
Setelah membalut luka di tangannya, Edbert kembali ke ranjang berukuran super king milik isteri pertamanya. Rupanya Ranti sudah terlelap tidur.
Dia lantas ikut masuk ke dalam selimut tebal berwarna merah muda itu lalu berbaring miring mengusap pipi isterinya sambil menatap lekat wajah ayu alami Ranti.
Dulu dia jatuh cinta saat wajah cantik itu masih sangat polos, masih sangat muda, karena mereka menikah di usia Ranti yang ke enam belas tahun.
Rupanya setelah terjerat cinta Mila sang sekertaris janda muda, Edbert berpaling dari wajah ayu itu.
"Apa kau serius mau menikah lagi, Edbert?" Sekilas ia mengingat kembali saat Ranti menunjukkan wajah terkejut bertahun-tahun yang lalu.
"Yah, aku mau menikahi Mila, aku tidak mau menutupinya dari mu, jika kau mengizinkan, aku akan menikahi nya besok!"
Ranti tergugu saat itu, kemudian mengangguk setelah beberapa saat terdiam "Aku izinkan, selama kau masih bisa adil membagi hak ku sebagai seorang istri!" Ucap nya kala itu.
Edbert menggenggam tangan Ranti dengan senyum manis di bibirnya "Tentu saja sayang, aku mencintaimu tulus, semua yang ku miliki adalah milik mu, aku berjanji tidak akan membuat mu tersia-sia di rumah ini. Apa yang aku kumpulkan hanya akan menjadi hak mu! Dari mu dan kembali pada mu!" Katanya.
"Aku hanya tidak ingin membohongi mu, kamu tahu aku sering pergi ke luar kota, dan harus pergi berhari-hari bersama Mila, aku tidak mau kau terus memikirkan ku, sekarang ikhlaskan saja aku menikah lagi." Pintanya.
Ranti mengangguk beberapa kali dengan raut wajah yang tak bisa Edbert artikan "Aku ikhlas, menikah lah lagi! Aku tahu, cinta tulus suci murni, tidak harus selalu di tunjukkan dengan sentuhan biologis saja, bersenang-senang lah!"
Edbert bahkan masih mengingat saat Ranti meninggalkan dirinya setelah mengucapkan hal itu.
Tis!
Air mata lolos dari bendungan nya hingga jatuh ke pipi mulus Ranti, Edbert terenyuh mengingat kembali kejadian itu "Aku minta maaf." Bisiknya sangat lirih.
Ranti terhentak tapi tak mau beranjak dari pejaman matanya, biarlah kali ini Edbert menangisi kesalahannya, penyesalannya, tapi tidak sedikitpun Ranti berniat menenangkan hati lelaki yang selama ini menyakitinya.
Meskipun meminta izin, meskipun masih memberikan hak, meskipun kenyataannya Edbert hanya bersenang-senang dengan para wanitanya tetap saja itu sangat menyakitkan.
Mungkin Edbert berpikir Ranti akan mengucapkan "Aku memaafkan mu." Tapi tidak, Ranti sudah benar-benar beku dan mungkin takkan pernah bisa meleleh kembali.
...🖋️................🖋️...
Di luar kamar itu, dua orang wanita berjalan mondar-mandir dengan wajah gusar. Tak ayal, mereka tidak lain adalah Bella dan juga Mila.
"Seharusnya Kaka kasih obat tidur lagi kek! Biar Daddy ga sampe menemui Ka Ranti! Sekarang gimana kalo sampai Ka Ranti hamil lagi? Bisa semakin berkurang jatah warisan kita Ka!" Rutuk Bella.
"Kamu juga salah! Kenapa jadi Ka Mila yang terus di salah kan? Harusnya kamu tuh yang gantian jagain Daddy hari ini!" Balas Mila dengan ekspresi wajah yang sama seperti Bella.
Keduanya gusar berjamaah ketika tahu Edbert kembali ke pelukan isteri pertamanya, terancam, posisi mereka sudah sangat terancam, selama ini Mila sudah berusaha untuk tidak membiarkan Edbert memasuki kamar keramat itu.
Akan tetapi kali ini, kedua wanita bersekongkol itu ketiwasan, Edbert lolos dari jeratan piciknya.
"Kalian kenapa?" Hendra tiba-tiba saja menyentuh pundak Bella hingga wanita itu menoleh padanya "Hmm? Ada apa kalian berdiri di depan kamar Mami Ranti?" Tanyanya memastikan.
"Daddy, Daddy sekarang tidur di sini, puas kamu!" Ketus Mila "Harusnya kamu mempercepat langkah biar sebagian harta Daddy masuk ke rekening mu! Kamu kan direktur keuangan! Lamban!" Wanita itu justru merutuki putranya.
__ADS_1
Hendra menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka "Sebaiknya kita masuk ke kamar Mamah saja. Jangan asal bicara di sini! Ingat, sekarang sudah ada Dylan di rumah ini!" Bisiknya mengingatkan dengan alis yang bertaut.
Bella dan Mila mengangguk kemudian ketiganya berjalan masuk ke dalam kamar Mila untuk merencanakan sebuah misi kembali seperti yang mereka lakukan selama ini.
...🖋️................🖋️...
Di kamar yang lainnya lagi, Jelita dan Dylan terkikik geli melihat layar laptop yang teronggok di atas pangkuan Jelita. Sementara Jelita sendiri asyik duduk di atas pangkuan suami tampannya.
"Dasar orang-orang tamak! Biasanya bersiasat!" Umpat Jelita pada ketiga orang yang berkumpul di layar laptopnya.
"Ide istri ku cemerlang juga!" Dylan mendaratkan kecupan pada pipi wanita cantik itu "Sekarang kita akan segera mendepak mereka dari sini, tanpa sebuah kehormatan! Kita kembalikan mereka ke tempat asalnya!" Senyum seringai tertampil di sudut bibirnya.
Jelita menutup laptop lalu meletakkan gawai persegi itu di permukaan sofa sebelum kemudian ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Dylan "Tapi, Dylan aku mau kerjain dulu mantan pacar mu! Lumayan kan hiburan!" Sambung Jelita dengan cengiran siasat nya, alisnya bahkan sudah naik turun.
Dylan menggeleng beberapa kali, tak menyangka dengan kenakalan isterinya setelah ia nikahi "Isteri ku mulai nakal, gimana kalo sekarang, suami mu saja yang mengerjai mu hmm? Lumayan nabung." Rayu nya.
"Boleh!" Jelita nyengir.
Begitu lah hubungan yang di dasari kepercayaan, meskipun harus tinggal bersama dengan mantan kekasih Dylan, Jelita tak pernah sedikitpun merasa kecil hati, karena Dylan terus berada di dekatnya dan tak pernah memberi kesempatan kepada wanita manapun untuk mendekati dirinya. Dylan tentu berbeda dari Brandon yang hanya berucap cinta di bibir saja.
Sekali lagi malam ini ranjang Dylan dan Jelita berdencit hebat, Jelita sangat mahir membuat suaminya melayang hingga tak ingin singgah ke tempat lain. Hanya Jelita saja yang boleh dia cecap rasa nikmatnya.
...🖋️................🖋️...
Esok harinya, seperti biasanya Dylan dan Jelita ikut sarapan pagi bersama, kali ini raut wajah Edbert sendu, tiada senyuman yang menghiasi wajah Hot Daddy nya.
Setelah menyadari perasaan istri kebanggaan nya sudah mati, Edbert seolah tak mampu lagi memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Tepat di pukul 09:40, Edbert menemui seorang psikolog, guna mendapatkan pencerahan dari masalah yang sedang ia hadapi saat ini.
Beberapa antek-antek tak pernah tertinggal, selalu saja mengikuti langkah kakinya berayun.
"Silahkan duduk Tuan." Lelaki bernama Arya mempersilahkan Edbert untuk duduk di kursi tamu. Sebuah ruangan minimalis yang di dominasi warna putih dan abu-abu.
"Terimakasih." Seperti biasa Edbert duduk sambil bertumpu pada tongkat besi kebanggaan nya.
Dalam ruangan itu, Edbert menceritakan segala keluh kesah yang ia rasakan, biarlah lelaki penyandang gelar akademik magister psikologi itu menjadi tumbal kegelisahannya kali ini.
"Jadi, istri anda sampai tak bisa merasakan sentuhan anda?" Arya tersentak mendengar penuturan Edbert. Kasus seperti ini sangat jarang sekali di temui bahkan mungkin baru pertama ia dengar tapi tetap saja ada penjelasan dari penyebabnya.
"Dalam dunia psikologi, ada yang dinamakan PTSD post traumatic stress disorder atau lebih di kenal dengan gangguan stres pascatrauma, itu gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan, gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Gejalanya bisa macam-macam, dan kali ini Nyonya Ranti kehilangan rasa ingin bercinta nya." Jelas Arya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan rasa cinta nya? Aku yakin dia masih sangat mencintai ku, hanya saja, ...."
"Saya tahu maksud anda Tuan, saya harus berani mengatakan hal pahit ini pada anda." Sela Arya memangkas ungkapan Edbert.
"Sulit, menyembuhkan penyakit mental, jika penderita sendiri, tidak memiliki keinginan untuk sembuh. Psikis berbeda dengan fisik, mungkin dengan obat, luka di tubuh seseorang akan ada kemungkinan 80% sembuh, tapi psikis tidak semudah itu. Anda harus lebih bersabar lagi menghadapi penderita seperti ini." Tuturnya.
__ADS_1
"Mungkin anda bisa memulai dengan terapi melalui ngobrol dari hati ke hati, untuk mengembalikan kepercayaan istri anda yang sudah hilang." Timpalnya lagi.
Edbert tercengang menatap nanar wajah lelaki itu, dari semua yang Arya jelas kan, kemungkinan sembuh Ranti hanya sedikit saja.
Apakah masih mungkin Ranti mau di ajak bicara dari hati ke hati? Apakah mungkin Ranti percaya padanya lagi setelah apa yang sudah dia lakukan? Edbert frustasi kembali.
...🖋️................🖋️...
Sementara itu, malam harinya di kursi lipat balkon kamar milik seorang pemuda berwajah tampan, suara kocokan gitar mengalun indah beriringan dengan nada rindu yang juga tak kalah merdu. Siapa lagi jika bukan sang dokter budak cinta Neng Ranti?
Lagi-lagi ku ngga bisa tiduuuuuuur......
Lagi-lagi ku ngga bisa makaaaaaan......
Pikiran ku selalu melayaaaaang......
Wajah mu pun selalu terbayaaaaang......
"Garry!" Satu orang pria mengagetkan pemuda tampan itu hingga menghentikan suara rindu galaunya.
"Papah!" Garry menoleh dan menatap ayah yang orang sebut-sebut sebagai dokter ahli genetika bernama Mario Van Houten.
"Ini sudah malam! Tidur! Malah jrang jreng jrang jreng gak jelas kamu!" Tutur Mario ketus.
Garry melipat bibir "Memangnya Papah ga denger lagu Garry apa? Garry lagi ngga bisa tidur! Terus mikirin Neng Ranti yang bohay semok montok itu!"
"Kamu ini!" Mario menjewer telinga putranya geram "Ah sakit Pah!"
"Dia itu istri orang! Kamu bisa di gebukin sama warga kalo berani merebut istri orang, Garry!" Bentaknya.
Garry mendengus lemah "Asal di nikahin setelah itu, Garry rela di gebukin sampe babak belur juga ga papa Pah." Jawabnya lirih.
"Hastaga! Sebenarnya ada apa dengan putra ku, Tuhan?" Mario meraup wajahnya gusar dengan pandangan yang mengedar ke mana-mana lalu kemudian menatap ke arah putranya kembali "Kamu tahu suami Ranti itu bos besar, Garry!"
"Memangnya kenapa? Aku juga keturunan ke dua dari dokter Hardiansyah, kakek kaya raya ku!" Sela Garry cepat.
"Bukanya kita juga punya perusahaan? Perusahaan farmasi milik Kakek? Belum lagi rumah sakit kita tersebar di mana-mana! Garry dokter ahli bedah plastik yang sekali bedah puluhan juta bayarannya! Kalo cuma masalah materi mah, aaaaahhh!" Garry menunjukkan ujung kukunya dengan semburat remeh "CiiiiL..." Katanya.
"Lagian Neng Ranti bukan cewek matre! Garry tahu dia tulus! Akan Garry bahagiakan Neng Ranti dengan sejuta cinta, sejuta sayang, sejuta perhatian, segudang, ...."
"Stop!" Sela Mario menutup kedua telinganya dengan kedua tangan "Nyerocos ajah kamu kalo di bilangin!" Bentaknya.
"Ranti sudah seumuran ibu mu! Cari yang lain, yang jomblo, yang belum punya suami! Kalo masih berani macam-macam dengan Ranti lagi, terpaksa Papah harus menjodohkan mu!" Ancam Mario melototi putra bungsunya.
"Percuma, aku hanya menyukai Neng Ranti saja! Mau di jodohin sama siapa pun, hanya akan menambah masalah saja." Garry meletakkan gitar miliknya kemudian memasuki kamar dan membiarkan ayahnya bergeming di tempatnya.
Melupakan? Bukan tidak pernah mencoba, tapi Garry selalu saja menginginkan Ranti, itu yang membuat Garry yakin bahwa rasa cintanya tanda ia berjodoh dengan wanita dewasa itu.
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Terimakasih, partisipasi Like komen hadiah vote nya.😚...