Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Nafas terakhir.


__ADS_3

Pukul 17:25 Brandon baru saja tiba di kediamannya, hari ini sedikit telat pulang karena pekerjaan yang menumpuk setelah beberapa hari cuti. Padahal sudah sedari siang tadi perasaannya tak bisa tenang barang sebentar, terus teringat istri cantiknya.


"Jeje sudah makan bik?" Brandon langsung bertanya pada Mina yang sudah menyambut kedatangannya.


"Belum tahu Tuan." Jawab wanita paruh baya itu "Pagi tadi Nyonya besar dan Nona Shasha membawanya pergi, Tuan muda." Lanjutnya.


Brandon berkerut kening "Kemana?" Mina menggeleng.


Brandon pun melanjutkan langkah menuju kamar kemudian mandi dan juga mengganti pakaian. Tak berapa lama, suara dari luar terdengar gaduh karena Brandon sengaja membuka pintu kamar nya, kalau-kalau Jelita pulang, ia sudah sangat merindukan isterinya.


Mendengar itu Brandon keluar dari kamar dan ternyata hanya melihat dua wanita saja yang cekikikan di ruang tengah sambil membuka-buka barang belanjaannya.


"Mami, Jeje mana?" Tanyanya sambil menoleh ke mana-mana mencari sosok isterinya.


Emma dan Shasha terlihat terkejut dengan pertanyaan laki-laki itu "Loh, emangnya Jeje belum pulang?" Tanya balik Emma.


"Bik Mina bilang kalian yang ajak Jeje, sekarang kenapa Mami balik tanya?" Ketus Brandon mulai tak tenang, perasaannya memang sudah gamang sedari tadi siang.


Emma menggaruk lehernya seperti merasa takut "Emmh, Mami tinggal Jeje di rumah sakit pagi tadi E'den, Mami kira dia mau pulang sendiri." Jawabnya. Emma memang langsung pergi setelah dokter selesai tak memperdulikan menantunya belum sadar dari pengaruh anastesi (Obat bius).


"Rumah sakit?" Brandon terperanjat mendengar ucapan tak berdosa ibunya "Mau ngapain Mami bawa Jeje ke rumah sakit?" Ketusnya dengan kening yang mengerut.


"Pagi tadi Mami melakukan tes DNA ke Jeje E'den. Mami mau buktiin ke kamu kalo anak yang Jeje kandung bukan anak mu!"


"Aaaaaggh!!" Sontak Brandon berteriak sambil menghempas seluruh benda yang ada di dekatnya.


"Mas,"


"E'den!" Kedua wanita itu terperanjat tak terkecuali Mina yang juga tersentak kaget.


"Sudah ku bilang bayi Jeje itu anakku! Jeje bukan wanita yang seperti itu!" Pekiknya menggema di dalam ruangan luas itu "Berani sekali Mami mencampuri urusan rumah tangga E'den!!" Timpalnya masih dengan teriakan nya.


"Kamu sadar E'den, kamu sudah buta, Jeje mu itu sudah selingkuh, buktinya sudah jelas, surat-surat dari tetangga sebelah!" Sela Emma keras.


"Dylan hanya penggemar Jeje saja, istri ku sangat cantik, sudah pasti banyak yang mengagumi, itu wajar!" Timpal Brandon yang juga tak kalah kerasnya.

__ADS_1


Kemudian menarik lengan Shasha penuh kemurkaan, ia hempas wanita itu sedikit menjauh dari ibunya.


"Mas, sakit!" Keluh wanita itu sedikit menampilkan raut gugup dan takut.


"Berani sekali kamu mengadukan Jeje ke Mami hm? Apa kamu lupa, dia yang selama ini menutupi hubungan kita, apa ini balasan mu padanya hah!" Brandon menggertak kan giginya geram, Shasha memang sudah sering melihat kemarahan kekasihnya tapi tak pernah semurka itu.


"Tapi, Mas, ..."


"Aaaaaggh!" Brandon menendang pot bunga kecil di sebelahnya hingga hancur karena agaknya laki-laki itu tak berani menyakiti wanitanya.


"E'den!" Emma masih tak terima dengan keberanian putranya yang seolah durhaka padanya.


Menyandang gurat berang laki-laki itu meraih kunci mobil serampangan kemudian keluar dari rumah menuju halaman parkir miliknya tak memperdulikan ibunya memanggil-manggil namanya.


Brandon masuk ke salah satu mobil kesayangannya kemudian segera berlalu dari sana berniat menyusul isterinya ke tempat di mana biasanya keluarga mereka berobat atau di rawat, yah mungkin saja Jelita masih di sana.


"Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa pada isteri ku!" Sesal begitu menyeruak hingga sesak terasa mendesak rongga dadanya, bahkan untuk bernapas saja sangat sulit Brandon lakukan.


Hanya butuh waktu setengah jam saja Brandon sudah sampai di rumah sakit tersebut, ia kemudian berlari menuju resepsionis dan menanyakan kamar yang mungkin masih Jelita pakai.


"Nyonya Jelita Maharani sekarang sedang berada di ruang operasi. Baru saja tim kami membawanya masuk."


"Apa? Ruang operasi?" Brandon memastikan penuh dengan penekanan.


"Iya pak," Angguk wanita itu.


"Tapi, siapa yang memberinya izin? Siapa yang menemaninya? Bukankah belum waktunya istri ku melahirkan?" Pikiran Brandon begitu kalut tak keruan.


"Siang tadi bukanya suami Nyonya Jelita sendiri yang menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi pak!"


"Suami?" Sela Brandon dan wanita itu mengangguk.


Brandon segera melanjutkan langkah cepat menuju ruang operasi yang di bicarakan resepsionis tersebut.


"Sebenarnya siapa yang menandatangani pernyataan persetujuan operasi? Apa bang Galang? Atau bang Tristan? Oh Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa!" Racau nya di sela lari dan kepanikannya.

__ADS_1


Kening mengerut saat tiba di koridor ruang operasi dan melihat sosok gagah laki-laki tampan berbolak-balik di depan pintu ruang operasi dengan raut cemas, laki-laki yang akhir-akhir ini menghantui pikirannya.


"Dylan!" Pekiknya.


Brandon melangkah semakin cepat menerjang tubuh tinggi besar Dylan hingga kini keduanya sudah tak berjarak. Tatapan sinis mereka saling lemparkan satu sama lain penuh kecemburuan.


"Sejak kapan kamu di sini? Apa yang kamu lakukan di sini hah!" Senggak Brandon tepat di depan wajah laki-laki itu.


Dylan tersenyum irit "Kenapa? Apa kamu merasa tidak berguna sebagai seorang suami? Apa sekarang kau mengakuinya, bahwa aku lah yang selalu ada untuk isteri cantik mu, Brandon!" Jawabnya.


"Bang sat!" Brandon mencengkeram kerah jaket pria bule itu.


Dylan menatap nyalang laki-laki di hadapannya penuh kebencian bahkan alisnya naik sebelah seakan mencibir.


"Bicara soal bang sat, coba kamu pikir ulang Brandon, kira-kira lebih bang sat mana? Laki-laki yang menyukai istri tetangga nya? Atau, laki-laki yang menduakan istri cantiknya?" Dylan berbicara santai akan tetapi isi bicaranya begitu menusuk relung hati.


"Sebenarnya apa mau mu hah!" Tanya Brandon.


"Simpel!" Jawab Dylan enteng "Ceraikan Jelita, biar dia bahagia dengan ku!" Tatapan matanya begitu tajam menusuk iris bening laki-laki itu.


"Jangan pernah bermimpi bisa menggantikan posisi ku di dalam hidup Jeje ku! Sampai kapan pun, Jeje hanya milikku! Dia akan terus hidup bersama ku!"


"Apa kau yakin Brandon Dwi Pangga?" Sela Dylan dengan senyum cibirnya "Apa kau yakin, setelah kejadian ini dia masih sanggup bertahan hidup dengan mu?" Tanyanya.


Tatapan Brandon meredup, dia menciut, sepertinya posisinya sudah sedikit terancam, bagaimana jika ayah mertuanya, Abang iparnya, terutama Papinya mengetahui kejadian yang barusan menimpa wanita mungil kesayangan mereka mengalami hal mengerikan seperti ini?


Di paksa di ambil ketubannya, lalu harus masuk ruang operasi yang entah bagaimana nanti hasilnya, apakah bayi Jelita tertolong atau tidak sedang dirinya tak mampu melindungi isterinya, Brandon kelu dari seribu kata yang pilu.


"Permisi Tuan, suami Nyonya Jelita Maharani?" Satu dokter pria keluar dari ruang operasi lalu bertanya kepada kedua laki-laki yang masih berkonfrontasi dingin itu.


Brandon segera menoleh begitu pun dengan Dylan "Saya, saya suaminya Dok! Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Brandon gusar.


"Keadaan istri Tuan baik-baik saja, operasi juga berjalan lancar, tapi maaf, baru saja putra anda menghembuskan napas terakhirnya."


Tak ada kata yang bisa terucap dari mulut laki-laki tampan itu, saat semuanya seakan berhenti bahkan berakhir, berpikirlah sejenak E'den, mungkin Tuhan mengharuskan mu untuk menyesal, ada suara yang terdengar sayup dari lubuk hatinya.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2