya kita."
Gombalan maut Garry yang membuat Ranti memutar bola matanya "Sebenarnya mau apa sih? Sudah malam, aku mengantuk Garry!" Ketusnya.
π "Cuma mau bilang, selamat malam, mimpi indah, tapi sebelumnya Abang mau ngajak Neng Ranti jalan-jalan besok." Jelas Garry.
"Ngga bisa, aku sibuk Garry."
π "Justru itu masalah nya, Neng Ranti ngga mau menyempatkan diri untuk bersenang-senang, beri aku waktu untuk bisa memulai misi ku, bukankah kita sudah sepakat. Kita akan mencoba mengembalikan rasa Neng Ranti lagi." Suara Garry terdengar mendesak.
"Aku tidak yakin kamu bisa!" Sambung Ranti.
π "Beri aku waktu satu bulan saja, menjadi kekasih mu, akan ku tumbuhkan rasa mu lagi Yank. Percaya lah, aku pasti bisa."
Ranti terdiam sejenak lalu menghela "Baiklah, satu bulan saja." Katanya setuju. Lagi pun, beberapa hari ini Ranti sudah menyadari adanya perasaan rindu pada pemuda tampan itu lalu apakah sulit menerima tawarannya? Ranti akan mencobanya.
π "Kalo gitu, kiss Abang." Pinta Garry.
"Ck! Apaan sih? Aku ngantuk Garry! Aku masih mengonsumsi obat dari Gaga, biarkan aku tidur!" Ketus Ranti.
π "Ok, tidur lah, tapi jangan di matikan, biar Abang denger suara napas Neng Ranti dari sini." Pinta Garry lagi.
Ranti mendengus tapi entah kenapa dirinya selalu saja menurut. Ponselnya, Ranti loud speaker lalu ia letakkan tepat di sebelah kanan kepalanya.
Tak lama kemudian, terdengar dentingan gitar akustik yang mengalun syahdu dari seberang sana. Ranti berkerut kening tapi mulai menikmati suara petikan lembut itu.
"Ja_di te_ri_ma_lah oh cin_taku. Jangan kau patah_kan ha_ti_ku. A_ku mencintai kamu. Dengarkan janjiku!"
''Kan ku sa_ya_ngi kau sampai akhir dunia. Dan ku ja_di_kan kamu wa_nita. Paling bahagia di seluruh dunia. Karena ka_mulah satu-sa_tunya!"
Bukanya terlelap tidur Ranti justru tersenyum-senyum mendengar lagu gombal Armada band yang Garry nyanyikan.
"Kenapa aku seperti ABG yang baru jatuh cinta?"
...ποΈ..... Bersambung.....ποΈ...
__ADS_1
...Dukung author dengan Like vote hadiah juga komentar nya yah emak kece ku ....π₯³...